
Luna terus membiasakan dirinya menggunakan mobilnya kembali. Dia bahkan menawari Mahessa menjadi penumpangnya. Istrinya mengantar dan jemput dirinya di Harbour Bay.
Selama hampir seminggu Mahessa bersama dengan Luna sudah tidak terhitung kebahagiaan yang pria itu terima bertubi-tubi.
Luna juga masih menutup dirinya. Entah mengapa dia tidak ingin di ganggu oleh siapa pun. Bahkan dia tidak memberi akses Sandra dan yang lainnya menghubunginya lewat ponselnya. Dia bahkan merenggangkan hubungan dengan Adira.
"Luna memang seorang istri yang ideal. Dia pandai dalam urusan domestik rumah tangga. Terlebih dia pandai dalam urusan ranjang." Batin Mahessa setelah kembali meminta haknya selepas sarapan.
Dia hampir melakukan setiap harinya. Sepulang kerja hingga tengah malam dan selepas sarapan pagi. Dia begitu kecanduan dengan tubuh istrinya saat ini.
Setiap kali dia mendapat jatah biologisnya, di tempat kerja Mahessa memancarkan aura bersahabat membuat seluruh karyawan dan jajaran direksi ikut merasa bahagia.
Jika biasanya Mahessa hampir sepanjang jam kerja akan membentak dan memaki kini hampir tidak pernah terjadi. Bahkan bisa-bisanya di saat rapat bawahannya mendapati tuanya senyum sendiri menatap ponselnya.
"Ingin rasanya aku memberi hadiah pada nona Luna!!" Angela kembali dengan menggibah bersama patner in crimenya.
"Ya kamu ajak lah majikanmu makan bersama!"
"Nona Luna bukan seperti Alena yang sombong itu..."
"Untung tuan tidak jadi dengannya. Lagian selama mereka bersama tidak ada yang berubah dalam diri tuan muda."
"Ngomel terus iya..." Rutuk Angela menggebu.
"Ssstt!!"
"Majikanmu tengah datang..." Ujar Farell mengingatkan.
"Dua hari ini dia malah di antar jemput istrinya..."
"So sweet sekali merekaaa!!!" Mata Angela berbinar.
Di area lobby terlihat dua pasangan yang tengah di mabuk cinta saat ini. Luna sungguh lihai memainkan perannya sebelum kekasihnya pulang.
"Kamu ingin melihatku bekerja tidak cutie?" Mahessa merangkul pinggang Luna tanpa malu.
"Boleh deh."
"Aku sedang tidak ada kerjaan."
"Aku juga ingin meminta bantuanmu..."
Semua karyawan menunduk dan menyapa menyambut keduanya. Luna yang hanya mengenakan T-shirt ngepasnya dengan celana hot pants membuat setiap karyawan melihat dengan aneh namun tidak berani menatap langsung.
"Pagi tuan dan nona..." Angela menyambut keduanya dengan suka cita begitu pula dengan Farell di sebelahnya.
"Pagi..." Sambut Luna dengan senyuman manisnya.
Luna menggelayut manja di lengan Mahessa.
"Apa agenda aku selanjutnya?" Tanya Mahessa seraya melanjutkan memasuki ruangan kebesarannya.
Luna terpukau dengan ruang kerja Mahessa.
"Betapa noraknya aku.." Luna mengejek diri sendiri.
"Sini sayang..." Mahessa menepuk pahanya agar Luna duduk dipangkuannya.
"Dasar mesum!!"
"Apa dia tidak melihat ada Angela dan Farell juga?!" Rutuk Luna dalam hati.
Luna tetap saja mendekati Mahessa dan duduk di pangkuan suaminya itu. Harusnya keduanya salah tingkah kebalikannya bawahannya yang gelisah melihat prilaku mereka.
"Mau di bawakan minum apa? Atau cheesecake kesukaanmu?" Tawar Mahessa.
Luna menggeleng "Nanti saat aku ingin aku memberitahukannya."
"Baiklah."
"Ada pekerjaan apa Farell?"
"Hari ini ada jamuan makan siang bersama tuan Rudolf di Marina View tuan."
"Rudolf?" Mahessa tampak berpikir.
__ADS_1
"CEO AP tuan..."
"Membahas kerja sama persiapan pembangunan phase 3 Pulau N tuan.."
"Hanya itu schedule ku saat ini?!"
"Selanjutnya verifikasi berkas tender Huateng tuan."
"Mereka juga tengah mengajukan tender lanjutan pengadaan material pengembangan Pulau N." Ujar Angela kemudian.
Sesaat setelah mendengar Huateng Luna terpaku sejenak. Matanya menatap kosong kedepan kemudian lirih dia bergumam.
"Huateng??!"
"Iya cutie..."
Apa ada yang kamu inginkan?!"
Mahessa mendengar sekilas Luna berbicara lirih.
"Oh tidak..." Luna menutupinya.
Mahessa menatap lekat wanita kesayangannya. "Aku lupa, papa Luna pernah menyinggung Huateng."
"Terlebih saat kejadian dia mabuk dia mengatakan ahli waris Huateng adalah mantannya."
"Baiklah kamu taruh berkasnya di meja kemudian lakukan seperti biasa..."
"Oh iya siapkan gaun untuk Luna pakai siang ini dia akan menemaniku dalam penjamuan makan siang."
"Baik tuan."
"Nona muda saya pamit jika ada yang anda inginkan jangan ragu panggil saya di depan." Ujar Angela sopan.
Luna menjawab dengan anggukan dan senyuman. Setelah keduanya keluar Mahessa membalikan badan Luna mengarah kepadanya.
"Mmmmm..."
Luna menyambut ciuman mesra suaminya.
"Apa kamu berniat melakukannya disini?" Luna melepaskan tautan Mahessa dan menggoda prianya.
"NO!"
"Kamu mau minta bantuan apa?" Tanya Mahessa serius kali ini setelah tadi dia tertawa dengan penolakan istrinya.
"Aku ingin mendaftarkan badan usahaku."
"Okay."
"Apa kamu sudah punya sebuah nama untuk perusahaan mu?"
"Hmm... Lunarian?"
"Kenapa nama itu?"
"Karena nama panggilan ku Luna."
"Lunarian konon adalah nama ras atau suku di bulan."
"Lagi pula merujuk dari komik kesukaanku One Piece Lunarian juga disebutkan ras bulan!!"
Mahessa terpaku dengan jawaban anti mainstream istrinya.
"Okay Farell akan mengurusinya."
"Owh ya masalah karyawan juga aku minta bantuannya ya..." Luna mengecup pipi Mahessa mesra sebagai alat tawar menawar.
Dia tidak menampik seminggu ini dia tengah merasa berbahagia dengan status halalnya. Mahessa memperlakukannya lebih baik dari Adira. Sungguh membuat Luna semakin gelisah takut dia terjerumus dalam cinta Mahessa.
"Aku ingin mengajak Angela memilih gaun di Plaza Hill boleh?" Ujar Luna kemudian beranjak dari pangkuan suaminya.
"Baiklah cutie..."
"Hati-hati okay!"
__ADS_1
Mahessa mengecup bibir Luna mesra namun Luna sengaja menuntut lebih. Dia menyesap lidah Mahessa kuat membuat hasrat lelaki itu mencuat dengan cepatnya. Dia membalas meremas bukit indah Luna. Bahkan kini tengah menyingkap T-Shirt mini istrinya hingga menampilkan jelas gundukan kesukaannya itu.
"Aaaahh sayaaaaang..." Luna menarik rambut milik suaminya. Mahessa semakin giat memerah milik istrinya yang dia rasa sangat nikmat kemudian mengakhirinya dengan menggigit ujungnya keras.
"AAAAAHHH SAKIIIT!!" Jeritan Luna terdengar hingga luar.
"Ya tuhan Farell apa yang mereka lakukan!!" Angela terkejut sesaat setelah teriakan Luna terdengar.
"Ya apa lagi..."
"Kamu pikir mereka lagi main kartu terus yang kalah kena pukul?!" Ujar Farell merasa sangat terbiasa dengan semuanya.
"Sayaangku kita lakukan disini ya..." Pinta Mahessa seraya membuka kancing celana Luna.
Dengan terengah Luna menolak.
"NO!!!"
"Nanti malam okay!!!"
Mahessa menyeringai kemudian melepaskan Luna. "Ingat nanti malam aku meminta lebih!!"
"Kita lakukan di Paragon kembali kan sayang?!"
Luna mengangguk seraya beranjak dan merapikan tampilannya kemudian pamit keluar.
Sudah dua hari Luna bersedia berada di Paragon Hill di kediaman besar Mahessa.
"Jika tidak ingat dengan semua pekerjaan ini aku akan memakanmu 24 jam Luna!!" Mahessa mengulumkan senyumnya.
Tuut...
"Farell masuk..."
"Baik tuan."
* * * * *
Sesuai permintaannya Angela menemani Luna berbelanja di salah satu store fashion kenamaan di mall terbesar di Kota B.
"Kamu pilih juga beberapa untukmu ya..." Ujar Luna ramah pada sekertaris suaminya itu.
"Padahal saya yang sangat ingin memberikan anda hadiah nona." Ujar Angela tersipu.
"Lah kok bisa?"
"Ulang tahunku sudah lewat..." Luna terkekeh mereka melintasi beberapa model dress.
"Berkat anda tuan Mahessa jauh lebih kalem!"
"Tidak lagi pemarah dan angkuh di kantor."
"Seperti yang anda ketahui tadi pagi."
"HAHAHAHA!" Luna terbahak dengan penuturan Angela.
"Ayok kita pilih dulu setelah ini kita ke salon.."
"Baik nona..."
Luna memilih model baju sheath dress semi formal dengan pilihan kerah berbentuk V hingga ujung belahan dadanya. Dia ingat Mahessa mengenakan dasi warna merah maroon dirinya kini memilih warna senada dengan dasi milik suaminya.
"Nona Luna tidak hanya sekedar membeli yang dia inginkan tetapi memadukan juga dengan apa yang tengah suaminya pakai. Sehingga orang akan berpikir keduanya memang pasangan serasi yang harmonis."
"Wajar jika tuan Mahessa tergila-gila dengan nona Luna. Nona Luna sendiri pandai menempatkan dirinya dalam posisi seharusnya." Angela semakin kagum dengan Luna terlebih saat ini Luna membelikannya dua set pakaian formal dan santai.
Luna dan Angela bergegas menuju salon kecantikan. Luna berpesan agar Angela memperlakukannya seperti teman saja bukan atasan dan bawahan kecuali disaat bersama Mahessa.
"Nona ingin perawatan?"
"Tidak."
"Bukankah sebentar lagi jam makan siang."
"Aku ingin mereka merias tampilanku. Aku tidak mungkin mengikuti jamuan makan suamiku dengan tampilan sederhana." Ujar Luna menjelaskan.
__ADS_1
"Perfect!!" Gumam Angela semakin insecure dengan inisiatif tuannya tanpa di minta oleh suaminya.
* * * * * * * * * *