
Setengah jam sudah Luna merapihkan diri dan mengganjal perutnya dengan makanan yang tersedia.
"Ketika sarapan lebih penting dibanding senyuman para cogan!!" Lirih Luna menguatkan membuat Sandra mendelik heran.
"Lu bener ga kenapa-kenapa aku tinggal?" Tanya Sandra memastikan berkali-kali.
"Iyaa... Apa yang telah aku mulai harus aku selesaikan."
"Kamu sebagai sahabat terdekatku bantu aku dengan urusan pekerjaan ya San."
"Semua uangku ada di ATM yang kamu pegang."
"Kau bebas merampoknya!" Ujar Luna kini sudah bersikap biasa seperti sedia kala.
"Kenapa kamu cuti seminggu bukannya disini hanya sampai hari ini saja?"
"Karena....." Luna menatap kosong kedepan.
"Aku tidak tahu..."
"Aku butuh waktu sendiri..."
Sama seperti saat di hidupkan kembali sebulan yang lalu dia memerlukan waktu sendiri menjernihkan pikirannya. Walau nyatanya Adira mengacaukannya!
Kini mereka telah keluar kamar dan bertemu dengan Farell yang kebetulan akan menyerahkan berkas pekerjaan pada tuannya yang hari ini berada di Beverly sepanjang waktu.
"Farell boleh aku minta tolong..." Seru Luna setengah berteriak pada Farell agar dia menyadari keberadaannya.
"Oh nona sudah bangun..."
"Apa yang bisa saya bantu?" Jawab Farell ramah menghentikan langkahnya.
"Bisakah seseorang mengantarkan Sandra ke Bay Front..."
"Dia akan kembali ke kota B..."
"Kemudian aku ingin menemui Mahessa sekarang..." Ujar Luna tegas.
"Farell lakukan sesuai perintah Luna..."
Suara berat Mahessa membuat kedua wanita itu terpaku dan menatap asal suara. Dia muncul dihadapan Luna dan membuat suasana menjadi tegang.
"Lunaa... Jaga diri baik-baik."
"Kalau ada apa-apa segera hubungi aku..." Lirih Sandra.
Luna hanya mengangguk "Terima kasih, maaf aku merepotkanmu."
Sandra kembali merangkul sahabatnya kemudian berlalu dengan Farell.
"Kita bicara di ruang bacaku..." Mahessa menuntun Luna ke ruang pribadinya dan Luna mengikutinya di belakang.
Mahessa tengah duduk di kursi kerjanya namun Luna berdiri tak jauh dari pintu. Mahessa memperhatikan wanitanya dia selalu saja terpesona dengan kecantikan pujaan hatinya tersebut. Kali ini Luna memakai terusan tanpa lengan diatas lutut dengan rambut terurai bergelombang membut dia terlihat sangat manis.
"Luna, bagaimana bisa aku melepaskanmu jika aku sudah sangat jatuh hati kepadamu!" Batin Mahessa.
"Kamu sudah merasa baik? Duduklah..." Mahessa mengawali perbincangan meminta Luna untuk duduk dihadapannya.
Luna menanggapi perkataan Mahessa dengan sikap santunnya. Seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi.
"Terima kasih..." Luna menarik kursinya kemudian duduk dengan anggunnya.
"Bagaimana cutie? Apa kamu sudah pikirkan baik-baik?" Tanya Mahessa langsung.
"Aku ingin nemastikan banyak hal..."
"Dan sejujurnya aku tidak ingin bekerja sama apakah itu mungkin?" Luna mencoba bersikap sopan berharap Mahessa luluh hatinya.
"Luna kamu sangat cantik... Attitude kamu juga sangat baik... Semalam aku ingat bagaimana kamu menentangku dengan bersikap kurang ajar. Tapi kali ini kamu sangat manis namun tegas. Kamu sungguh semakin menggoda..." Batin Mahessa.
Kedua manik matanya tidak terlepas dari memperhatikan Luna. Menyadari hal itu Luna menjadi salah tingkah.
"Satu hal yang tidak bisa kita negosiasikan adalah pembatalan pernikahan selebihnya kamu bisa mengajukan syarat apapun." Mahessa sudah tidak tahan untuk tidak mendekati wanita pencuri hatinya.
Bagi Mahessa yang dia inginkan hanya memiliki Luna maka apapun yang Luna minta dia akan coba kabulkan walau itu seperti membawa bulan kehadapannya.
Perasaan Luna mulai bergemuruh "Kenapa kamu harus memilih aku? Ada banyak wanita yang lebih memungkinkan cocok denganmu. Mereka juga pastinya lebih baik dariku...."
"Aku sudah pernah hamil, sudah aborsi, dan sudah bertunangan..."
"Apa kamu sedikitpun tidak memikirkan hal ini?" Luna menatap lekat manik mata Mahessa saat mendekatinya.
Mahessa menundukkan wajahnya mengusap pipi Luna perlahan mendekat dengan bibir wanitanya.
"Aku mohon Mahessa.." Lirih Luna mendorong tubuhnya perlahan.
Mahessa menyadari tingkahnya yang tersulut oleh hasrat dibawah kesadarnya. Dia menelan salivanya "Luna aku tidak bisa mengendalikan diriku jika berhadapan denganmu. Aku selalu ingin lagi dan lagi... Mengapa kamu memperlakukan aku seperti ini." Batin Mahessa frustasi.
"Semua itu tidak masalah bagiku. Kamu sudah tidur dengan siapa saja juga aku tidak peduli Luna. Aku hanya mau kamu yang menjadi istriku..." Jawab Mahessa dingin dan tegas kembali ke kursi besarnya.
Luna menunjukan raut muka sendunya "Ini hanya sebuah pernikahan kontrak bukan?"
Mahessa terdiam. "Sejujurnya bukan hanya sekedar kontrak. Tapi saat ini jika ingin mendapatkan Luna saat ini juga seharusnya dengan adanya kontrak dia akan menyetujuinya." Batin Mahessa.
__ADS_1
"Iya..."
"Istri Kontrak selama 3 tahun.." Jawab Mahessa ragu.
"Jika 5 tahun aku yakin dia akan menentangnya!" Rutuk Mahessa dalam hati.
"Apa? 3 tahun?"
"TIDAK!"
"Aku hanya bisa bermain dalam waktu 1 tahun!!"
"Jika kamu setuju maka kita lanjutkan." Hardik Luna tegas.
"Tuhkan... 3 tahun aja dia tolak..." Ucap Mahessa dalam hati.
"2 tahun."
"1 Tahun!!"
"HANYA BISA 1 TAHUN!!"
"Atau aku akan bunuh diri disini." Ancam Luna tanpa rasa takut.
Mahessa terkejut dengan penuturan Luna barusan.
"Baiklah 1 tahun kontrak." Dengan terpaksa Mahessa menyetujuinya.
"Aku akan mengajukan beberapa persyaratan pra pernikahan." Luna menatap tajam kearah lelaki yang akan menjadi suami kontraknya mulai esok.
"Baiklah... Selama tidak menentang batas kesabaranku. Aku bisa wujudkan dan aku akan lakukan."
"Yang pertama dan utama..."
"Lepaskan keluarga Renald dan segala halangan bisnisnya. Jangan pernah menyentuh mereka. Apalagi ADIRA! Dia adalah batas kesabaranku..."
"Jika kamu berbuat sesuatu dan menyentuh ADIRA RENALD maka aku NALUNA MAHARANI akan melakukan Harakiri." Ujar Luna tegas tanpa ragu sedikitpun.
Mahessa tercengang kembali. "Cih demi Adira kamu memberinya perlindungan sedemikian rupa.. Aku semakin membencinya!! Apa baiknya dia... Cowok yang sudah merusakmu!!" Rutuk Mahessa dalam hati.
"Aku juga tidak ingin statusku mencuat ke publik. Jika Adira mengetahui hal ini maka kontrak kerja sama kita batal dan kamu harus menandatangani perceraian kita secara sah!"
"APAA??!!" Hardik Mahessa
"Bukankah seorang Mahessa Adyatama mampu membungkam orang-orang yang menentangnya?" Luna memprovokasi.
Mahessa menelan salivanya dan berkata "Okay tidak masalah. Berarti aku harus membuatnya sibuk bukan menjelang pernikahan kita esok hari?" Mahessa menyeringai.
Luna memalingkan wajahnya, sungguh dia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia segera menghapus buliran air mata yang kini mengalir di kedua pipinya.
"Ok aku berjanji Luna..."
"Kedua. Jangan sentuh keluargaku dan keluarga Sandra. Aku menjaminkan diriku juga atas keamanan mereka."
"Baik tidak masalah."
"Ketiga... Kita tidak akan pernah melakukan hubungan badan layaknya pasangan!! Walau kita pasangan sah namun bagiku yang berhak menyentuhku hanya ADIRA RENALD!!"
Mahessa mengepalkan tangannya. Baginya tidak masalah jika tidak menyentuh Luna selama dia berstatus istrinya namun hatinya memanas manakala Luna mengatakan tubuhnya hanya milik Adira.
"Luna... Apa kamu tidak takut dosa?"
"Membahas dosa? hehe kebetulan syarat keempat adalah... Jangan campuri urusan pribadiku!! termasuk dosaku!! Aku memang sudah berlumur dosa sedari awal.. Jika kamu mau maka lepaskan aku maka hidupmu jauh dari dosa!!!" Sindir Luna.
"Aku sendiri yang akan menyeretmu kedalam Neraka Mahessa. Kamu yang memulainya... Maka jangan salahkan aku..." Batin Luna.
"Lagi pula aku tidak akan pernah mencampuri urusan pribadimu maka jangan sesekali mencampuri urusanku jika aku tidak memintanya."
"Luna... Kamu memang pintar. Bernegosiasi dengan mu seperti sedang bernegosiasi dengan iblis..." Batin Mahessa menatap Luna lekat.
"Tak menyangka tampilan luar seperti sangat lemah lembut dan apa adanya namun dibalik itu dia masih menyimpan misteri didalamnya." Imbuh Mahessa kemudian.
"Aku hanya berperan menjadi istrimu di waktu tertentu bukan?! Jadi jangan pernah berharap lebih dari hubungan kita. Jangan pernah memulai untuk menyukai aku atau mencintai aku... Tidak akan ada gunanya dan tidak akan berhasil!!" Luna kembali memprovokasi Mahessa.
BRAAAAAAAK!!!
Kini emosi Mahessa meledak. Membuat Luna terkejut dan bersiap menghindar.
"HAHAHA Luna bukankah itu mencampuri urusan pribadiku? Mencintaimu bukan keinginan pribadiku tapi dia bisa hadir begitu saja..." Mahessa menghentikan kalimatnya.
"Itu jelas salahmu!" Ujar Mahessa menahan emosinya yang memuncak.
"Kamu bisa menghentikannya!!! Semua bisa kamu kendalikan.. Kamu bisa mengontrolnya bukan? Semua berada dalam kendalimu bukan???" Hardik Luna.
"Baiklah untuk mempersingkat waktu... Apakah ada lagi?" Jawab Mahessa mengalihkan.
"Iya... Aku ingat kamu berkata untuk mendapatkan 40% saham ayahmu kamu menjadikanku alat. Maka aku hanya meminta setengahnya untuk menjadi milikku... Aku ingin maharku adalah 20% saham E.T" Terang Luna datar.
Prok... Prok... Prok...
"Luar biasa Luna... Hahaha"
"Kamu sedang memerasku, aku hanya meminta sebuah pernikahan tapi syaratmu sejauh ini sangat memberatkan..."
__ADS_1
"Jika kamu tidak mampu maka lupakan, dan cari lah wanita lain aku dengan senang hati melepaskan..." Luna menyeringai.
Mahessa berdiri dari tempat duduknya dan kembali mendekati Luna. Luna memperhatikannya dengan waspada dengan gerakan refleks Luna beranjak dari tempat duduknya. Berdiri menghadap Mahessa.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Lirih Luna waspada.
Mahessa semakin mendekat dan menarik tangan Luna sehingga tubuh wanita itu jatuh dalam dekapan lelaki yang sangat mudah tersulut hasratnya di depan Luna.
"Semua persyaratan yang kamu ajukan dengan mudah aku penuhi. Jadi bersikap baiklah..." Mahessa menatap lekat manik indah milik Luna kali ini Luna tidak berontak.
"Dalam perjanjian hanya tidak diperbolehkan berhubungan badan bukan?"
"Mencumbumu bukan masalah berarti.. Lagian kita sudah sering melakukannya sebelumnya sayang..."
Mahessa segera menyesap bibir ranum Luna yang mengkilat oleh lip glossnya. Tangan kekar lelaki itu mendorong dan merangkul erat pinggang Luna. Satu tangan yang lain memainkan leher jenjang dan mengikat rambut panjang Luna kebelakang.
"Aaahhh..." Luna merasa jijik dengan suara lenguhan yang tidak bisa dia kontrol dan tubuhnya juga tidak bisa merespon hatinya yang enggan melakukannya.
"Cutie... Kamu sungguh seperti rubah!"
Luna menatap Mahessa nanar, kedua netranya telah berembun. Namun tidak mengurungkan tindakan Mahessa sekarang yang menarik tubuh mungilnya di atas pangkuan Mahessa yang sudah terduduk di kursi panjang. Dia kembali melanjutkan aksi mencumbu pujaan hatinya. Mahessa membuka kancing terusan dan menyibaknya. Dia menyesap kuat kulit mulus area sekitar bukit kembar milik Luna. Kini wanita itu menggelinjang hebat dan mencoba mendorong tubuh kekar Mahessa.
"Aaaahh... Jangan Mahessa.. Aku mohon.." Luna terisak.
Mahessa membuat pergerakan dengan tubuhnya. Dia menyesap dan memainkan squishy hidup milik wanitanya yang menantang bergantian.
"Aahh... Mahessa..." Lirih Luna.
Bagi Mahessa saat ini suara lirih Luna membuat darahnya semakin bergejolak hebat. Mahessa telah tersulut hasratnya yang semakin menggelora dia merebahkan tubuh Luna di sofa dia menyibak bajunya dan melemparnya ke sembarang arah begitu pula dengan miliknya.
"Aaaa..." Pekik Luna.
Mahessa kembali menekan kedua tangan Luna diatas kepala wanita itu. Mahessa menelan salivanya berkali-kali. Tubuh flawless Luna terpampang jelas dihadapannya.
"Aku sedang halangan Mahessa.. Aku mohon.." Wajahnya telah basah dengan tangisannya yang terus mengalir di kedua pipinya.
Mahessa tidak memperdulikannya dia kembali melakukan aksi memuaskan hasratnya dengan membiarkan Luna masih memakai ****** ********.
"Bantu aku sayaang.. Aku sudah tidak bisa menahannya..." Suara berat Mahessa lirih di telinga Luna membuat wanita itu menggigit bibir bawahnya.
"D*mn! Suara seksinya membuat aku tidak ingin mengakhirinya!" Rutuk Luna dalam hati.
"Aaaahh.. Aaahh... Ahhh..." Luna berteriak kencang saat tubuhnya menerima beban diatasnya dengan gerakan teratur maju dan mundur sama seperti Adira yang selalu melakukannya.
"AAAARRGHH!" Lenguh Mahessa panjang.
Luna memejamkan matanya dengan masih berderai air mata. Mahessa menghapus buliran beningnya dengan lembut dan mengecupnya perlahan.
"Maafkan aku sayang... Aku mencintaimu Luna..." Bisik Mahessa ditelinga Luna.
Dia menutup tubuh Luna dengan jasnya kemudian beranjak menuju meja kerjanya dengan memakai kembali kemejanya.
Tuut..
"Farell, suruh pelayan memberikan satu set pakaian Luna kemari."
Setelah mengantar Sandra ke pelabuhan Farell bergegas kembali ke kediaman di Beverly. Di saat dia akan mengetuk pintu ruang kerja tuannya untuk kembali mengantar berkas yang harus di verifikasi saat ini juga dia mendengar teriakan Luna dan tuannya membuat dia bergidik.
"Astaga!" Farell merinding.
"Untung aku mendengarnya terlebih dahulu.. Jika aku langsung mengetuknya aku yakin hari ini aku akan di penggal oleh tuan muda.." Farell mengusap dadanya kemudian berlalu menuju kursi menunggu tuannya selesai dengan hajatnya.
Tidak berapa lama Angela datang dan melipir menemuinya.
"Apa yang kamu lakukan disini. Bukannya buruan kasih berkasnya aku sudah di teror dewan direksi!!" Sungut Angela pada Farell yang sedang menampilkan raut wajah suram.
"Ssstt!" Farell menyuruh Angela mengecilkan suaranya.
Angela mengernyitkan keningnya.
"Tuan besar sedang bersama nona Luna dan...."
"AAAARRGGHHH!"
"Aaarrghhh Mahessa..."
Sebelum Farell melanjutkan kalimatnya kedua lenguhan itu mencuat keluar ruangan membut keduanya terpaku beberapa saat. Angela menggigit kedua bibirnya dengan raut wajah tidak percaya apa yang tengah dia dengar.
"Aku bersumpah ini kali pertama selama aku bekerja 5 tahun bersama tuan aku baru mendengar lenguhan tuan muda yang sangat seksi di telinga." Bisik Angela di hadapan Farell.
"Sama!! Aku bahkan selama setengah umurku!" Ucap Farell kemudian.
Keduanya saling bertatapan takjub.
Tuut..
"Iya tuan.."
"Farell, suruh pelayan memberikan satu set pakaian Luna kemari." Titah Mahessa dingin.
Glek!
Angela menutup mulutnya, penuturan bosnya sudah sangat menjelaskan bahwa mereka tengah melakukan hubungan.....
__ADS_1
* * * * * * * * * *