
Setelah kepergian tuan Wira, Mahessa mendekati Luna dan menatapnya lekat seraya mengembangkan senyumnya. Merasa hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Dia telah sah mempersunting pujaan hatinya walau dengan cara yang salah bahkan dia menyadari Luna tidak menginginkannya.
"Aku tidak peduli kamu akan membenciku Luna."
"Selama kamu berstatus milik ku maka semua hal bisa dikendalikan."
Luna sendiri menatap balik suami sahnya saat ini.
"Sulit di percaya..."
"Aku meminta untuk di hidupkan kembali untuk memperbaiki takdir ku!"
"Nyatanya, aku tetap menikah juga dalam waktu yang singkat ini!"
"Ternyata, walau kita meminta di hidupkan kembali jika di takdirnya saat ini menikah maka menikah!"
"Tapi mengapa dengan orang yang baru aku kenal satu bulan!"
"Kenapa aku merasa salah jodoh!!"
Luna memegang kepalanya yang dirasa sakit sekali, selain di seperti di tusuk ribuan jarum yang bersamaan di tambah dengan seperti ada arus pendek listrik yangmenyerangnya bersamaan.
"LUNA!!"
Mahessa seketika panik melihat reaksi Luna saat ini. Wajah Luna juga terlihat lebih pucat dari sebelumnya.
"I'm okay.." Lirih Luna.
Luna menyandarkan tubuhnya di dada bidang Mahessa.
"Kamu kenapa cutie?"
"Apa merasa tidak enak?"
"Aku panggilkan dokter?!"
Mahessa teringat kejadian waktu dulu, Luna selalu pingsan setiap kali dia memegang kepalanya. Mahessa mengira ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuh Luna.
"Aku kan bilang ga papa!"
"Aku senderan bentaran ya..."
Mahessa menelan salivanya, dia memeluk istrinya lembut mengusap punggung wanitanya perlahan. Rasanya ada perasaan yang sulit dia jelaskan dalam hatinya. Ada rasa ketakutan luar biasa. Dia sudah mulai takut kehilangan Luna.
"Aku keluar duluan ya..."
"Aku tidak enak mendiamkan tamu ku!"
"Kamu beristirahat sejenak, kemudian kita akan melakukan resepsi sebentar lagi..."
Inginnya pria itu terus di samping Luna, namun dia harus memberikan Luna ruang untuk mengistirahatkan wanitanya.
"Cih!"
"Tadi sok perhatian sekarang sok cool!"
Luna menatap siluet bayangan punggung suaminya, kemudian para pelayan kembali menuju ruangannya.
* * * * *
08.00 PM
Mahessa menatap kedatangan luna dengan ayah mertuanya. Luna telah mengganti pakaiannya dengan gaya yang jauh lebih terlihat santai namun saat Luna kenakan justru memancarkan aura kecantikan luar biasa.
"Aku tidak menyangka akan ada hari dimana aku merasakan perasaan seperti ini di kehidupanku."
"Aku tidak tahu..."
"Apa ini yang di sebut jatuh cinta?"
"Aku ingat seseorang mengatakan padaku, cinta itu serakah!"
"Semakin kamu terjerat olehnya, semakin kamu ingin memiliki dirinya hanya untuk dirimu sendiri!"
"Aku bahkan menghalalkan segala cara untuk mengikat mu disisiku Luna!"
"Hanya karena aku tau, kamu begitu setia pada pria mu!"
"Secemerlang apa diriku dan hidupku, kamu tidak akan pernah menatapku!"
Tuan Wira memberikan putrinya pada suaminya. Dengan tatapan penuh cinta Mahessa menatap Luna lekat. Semua orang akan merasakan dirinya benar-benar mencintai istrinya. Tapi Luna?
"Aku tidak menyangka Luna benar-benar pandai berakting."
Luna menatap Mahessa tak ubahnya pria itu menatapnya, Mahessa berharap semua yang Luna lakukan bukan tipuan semata. Kedua orang tua Mahessa begitu bahagia melihat pemandangan menakjubkan selama hidup mereka, akhirnya berkesempatan melihat putra kesayangan mereka menikahi wanita pilihannya sendiri yang sangat ia cintai.
Serangkaian acara telah terlewati, sisa acara berdansa bersama. Luna merasakan dirinya sangat lelah dengan semuanya. Padahal baru acara baru saja berlangsung selama satu jam lebih saja.
"Apa karena aku pura-pura bahagia?"
"Semua ini memakan seluruh energiku!"
"Princess..." Tuan Wira membuyarkan lamunan putrinya.
Ternyata pembawa acara telah mengntruksikan acara selanjutnya. Luna menyambut uluran tangan pria pertama yang membuatnya mengenal cinta di kehidupannya. Keduanya memulai berdansa sebelum tuan Wira menyerahkan putrinya pada suaminya.
"Papa tidak menyangka, akan melewati waktu seperti ini denganmu sayang."
"Terakhir papa melakukannya saat kakakmu Lina menikah dengan Fadhly."
Suasana menjadi sendu, bukan aura kebahagian yang terpancar dari keduanya. Hanya ada kesuraman yang terasa. Luna segera meyakinkan ayahnya agar tidak terlalu khawatir dengan dirinya.
"Maafkan papa Luna."
"Kehidupanmu keras seperti ini!!"
Luna tersipu "Terima kasih pah..."
"You're still my best daddy ever!!!"
"Papa ma bekerja sama dengan Luna kali ini..."
"Terima kasih sudah menghargai keputusan ku."
"Terima kasih sudah percaya pada Luna pah!"
"Luna tahu ini jalan yag salah, tapi hati ku berkata cobalah!"
"Aku ingin berusaha menjadi diri Luna yang baru."
"Ijinkan Luna bekerja keras sendiri mendapatkan apa yang Luna inginkan!"
Tuan Wira menghentikan gerakan tarian mereka menatap nanar putrinya yang telah berkaca lebih dulu. Semua orang memperhatikan keduanya. Momen haru orang tua melepas anaknya sungguh membuat setiap pasang mata merasa ikut tersentuh.
"You grow up so fast babe!"
__ADS_1
Luna tersenyum kecil dengan menitikan air matanya menatap haru ayahnya, kemudian keduanya berpelukan. Nyonya Sesillia tidak tahan untuk tidak menangis. Karena mulai saat ini Luna akan menjadi bagian dari orangnya.
"Apa anak ku tahu siapa tuan Wira?"
"Semoga anak itu tidak gegabah dalam memperlakukan Luna, atau kita akan kehilangan segalanya!"
Tuan Wira menyerahkan putrinya kepada suaminya untuk meneruskan acara puncaknya. Mahessa menundukan pandangannya di depan ayah mertuanya dengan sopan.
"Jaga dia baik-baik Mahessa!"
"Jika aku tahu kamu buat dia menangis satu tetes saja."
"Maka aku tidak akan segan menghancurkan apapun yang Adyatama miliki!"
Bisikan lirih dari mertuanya sukses menghujam jantung Mahessa begitu dalam. Rasa tertekan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya kini menjalar di tiap urat nadinya. Bagi Mahessa dahulu dia lah yang dominan menekan semua rival bisnisnya. Tapi hanya dengan kata singkat mertuanya apa yang sudah dia usahakan hampir separuh usianya akan sia-sia jika dia ketahuan menyakiti putri keyangan keluarga Kusuma.
"Aku sudah berjanji sebelumnya atas nama Tuhan."
"Dan aku tidak pernah mengingkari janji ku!"
Mahessa menjawab tanpa keraguan sedikit pun di hadapan mertuanya, tuan Wira mengulumkan senyumnya dan mengangkat ujung bibirnya kemudia berlalu dari tempatnya. Luna yang memperhatikan kuanya merasa sangat tersanjung dengan apa yang di katakan Mahessa pada ayahnya.
"Apa aku harus bersyukur atau tidak."
"Aku di cintai begitu besar oleh orang nomor dua di negara ini?"
Mahessa menatap Luna dengan senyuman manisnya, dia terlihat tersipu saat ini.
"Are you ready cutie?"
Luna tak kalah merona saat ini, perlakuan Mahessa sungguh di luar ekspektasinya.
"Aku benar-benar takut..." Batin Luna.
"Pah lihatlaah!!"
"Anak kita tersenyum malu!"
"Ya tuhan..."
"Biasa muka lempeng kek panci panggangan!!"
Adyatama merasa senang, tidak pernah melihat ekspresi istrinya seexited saat ini, terlebih putranya.
Mahessa dan Luna tengah bersiap memulai dansa mereka.
"Boleh aku request lagu?"
"Sure..."
Mahessa mengisyaratkan asistennya kemudian Farell degan sigap bergegas melaksanakan tugasnya.
Saat denting piano pertama terdengar semua sinar lampu di matikan hanya sisa lampu sorot yang menyinari kedua pasangan penganti baru. Mereka melakukan gerakan dansa dengan alunan musik yang Luna minta. Dansa kali ini diiringi lagu If you're not the one salah satu lagu kesukaan Luna milik Daniel Bedingfield. Selain takjub dengan mereka bisikan lirih ada yang terdengar mengisyaratkan mengapa harus lagu ini.
I don't want to run away but I can't take it, I don't understand..
If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?
Setelah lagu yang Luna inginkan berakhir Farell memberi kejutan lainnya dengan memutar lagu lainnya membuat Mahessa mengernyitkan keningnya.
You've made me love again after a long, long while
In love again...
Beautiful girl..
Lirik lagu yang baru saja Mahessa dengar membuncah hatinya, dia menghentikan gerakan menatap istrinya lekat.
"You've made me fallen in love cutie..."
"My beautiful girl!!"
Mahessa mencium bibir Luna lembut, Luna yang sama terharunya menyambut ciuman mesra suaminya. Keduanya bertautan cukup lama membuat para tamu undangan bersorak bahagia.
"Aku mencintaimu Luna..."
Mahessa melepaskan tautan mereka, menatap lekat wanitanya. Luna hanya membalas dengan senyuman tipisnya.
* * * * *
Seluruh acara telah di laksanakan, Luna kembali memasuki ruang ganti untuk menukar bajunya saat ini.
"Papa melihat Mahessa sepertinya sangat mencintaimu."
Wira kembali mengunjungi putri cantiknya, Luna membalikan tubuhnya menatap ayahnya dan tersenyum.
"May be..."
"And how if?"
Luna berkata lirih menatap jauh kedepan dengan tatapan kosong.
"Huh!"
"Apa semudah itu kamu mencintai seseorang?"
Perkataan ayahnya sungguh menusuk hati Luna. Wanita itu tertawa lirih.
Wira duduk di samping Luna yang kini telah duduk menyamping menopang dagunya menggunakan sandaran kursi.
"Maaf..."
"Papa hanya penasaran..."
"Apa benar semudah itu kamu melupakan Diaz?"
"Padahal dua bulan yang lalu kalian baru saja mengikrarkan pada papa untuk segera menikah tahun depan!"
DEEEGGG!!!
Seluruh sistem syaraf motorik Luna berhenti seketika. Air matanya kembali terjatuh tanpa ia minta. Hatinya kembali nyeri tak terkira. Bahkan kepalanya kini kembali merasakankejutan listrik lanjutan.
"Mengapa papa terus membahasnya?"
"Apa papa sudah mulai berkoalisi dengan mama dan yang lainnya?"
Tuan Wira terkekeh dengan penuturan polos anaknya.
"Aku dan dia sudah tidak bisa terselamatkan..."
"Walau kami masih saling mencintai satu sama lain, akan selalu ada hal yang membuat kami tetap terpisah."
"Kami seperti minyak dan air..."
__ADS_1
"Entah mengapa aku merasa kami sulit bersatu!!"
Kini giliran jantung Wira yang tertusuk benda tajam, merasakan setiap kalimat yang putrinya ucapkan menyimpan sejuta luka.
"Maafkan papa Luna..."
"Untuk apa papa minta maaf?"
"Semua ini sudah takdir cinta Luna yang menyedihkan... Haha"
Luna ingin menangis namun dia mencoba mengalihkan dengan tawa palsunya.
"Awalnya papa tidak menyetujui kamu dan Diaz saat itu."
"Tapi Diaz sudah sangat meyakinkan papa..."
"Dia juga memperlihatkan pengorbanannya pada papa untuk mu!"
"Bagaimana jika dia datang padamu saat statusmu masih istri kontrak Mahessa?!"
Luna menatap papanya tidak mengerti apa yang di maksudkan ayahnya. Sejurus kemudian dia membuang muka menatap kesekitaran.
"Sampai kapan pun, nama Diaz selalu ada dan sulit di hilangkan dalam diri Luna pah!"
"Entah alasan logis yang mana..."
"Mungkin karena dia adalah cinta pertama ku..."
"Pepatah mengatakan jika cinta pertama sulit melupa!"
"Tapi untuk kembali bertemu dengannya Luna tidak tahu..."
"Ingin rasanya Luna menghapus ingatan Luna bersamanya."
"Agar Luna tidak terus berpura-pura tersenyum walau sejujurnya hati Luna terluka."
Luna menutup matanya erat, dia kembali menjatuhkan bulir-bulir bening dari kedua netra indahnya.
"Maafkan papa Luna..."
Tuan Wira mendekap tubuh ringkih putrinya, betapa menyedihkan keadaan putrinya. Hal yan tidak Luna sadari bahwa dia memang benar-benar melupakan kekasihnya itu.
"Bagaimana jika dia tahu bahwa dia telah menikah diam-diam dengan Diaz dan pernah mengandung benihnya walau sejenak!!" Jantung Wira telah bekerja berlebihan dia menekan dadanya kuat.
"LUNAAA!!!"
* * * * *
"Aaarh!!"
Luna memegang kepalanya yang masih di rasanya berputar dan membuatnya pusing tujuh keliling.
"Kenapa aku tiba-tiba terbangun di kamar?"
"Morning cutie..."
"Ups I mean morning my wife..."
Mahessa mengantarkan sarapan pagi mendekati Luna dengan senyuman manisnya. Luna tersentak, dia masih terpaku dan mencerna serpihan ingatannya.
"Seingetku semalam aku melakukan pernikahan dengan Mahessa sepertinya aku kelelahan dan aku tidak ingat..."
"Apa mungkin semalam aku dan Mahessa?" Kedua matanya membulat, tangannya menutupi tubuhnya.
Mahessa mengernyitkan keningnya. "Are you okay cutie?"
Mahessaa mendekat masih menyisakan kekhawatiran terhadap istrinya dan memegang dahi Luna.
"Kamu mau apa?"
"Semalam kamu pingsan mungkin kelelahan."
"Tenang saja pelayan yang menggantikan pakaianmu."
"Aku tidak melakukan apapun."
"Aku sudah berjanji aku tidak akan melanggar kontrak kerja sama kita."
Seolah tahu apa yang Luna pikirkan Mahessa menjelaskan semuanya, Luna terdiam sejenak setelahnya keduanya menjadi canggung.
"Terima kasih..."
Mahessa tersenyum pilu "Mau aku temani sarapan atau kamu ingin sendiri?"
"Apa papaku masih disini?"
"Masih."
"Apa aku melewatkan sesuatu Mahessa?"
Mahessa terdiam sejenak, dia sudah di beritahu semuanya oleh ayah mertuanya.
"Tidak ada..."
"Kamu hanya kelelahan sayang..."
"Kamu pingsan memang saat kita menuju pulang ke rumah."
"Istirahatlah cutie..."
"Mau aku suapi sarapan mu?"
"Ga usah aku ga lapar!"
Luna merebahkan dirinya kembali di ranjang. Dia sepertinya melupakan sesuatu, namun dia tidak tahu apa itu.
"Apa ada yang kamu inginkan cutie..."
"Ya..."
"Tinggalkan aku sendiri!"
Mahessa terdiam sejenak, semua tidak seperti yang dia harapkan. Mahessa sendiri tidak akan pernah mau melepaskan Naluna begitu saja, susah payah dia mejerat Luna saat ini sampai mengorbakan segala yang dia punya untuk mempersuntingnya.
"Baiklah..."
"Istirahat lah..."
"Jangan lupa sarapan mu ya sayang..."
"Ga usah sok peduli!!"
Mahessa mendengus kasar, beranjak dari ranjang istrinya dan keluar kamarnya dengan perasaan sesak di dadanya.
* * * * * * * * * *
__ADS_1
Note : Lirik lagu If you're not the one - Daniel Bedingfield
Beautiful Girl - Christian Bautista.