
Seminggu sebelumnya di Kediaman Wira Kusuma, Aussie.
"Tuan.."
"Ada apa?"
Wira menyesap kopi di depan laptop.
"Apa ada pergerakan dari Wijaya?" Tanya Wira dingin.
"Sejauh ini tidak ada."
"Selama tuan Diaz tidak berada dekat dengan nona ketiga dia tidak melakukan apa-apa!"
"Siapa yang membantu Huateng bangkit kembali?!" Tanya Wira mengalihkan.
"Berdasarkan penelusuran dia mendapat suntikan dana dari salah satu perusahaan yang tengah naik daun E.T."
"Huateng menjadi pemasok utama material di salah satu bidang kontruksi miliknya." Terang Bobby.
"E.T?" Wira mengerutkan keningnya.
"Salah satu pesaing Emperor kita tuan."
"Selama Wijaya tidak mengusik anakku maka biarkan saja."
"Semakin di gertak semakin membuat Luna dalam bahaya."
"Lantas bagaimana kabar Diaz"
"Dimana dia sekarang?"
"Aku ingin tahu apa yang dia obrolkan dengan Liliana tempo hari!"
Wira menerawang, tatapannya kosong kedepan. Dia kembali mengingat kejadian dua bulan sebelumnya.
"Saya dengar dia melanjutkan magisternya disini tuan."
"Dia juga telah membuka firma hukum disini."
"Jadi dia berada dia Aussie?"
"Benar."
"Wijaya menginginkan pengangkatan CEO Huateng diserahkan kepada anaknya tahun depan."
"Alasan mengapa tuan muda mengambil study bisnis disini."
"Menurut penelusuran informan kami dia akan mewarisi seluruh aset Huateng milik ibunya tahun depan."
"Tapi..."
"Aku tidak peduli!!!"
"Selama tidak ada hubungannya dengan keselamatan Luna aku tidak akan ikut campur!"
"Tapi tuan yang tidak kita ketahui dari kejadian dua bulan yang lalu yaitu tuan Diaz mengadaikan semua hartanya agar nona Luna selamat saat itu tuan."
"Kemudian Aset itu kini menjadi milik Wijaya seutuhnya."
"BOCAH SIALAN!!"
BRAAAK!!
Emosi Wira meledak! Dia menggebrak meja kerjanya.
"Jika bukan karena kamu anak Wijaya aku sudah menikahkan kalian saat ini juga!!!" Ujar Wira frustasi.
"Satu hal lagi tuan."
"Apa lagi?" Wira terduduk kembali dan mengurut pelipisnya merasakan otaknya mendidih saat ini.
"Dalam beberapa bulan terakhir banyak sekali yang mencari informasi mengenai nona ketiga."
"Who?" Wira kembali menunjukan raut serius menatap asistennya.
"Pertama, Keluarga Renald dari kota K."
"Kemudian yang tidak disangka lainnya adalah..."
Bobby menghentikan kalimatnya menatap serius tuannya.
"BOBBY Jika kamu bermain kata lagi aku pecat kamu saat ini juga!!!"
"KATAKAN!!"
"Maafkan saya tuan telah lancang..."
Bobby menunduk meminta ampunan tuan besarnya.
"Yang kedua adalah CEO E.T atau keluarga Adyatama."
"NALUNA MAHARANI!!!!!!!"
"Papa tidak tahu lagi menghadapi bocah degil satu ini!!"
"Haisshh.." Wira frustasi dengan kelakuan anak bungsunya.
Bobby menundukan wajahnya kemudian kembali menyambung kalimatnya.
"Tuan, sepertinya tuan Mahessa merencanakan sesuatu terhadap nona muda!"
"APAAA!!"
"SIAPA DIA BERANI BERURUSAN DENGAN ANAK KESAYANAGN KU?!"
__ADS_1
"Beberapa hari ini orang-orangnya berkeliaran di kediaman tipuan kita di Distrik S tuan."
Wira terkejut dia segera beranjak dari kursinya.
"Liliana dimana?"
"Di tempat nona kedua tuan."
"Segera siapkan jet pribadi kita ke Distrik S sekarang."
"Oh ya, kau beri informasi apa mengenai statusku?" Wira berhenti dan membalikan badannya menatap Bobby di belakannya.
"Seperti terakhir ingatan nona ketiga anda adalah montir bengkel."
"Baiklah.. Siapkan semuanya."
"Baik tuan.."
* * * * *
Wira segera bertolak dari Aussie menuju kediamannya di Distrik S. Seluruh wilayah Distrik S adalah miliknya sesuai pembagian warisan dari ayahnya yaitu Kusuma Atmadja pemilik dataran L yang mencangkup Kota S, Distrik S dan Kota L serta Kota M. Wira juga merupakan mafia dalan jaringan gelap se-Asia. Saat menjalankan tugasnya di Negara S dia bertemu dengan wanita yang menggetarkan hatinya Liliana Tan yang merupakan anak tertua dari pendiri Emperor Bo Ang Tan.
Seluruh wilayah Distrik S dia bagi menjadi dua bagian. seperempatnya dia jual sebagai bisnis komersil dan sisanya adalah wilayah kediamannya yang dia jaga dengan empat pilar access security. Kediaman pertama dan utama yang tidak pernah terekspose oleh siapapun berdiri dengan memiliki landasan pesawat pribadinya sendiri.
Wira menghubungi istrinya Liliana.
"Sayaang kamu masih di tempat Kalina?" Ujar Wira.
"Iya..."
"Apa papa masih di Aussie?"
Wira bingung antara memberitahukan kebenarannya atau diam.
"Ada kabar dari Luna?" Tanya Wira mengalihkan.
"Si degil ini sudah beberapa kali sulit di hubungi!!"
"Alasannya sibuk bekerja..."
"Semoga dia memang sibuk bekerja hingga tidak ada waktu untuk depresi!!"
"Liana!" Wira menghentikannya.
"Coba kamu periksa anak kesayanganmu itu dia meminta uang dalam jumlah banyak awal bulan kemarin!!"
"Kemudian dia sulit bahkan tidak bisa dihubungi!!"
"Entah apa yang dilakukannya!" Sungut Liliana kesal.
"Biarkanlah sayang..."
"Kamu terlalu perhitungan dengan anakmu sendiri!"
"Aku telah memasukan kembali uang di rekeningmu."
"Dia dengan lantang menjauhi kita ingin mandiri secara finansial dan hidup!"
"Nyatanya? Bikin sakit kepala aja kerjanya..." Omel Liliana meluapkan segala kekesalannya.
Wira tersenyum dengan tingkah istrinya. "Berapapun yang Luna inginkan berikan sebagai gantinya aku akan kembali mengirimkannya untukmu."
"Aku tidak ingin uang!!"
"Aku ingin memiliki Pulau B yang baru ditemukan di dataran sebelah Negara B." Jawab Liliana serius.
"Aish..."
"Check out belanjaan istriku mengerikan..." Wira dibuat merinding dengannya.
"Ya sudah tidak perlu kamu pikirkan!!"
"Jaga kesehatanmu pah!" Ujar Liliana ketus.
"Merajuk!"
"Bobby akan mendapatkannya di pelelangan minggu depan."
"Benarkan?!"
"I love you papi..."
"Love you too sayaaang..."
"Aku sangat merindukanmu."
"Jika rindu makanya pulang!"
"Bagaimana dengan urusan anak kesayanganmu itu?!" Liliana kembali berubah sendu.
"Aku sedang menyelesaikannya saat ini."
"Dia berulah terus membuatku hampir gila menutupi segalanya!!" Ujar Wira frustasi.
"Ini kan salah mu!!"
"Bawalah dia pulang secepatnya..."
"I do my best..."
Keduanya mematikan sambungan telpon.
"Maaf tuan..."
"Semua protokol keamanan telah siap."
__ADS_1
"Dan ini baju lusuh dan segala perlengkapan lainnya."
Bobby meletakan semua keperluan penyamaran Wira.
"Oke.. Kamu pastikan memasang semua kamera pengintai kita?"
"Sudah semua tuan."
Wira bersiap melakukan pekerjaannya sebagai mafia dan berpura-pura menjadi ayah dengan versi ingatan Luna saat ini.
Di salah satu rumah biasa saja yang di gunakan Wira sebagai pilar penjaga.
"Maaf tuan perkenalkan nama saya Fero asisten dari tuan Mahessa." Fero menjulurkan tangannya setelah pintu rumah Wira terbuka.
"Oh ya..."
"Ada kepentingan apa ya?"
"Saya rasa saya sudah melunasi semua hutang saya." Ujar Wira panik.
"Mohon maaf tuan jika semua ini membuat anda takut."
"Percayalah kami tidak akan berbuat hal yang buruk."
"Kami hanya diperintahkan untuk membawa anda dan keluarga anda ke kediaman tuan Mahessa."
"Keluargaku!!" Raut wajah Wira khawatir.
"Ada apa ini?"
"Apa yang kalian inginkan dari kami?!"
"Aku tidak ingin melibatkan mereka."
"Jika aku target kalian maka ambil saja aku."
"Jangan pernah mencari keberadaan keluargaku!!" Pekik Wira ketakutan dan memohon.
Fero saling tatap dengan rekannya yang lain. Akting Wira sungguh tidak di ragukan lagi.
"Tuan kami disini membawa anda bertemu dengan tuan Mahessa dalam acara pernikahannya dengan putri anda nona Luna."
DEG!!
"NALUNA MAHARANIII!" Rutuk Wira dalam hati.
Setelah diskusi yang alot akhirnya Wira bisa msngikuti arahan dari pihak Mahessa. Sesampainya di Negara S lelaki paruh baya itu diarahkan menuju hotel berbintang Ritz Carlton. Mereka memastikan semua pelayanan terbaik yang akan Wira dapatkan. Setelah para pesuruh Mahessa meninggalkannya Wira di kamarnya dia bergegas menghubungi asisten pribadinya.
"Bobby masuk.."
"Baik tuan.."
Tak berapa lama Bobby telah berada di kamar tuannya.
"Apa yang kamu dapatkan?"
"Putri kesayanganku ini melakukan hal apa sampai harus dinikahkan?!" Wira mengurut pelipisnya.
"Urusan Wijaya aku baru menyelesaikannya, sekarang datang lagi masalah lainnya!" Rutuk Wira.
"Kami mendapatkan informasi bahwa mereka akan melakukan pernikahan kontrak."
"Sepertinya tuan Mahessa menggunakan Nona sebagai transaksi mendapatkan saham papanya dan pembatalan pertunangannya dengan keluarga Alister."
BRAAAAAAAAK!
Emosi Wira sudah di ujung tanduk dia membanting meja dihadapannya.
"Berani sekali menjadikan anakku sebagai pertukaran saham!!"
Wira berkacak pinggang mengatur nafasnya yang terengah dengan kelakuan putri tersayangnya.
"Gulingkan saham E.T!"
"Akusisi sekarang juga!!" Titah Wira dingin.
"Tapi tuan..."
"Tidak kah ini menguntungkan anda?" Bobby berujar dengan hati-hati.
"Menguntungkan?!" Wira mengerutkan keningnya.
"Anda tahu bukan Huateng mendapat suntikan dana dari E.T"
"Ini sangat menguntungkan nona."
"Dengan berada di samping pemilik E.T maka nona akan sangat aman dari jangkauan tuan Wijaya."
"Nona akan berada dalam pengawasan Mahessa."
"Jika nona melihat tuan Wijaya dan mengingatnya maka akan dengan mudah memprovokasi Tuan Mahessa untuk kembali menggulingkan Huateng tanpa perlu anda yang bertindak tuan."
"Maaf saya banyak berbicara." Bobby kembali menunduk saat melihat raut muka tuannya berubah.
Wira terdiam dengan penuturan Bobby. Terkadang Asistennya ini selalu memiliki pemikiran out of the box dia sangat menyukainya.
"Aku tidak mungkin mengorbankan anakku kepada lelaki lain."
"Urusan dia dengan Diaz saja belum selesai."
"Aku ingat mereka berdua berjanji menjalani hidup bersama setelah Diaz menyelesaikan urusan dengan ayahnya. Jika sekarang Luna aku dorong dalam pelukan lelaki lain akan sangat tidak adil bagi keduanya." Wira sungguh mengkhawatirkan percintaan Luna.
Ancaman Wijaya membuatnya tidak bisa melakukan apapun termasuk membunuhnya. Bagi Wira keduanya adalah kunci kembali ingatan Luna sepenuhnya. Setiap dia melihat Wijaya dan Diaz ingatannya akan kehidupan di masa lalu akan kembali. Kemungkinan amnesia partialnya akan menghilang jika dia dan Diaz bersama. Dia tidak akan tersiksa dengan selalu kembali lupa tiap beberap bulan sekali. Ini sangat menyiksanya! Namun Wijaya akan terus menentang kebersamaan mereka.
"Bagi Wijaya membiarkan Luna terluka adalah cara terbaik membunuhku secara perlahan. Targetnya adalah aku!"
__ADS_1
* * * * * * * * * *