
Luna takjub dengan jemarinya yang masih selincah dulu saat mengoprasikan komputer. Selama menikah dengan Adira dia benar-benar tidak diijinkan bekerja. Walau memang tidak kekurangan uang namun dia merasa seluruh ilmunya tidak dia gunakan kembali membuat pikirannya tumpul rasanya.
Beruntung semua pekerjaan yang menjadi deadline nya minggu ini telah dia selesaikan dengan cepat. Dia hanya tengah mengingat beberapa PIC yang saling berhubungan dengannya saat ini. Sebelumnya Luna menjanjikan mentraktir sahabatnya Sandra. Kini mereka telah berada di salah satu coffee shop terkenal di salah satu mall besar di kota B tak jauh dari kantor tempat dia bekerja.
"Selamat tinggal uangku!" Luna memberikan kartu debitnya kepada kasir.
"Dengan uang segini biasanya cukup untuk membeli makan selama tiga hari kedepan. Baiklah demi tujuan utama mengembalikan ingatan pekerjaan, aku relaaaa. Huhu" Gumamnya sedikit tidak terima.
Ting
Luna mendengar ponselnya berdering. Sepertinya ada pesan singkat masuk. "Mas Dira? Seharian tidak ada kabar, dia tidak sms akupun tidak!"
"Aku sangat sibuk!" Umpat Luna kesal.
[Sayang, bagus ya ga ada kabar!!!! pulang jam berapa? Ini udah waktu pulang kan?]
"Aduh aku lupa memberitahunya kalau aku jalan dengan Sandra. Salah sendiri dia enggak sms aku duluan, aku udah sampe kek, nanyain aku dah makan siang kek!"
Luna masih sibuk merutuki Adira selagi berada di kasir dan menunggu kopi selesai diracik. Sandra telah lebih dulu mencari posisi tempak duduk mereka. Luna kemudian sibuk mengetik pesan balasan untuk Adira.
[Maaf yang, aku pergi dengan Sandra mungkin pulang malam, ga perlu jemput aku ya.]
Ting
[Oke]
Luna mendengus kesal, ternyata dia salah mengira. Dia memang kulkas hidup yang kosa katanya hanya ada 500 kata perhari!
Luna telah memesan Asian Dolce Latte favorite sedangkan Sandra Caramel Macchiato berikut dia juga memesan beberapa kudapan manis yang bisa sedikit mengganjal perut sebelum makan malam dan mengatasi mual yang melanda. Tak berapa lama kopi selesai di buat Luna menghampiri posisi Sandra.
"Jadi, kamu mau cerita apa? Aku ga percaya kalau kamu geger otak!" Sandra mengawali percakapan.
"Oh iya, kamu beneran sakit ya? Tadi siang kamu muntah kan abis makan? Selidik Sandra.
Deg!
"Mm itu aku kayaknya bermasalah lagi dengan asam lambung hehe." Bual Luna cengengesan.
Luna kembali merutuki dirinya yang tidak bisa menahan mualnya setelah mencium makanan terlebih setelah makanan berat itu masuk ke mulut!
"Aku bukan geger otak lah Sandra!"
"Aku cuma merasa linglung gitu."
"Ya gitu deh, nanti kamu ajari aku lagi ya kalau-kalau aku beneran lupa cara membuat dan mengeluarkan laporan ya." Wajah Luna memelas kali ini.
"Hmmmm...Aku cukup hafal dengan sifatmu, ada apa Luna?"
__ADS_1
"Apa kamu punya masalah? Apa Dira menyakitimu? Apa dia memutuskan hubungan lagi?" Rentetan pertanyaan Sandra sontak membuatnya kaget. Mimik wajahnya seakan sudah tau apa yang terjadi.
"Aku tidak ingat apa aku sering menceritakan hubunganku dengan mas Dira pada Sandra?"
Luna tengah berpikir baiknya memulai dari mana, dia tidak mungkin menceritakan semuanya terlebih mengenai kandungannya.
"Aku hanya...." Luna menatap Sandra sekilas kemudian memalingkan wajahnya.
"Ayolah putar otak Luna apa yang harus aku jelaskan..." Batinnya menjerit.
"Haish... Bukankah aku sudah pernah bilang, mungkin Dira ga sebaik yang kau kira!"
"Dia itu selain kulkas dua pintu yang idup. Aku mendapat rumor lainnya..."
"Kau tau Sherly? Dari rumor yang aku dengar dia juga ditinggal tanpa kejelasan!"
"Aku harap kamu jauh lebih pintar jangan sampai kau di permaikan oleh Dira!"
Luna menyimak setiap kalimat yang di lontarkan sahabatnya dengan baik, dan juga tengah mencerna. Ada rasa sesak saat mengetahui ada nama wanita lain dalam hidup Adira. Namun Luna mengerutkan keningnya, sepertinya ingatannya kembali dimana dia pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Sherly?" Gumamnya berpikir.
"Kamu ga tau mantan dia? Yang aku dengar sih mereka cukup dekat tapi hanya sebulan setelah itu mereka renggang." Sandra menjelaskan dengan mimik sok taunya.
Luna tertawa mengejek setelah dia ingat kembali.
"Jauh sebelum aku masuk EPS, tapi mereka tidak sampai pacaran..."
"Orang Adira ga suka sama dia, itu kerjaan anak-anak IT aja yang jodohin mereka terlebih Sherly yang menyukai dia."
"Siapa sih yang ga suka sama Adiraku yang tampan.."
"HOEEEKK!" Dengan jelas Sandra mengejek Luna.
"Oh iya aku juga ingat Sherly melabrakku di toilet sebelumnya mengatakan berhati-hatilah dengan mas Dira."
Setelah mengingat ini, memory lainnya muncul dimana untuk pertama kalinya dia dan Adira berselisih hebat.
"Sayang, kalau kamu cemburu lihat orang dulu. Apa dia beneran sepadan dengan kamu? Dia seujung kukumu pun tidak sebanding" Adira menjelaskan dengan candaan karena memang nyatanya pria itu tidak ada hubungan apapun dengan wanita yang bernama Sherly itu.
"Oh ya? Ko lu ga bilang lu di labrak si centil itu?" Sungut Sandra emosi.
"Buat apa? Udah kelar juga kok..."
"Aku tuh orangnya ga suka keributan!!"
"TA*IK!!"
__ADS_1
Keduanya terkekeh bersamaan dan kembali menikmati kudapan serta kopi sultan di tengah gersangnya akhir bulan.
"Mengenai mantannya terdahulu, sepertinya aku tidak ingin tau dan tidak ingin mencari tau selama dia tidak cerita aku hargai jika dia ingin bercerita aku nyimak. Hanya saja it's over bukan? Aku juga tidak ingin masa laluku diekspos lagi, kami baik-baik saja selama ini tanpa harus mengetahui sisi masa lalu kami."
Luna kembali menekankan hubungannya dengan Adira "Masa lalu hanya akan menjadi masa lalu, yang sedang kami kejar adalah masa depan!"
"BACOT!!" Umpat Sandra.
"Jadi yang bikin lu sekusut ini apa?"
"It's okay to be not okay babe..." Ujarnya meyakinkan agar Luna bicara namun sahabatnya itu masih bungkam.
"Ya sudahlah Babe, seperti yang kamu bilang selama kamu tidak ingin cerita aku hargai tapi jika tidak sanggup dan butuh sandaran sini sayang aku peluk."
Sandra merentangkan kedua tangannya dia bersiap menerima pelukan. Seketika Luna menyambutnya dan berderai air mata. Dia menumpahkan segala kekecewaannya di dalam pelukan Sandra. Sandra terus mengelus punggungnya. Beruntung posisi mereka jauh dari keramaian dan lalu lalang orang-orang.
Hampir sepuluh menit Luna menangis di pangkuan Sandra.
"Beruntung aku bersahabat dengan Sandra. Semoga dia tidak membebankan biaya senderan bahunya ini. Aku sudah tidak punya uang tabungan!!" Batin Luna.
"Aku penasaran loh Babe, apa sedihmu ini mengenai Dira atau bukan?" Sandra melonggarkan pelukan dan bertanya dengan nada sangat penasaran.
Luna terdiam, dia masih tidak juga membuka mulutnya. Segera dia seka air mata dan merapikan tampilannya yang sangat tidak enak di pandang.
"Yuk San, pulang sekarang. Aku sangat lelah." Ajak Luna mengalihkan pertanyaannya.
"Hmmm... Baiklah... Aku tidak lagi memaksamu walau sangat ingin tahu!" Sungut Sandra kesal.
"Tapi kamu harus janji. Kamu boleh menangis sampe segininya sekarang tapi bukan berarti itu menghambat hidupmu kedepan! Bersedih secukupnya, bahagia juga secukupnya tapi bersyukurlah sebanyak-banyaknya!" Terang Sandra sok bijak.
"Hahaha tumben banget loh seorang Sandra sebijak ini biasa lo kan ngutuk gue hari-hari!"
Luna semakin terenyuh dengan sahabatnya walau di selipi candaan Luna menepuk bahu Sandra.
"Kurang ajar!" balasnya menepuk lengan Luna.
"But, thank's ya San." Luna sekali lagi memeluk Sandra erat penuh haru. Dia masih memiliki teman yang pengertian.
"Lepasin gua... Ga mau gua jadi bahan ghibahan orang!" Kali ini Sandra menepis pelukan.
"Tar disangka kita elgibiti!" Rutuknya.
"HAHAHAHA..." Luna terbahak puas.
Sungguh Luna merindukan keadaan seperti ini. "Aku memiliki waktu untuk diriku menikmati segalanya. Tidak dikekang seperti yang sudah berlalu. Apa aku juga kini tengah bersiap melepaskan Adira?"
* * * * * * * * * *
__ADS_1