
Luna bergegas menutup pintu dan menguncinya. Dia sungguh tidak habis pikir dengan jalan pikiran Adira.Dia bahkan sudah tidak bisa menangis lagi saat ini, mungkin air matanya sudah kering. Dia juga bergegas membersihkan diri dan segera tidur lebih awal kepalanya terasa akan pecah. Sesaat sebelum matanya menutup terdengar suara ketukan pintu pelan.
Tok... Tok... Tok...
"Siapa malam-malam begini. Apa mungkin mas Dira?"
Luna menajamkan pendengarannya dan benar pintunyalah yang berbunyi. Dia bangkit dari tidurnya.
"Akhir-akhir ini dia bagai hantu yang datang tak diundang pulang tak dijemput!"
Dengan langkah gontai Luna membukakan pintu. Benar saja Adira kembali menghampirinya. Mungkin dia bisa membuka akses gerbang meminta bantuan security depan.
"Ada apa lagi mas?" Tanya Luna enggan.
"Nih...." Dia merentangkan tangan memperlihatkan bungkusan berwarna bening, nampak jelas isinya.
"Susu jahe pastinya andalan dia banget kalau kami ga enak badan." Batin Luna.
"Makasi mas, maaf merepotkan. Aku kan ga minta juga." Luna menepis pemberiannya kemudian ia mencoba menutup kembali pintu dan tidak mengijinkannya masuk. Namun, tangan prianya dengan cepat menahan dan mencegahnya. Cie adegannya kek di drama korea!
"Ada apa lagi mas? Aku mau istirahat." Lirih Luna berucap menegaskan penolakannya.
Tanpa ijin dari Luna dia masuk begitu aja. Dia bergegas mencuci tangan dan kaki, mengambil gelas kemudian menaruh minumannya sebelum akhirnya dia membawakannya untuk kekasihnya.
"Kenapa berdiri terus disitu sini sayang..." Sambil menepuk tempat tidur dia mengisyaratkan Luna untuk segera menghampirinya.
Dengan menghentakan kaki Luna memanggil namanya kesal.
"ADIRA RENALD!"
Pria itu hanya terkekeh dengan tingkahnya. Menarik tangan Luna segera dan mendudukannya diatas pangkuan dan menyodorkan minumannya. Akhirnya Luna meminumnya perlahan.
"Habiskan..." Pintanya lembut mengusap anak rambut Luna mesra.
"Panas tau!" Rutuk Luna.
"Pelan-pelan sayang." Dia tersenyum dengan mencubit hidung Luna perlahan.
Luna hanya sanggup meminum setengah dari seluruh isi cangkirnya. "Mas yang abisin sisanya ya." Rengeknya manja.
Luna merasa dia tidak punya pendirian yang kuat. Tadi bilang tidak mau berurusan lagi dengannya. Sekarang seolah pertengkaran tadi tidak pernah terjadi.
"Masih sakit sayang?" Dengan mengelus perut kekasihnya lembut dia bertanya.
"Udah enggak ko. Mas ga perlu sok peduli gitu lagi! Bukannya tadi udah bilang kita ga ada hubungan apa-apa lagi. Sekarang mening mas pulang aja." Sungut Luna mulai berapi. Dia memang ahli dalam merusak suasana.
"Aku ga mungkin pulang gitu aja, istriku lagi sakit gini." Dia menyesap leher Luna.
"HAHAHA.. ISTRI? Lelucon macam apa ini mas?" Ejek Luna
Adira terdiam dia menaruh gelas di nakas merangkul pinggang kekasihnya yang masih dalam pangkuan. Samar tercium aroma parfum Adira yang sedikit memudar membuat tubuh Luna meremang.
"Aku seperti sangat merindukannya... Seolah sudah sangat lama aku tidak berjumpa dengannya." Lunaekit menundukan wajahnya dan tangannya memegang leher Adira. Dengan sangat jelas Luna melihat jakun prianya naik dan turun, si pria yang mendapat sentuhan emari lentik wanitanya seolah refleks menggerakan tangannya yang melingkar di pinggang kini telah menyingkap dress mini kekasihnya dan menyelusup kedalam dress.
"Aaah... Jangan mas." Luna merengek namun dengan nada sebaliknya seolah meminta di lanjutkan.
Adira menyeringai dia kembali menelan salivanya, "Aku sudah menyangka, sampai kapanpun berada dengan Luna aku tidak bisa menahan hasratku. Dia selalu membuat darahku memanas!!"
"Sayangku, Naluna Maharani.... Menikahlah denganku?!"
Tiba-tiba Adira seperti tengah melamar tanpa cincin di ikuti gesekan badannya yang Luna rasakan seolah kembal meminta hak nya. Bahkan Luna tidak sengaja merasakan adik junior kekasihnya telah mengeras.
"Maksudnya menikah itu tidur denganku?" Jawab Luna dekat dengan bibir Adira dan mengusapnya lembut oleh jemari lentiknya.
__ADS_1
"Kau sungguh siluman rubah Luna!!" Adira mencium lembut bibir Luna.
Namun Luna yang bagai memiliki dua kepribadian itu tengah menggoda dengan bermain-main di dalamnya. Lidah mereka saling membelit. Adira semakin tersulut hasratnya, dia menyesap dan ******* bibir manis kekasihnya. Tangannya dengan lembut menari di kulit polos Luna.
Luna melepaskan tautannya, keduanya masih bertatapan penuh hasrat nafas mereka memburu dengan debaran jantung yang berpacu tak menentu.
"Begini lagi terus sampai negara api menyerang!" Rutuk Luna seolah tidak habisnya mereka melakukan hal nista itu lagi dan lagi.
"Boleh ya sayang sekali ini lagi..." Bujuk Adira telah menyesap bahu polos kekasihnya.
"Not yet..." Luna mendorong perlahan tubuh Adira dan segera beranjak dari pangkuannya.
Adira tersenyum manis dan tampan sekali membuat perasaan Luna goyah. Dia sama beranjak dari tepi ranjang dan mendekat kembali. Luna beringsut mundur, Adira semakin ingin mengusili kekasihnya.
"Kenapa sayang?" Godanya.
"Aku pulang sekarang ya..."
Luna mendengus lega membuat Adira terkekeh.
"Setakut itu aku sentuh lagi Luna?"
"Bukankah kamu tengah hamil? Aku sentuh lagi juga tidak masalah bukan? Aku bahkan bisa mengeluarkannya terus di dalam!!"
"Ah sial semenjak kenal Luna otakku berubah gesrek dan nista!"
Adira mengusap wajahnya kasar dan berbalik menatap wajah cantik wanitanya.
"Luna... Love you... Sweet dream honey..."
Luna hanya mengatupkan bibirnya erat namun kemudian di paksa berciuman oleh prianya yang arogan.
"Maas..." Rintih Luna setelah prianya menggigit kecil bibir bawahnya.
"Love you too Adira... Kamu harusnya sudah tahu tanpa perlu aku ucapkan kamu tahu isi hatiku untuk siapa!!"
Adira menarik kembali tubuh kekasihnya merangkulnya erat dalam dekapan.
"Aku tidak mau pulang... Boleh aku menginap disini?"
"TIYDAK!!"
Adira terkekeh melepaskan pelukan dan beranjak meninggalkan kekasihnya pulang.
* * * * *
Ttrrreeeet... Ttrrreeeet... Ttrrreeeet...
Luna mematikan Alarm dari ponselnya yang mengusik tidur nyenyaknya. Dia bergegas menunaikan kewajibannya sebagai hamba-Nya yang berlumur dosa. Setelah semuanya selesai Luna kembali merebahkan dirinya di ranjang dan sibuk dengan remote TV mengganti chanel kesana kemari tidak ada yang membuatnya terpikat. Pikirannya masih semerawut, dia sangat senang kembali di hidupkan. Tapi dia juga gelisah tatkala dia di hidupkan dalam keadaan telah mengandung benih Adira.
"Ya Tuhan, Ampuni Hambamu ini!"
Luna meyakinkan dirinya kembali bahwa saat ini dia hanya punya pilihan mempertahankan kandungannya dan menanggung aib atas prilaku bejadnya ini atau menggugurkannya dalam diam dan meneruskan hidupnya mengejar mimpi yang tertunda walau penuh dengan dosa.
"Maafkan ibu..." Luna terus memegang perutnya. Dia bahkan tidak berani menjalani pemeriksaan ke dokter kandungan saat ini.
"Apa aku mencari praktek dokter aborsi? Ini pasti butuh biaya yang besar. Memang ke dukun pake sesajen doang! Berapa duid yang harus aku keluarin?!" Luna mengacak-acak rambut kesal.
"Sepertinya dulu aku juga mencoba untuk menggugurkan dengan memakan nanas dan durian pokoknya makanan pemicu keguguran tapi tidak ada satupun yang berhasil!"
"Oh iya! aku ingat kakakku dulu saat persalinan dari dokter SPog nya diberi semacam obat induksi mempercepat proses kelahiran. Aku rasa jika digunakan dalam usia kandungan yang lebih muda mungkin akan berakibat keguguran aku harus mencobanya!"
Luna terus bermonolog dan mencoba dengan keras mengumpulkan ingatannya yang lalu.
__ADS_1
"Seingatku keponakanku Lula terlahir berkat obat induksi karena sudah melebihi dari jadwal lahir. Saat itu akulah yang menemaninya. Makanya aku dan Lula sudah seperti adik kakak deketnya udah kayak apa."
"Sepertinya aku butuh ke warnet, aku harus cari informasi dari internet. Semoga aku bisa mendapat barangnya!"
"Kalau ga salah liat, disamping coffe shop depan ada warnet 24 jam, biasa dipake orang-orang ngegame online. Aku harus bergegas sebelum mas Dira datang dan menghambat rencanaku!"
Luna segera mengganti bajunya dan secepatnya pergi menuju warnet. Sebelumnya dia sempatkan ke mini market memberi roti, susu kotak dan cemilan bayinya sudah meminta sarapan.
* * * * *
Luna telah berada di tempat yang dia tuju, kemudian memilih tempat yang paling ujung sepi dari orang yang akan berlalu-lalang. Segera dia mulai mencari informasinya. Benar saja, saat dia ketik mempercepat kontraksi muncul lah berbagai situs yang memberikan informasi dari mulai apa itu kontraksi, apa yang dianjurkan bahkan ada juga jenis obat-obatan yang berkaitan.
Bahkan ada salah satu unggahan sebuah blog seseorang tentang mempercepat aborsi tanpa perlu ke dokter dan aman dikonsumsi. Luna membaca dengan seksama, beruntungnya ada spam iklan yang berkaitan dengan Blog ini kemudian dia klik.
"ANJENG MAHAL!!" Pekik Luna dengan sangat lirih namun penuh penekanan.
Luna menggigit ujung ibu jarinya gelisah di katakan dalam situsnya bahwa biaya ini lebih murah jika di banding pergi ke dokter untuk menggugurkan kandungan resiko yang di akibatkan dari menggugurkan kandungan secara kuret jauh lebih berbahaya dan sakit.
Luna mendengus kesal "Baru menemukan secercah harapan sekarang aku terhempas!"
"Jika aku harus menunggu sampai waktu aku gajian itu tidak mungkin. Usia kandungan aku akan semakin bertambah tentunya perubahan fisik akan semakin mencurigakan belum lagi resiko berhasil tidaknya obat ini bekerja."
"Aaaargggghhh aku frustasi!"
"Oh iya... Mama!"
"Satu-satunya jalan adalah dengan meminjam uang sama mama. Tapi gimana ngomongnya?" Gumamnya lirih.
Tanpa pikir panjang Luna mencatan kontak penjual obat itu di ponsel dan setelahnya meninggalkan warnet.
* * * * *
Luna telah kembali ke rumahnya dan di dalam kamar tubuhnya bergetar, keringat dingin bercucuran. "Gimana aku ngomongnya?"
Sudah beberapa kali dia memencet nomor telpon ibunya tapi dia segera memutuskan kembali lagi. Satu tarikan nafas dan membuangnya perlahan.
"Ok kali ini Fix!"
Tuuuut
Entah kenapa baru mendengar salamnya aku sudah menitikan air mata. "Maafkan Luna ma..... " Batinnya.
"Mama sehat? Maaf Luna baru bisa telfon mama. Dari kemarin Luna sibuk ada proyek besar di kantor." Jawab Luna setenang mungkin padahal hatinya sungguh bergejolak. Bagaimana jika keluarganya tahu dia tengah hamil di luar nikah oleh kekasih yang masih menangguhkan status mereka.
"Mama baik nak, mama ngerti ko. Kamu jaga kesehatan. Mama suka kepikiran kamu kan punya asam lambung tinggi jangan sampai telat makan...."
Luna menutup mulutnya dengan deraian air mata yang begitu saja mengalir dengan derasnya. Dia juga menjauhkan ponselnya agar ibunya tidak mendengar bahwa anaknya tengan terisak saat ini.
"Ma, maafin Luna ya ma... Luna belum bisa jadi anak yang berbakti, belum bisa membuat mama bangga." Akhirnya dia tidak bisa menyembunyikan tangisnya.
"Kenapa sayang? Apa kamu baik-baik saja, tiba-tiba telpon menangis minta maaf? Apa perlu mama kesana?" Sekarang suara ibunya terdengar khawatir.
"Aku baik-baik saja ma. Hanya saja... Boleh ga ma aku pinjam uang sekarang... Luna janji akan melunasinya saat luna gajian."
"Ya ampuuun! Mama pikir kamu kenapa-kenapa ternyata mau minta uang. Pake nangis segala!" Rutuk ibunya disebrang sana.
Luna yang tengah menangis mendengar ibunya yang cerewet itu memekik dan merutuki dirinya seketika sirna dan berubah menjadi merah menahan malu.
"Maaf ma..." Batinnya masih merasa berdosa membohongi orang tuanya.
"Butuh berapa?"
* * * * * * * * * *
__ADS_1