
"Semuanya akan dimulai dari awal lagi." Gumam Luna.
Mahessa telah selesai dengan urusannya dan mendekati Luna, mengulurkan tangannya membantu wanita itu berdiri. "Kamu tinggal dimana? Aku antar ya?" Tanyanya lembut.
"Aku sudah sangat merepotkanmu. Aku bisa memesan taksi dari sini." Luna mencoba untuk tidak terlalu berhubungan lagi dengan Mahessa.
"Tidak masalah, bukankah kita belum sarapan?" Goda Mahessa mengingatkan kekonyolan Luna diatas.
"Haha baiklah..." Jawab Luna singkat.
Entah bagaimana awalnya Mahessa telah menggenggam tangan Luna. Wanita itu juga tidak menepisnya sama sekali walau sebersit kekhawatirannya mencuat jika saja ada yang mengenalinya saat ini. Mobil Mahessa terparkir tak jauh dari Lobby rumah sakit tentu saja terparkir di area VVIP.
"Terima kasih..." Ucap Luna setelah masuk ke dalam mobil. Dia menutup pintu dengan tersenyum bergegas menuju
tempatnya.
"Mau kemana ni?" Tanyanya setelah menghidupkan mobil.
"Aku pengen bakmi..." Jawab Luna asal.
"Oke... Dimana itu? Aku tidak hafal area disini." Tanyanya kemudian melajukan mobilnya keluar kawasan
rumah sakit.
"Loh kamu bukan orang sini?" Luna malah balik bertanya.
Dia menggelengkan kepalanya lagi-lagi memberikan senyuman manisnya. "Fix setelah ini selain tes kesehatan
jantung perlu dilakukan tes lanjutan mengenai gula darah!"
"Kita ke area china town sebelah Plaza Hill aja ya."
"Disana banyak wisata kulinernya..." Luna juga tidak begitu hafal daerah sini.
"Okay..." Dia segera melajukan mobilnya.
* * * * *
Mereka telah sampai di area kuliner Plaza Hill. Giliran Luna yang menggenggam tangannya dan menarik Mahessa untuk berebut tempat duduk. "Jam segini orang ramai sekali disini ternyata padahal jam kerja. Aku memegang Mahessa supaya dia tidak hilang. Berabe entar!"
Mahessa tentu saja tidak mempermasalahkannya dia justru sangat senang. Mereka telah memesan makanan dan menunggu kemudian saling melontarkan pertanyaan.
"Kamu bukan orang sini jadi pendatang juga seperti aku ya?" Luna bertanya memulai obrolan.
"Oh bukan, aku disini karena suatu urusan. Aku tinggal di Negara S. Kebetulan di Harbour aku ada kerjaan
sampai besok."
Luna terkejut dengan penjelasan Mahessa. "Pantas saja dia kaya, kerjanya di luar cuy!"
"Ada lowongan pekerjaan ga buat aku?" Spontan Luna meminta pekerjaan yang dipikirannya bisa membuat dia kaya dalam sekejap.
"Aku selalu bermimpi bisa mendapat gaji dalam bentuk mata uang asing. Rasanya aku akan menyombongkan diri
dihadapan keluargaku. Bahwa aku juga mampu!"
"Ada." Mahessa menjawab cepat.
"Seriously?" Luna menatapnya serius.
"Sure..." Raut wajahnya mendadak serius.
"Nanti deh kalo aku udah bosen di EPS aku ngelamar ke tempat kamu kerja juga ya." Jawab Luna polos.
"Kamu asli orang sini?" Tanya Mahessa kali ini.
"Bukan.. Aku pendatang."
"Keluargaku tidak disini."
"Makanya kehidupanku disini sangat bebas bisa sampe kek gini." Luna mengaduk mie dengan sumpitnya dan menyuapnya.
"Apa keluargamu tau?"
"Tau apa?"
"Kamu memiliki pacar dan..."
"Hanya ibuku yang tau mengenai aku memiliki pacar disini."
"Mengenai kehamilan tentu saja tidak. Aku masih ingin di akui bagian dari keluarga." Jawab Luna datar.
"Brengsek sekali priamu." Ujarnya emosi.
Luna tersenyum mengejek dirinya sendiri "Tidak sepenuhnya salah dia."
"Aku juga tidak menolak atau menghindar."
"Aku juga menikmatinya sampe tuhan marah padaku dan membuatku hamil."
Luna tidak ingin menutupi sesuatu apapun pada pria di hadapannya. Semakin pria ini tahu betapa menjijikannya Luna dengan begitu dia tidak mau lagi bertemu dengannya.
Mahessa terdiam dengan jawaban Luna "Apa dimatanya kamu tidak berharga?"
Pertanyaannya seperti lagu tompi Menghujam jantungku Luna mengalihkan pandangannya.
"Jika memang aku tidak berharga dan hanya menjadi mainannya tidak masalah bagiku."
"Berarti semua ini murni kebodohanku yang masih bertahan dengannya."
"Namun tidak adil baginya jika semua ini di katakan murni salahnya."
"Dia bahkan mau bertanggung jawab rela tidak lagi diakui oleh keluarga besarnya hanya demi bersamaku dan bayi kami."
"Itu sudah cukup membuatku yakin dia pasti menghargai diriku."
"Hanya cara kami yang salah dalam menyampaikan rasa cinta kami yang sudah kelewat batasan ini."
"BRAVO LUNA SEJAK KAPAN KAMU PANDAI BERKATA-KATA.. AKU YAKIN AKU TIDAK TAHU APA MAKSUDNYA BARUSAN." Luna merasa kagum atas peningkatan pembendaharaan kata pujangganya.
__ADS_1
Mahessa tertawa lirih "Aku sungguh iri dengannya. Kamu begitu mencintainya... Bahkan sudah seperti ini kamu masih membelanya."
"Apa aku harus sedih atau senang dengan pernyataanmu barusan?" Luna menghentikan aktifitas makannya.
Tiba-tiba dia merasa kenyang atau mungkin sudah tidak bernafsu lagi ya bedanya sungguh tipis sekali. Sama kayak cinta ama bego bedanya tipis banget!
"Sudah selesai?" Tanya Mahessa.
Luna mengangguk, kemudian mereka berdua beranjak mendekati penjual bakmi. Luna segera membayar semuanya.
"Kamu mentraktir aku?" Tanya Mahessa terkejut.
"Iya, kamu sudah begitu baik denganku ini sih belum seberapanya..." Luna menjawab seraya menaruh kembali kembalian di dompetnya.
"Terima kasih Luna, ini kali pertama aku ditraktir oleh seorang perempuan." Jawabnya polos.
"Benarkah?" Luna terkekeh.
Mereka kembali menuju area parkir dan Mahessa akan mengantarkanku pulang.
"Dimana tempatnya?" Tanyanya kemudian saat kami berada di perempatan jalan.
"Lurus saja lewat jalur by pass."
"Kosanku di Central Park." Luna mengarahkan jalan pada Mahessa.
"Boleh kita memutar lagu?" Tanya Luna setelah melalui beberapa meter terasa seperti kuburan.
"Oh iya boleh..." Dia menghidupkan music player.
"Aih iPodku mati." Rutuk Luna.
"Kamu mau denger lagu apa?"
"BIGBANG!!" Luna menjawab mantap.
"Hah?" Mahessa terlihat bingung belum pernah mendengar nama itu sebelumnya,
"Kamu ga tau? Ih payah banget." Ledek Luna kurang ajar.
"Hahahaha." Mahessa justru terbahak.
Tidak berapa lama keduanya telah sampai di pekarangan rumah tempat tinggal Luna. Mahessa menepikan mobilnya.
"Sekali lagi makasi ya Mahessa." Luna kembali mengutarakan terima kasih tulusnya.
"Sama-sama Luna. Bisakah aku meminta nomor ponselmu?"
"Mm.. Siapa tau aku kesini lagi dan bisa bertemu denganmu." Ujarnya menyodorkan eypun miliknya.
"Sure.." Luna menerima ponselnya dan mengetik nomor ponselnya sendiri kemudian dia tersenyum nakal.
Dia menulis dalam kontak dengan sebutan cutiepie.
Luna mengembalikan ponselnya dia tersenyum melihatnya. Wajah mereka kembali saling berhadapan.
"Luna... Aku sangat senang bertemu denganmu."
Hembusan nafas Mahessa bisa Luna rasakan, Luna juga sempat melihat pria itu menelan salivanya kemudian Luna tersihir untuk memejamkan matanya. Mahessa tersenyum dengan respon Luna. Untuk pertama kalinya Mahessa menyentuh bibir seorang wanita. Hanya beberapa detik saja namun terasa lama bagi keduanya.
Luna tersadar dan beringsut mundur "Aku pulang dulu ya.."
"Terima kasih banyak sekali lagi!"
"Aku tidak suka memiliki hutang budi tapi kamu pengecualian." Luna menyentuh wajah Mahessa dan berujar dekat dengan bibirnya. Mahessa yang terlihat masih menginginkannya harus menerima kenyataan Luna bergegas turun dari mobilnya. Pria itu belum ada menjawab semua perkataan Luna.
"Kamu sungguh berani Luna!!" Ujarnya menyentuh bibir yang barusan bertaut dengan wanita yang sudah mencuri first kissnya.
* * * * *
Pov Mahessa,
Dia telah berada di rumah sakit terdekat segera menaruh Luna di ranjang UGD. Luna terus meracau memanggil seseorang.
"Jangan tinggalin aku mas!"
Mahessa menggenggam tangannya erat, dia juga membelai rambutnya "Aku disini... Aku tidak kemana-mana."
Untuk pertama kalinya dia berani melakukan hal ini demi seorang wanita yang baru dia temui beberapa menit. Setelah Luna di tangani oleh Dokter Obgyn yang akan memeriksa lebih lanjut keadaan Luna. Mahessa memberikan intruksi agar menggunakan perawatan serta dokter terbaik disini. Setelah di observasi oleh team ahli hasilnya keluar setelah satu jam kemudian.
"Mengapa aku sangat peduli denganmu Luna?"
Tibalah dokter datang untuk mengumumkan hasil pemeriksaan mereka sebelumnya. Betapa terkejutnya pria itu saat tahu bahwa Luna tengah keguguran.
"Sungguh brengsek laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu. Jika aku tahu siapa dia maka aku akan
memberinya balasan yang setimpal." Entah mengapa Mahessa sangat emosi mendengarnya.
Hal yang mengejutkan lainnya dia dengan spontan mengatakan bahwa status mereka suami istri.
"Seumur hidupku aku tidak pernah merasa iba terhadap seseorang."
"Aku tidak habis pikir dengan lelaki yang tega mempermainkannya seperti ini."
"Luna, ijinkan aku untuk menjadi priamu saat ini." Pemikiran ini begitu saja terlintas saat mendekap tubuh ringkihnya yang bergetar hebat saat mengetahui dia tengah dalam kondisi abnormal pasal aborsinya.
"ASTAGA MAHESSA Sejak kapan aku menjadi pengemis cinta seperti ini!" Rutuknya menepis pemikiran konyolnya barusan.
* * * * *
Mahessa datang ke Kota B untuk melakukan beberapa pekerjaan pengakusisian beberapa perusahan. Kini dia menambah kesibukan dengan harus menjaga Luna. Dia sendiri tidak mengijinkan siapapun mengetahui keberadaan dirinya dan Luna. Bahkan Farell yang biasanya mengetahui semua yang di kerjakan tuanny kali ini tidak dia libatkan sama sekali.
"Sihir apa yang membuat aku terus ingin berada di sampingmu Luna?"
"Luna, kamu masih sangat muda namun kehidupanmu sudah sepahit ini... Kenapa aku baru bertemu denganmu
sekarang?"
"Hebatnya wanita didepanku walau sudah disakiti oleh pacarnya dia terus membelanya dan tidak berniat menjelekan atau bersumpah serapah atas apa yang pria itu lakukan!!"
__ADS_1
Luna meminta Mahessa menyembunyikan identitasnya dan dia tidak ingin di temui siapapun terlebih pacarnya. Mahessa merasa ada harapan untuk mengambil hatinya. "Sialan! Lagi-lagi aku berpikir untuk menjadikannya wanitaku."
Mahessa terus memperhatikan Luna, wanita itu telah tertidur. Dengan sisa air mata dipelupuk matanya perlahan
Mahessa menyekanya dengan jarinya lembut kemudian menaikkan selimutnya dan mencium keningnya
"Mimpi indah Luna..."
Hatinya merasa hangat, seolah wanita ini sudah menjadi miliknya sepenuhnya.
Selama beberapa hari dia terus menjaga Luna, dia terlihat seperti seorang suami yang tengah menjaga istrinya.
"Oh Mahessa kamu terlalu lama menjomblo sampai-sampai pikiran mu hanya kesana saja!" Rutuknya terus mengingkari kemunculan perasaan untuk wanita yang baru dia temui itu.
"Pagi tuan..." Sapa Farell dalam sambungan telpon.
"Hmm..."
"Orang rumah bilang anda tidak berada di kediaman Paragon."
"Apa anda baik-baik saja?" Tanyanya khawatir.
"Aku bukan anak kecil yang harus kamu ketahui kemana aku semalam!" Mahessa memaki Farell yang sepagi ini
dia menghancurkan moodnya.
"Maafkan saya tuan. Hanya saja saya khawatir ini tidak biasanya anda tidak mengandalkanku." Ujarnya
memelas.
"Hahaha bukannya harusnya kamu senang?"
"Sudahlah siapkan rapat jam 10 pagi aku akan berada disana seputar jam itu."
"Aku datang semua sudah tinggal jalankan meeting." Titahnya kembali dingin.
"Baik tuan.."
Mahessa pamit pada Luna untuk menyelesaikan urusannya di Harbour. Luna menanggapi dengan senyuman manis yang memabukan. "Betapa tersiksanya aku di usiaku yang menginjak kepala 3 baru kali ini aku merasa kasmaran!!"
Ditengah rapat ponselnya berdering. Biasanya dia akan mengabaikannya namun kali ini pikirannya sedang di penuhi semua tentang Luna. Masalah Luna menjadi prioritasnya saat ini.
"Ya."
"Maaf Tuan mengganggu, barusan ada saudara nyonya yang akan melunasi dan ijin keluar rumah sakit hari ini."
"Apa perlu saya keluarkan Invoice dan Rekam Medis Nyonya?"
"Saya bilang tidak ada satupun yang bisa mengeluarkan dia kecuali saya!"
"Dalam beberapa menit saya kesana."
"Baik tuan." Sambungan terputus.
"Ada apa tuan? Apa ada masalah?" Farell merasa cemas dengan tuannya.
"Tidak!!"
"Lanjutkan dengan cepat. Saya ada urusan!"
"Proses tanda tangan kontrak akan saya lakukan besok siang."
"Tapi Tuan ini hanya tinggal..."
"Aku tidak ingin bantahan kecuali kamu mau besok aku kirim ke Afrika!"
"Tidak tuan maaf saya lancang..." Farell telah mengeluarkan keringat bercucuran.
Farell langsung membungkuk meminta maaf, dia lupa jika menyinggung keinginan Mahessa maka Afrika adalah jawabannya.
"Oh iya panggil Angela kemari!"
"Oh tida kamu langsung saj suruh Angela belikan aku beberapa pakaian di store semua keperluan wanita sepertinya size small."
"Untuk siapa tuan?" Farell terlalu banyak bertanya.
"Ini sungguh tidak biasa." Gumam Farell
"Kamu kerjakan saja tidak perlu banyak tanya kecuali sudah tidak ingin lagi di posisi asisten pribadiku lagi!"
"Baik tuan. Hamba undur diri." Dengan langkah seribu Farell meninggalkan ruang rapat dan mencari keberadaan Angela, Sekertaris Mahessa.
* * * * * *
Dengan cepat Mahessa kembali menuju rumah sakit "Baru sebentar aku meninggalkanmu sudah sangat rindu Luna..."
"Huh!!" Mahessa frustasi dengan tingkahnya saat ini.
Mahessa di kenalkan dengan teman dekat Luna. Mahessa menggeleng takjub mendengar percakapan mereka yang dirasa kasar di telinga. Namun mereka terlihat terbiasa. "Aku heran dengan anak muda jaman sekarang mungkin mereka membolos saat mata pelajaran tata krama."
Setelah kepulangan temannya Luna kembali membuat ulah pada Mahessa yang membuat pria itu semakin nyaman berada di dekatnya. "Seharusnya aku yang membuat dia tertawa agar melupakan kesedihannya."
"Tapi justru dia yang sepanjang hari membuatku tertawa dengan perkataannya."
Namun saat melihat kembali kesedihannya hati Mahessa merasa pedih "Siapa yang tega membuat dia sampai seperti ini. Padahal dia bisa membuatmu merasa nyaman disampingmu sepanjang waktu?"
Sejenak Mahessa membandingkan Luna dengan tunangannya Alena.
"Jika di posisi dia adalah Alena aku yakin saat ini dia telah meminta belas kasihku dengan cerita hiperbolanya."
"Tapi berbeda dengan Luna. Dia malah sibuk bertanya perihal biaya rumah sakit. Aku bisa menebak dia sangat mandiri. Dia mengucap tidak suka memiliki hutang budi yang tidak terpikirkan olehku sama sekali. Namun aku
menjadi memiliki alasan terus bisa menemuimu Luna."
"Terima kasih telah memberiku jalan dengan hutang budimu Luna."
"Aku sungguh menginginkanmu..."
POV Mahessa End
__ADS_1
* * * * * * * * * *