Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 27 : Dejavu


__ADS_3

Luna mengawali pagi harinya dengan pemandangan seseorang yang masih terlelap disamping tempat tidurnya. Dengan menelungkupkan kedua tangan di atas tubuhnya, pria itu masih terlihat tampan. Kemeja putih dengan kancing terbuka sebagian mengekspose dada bidangnya. Dia juga menjadikan jas sebagai selimut yang posisinya sudah turun. Luna menelan salivanya, sedetk berikutnya mata Mahessa mengerjap membuat Luna terkejut.


"Astaga!! Kaget gue..."


"Pagii Luna..." Ucapan selamat pagi dengan suara husky membuat tubuh Luna meremang.


Luna belum ada menjawab dia masih terpaku dengan pria dewasa di hadapannya.


Mahessa tengah menenggak air mineral, saat jakunnya naik dan turun Luna kembali menelan salivanya dia merasa ikut kehausan saat ini.


"Kamu kenapa?" Pertanyaan Mahessa memecah ilusi Luna.


"Eh.. Mmm..." Luna gelagapan.


"Kamu menginginkan sesuatu?" Tanya pria itu kembali kali ini mendekat dengan Luna.


"Tidaak..." Secepat kilat Luna menjawab.


Mahessa terkekeh, "Apa kamu akan ke kamar mandi?" Tanyanya lagi.


Luna mengangguk menahan malu, kemudian mencoba bangun dan turun dari ranjang rumah sakit. Mahessa sigap membantunya dia merangkulkan tangannya di pinggang ramping Luna.


Sejenak Luna menatap wajah pria itu yang sangat dekat dengannya, kemudian menolak halus rangkulan Mahessa. Pria itu kini menatapnya, keduanya beradu pandang. Secepatnya Luna menghardiknya.


"Aku sudah bisa sendiri..." Luna menjelaskan.


"Kamu belum pulih betul bukan?"


"Aku akan memapahmu sampai depan pintu kamar mandi sekalian membawa tabung infus ini." Dia mengambil tabung infusnya dan bersiap membantu Luna berjalan. Luna tidak bisa lagi mengelak, tanpa Luna sadari Mahessa tengah melengkungkan senyumannya.


"Udah pagi padahal.. Wangi parfumenya tapi masih menusuk hidungku. Kenapa aku berdebar gini!!" Pekik Luna dalam hati.


Sesampainya didepan pintu Mahessa membantu mengambilkan paper bag yang berisikan baju-baju pemberiannya.


"Apa tidak masalah?" Tanyanya lagi memastikan memegang lengan Luna khawatir.


"Sure..." Luna menjawab dengan senyuman.


Mahessa tidak mengalihkan pandangannya, jarak mereka saat ini hanya beberapa centi saja. Mahessa menelan salivanya, entah apa yang di pikirkannya dia menundukan wajahnya mendekati wajah Luna. Luna yang sejenak tersihir atas sikap Mahessa saat ini sejenak menutup matanya namun beruntung kesadarannya kembali dan mendorong perlahan tubuh Mahessa.


"Aku masuk dulu..." Luna berujar dalam penekanan.


Mahessa tersadar dan melepas cengkraman tangannya di lengan Luna.


"Mm... Be carefull okay." Ujarnya dengan tatapan yang sulit di artikan Luna.


"Ke toilet doang dibilang hati-hati gimana kalo ke arab?" Otak nista Luna kembali berulah.


Mahessa tertawa dengan tingkah wanita itu.


"Seandainya aku single mungkin aku sudah baper." Ujar Luna memperhatikan semua detail pemberian pria itu.


Luna bergegas membersihkan diri dan mengenakan terusan ZARA yang memang sebelumnya Luna incar.


"Aaargh! I Love it.." Semua pas di tubuh Luna.


Luna sempat merasa malu saat pria itu juga membelikannya sepasang pakaian dalam. Luna menyemprotkan parfumenya dan bersiap keluar. Dia juga telah memoles wajahnya dengan riasan natural.


Luna membuka pintu kamar mandi Mahessa bergegas menghampirinya. Sebelum dia mengambil alih tabung infus Luna dia menatap wanita itu takjub bahkan dia dalam keadaan freeze tanpa sepatah kata.


"Kamu terkejut ya aku ga cocok sama bajunya apa make up nya yang kek hantu?" Tanya Luna yang justru merasa kesal.


Mahessa tersadar dan tersenyum menundukan wajahnya. "Kamu bukannya ga cocok atau jelek. Justru kamu terlalu manis dan cantik aku sampe ga bisa berkata-kata!"


"Haha, gombal!" Luna menepuk bahunya dengan paper bag yang berisi Lingerie.


"Nih..." Aku mengembalikannya.


"Loh, kenapa? Ini semua untuk kamu." Dia memapahku hingga tempat tidur.


Menaruh kembali tabung infusnya.


"Itu isinya Lingerie atau yang sering dibilang baju haram."


"Sepertinya kamu salah memberikannya untukku."


"Aku tidak mungkin mengenakan itu disini." Luna terkekeh.


Mahessa syok dengan penuturan Luna dan bergegas memeriksa isi paper bag itu. Kini raut wajahnya seperti tengah menahan malu. "Angela bodoh! Bersiaplah habis ini kamu aku maki nanti!" Gumam Mahessa lirih.


Di waktu bersamaan di Harbour Bay tepatnya ruangan yang di peruntukan Mahessa bekerja. Tengah berada dua orang kepercayaan Mahessa yaitu Asisten pribadi khusus dan Sekertaris utama. Farell dan Angela mereka tengah


melakukan tugas mereka yang dua hari ini menjadi lebih banyak. Pasalnya tuannya tidak nampak batang hidungnya hanya sebentar saja menghadiri rapat akusisi setelah itu kembali menghilang. Siapa yang berani  menanyakan keberadaanya berarti berani menantang maut.


"Farell. Apa kamu mengutukku?" Tanya Angela kepada Farrel yang berada di hadapannya.


"Tidak. Untuk apa?" Jawab Farell acuh.


"Kenapa tiba-tiba tengkuk leherku merinding....." Kini mimik wajah Angela menjadi ketakutan.

__ADS_1


"Aku yakin 100% kamu sedang berbuat dosa terhadap bos dingin kita." Jawab Farell menakuti Angela.


"Aku tidak melakukan dosa apapun.. Aku tidak merasa melakukan kesalahan semua berkas ini sedang aku periksa kembali." Angela semakin dibuat tak enak setelah perkataan Farell barusan. Pasalnya memang benar hanya bosnya yang dingin dan menyeramkan itu yang mampu membuat kehidupan karyawan E.T merasa diawasi.


"Siapkan mentalmu Angelaaa... Mungkin kamu akan dikirim ke AFRIKAAA..." Farell semakin menjadi menggoda


Angela yang polos.


"AAAAAAAAA..."


"TIDAK!" Pekik Angela histeris.


Kembali lagi di sebuah ruangan rumah sakit


"Apa kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Luna yang seperti tengah mendengar suara gerutuan.


"Rasanya kamu sering banget merutuk lirih gitu ya..." Luna kembali menggoda Mahessa yang saat ini tengah menunduk malu.


"Maafkan aku Luna. Semua pakaian ini aku meminta sekertarisku yang belikan. Kamu pasti berpikiran buruk


terhadapku sekarang." Dia terlihat kecewa.


Luna tertawa kecil. "Terima kasih Mahessa atas perhatiannya."


Dia menggaruk kepalanya tersenyum. "Kamu tidak marahkan?" Tanyanya lagi memastikan.


Luna menggeleng seraya tersenyum.


"Kalo gitu giliran aku membersihkan diri ya..." Mahessa berbalik badan menuju kamar mandi.


Luna menyalakan televisi dan memilih saluran. Tiba-tiba datang seorang perawat melakukan kunjungan.


"Pagi, nyonya.." Sapanya ramah.


"Pagi.." Jawab Luna tersenyum.


"Bagaimana keadaan anda?"


"Sudah merasa lebih baik..."


"Saya meminta untuk keluar hari ini." Jawab Luna singkat.


"Oh gitu, nanti kita tunggu visit dokter jam 9 pagi ini ya."


"Ini sarapan pagi anda."


"Obatnya jangan lupa diminum."


"Bolehkah aku melepas selang infus ini? Aku kurang nyaman." Luna meminta dengan memelas.


"Baik nyonya nanti ada rekan saya yang bantu untuk melepasnya. Saya pamit dulu nyonya." Ujarnya seraya


keluar ruangan.


"Aku memang sedang lapar..." Luna berusaha mengambil nampan yang suster tadi letakan di nakas sebelah ranjang.


"Infus ini sebenarnya beban!!" Rutuk Luna kesal.


Tiba-tiba ada tangan seseorang yang membantunya saat ini.


"Hati-hati Luna..." Mahessa mengangkatnya dan menaruh di pangkuannya.


"Terima kasih..."


"Mau aku suapin?" Dia menawarkan diri.


"Tidak perlu, tanganku masih berfungsi dengan sempurna. Hanya selang infus ini beban syekali!" Sungut Luna


masih kesal setiap tertekuk maka dia akan merasa nyeri di bagian tersematnya jarum itu.


"Hahaha... Kamu selain periang mandiri sekali." Ujarnya.


Luna hanya memperlihatkan ekspresi sombong yang dibalas senyuman manisnya lagi.


"Kamu sarapan apa?" Tanya Luna dengan menyuap nasi lembek dengan lauk ayam kecap.


Tidak seperti hari kemarin, makanan pagi ini tidak sesuai selera Luna.


"Pantas saja Nena selalu menolak makan MPASI yang aku buat seperti ini. Rasanya memang tidak enak.


Hahaha" Tersadar akan memory masa lalu Luna terdiam sejenak.


"Kamu kenapa? Tanya Mahessa khawatir.


"Oh tidak apa. Kamu mau coba?" Luna kembali mengusili pria itu.


Luna menawarinya dengan bersiap menyuap nasi ayam kearahnya. Luna pikir dia akan menolak ternyata dia memakannya terlebih ini bekas suapan dirinya. Kemudian dia berekspresi yang sama dengan Luna dan mereka tertawa bersama.


"Pantas kamu berekspresi seperti tadi." Ujarnya merasa tertipu.

__ADS_1


Luna memegang perutku karena tawaku, Luna  merasa kram sedikit di area bawah perut. Mahessa ikut terbahak dengannya.


"Kita beli sarapan di luar aja ya. Kamu mau aku belikan apa?" Dia mengambil nampan dan menaruhnya kembali di nakas.


"Sekalian keluar aja bentaran lagi." Jawab Luna.


"Emang ga papa?" Tanyanya lagi.


"Aku sudah terbiasa... Kadang aku merapel jadwal makanku demi efisiensi waktu dan dompet." Jawab Luna polos.


"Hahahaha..."


"Tau ga Luna..."


"Hmm?"


"Baru kali ini aku senyaman ini bersama orang yang baru aku kenal beberapa hari..."


"Deg!" Luna terdiam dengan perkataan dan tatapan serius Mahessa.


Tiba-tiba bunyi pintu luar di ketuk dan terbuka seorang perawat datang bersiap melepaskan selang infus Luna. Mahessa mundur dan duduk di sofa memperhatikan Luna yang membuat harinya berubah total.


"Naluna Maharani kamu sungguh menarik perhatianku!" Mahessa melengkungkan senyumnya yang terliaht oleh Luna. Keduanya saling membalas senyuman.


"Apa artinya semua ini?" Batin Luna merasa ada gelenyar aneh di dalam dadanya.


Selagi perawat melepas infus dokter kemudian datang.


"Selamat pagi tuan dan nyonya." Sapanya ramah.


"Pagi dok.." Jawab kami kompak.


Mahessa segera bangkit mendekati Luna


"Gimana nyonya sudah merasa lebih baik?" Tanyanya mendekati keduanya dan bersiap melakukan pemeriksaan fisik pada Luna.


"Iya dok, makanya saya minta pulang sekarang. Bisa kan?" Ujar Luna semangat.


"Bisaa... Bisa diatur." Jawabnya santai.


Setelah memeriksa fisikku, dokter menjelaskan kondisi Luna.


"Semua baik-baik saja, Nyonya boleh pulang hari ini. Kembali kontrol minggu depan ya." Ujarnya mengembalikan stetoskopnya.


"Terima kasih dok." Luna menjawab kemudian mencoba bangun dengan sigap Mahessa membantunya.


"Ingat, nyonya tidak boleh melakukan aktifitas berat, mengangkat beban atau berdiri terlalu lama."


"Hindari melakukan hubungan tanpa pengaman karena nyonya di sarankan menunda kehamilan selama 3 bulan ya!"


"Saya tahu ini berat namun demi kesehatan reproduksi nyonya tuan harap bersabar."


Semua perkataan dokter cukup membuat keduanya tidak bisa berkata-kata menahan malu.


"Maaf dok, boleh saya berbincang hanya berdua?" Luna langsung mengajukan pertanyaan sebelum dokter pamit. Mahessa meliriknya.


"Ehm, bisakah aku mengobrol sebentar dengan dokternya?" Luna bertanya dengan hati-hati berharap Mahessa bisa diajak kerja sama kali ini.


"Boleh sayang... Aku tunggu diluar ya." Mahessa memanggil Luna dengan panggilan sayang dengan mesra sontak membuat Luna terkejut.


Mahessa keluar ruangan segera meninggalkanku yang masih terpaku namun segera kembali menyadari dan langsung mengutarakan niatku.


"Maaf dok, apa bisa saya menjadwalkan langsung penggunaan kontrasepsi?"


"Wah bagus itu, boleh!"


"Seminggu saat kontrol bisa langsung di jadwalkan."


"Jenis kontrasepsi apa yang Nyonya inginkan?" Jawab dokter antusias.


"Tapi saran dari saya menggunakan IUD lebih aman dan jangka panjang."


"Baik dokter saya rasa itu pilihan yang bagus."


"Para lelaki memang akan lebih sulit menahan keinginan biologis mereka. Maka sebagai perempuan yang memang


harus bisa melakukan pencegahan sedini mungkin jika memang belum siap."


Luna tersipu malu mendengarnya, dokter pamit undur diri dan Luna sudah diperbolehkan pulang saat ini juga.


"Sudah selesai?" Tanya Mahessa menampakkan dirinya dibalik pintu.


Luna menghampirinya setelah sebelumnya merapihkan barang bawaan terlebih dahulu.


"Sini aku yang bawa." Mahessa menawarkan diri membantu.


Luna semakin takjub dengan perhatian Mahessa yang baru saja mengenalnya beberapa hari. Mahessa tengah menyelesaikan urusan administrasi kepulangan Luna.


Luna menunggunya di kursi tunggu. Sejurus kemudian ingatannya kembali ke masa dimana Adira sibuk atas  kelahiran anak pertama mereka. Luna menyeka sudut mata yang berembun.

__ADS_1


* * * * * * * * * * *


__ADS_2