Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 89 : Status Baru


__ADS_3

Luna mengerjap matanya, dia sudah cukup mendapatkan istirahatnya. Dia bergegas membersihkan diri dan memeriksa ponselnya. Seharian kemarin dia tidak mengabari kekasihnya, terlebih dirinya pingsan.


"Ga biasanya!"


"Aku pikir tadi alasan apa yang bakalan aku kasih, kalo tau mas Dira banyak menghubungi aku!"


"Tapi ternyata aku sungguh kepedean."


Luna berinisiatif menghubungi kekasih hatinya, berharap tidak pernah menimbulkan kecurigaan secuil pun tentang dirinya saat ini. Betapa terkejutnya Luna saat ponsel prianya tidak aktif!


"Mahessa?"


Luna bergegas keluar kamar yang telah di sambut oleh beberapa pelayan. Luna mengabaikannya dia ingin menemui suami di atas kertasnya itu. Dia ingat, dia menyetujui pernikahan dengan Mahessa karena ingin melindungi kekasihnya dari incara kejahatan bisnis suaminya itu.


"Dimana tuan kalian?" Tanya Luna pada salah satu pelayan.


"Semuanya tengah berada di halaman belakan nona."


"Mari ikuti saya."


Pelayan itu kini menunjukan jalannya, Luna yang ingin membahas sesuatu secara pribadi terpaksa mengikuti keadaan. Sesampainya di area taman belakang terlihat kedua orang tua Mahessa bersama papa Luna dan tentu saja yang punya kediaman.


"Luna... Bagaimana keadaanmu sayang?"


Sesillia yang menyadari keberadaan Luna beranjak dari kursi dan menghampiri Luna dengan raut muka khawatir.


"Sepertinya aku pingsan menghebohkan seisi kastil ya?!" Batin Luna.


Luna mengembangkan senyumnya dan membalas rangkulan mama mertuanya saat ini.


"Aku baik-baik saja ma..."


"Maafkan aku membuat keributan ya semalam?" Tanya Luna kemudian melepaskan pelukan.


"Siapa yang tidak panik pengantin wanita pingsan seusai pesta!"


"Kamu kelelahan ya?"


"Maafkan kami yang tidak menyadarinya membuat acara yang begitu melelahkan."


Nyonya Sesillia menyesal memberikan rentetan acara yang sebelumnya hanya akan melakukan dansa saja namun di tambah dengan pembukaan yang lain sebagainya.


Luna menggelengkan kepalanya. "Tidak ko ma..."


"Aku harusnya minta maaf kondisi badan ku ternyata tidak fit."


"Kamu sudah sarapan?"


Sesillia kini menggandeng menantunya menuju meja dimana semuanya tengah berkumpul. Hilang sudah keinginan marah Luna pada Mahessa. Pasalnya sepertinya dirinya akan sangat sulit mengungkapkan kekecewaannya jika di rumah ini masih ada mertua dan papanya. Sia-sia sudah aktingnya selama ini!


Mahessa menghampiri istrinya dia juga mempersilahkan tempat duduk Luna di sampingnya.


"Kamu ingin sesuatu?"


Mahessa menyambutnya dengan lembut membuat Luna semakin tidak bisa berkutik.


"Iya..."


"Aku ingin kembali ke kota B."


"Aku baru di kabari ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


Luna menatap lekat Mahessa berharap pria itu mengerti apa keinginannya. Namun pikiran Luna melayang menyelidik suaminya.


"Dia sungguh tidak melanggar batas sebenarnya."


"Keluarga menyambutku dengan baik, dia juga memperlakukanku penuh kelembutan sungguh sesuatu yang tidak pernah aku prediksikan sebelumnya."


"Selalunya setiap aku berpacaran aku selalu tidak mendapatkan restu."


"Tapi sekarang mertuaku sungguh membuat aku terharu."


Luna merasa gelisah, dia harus segera keluar dari sini. Jika tidak mungkin dia tidak akan sanggup berpura-pura lagi.


"Loh, kamu ke kota B untuk apa sayang?" Tanya Sesillia heran.


"Aku memang tinggal di kota B ma."


"Aku bekerja di salah satu perusahaan di sana."


Luna berujar sesopan mungkin, padahal dirumah dia bersikap urakan semaunya.


"APA?!"


"Kamu bekerja?!"


"Apa suamimu ini tidak menafkahimu dengan baik!"


Nyonya Sesillia bersiap menyiksa putranya yang dia anggap tidak tahu diri membiarkan menantunya bekerja keras. Luna terkejut dengan reaksi berlebihan mertuanya. Semua orang menatap mereka.


"Oh bukan begitu ma..."


"Mahessa sungguh sangat peduli dengan kehidupanku."


"Tapi sesuai perjanjian sebelum kami menikah dia tidak akan menghalangi karirku di dunia kerja."


Luna mengubah raut wajahnya memelas.


"Iya ma..."


"Luna adalah wanita tangguh yang mandiri penuh dengan ambisi..."


"Membiarkan Luna melakukan apa yang diinginkannya salah satu bentuk aku menghormatinya."


"Selama itu tidak membahayakannya."


Perkataan Mahessa membuat Luna membulatkan kedua bola matanya begitu juga papanya. Tapi tidak dengan ibunya yang masih kesal.


"Tapi!!"


"Nanti kamu kecapean sayang!!"


"Biarkan Mahessa yang bekerja keras untukmu."


"Itu sudah jadi kewajibannya sayang."


Luna semakin dirundung sendu, ayahnya mengulumkan senyumnya.


"Sedari awal anak saya memang mandiri dan ambisius."


"Itu lah mengapa dia senang sekali keluar dari wilayah nyamannya!"


Tuan Wira menatap Luna penuh penekanan seolah, karena ulahnya yang ngotot ingin keluar dari Kota S makanya dia seperti ini sekarang.


"Tidak mengapa besan, dia seharusnya tahu batasan."


"Kami selama ini selalu membebaskannya selagi tidak membahayakannya."


"Toh jika dia sudah tidak kuat dia akan menyerah."


Luna memutar bola matanya malas dengan bujukan setengah-setengah ayahnya.


"Oh baiklah!"


"Ingat sering mengunjungi kami ya sayang."


"Padahal aku ingin sekali menghabiskan waktu bersama menantuku. Sudah lama aku tidak menghabiskan waktu dengan wanita lainnya." Batin Sesillia merasa kecewa.


* * * * *


"Kamu ada urusan juga di kota B?" Tanya Luna pada Mahessa.


"Iya..."


"Aku bisa bekerja dimana saja asal bukan harus rapat tatap muka saja."

__ADS_1


"Lagian, aku tidak mungkin membiarkan istriku tinggal sendirian."


"Apa?!"


"Sudahlah sayang, dia juga harus bertanggung jawab pada papa."


Telinga Wira sedikit panas, pasalnya sedari bertolak dari pelabuhan Luna mengomeli Mahessa karena dia ikut serta. Karena kekesalannya ini dia lupa akan kecemasannya selama di perjalanan menggunakan Ferry.


"Kedepannya kehidupanku akan penuh dengan kebohongan dan dosa!"


"Ampuni aku tuhan..."


"Mampukan aku tuhan!"


"Demi berada di puncak kejayaan selalu ada pengorbanan bukan?!!"


"Fighting!!"


Luna terus menyemangati dirinya yang di sambut tatapan heran kedua lelaki lainnya.


"Halo Sandra..."


"LUNAAAAAAAA!!" Pekik suara wanita di sebrang sana.


Luna segera menjauhkan dari telinganya.


"Aku sudah pulang, kunci apartemenku apa kamu bawa sekarang?"


"OH YA?!"


"Kamu sudah pulang?!"


"Ehmmm.."


"Aku di depan EPS sekarang bisakah kamu keluar?!"


"Ok wait, aku ijin bu Lidya sebentar."


Luna mematikan sambungan telpon.


"Ini kantormu?" Tanya Wira kemudian.


"Ehm..." Jawab Luna sekenanya.


"Kamu di bagian apa?"


"Pembelian."


"Owh.. Bukankah mama bilang kamu akan selesaikan kontrakmu ya?"


"Kamu tidak boleh memperpanjang lagi."


"Dari mana papa tahu?"


"Sebelumnya mama berpesan kamu harus cepat pulang."


"Jika tidak kamu akan di seret paksa olehnya..."


Ayah Luna menatap tajam putrinya dengan hampir mengeluarkan kedua bola matanya. Mahessa dan Farell yang berada di depan tengah memperhatikan keduanya dari kaca tengah.


"HAHAHA!!"


"Jika mama berani maka seret aku pulang saat ini juga!!"


Luna memang tidak pernah takut akan gertakan papanya apalagi ibunya.


"Haiish!"


"Kamu sungguh tega pada papa!!"


"Kenapa?"


Luna masih menatap tajam papanya, seolah ada yang hilang dari penjelasan ayahnya. Sejujurnya Luna tidak tahu dan tidak ingat. Mengapa dia harus menyelesaikan kontrak dan pulang kembali.


Mahessa menahan tawanya melihat tuan Wira mengalah di depan putrinya, dia semakin yakin Luna adalah kelemahannya. Selang 10 menit Sandra tengah menuju depan pintu masuk kantor. Luna bergegas keluar dari mobil dan menghampirinya.


"Kamu baik-baik saja kan?" Sandra segera merangkul sahabatnya.


"I'm fine..." Luna melonggarkan pelukan dan tersenyum memperlihatkan keadaan dirinya.


"Itu Mahessa?"


Sandra mengalihkan perhatian pada SUV Audi hitam yang terparkir tidak jauh dari tempatnya mereka sekarang.


"Hmm..." Luna mengangguk pelan.


"Ehm nanti malam aku jemput kamu pulang ya..." Ujar Luna sendu.


"Okay princess..."


"Aku akan pulang tepat waktu."


Sebelum berpisah keduanya masih berpelukan melepas kerinduan. Kemudian berlalu kembali ke tempat masing-masing.


"Dia teman baikmu?" Tanya Wira kembali setelah Luna memasuki mobil.


Luna mengangguk "Mahessa, aku mau ke Aston."


"Apa papa akan tinggal di Aston juga?"


"Apa tidak di Paragon saja cutie?!"


"Apartement mu hanya ada satu kamar."


"Ga papa di Aston juga sudah cukup."


"Iya kan pah?"


"Iya lah..."


Wira menghembuskan nafas berat, sejujurnya dia tinggal menyewa satu hotel jika dirasa tidak nyaman.


"Baiklah..."


"Apa ada yang kamu inginkan sekarang?!"


"Mumpung aku masih disini."


"Iya aku lapaar!!"


"Baiklah..."


"Kamu mau makan apa?!"


"Aku mau ke Marina..."


"Farell.."


"Siap tuan..."


Tuan Wira terus memperhatikan tingkah kedua pasutri di hadapannya. Dia sendiri yakin Mahessa memang mencintai Luna dan bisa di andalkan untuk melindungi putrinya kelak. Tapi Luna sendiri, apa yang akan di lakukan Liliana jika dia tahu dirinya tidak bisa meyakinkan Luna untuk pulang tahun depan atau empat bulan lagi.


* * * * *


"Kamu menyewa sendiri apartemen ini?"


"Tidak..."


"Adira yang mencarikannya."


"Dulu aku tinggal di kosan depan sana."


"Namun karena satu dua hal aku pindah kesini baru sekitar 2 mingguan lah."


Luna menaruh sling bag miliknya di meja, dia menghembuskan nafas kasar. Menatap sudut ruangan yang selalu terlintas bayangan kekasihnya. Setelah mereka selesai dengan makan siang mereka, Mahessa kembali menuju Harbour Bay dengan Farell.

__ADS_1


Luna akan berterima kasih pada Sandra, karena dia telah membersihkan ada beberapa kumpulan paket Olshopnya yang masih tersusun rapi di meja. Luna tersenyum puas!


"Kecil sekali apartemen ini."


"Apa bener Luna bisa bertahan disini?!"


Wira menyelidik tiap sudut apartemen milik Luna. Sampai saat ini Wira memang tidak pernah menyelidiki kehidupan pribadi Luna. Karena sangat bersifat privasi.


"Kamu tidak satu rumah dengan Adira kan?"


Wira teringat bahwa dulu Luna juga sudah satu atap dengan Diaz, kini dia kembali mencurigai kehidupan pribadi Luna yang benar-benar luput dari pengawasannya karena terlalu serius mengurusi musuhnya.


"Tidak, Adira tinggal di Park Avenue."


"Tapi terkadang aku berkunjung kesana juga."


"Apa?!"


"Kamu tidak melakukan di luar batas kan sayang!!"


"Ti dak..."


Luna berkata lirih mengalihkan pandangannya dari ayahnya, dia melihat akses masuk PA di nakas.


"Sepertinya mas Dira yang menaruhnya disini."


"Apa dia ingin aku tinggal disana?!"


Seketika dia kembali ingat pasal kekasihnya, dia bahkan lupa menanyakan pada dalang yang membuat kehidupan kekasihnya saat ini jungkir balik!


"Papa istirahat dulu aja ya!"


"Terserah papa mau dimana."


"Aku ada perlu menelpon seseorang dulu."


"Okay sayang..."


Wira mengamati gerak gerik Luna yang kini tengah menuju balkon. Luna segera menghubungi kekasihnya. Beruntungnya saat ini nomor kekasihnya itu telah tersambung.


"Halo.."


Terdengar suara lemah kekasihnya langsung menjawab panggilannya. Luna yang ingin merutukinya berubah panik.


"Mas kenapa?!"


"Mas sakit?"


"Aku hanya kecapean."


"Jadi alasan nomor mas ga aktif dari semalam mas sakit?!" Keluh Luna saat ini.


"Iya..."


"Maaf sayaang..."


Adira sungguh tidak bisa banyak berkata saat ini.


"Mas berbohong bukan?"


Adira diam masih belum yakin dan belum memiliki tenaga untuk menjelaskan semuanya.


"Mas..."


"Apa kamu sangat senang menutupi semuanya dengan ku?!"


"Baiklah jika mas inginnya seperti ini!"


"Mas istirahat saja."


"Get well soon!"


Luna bersiap menutup ponselnya, namun pekikan Adira menghentikannya.


"Aku minta maaf sayaaang!!"


"Aku di rawat di RS semalam karena aku kembali drop." Lirih lelaki itu kini membuat Luna merosot dan menangis.


"Aku minta maaf sayang..."


"Semalam aku pingsan."


"Aku baru sadar dan teringat langsung mencari ponselku."


'Aku minta maaf..."


"Jangan di tutup ya, aku ingin mendengar suaramu agar cepat baikan..." Rengeknya.


Luna menghapus buliran air matanya dia tidak ingin Adira menyadarinya. Luna sedang mencoba mencari kesalahan Adira sebagai alasan penundaan pernikahannya kelak. Dia sungguh tak sanggup dengan kejahatannya kini.


"Adira hanya menghamiliku dan aku membuat seluruh kehidupannya jungkir balik!"


Luna menarik nafasnya perlahan dan bersikap tenang namun menunjukan kekhawatirannya.


"Maafkan aku mas..."


"Aku tidak suka mas selalu menutupi keadaanmu!"


"Aku tidak bisa merawatmu saat ini..."


"Tidak apa sayang."


"Aku yang salah tidak menepati janjiku menjaga diriku sendiri."


"Aku minta maaf sayang..."


"Aku pikir ini balasan tuhan karena memperlakukanmu dengan buruk kemarin-kemarin."


"Aku bahkan menghamilimu dan membuat kamu menggugurkannya."


"Maafkan aku Luna..." Lirihnya.


Luna semakin terisak dia menekan dadanya kuat.


"Dosa itu kita sama-sama lakukan dengan sadar."


"Jika tuhan sedang menghukum apa yang kita lakukan dulu kita sedang di hukum saat ini. Bukan hanya mas saja. .." Luna sudah tidak bisa menyembunyikan air matanya.


"Luna..."


"Setelah masalah disini selesai aku akan segera pulang."


"Aku tunggu mas..."


"Kita akan segera menikah.."


DEG!!


"Mas..."


"Apa kamu ingin membatalkannya?"


Adira menyadari bahwa akan ada hal yang terjadi selanjutnya setelah carut marutnya RG dalam waktu 4 hari ini.


Luna tak sanggup berucap namun dia harus segera menjelaskan sebelum Adira berspekulasi lebih jauh lagi.


"Aku hanya mengundurnya mas.. Kita akan membahasnya saat mas sudah pulang..."


"Kenapa?!" Protes Adira saat ini.


"Bukankah ada sesuatu yang harus mas akui yang masih mas sembunyikan dari ku?!"


"Belum lagi kesehatan papa mas."


"Bukankah waktu saat ini tidak tepat?!"

__ADS_1


Percakapan kali ini menjadi canggung kemudian di hentikan karena Adira dalam jadwal pemeriksaan dokter.


* * * * * * * * * *


__ADS_2