Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 62 : Pelampiasan


__ADS_3

"Sayaaang, abis ambil photo kita ke cafe tepi danau yuk.." Rengek Luna manja.


"Okey." Adira menjawab seadanya dan kembali fokus menyetir.


Luna masih sangat kesal dengan Adira saat ini, sikapnya mendadak berubah.


"Apa sih yang dia sembunyiin!"


"Kalo kayak gini gimana aku minta ijin pergi?!"


Luna menggigit bibir bawahnya gelisah, terasa aura di dalam mobil sedikit lebih tertekan.


"Sayang masih marah?"


"Ko diem aja?"


Luna menautkan kedua alisnya heran "Bukannya dia yang lagi diemin aku?"


Adira mendekat dan kembali menyesap bibir Luna.


"Arrgh maaas..."


"Ini di mobil..."


Adira tidak menghiraukan perkataan Luna, dia sendiri tidak mengerti kenapa dia sulit sekali mengendalikan gairahnya jika bersama Luna. Sepuluh menit keduanya bercumbu di dalam mobil. Luna kecewa dengan sikap dominan Adira saat ini.


"Dari dulu dia hanya tau melampiaskan semuanya pada sentuhan fisik!"


"Padahal aku ingin membahasnya baik-baik bukan seperti ini!"


Sikap Luna menjadi sendu membuat Adira semakin gelisah.


"Sayaang, kamu kenapa?"


"Jangan marah lagi ya. Aku minta maaf...."


Adira kembali di dera rasa panik.


"Apa mas menikahiku hanya untuk kebutuhan seksual mas saja ya?" Tanya Luna lirih.


"Sayang!"


"Kenapa tiba-tiba ngomong kayak gitu?" Hardiknya.


"Jika mas hanya ingin tubuh ku, kita tidak perlu menikah mas!"


"NALUNA!!"


Luna menundukan wajahnya dia menangis saat ini.


"Maafkan aku sayang..."


"Aku tidak bermaksud memaki mu..."


"Jangan ngomong gitu lagi ya..."


"Aku hanya tidak tahu harus seperti apa untuk mengungkapkan permintaan maafku sayang."


Luna menghirup nafas panjang, dia tidak ingin memperpanjang urusannya. Ini lah kelemahan Luna, dia tidak pernah mau menyelesaikan masalahnya. Dia hanya menyimpan dan tidak lagi mengungkitnya tanpa perlu dia selesaikan apa akar masalah mereka.


"Kita keluar sekarang ya."


Luna membuka pintu dan keluar lebih dulu, Adira terdiam sesaat sebelum keluar dia menyenderkan kepala di kursi dan mendongak frustasi.


Di dalam butik pelayan tengah memberikan sebuah foto seukuran kaca rias yang besar. Luna menutup mulutnya tidak percaya. Perasaannya membuncah saat ini, perasaan kecewa barusan berganti haru.


"Suka sayang?" Adira merangkul Luna dari belakang.


Luna mengangguk dengan penuh aura kebahagiaan, kali ini dia juga sudah tidak sabar dengan pernikahan mereka.


"Untuk baju pengantin akan selesai dalam waktu dua minggu lagi ya."


"Sesuai permintaan masnya kita akan kirimkan ke alamat yang sudah terlampir." Jelas pelayannya.


"Terima kasih mba." Ucap Luna dan segera meninggalkan butik.


Keduanya kini meninggalkan area butik dan bersiap menuju resto untuk mengisi perut mereka karena hari sudah menunjukan jam makan siang.


"Mas..."

__ADS_1


"Hmm..."


Keduanya kembali memilih area gajebo agar lebih leluasa. Adira tengah memeluk Luna dari belakang dan mencium kepala Luna.


"Mas pas jualan jastip kemaren kan responnya bagus banget tuh..."


Luna mengawali percakapan dengan hati-hati.


"Terus?"


"Aku mau jastip lagi minggu ini boleh?"


"Tepatnya besok, aku pulang di hari minggunya?"


"Besok kamu mau ke sebrang?"


Adira melonggarkan pelukan dan membalikan tubuh Luna menghadap dirinya. Luna mulai gelisah.


"Iya.."


"Tapi rencana sama Sandra."


Luna telah berkeringat dingin.


Adira menatap lekat dan seperti tengan melucuti dirinya saat ini.


"Aku ga mau ngerepotin mas..."


"Aku bakalan sangat lama, dan kemarin mas aja ngeluh kan?"


"Aku juga mau cari barang buat hantaran nikahan kita gimana?"


Luna terus membujuk kekasihnya semoga di ijinkan.


"Beneran ga papa ga aku temenin." Tanyanya serius.


"Ga papa mas..."


"Kemaren aku masih ingat harus kemana-mananya."


"Boleh ya mas, aku kan kalau belanja bakalan lama."


Luna mulai mengeluarkan jurus terakhirnya merengek dengan manjanya, dia memeluk kekasihnya erat.


"Huh!"


"Minggu siang udah pulang ya!"


Saking senangnya Luna bangkit dari pelukan menatap serius kekasihnya.


"Seriously?"


"Makasii sayaaangnya aku!!"


Luna mengapit kedua pipi Adira denagn kedua tangannya dan mencium bibirnya. Adira terkekeh dengan respon Luna yang berlebihan. Walau perasaannya sedikit tidak terima.


Setelah selesai dengan makan siang, ponsel Adira berdering terus menerus. Adira tidak berniat menjawab membuat Luna memiliki kecurigaan besar terhadap kekasihnya.


"Siapa yang?"


Luna bertanya setelah Adira kembali dari menjawab panggilannya. Selama ini Adira tidak pernah menghindar jika menerima panggilan telpon namun kali ini dirasa berbeda.


"Oh, masalah kerjaan." Jawabnya datar.


"Cabut yuk yang!" Ajaknya kemudian.


Keduanya bergegas keluar, Luna mencoba sebiasa mungkin atas perasaannya saat ini.


* * * * *


Sebelum menuju rumah Adira mereka mampir membawa perlengkapan Luna besok seperti koper yang biasa dia gunakan untuk jastip onlinenya. Adira memegang erat jemari Luna, Luna merasakan ada sesuatu yang benar-benar di sembunyikan prianya.


"Mas?"


"Apa ada masalah? Mas mau cerita?"


Tak ada jawaban dari Adira, hanya sekilas tersenyum sebentar. Setelah membersihkan diri Adira sibuk kembali dengan laptopnya. Luna menghampirinya memberikannya minuman sebelum Luna membiarkan kekasihnya sibuk dengan pekerjaannya. Dia tersenyum menenggak minumannya menaruhnya di meja dan tiba-tiba saja menggotong Luna ke kamarnya.


"Maaaaaaaas...." Pekik Luna terkejut.

__ADS_1


"Sayaaang aku sangat menginginkanmu..." Lirih Adira benar-benar penuh hasrat.


"Bukannya tadi pagi udah ya yang?" Luna membelai rambutnya berharap mendapat alasan logis atas permintaan tidak wajar kekasihnya saat ini.


"Apakah para lelaki akan menyelesaikan masalahnya dengan bercumbu dengan pasangannya? Atau hanya berlaku untuk Adira Renald saja? Dia benar-benar tidak ingin mengeluarkan sepatah kata tentang apa masalah yang tengah dia hadapi."


"Dia begitu rapih menyimpan sakitnya sendiri. Hanya saja pelampiasan emosinya adalah tubuhku!"


"Aneh ga sih?"


Adira sungguh menggila kali ini, Luna sampai memohon untuk berhenti karena perlakuan kasar kekasihnya yang baru kali ini dia rasakan. Sekujur tubuhnya merasakan sakit luar biasa terlebih pusat intinya yang di paksa dimasuki tanpa foreplay meninggalkan nyeri di **** *************.


"Aawh!" Luna terbangun merasakan sekujur tubuhnya seperti di timpa batu besar.


"Si bajingan Adira itu meninggalkan ku begitu saja!!"


Luna kecewa saat ini, dia tidak ingin menangisi kekerasan yang di lakukan Adira saat ini.


"Seumur-umur dia tidak pernah sebrutal ini!"


"Dia tidak memperdulikan kenyamanan ku!"


"Dia terus melakukannya, bahkan saat dia kli*maks baru kali ini dia menjambak rambut ku!"


"Apa benar aku akan menikahi dia?"


"Apa aku tidak salah?"


Luna bangkit dari ranjang, berdiri dan berjalan tertatih memegangi dinding. Luna tidak melihat Adira di tengah rumah, dia berkeyakinan prianya tengah di ruang kerjanya. Luna merebahkan dirinya dalam rendaman air hangat dalam bathtub.


"Dah bangun sayang..."


Luna terperanjat, dia bangkit seketika.


"Seingatku aku mandi?!" Gumam Luna gelisah akan dirinya.


Adira segera menghampiri Luna dan memeluknya erat.


"Maafkan aku sayang!"


"Aku mohon maafkan aku sayaang!!"


"Aku berjanji ini yang terakhir kalinya aku bersikap kasar!"


"Apa yang terjadi?!" Luna bertanya pada Adira dengan lirih.


"Kamu pingsan sayang..."


"Maafkan aku..."


"Mas ada masalah apa? Mas tidak mau cerita kah?" Tanya Luna mengangkat wajah Adira yang tengah menangis menyesali perbuatannya.


"Ini hanya tentang pekerjaan yang sedang dikejar deadline. Aku sedang berusaha keras mengatasinya. Agar aku tidak begitu kehilangan uang. Aku harus bekerja lebih keras untuk nyonya Adira." Ucapnya lemah.


"Sayaaang jangan terlalu memporsir diri."


"Mas baru aja pulih."


"Apa ada yang bisa aku bantu?"


"Iya, aku ingin kamu selalu disisiku."


"Biar aku terus semangat mengerjakan semuanya."


Luna tidak ingin jawaban seperti ini, terlihat jelas Adira masih menyembunyikan masalahnya.


"Sayaang?" Adira memanggil Luna.


Luna tidak ingin memperpanjang masalah karena dia yakin Adira akan terus bungkam.


"Mau makan?"


Luna menganggukkan kepalanya lemah.


"Aku pesan delivery order aja ya."


Adira menyambar ponselnya dan keluar kamar. Luna menatap nanar kearah pria yang kini menghilang di balik pintu.


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2