Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 68 : Bobrok


__ADS_3

"San, mo makan dulu ga?"


"Gue ga enak perut!"


Luna merengek setelah keduanya melewati bagian imigrasi.


"Kenapa lagi lu?"


"Hamil lagi?!" Sungut Sandra sarkas.


"ASTAGA JAGA MULUT NAPA!!"


Bug!


Luna memukul bahu Sandra kesal dengan penuh emosi.


"Becanda juga ih!!"


"Yuk ah beli es krim aja."


Sandra merangkul bahu sahabatnya.


"Becandanya kelewatan anjen!!"


"Ya udah lah di banding enggak sama sekali."


Mereka berlalu menuju lorong MRT setelahnya sampai di Royal Junction mereka mencari stand es krim yang sudah sangat terkenal.


Drrrttt...


"Halo..." Jawab Luna.


"Kamu dimana?"


"Aku bilang bakalan jemput di Bay Front!!!" Ujar Mahessa sedikit kesal.


"Aku lupaa..." Luna terkekeh.


"Aku sudah di Royal Junction.'


"Kamu kesini aja ya aku di stand es krim."


"Ya sudah kamu jangan kemana-mana dulu ya cutie!"


"Okay bos..."


Mahessa tersenyum dengan jawaban polos Luna.


"Farell putar arah ke Royal Junction."


"Baik tuan."


Hanya berselang 10 menit kini Mahessa bisa melihat Luna. Dia terpaku dengan gaya berpakaian Luna yang sedikit berbeda dari biasa. Namun bagi Mahessa apapun yang dikenakannya tidak menghilangkan kecantikannya.


"Luna..." Sapa Mahessa.


"Oyy..."


"Kamu mau es krim?" Tanya Luna polos.


Mahessa terkekeh dengan tingkah Luna, ingin rasanya dia menyesap bibir Luna saat ini. Namun keberadaan Sandra membuatnya kurang nyaman.


"Oh iya aku lupa bilang aku dan Sandra ada sedikit urusan bisnis berbelanja di area sini sama China town."


"Acaranya jam berapa malam bukan?"


Luna menatap Mahessa dengan terus menjilati es krim miliknya membuat Mahessa menelan salivanya.


"Oh, iya!"


"Acaranya memang malam."


"Tadinya aku memang berencana mengajakmu berkeliling."


"Ternyata kamu sudah ada jadwal."


Mahessa menjawab dengan gelisah, terus menatgap bibir Luna yang penuh dengan krim yang di seka dengan lidahnya. Mahessa mengalihkan pandangannya gusar.


"Ok ayok ke store depan.."


Luna dan Sandra telah selesai dengan memakan es krim mereka dan langsung melakukan semua jadwal yag sudah Luna susun sebelumnya. Ini kali kedua Luna bertransaksi di store barang branded. Para pelayan masih hafal dengannya sehingga dia disambut baik.


"Apa harus bawa koper segede itu?" Tanya Mahessa pada Farell.


"Saya tidak tau tuan."


"Mungkin itu bawaan nona Luna." Jawab Farell.


"Kenapa kamu ga simpan di Beverly dulu!!"


"Tuan tidak memerintah saya tidak berani."


"Hmmm sudah lah." Mahessa menghembuskan nafas kasar.


Mahessa sangat takjub melihat sisi Luna yang tengah sanagt antusias dalam membelanjakan uangnya. Luna dan Sandra berjalan dari satu area ke area yang lain. Yang tadinya satu paper bag sekarang dalam 15 menit sudah beranak jadi sepuluh.


"Apa ini untuk dia pakai sendiri?" Gumam Mahessa takjub.


"Mengerikan juga gaya berbelanja Luna." Keluh Mahessa.


"Lunaaa!!!"


"Berenti kaki ku mau copot!" Rutuk Sandra.


"Aih baru segini..." Protes Luna.


"Lu kira gue trolly!"


"Elu mah emang hobi kelayapan dah ga usah diragukan lagi kekuatan kaki lu!!"

__ADS_1


"Pantas saja Adira ga mau temenin lu belanja lagi dia pasti ga sanggup liat kelakuan lu kek gini." Sungut Sandra kesal.


"Aih lu cewek apa bukan gini aja ngeluh..." Rutuk Luna.


"Gue manusia nyet!" Sarkas Sandra.


Mahessa dan Farell membulatkan mata mereka melihat gaya bahasa Luna dan Sandra yang seperti bertengkar namun akur. Kedua wanita itu tengah duduk mengistirahatkan kaki mereka dan anggota tubuh yang mungkin telah meronta dari satu jam yang lalu.


"Mahessa apa kamu ga gerah pake kemeja terus?"


"Kek mafia minyak tau ga!"


Tidak ada hujan dan angin Luna tiba-tiba mengomentari gaya berpakaian pria nomor dua di Negara S. Terlihat wajah Farell memucat mana kala bos dinginnya dihina oleh wanita yang disukai bosnya.


"Kontrol tuh mulut!" Seru Sandra.


"Sini aku make over kamu dulu!"


Entah apa yang ada di pikiran Luna saat ini, ketiga makhluk hidup lainnya hanya tercengang tanpa kata.


"Kalian tunggu sini bentaran ya!!"


Tanpa ba bi bu Luna menarik lengan Mahessa dan mengarahkannya kembali menuju departement store.


* * * * *


"Apa kamu harus sekaku itu ya sama bos sendiri?" Tanya Sandra pada Farell


"Oh itu..."


"Ini hanya etika menghadapi bos besar." Ujara Farell menatap Sandra.


"Oh iya saya kurang sopan..."


"Farell nona.."


Farell memperkenalkan dirinya setelah sebelumnya hanya berada di belakang tubuh tuannya.


Sandra tersipu membalas menjabat tangan Farell "Sandra..."


"Oh iya..."


"Aku selalu curiga dengan Mahessa."


"Sepertinya dia tidak sekedar bos besar!"


"Aku pernah baca dimana ya nama Mahessa?" Sandra terlihat berpikir.


"Tuan kami bernama Mahessa Adyatama."


"Dia salah satu orang terkaya di negara ini."


"Saya rasa nona Luna akan sangat beruntung jika bisa menjadi pendampingnya."


"Nona?"


"Panggil si degil itu Luna saja jika diperlakukan khusus dia akan tambah besar kepala." Kekeh Sandra.


Farell pun tertawa. "Tapi jika tuan tahu saya hanya memanggilnya Luna besok saya tinggal nama." Keduanya terbahak.


"Sayangnya Luna telah bertunangan dengan Adira pacarnya yang sekarang."


"Pria itu juga salah satu crazy rich!"


"Mereka akan menikah sebulan lagi."


"Jadi kalau tuanmu itu sedang PDKT aku rasa sia-sia."


Farell terdiam tidak meneruskan pembicaraan keduanya dan kembali mengheningkan cipta menunggu tuannya datang.


"Aku harap ini sedikit membantu Luna."


"Dia terlalu polos atau bego!!"


"Jika asistennya mengucapkan ini pada tuannya semoga Mahessa mengerti untuk menjauhi Luna."


Sandra menatap jauh kedepan perasaannya tidak nyaman padahal bukan dia yang punya urusan disini.


Luna mengajak Mahessa memasuki area fashion pria. Dia memilih beberapa kaos polos dan short pants senada. Bahkan Luna ngawur dengan membelikan prianya topi. Ada perasaan bahagia dihati Mahessa dengan perhatian Luna padanya, pasalnya ini kali pertama dia berbelanja dengan wanita.


"Kamu mau melakukan apa untuk ku cutie?" Mahessa tersenyum ke arah Luna yang sibuk mengambil semua perintilan yang akan dikenakan Mahessa kali ini.


"Antara aku atau kamu yang beruntung kita bertemu!"


"Aku rasa aku lah yang beruntung menemukanmu..." Batin Mahessa terus memperhatikan Luna dia sungguh tidak sabar dengan nanti malam.


"Maafkan aku Luna..."


"Hanya cara ini yang bisa aku lakukan..."


Mahessa tersadar kembali saat wanitanya menyuruhnya mengenakan semua pilihannya. Mahessa tidak mau melewatkan kesempatan dia menarik tangan Luna dan mengungkungnya dalam dekapan setelah mengunci pintu fitting room.


Deg!


Luna merasa detak jantungnya tak beraturan, keduanya saling tatap. Luna menutup matanya Mahessa menyesap bibir manis wanita yang dia rindukan. Luna membuka kancing kemeja Mahessa perlahan, lelaki itu menyeringai takjub dengan tingkah Luna saat ini. Lelaki itu kini mendorong tubuh Luna hingga dinding melepaskan tautannya dan menatap Luna penuh hasrat.


"Kamu sungguh pemain yang handal cutie!"


"Aku takluk dibawah kakimu sayang..."


Mahessa meraba sebelah paha Luna dan mengangkatnya perlahan, Luna terbelalak dia mendorong tubuh Mahessa dan menepis tangan nakalnya.


"Kamu pake dulu dong!!" Rengek manja Luna membuat Mahessa tergila-gila dengannya.


"Aarrgghh..." Luna melenguh saat Mahessa tidak tahan dengan hasratnya dan memegang bukit indah yang menggodanya.


"STOP IT!" Luna mendorong kuat tubuh lelaki yang tengah tersulut hasratnya saat ini.


Mahessa melepaskan wanitanya dengan menyeringai penuh makna.

__ADS_1


"Malam ini aku akan memilikimu sayang..." Batinnya.


Mahessa memakai semua barang yang di pilih oleh Luna.


"Tadaaaa..." Luna memakaikan topi terbalik.


"Aaaahhh Enrique!!" Pekik Luna dalam hati.


"Not bad lah..."


"Walau sejujurnya type aku tuh Raja Ming yang parasnya 80% ada pada Adira!!"


DEG!


Tiba-tiba hati Luna seperti di hujam benda keras. Dia kembali merasa bersalah telah membohongi prianya saat ini.


"Kenapa Luna?"


"Aku jelek ya?" Tanya Mahessa.


"Kamu bilang jelek terus siapa yang berani bilang dirinya tampan?"


Jawaban Luna membuat Mahessa terkekeh kembali mendekati wanitanya dan mencium bibirnya.


"Setelah ini giliran aku memberikanmu gaun untuk malam ini ya cutie." Bisik Mahessa.


"Ayok Sandra dan Farell sudah menunggu lumayan lama."


"Oke."


Sekembalinya mereka dari store, kedua asisten mereka tertegun dengan tampilan Mahessa.


"Beda kan..."


"Lebih santai dan ga mencolok!"


Luna berkacak pinggang dengan angkuhnya, hidungnya memanjang seperti pinokio! Sandra terpukau mengacungkan kedua jempolnya yang di ikuti oleh Farell bebarengan.


"Setelah ini kemana?" Tanya Mahessa sangat dekat dengan wajah Luna.


"Kita masih harus ke China Town ada beberapa pesanan baju disana." Jawab Luna.


"Again?"


"Huhuhuhu" Sandra meratapi nasib.


"Iyes sayaaaang...." Goda Luna mendekat dan mengangkat dagu Sandra.


Sandra menepisnya dan memutar bola matanya malas.


Setelah mencari beberapa yang sudah menjadi list pesanan customer Luna. Mereka terdampar di sebuah tempat makan. Waktu sudah menunjukan pukul setengah lima sore.


"Sumpeh demi apa setelah ini gue Sandra Larasati tidak menerima kembali tawaran job mematikan dari seorang Naluna Maharani kecuali bayarannya dilebihin!"


"Bacod lu!"


"Lemah banget jadi cewek!!!"


"Pada dasarnya yang disukai cewek itu adalah harta, tahta, zara, prada, lazada!"


"Elo mah kamseupay!"


Keduanya selalu menghidupkan suasana dengan baku omongan yang sarkas. Mereka duduk dalam meja yang berisikan empat kursi. Luna berhadapan dengan Sandra dan Mahessa disampingnya. Sedangkan Farell bersebelahan dengan Sandra. Mereka seperti tengah melakukan double date!


"Aku juga baru tahu bahwa kemampuan berbelanja kamu diatas rata-rata." Mahessa menimpali dengan terkekeh.


Mendengar percakapan kasar kedua wanita itu Mahessa merasa dirinya sungguh kolot selama ini.


"Mau pesan makan apa?" Tanya Mahessa kemudian.


Tanpa malu-malu Luna dan Sandra memesan menu sepuasnya. Bagi Luna saat ini dia tengah memiliki uang yang cukup untuk dia gunakan tanpa perlu bingung bulan depan. Dia juga tidak masalah jika Mahessa tidak mentraktirnya. Menurut pengalaman Mahessa orang yang royal terlebih dia juga laki-laki, normalnya gengsi para lelaki itu tinggi. Setelah pelayan pergi Luna ijin ke belakang. Dia menuju toilet setelahnya dia melihat ada ATM Centre. Dengan logo Master Card dan Visa maka dia menuju kesana.


Dia melakukan pengecekan saldo ATM Adira. Jika dia berbelanja banyak tanpa mengeluarkan saldo ATM yang Adira beli dia yakin dia akan curiga darimana uangnya berasal. Saat tampilan layar muncul Luna terkejut dengan apa yang dilihat. Dia bolak balik menghitung nominalnya. Dia kembali menghitung jumlah digit kosongnya.


"Diatas seratus juta!"


"Apa ini kartu dia??!"


"Jangan-jangan ini kartu aku!!"


Luna terpaku menekan tombol cancel dan kembali membuka dompetnya. Dia kembali terkejut, memang benar yang dia cek barusan adalah kartu pemberian Adira.


"Oh iya..."


"Berarti kecurigaan ku selama ini benar."


"Kamu berhutang penjelasan padaku mas..."


Lunamerasa sedih sepertinya prianya terus saja membohonginya. Luna sendiri telah mengetahui identitas mantan suami di kehidupan yang telah dia lalui dulu. Namun dia menginginkan prianya mengatakan langsung. Tapi hingga detik ini prianya masih saja menyembunyikan segalanya.


"Apa yang bisa di harapkan dari hubungan yang selalu membohongi satu sama lain?"


Perasaan Luna sungguh tidak nyaman, dia keluar dan bergegas kembali menuju Resto.


"Maaf telat..." Luna kembali duduk di tempatnya.


"Kemana lu?"


"Semedi dulu?"


"Lapar nunggu lu lama beneeeeer!" Rutuk Sandra.


"Lu tinggal makan duluan kenapa sih!"


"Heran gua..." Jawab Luna tak mau kalah.


Kedua pria disampingnya hanya terpaku dengan tingkah kasar mereka untuk kesekian kalinya percakapan mereka terasa bar-bar namun apa adanya.


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2