
Mahessa tertegun dengan reaksi Luna, kini wanita kesayangannya terdiam sekian lama setelah tadi berusaha berontak seperti orang gila.
"Aku benci mengetahui kelemahanmu adalah dia!" Batin Mahessa.
"Apa kamu tahu, siapa Adira Renald sebenarnya?" Tanya Mahessa kedua kalinya.
"Aku tahu dia adalah calon suamiku!" Jawab Luna ketus.
PRAAAANG!
Mahessa membanting gelasnya dilantai sontak membuat Luna terkejut. Luna mulai ketakutan dengan sikap Mahessa yang tiba-tiba sangat menyeramkan. Dia teringat kembali bagaimana mantan kekasihnya dalam mode psyco.
"K-kamu mau apa..."
"Jangan dekati aku."
Luna beringsut mundur menjauhi Mahessa yang kini mendekatinya.
"Kamu boleh saja tidak menerima pernikahan ini."
"Sebagai gantinya aku menginginkan nyawa Adira saat ini juga!"
Ancaman Mahessa membuat Luna membanjiri wajahnya dengan air mata.
"Kamu bajingan Mahessa mengancamku dengan menggunakan kelemahanku."
"Apa kamu tidak tahu malu hanya tau menghabisi nyawa seseorang demi ambisimu?"
Mahessa mendekati wajah Luna kembali meraup kedua pipinya dengan satu tangannya.
"APA YANG AKU MAHESSA ADYATAMA INGINKAN TIDAK PERNAH TIDAK AKU DAPATKAN!!" Ujarnya penuh penekanan.
"Kamu boleh hubungi kekasih hatimu."
"Tanyakan keberadaannya apa yang tengah dia lakukan..."
"Apakah dia akan jujur padamu tentang statusnya sebagai CEO RENALD GROUP yang sebentar lagi menuju kebangkrutan karena ulahmu..." Ujarnya dingin kembali membelakangi Luna.
DEG!
Bergetar tubuh Luna mendengar setiap penuturan Mahessa, Luna menutup mulutnya dia terisak pilu. Mahessa sungguh jauh lebih menakutkan dari mantan kekasihnya. Luna terduduk di lantai tangannya menopang di pinggiran kursi, dia terus terisak pilu.
Ddddrrrrttttt... Ddddrrrrttttt... Ddddrrrrttttt...
Tiba-tiba ponselnya bergetar, Luna menghentikan isak tangisnya. Dia menajamkan indra pendengarannya dan memang benar ponselnya tengah bergetar.
"Bagus!"
"Angkatlah bukankah kamu ingin mengetahui kebenarannya?"
Luna menatap nanar penuh kebencian pada Mahessa. Pria itu kini kembali duduk di kursinya.
Luna menata hati dan suaranya agar tidak membuat pasangannya curiga.
"Halo mas..."
"Halo sayaaang..."
"Maafkan aku baru menghubungimu saat ini..."
Luna menutup mulutnya berharap Adira tidak mengetahui kondisinya saat ini
"Iya mas..." Luna berusaha untuk tidak mengeluarkan suara tangisnya.
"Kamu sudah tidur?"
"Maaf ya aku baru telpon..."
"Kamu marah ya sayang..."
Nada bicara Adira terdengar lemah membuat Luna semakin merasa bersalah. Luna menjauhkan ponselnya mengatur nafas dan suaranya.
"Maafkan aku mas..."
Hanya itu yang mampu Luna ucapkan.
"Kamu sedang menangis?"
"Kamu kenapa sayaang?"
Adira mulai terdengar panik.
"T-tidak..."
"Aku hanya baru bangun..."
"Tadi aku ketiduran..."
"Aku merindukanmu mas..."
"Aku ingin bersamamu saat ini, aku sungguh menyesal aku meminta pergi hari ini."
Luna kembali menumpahkan air matanya, dia tidak tahan terus menahan air matanya dadanya semakin sesak. Mahessa mendengarkan dengan baik setiap apa yang Luna bicarakan. Semua itu membuat hatinya ikut merasakan nyeri.
"Lunaaa..."
"Maafkan aku sayang..."
"Aku tidak memberitahumu sebelumnya."
"Semua juga serba tiba-tiba..."
"Saat ini aku pulang ke kota K tadi siang."
__ADS_1
"Kondisi papa memburuk, dan sore tadi dia dilarikan di ICU."
"Mama yang syok dengan kondisi papa yang menurun membuatnya hilang kesadaran dan ikut dirawat. Aku tidak sempat mengaktifkan ponselku. Aku lupa mengabarimu, aku mendapatkan kabar ini setelah kamu bertolak di pelabuhan." Akhirnya Adira menjelaskan semua yang terjadi padanya saat ini.
Bagai disambar petir untuk yang kedua kalinya apa yang diucapkan Mahessa benar adanya. Luna mematikan sambungan telpon dan memekik pilu.
"Aaaaaaaaaaaaaaa....." Luna berteriak histeris sampai dia tidak sadarkan diri.
"LUNAAAA!!!"
Mahessa segera membopong Luna keluar ruangan dan membawanya ke kediamannya di Beverly.
"Farell, hubungi Dokter Lee suruh dia datang ke kediaman."
"Siapkan kamar untuk Luna. Dia pingsan!" Titah Mahessa panik.
"Baik Tuan..."
Setelah menutup sambungan telpon, Mahessa kembali memegang erat tangan Luna.
"Bangunlah Cutie..."
"Aku minta maaf sayaaang...."
Mahessa semakin mengeratkan pegangan tangannya dan melajukan kendaraannya dengan sangat cepat. Dia dihinggapi rasa bersalah, dan kepanikan luar biasa.
* * * * *
Satu jam sebelumnya di kediaman Renald.
Adira terbangun dari tidur singkatnya di tengah rumah, terdengar suara pintu kamar terbuka.
"Dira, kakak akan kerumah sakit sekarang."
"Kamu istirahat dulu disini."
"Bagas sedang menuju kemari, dia membawakanmu ponsel baru."
Arnetha tengah bersiap untuk menggantikan berjaga dirumah sakit.
"Aku perlu back up data dulu." Jawab Adira asal.
Pikirannya masih berkecamuk. Ditengah carut marutnya urusan bisnis yang semakin tidak jelas alurnya. Kini kedua orang tuanya tengah berada di rumah sakit. Kekasih hatinya yang selalu dia andalkan disaat seperti ini kali ini tidak bisa dia hubungi. Perasaan tidak enak masih terus mendera hatinya.
"Setelah tahu papa di rumah sakit kenapa perasaan tidak nyaman masih bertahan dihati malah semakin sakit. '
"Lunaaaa..."
Saat ini yang ada dipikirannya hanya Luna. Dia sedang berada jauh dari jangkauannya. Belum lagi insiden pecahnya ponsel Adira tanpa sebab membuatnya semakin putus asa. Adira menjambak rambutnya kasar, dia frustasi! Tak berapa lama Bagas mendatanginya memberinya sebuah ponsel baru dan laptop yang tertinggal di rumah sakit sebelumnya. Dia pikir dia akan segera kembali dan mengerjakan tugas perusahaan disana.
"Bagas, kamu lacak keberadaan Luna."
"Pantau CCTV rumah."
"Apa ada orang asing yang sedang berbuat jahat?"
"Kalau boleh tau apa ada masalah dengan nona?"
Bagas memang sanagt peduli dengan kondisi tuan mudanya.
"Aku tidak bisa menghubunginya..."
"Aku merasa tidak enak perasaan."
"Aku seperti memiliki firasat buruk!"
Adira mengambil ponsel barunya dan segera memindahkan sim card ke ponsel barunya yang sudah di upgrade menjadi iP5.
"Baik tuan."
"Oh iya tuan, anda harus segera mengisi perut."
"Saya perhatikan anda belum ada memakan sesuatu dari kita tiba disini."
"Menjaga kondisi tubuh disaat ini sangat penting tuan" Bagas mengingatkan Adira.
"Terima kasih saya belum ingin memakan sesuatu." Jawab Adira tidak mendengarkan.
"Aku ingin memakan masakan Luna." Batinnya.
"Apa yang ingin anda makan saya akan carikan." Tanya Bagas lagi dia begitu mengkhawatirkan tuannya.
"Ehm... Mungkin nasi goreng aja pedes manis seperti kesukaan Luna." Adira tersenyum.
"Aku merindukanmu sayaang..." Lirihnya menjatuhkan tubuhnya di kursi mendongakan wajahnya menatap langit-langit.
"Nona Luna sangat beruntung dicintai oleh anda." Goda Bagas melihat tingkah tuannya saat ini.
Adira tersenyum. "Akulah yang beruntung mendapatkannya."
"Saya berdoa semoga segala urusan tuan dengan nona Luna dimudahkan..."
"Kalian begitu saling mencintai." Ucap Bagas tulus seraya pamit.
"Luna.... Aku merindukanmu... Sangat merindukanmu... Kamu lagi apa sayaaaang??"
* * * * *
Luna telah ditangani oleh dokter pribadi keluarga Adyatama. Dia adalah dokter Lee merupakan teman Mahessa juga.
"Apa yang telah kamu lakukan dengannya?" Tanya Dr. Lee.
"Apa keadaannya baik-baik saja?" Tanya Mahessa balik penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Dia hanya terkejut."
"Kondisi badannya yang sangat lemah terlebih dia sedang menstruasi wajar jika dia pingsan."
"Siapa dia?"
"Aku tidak pernah tahu kamu membawa seorang wanita?"
"Dia istriku." Jelas Mahessa dingin.
"APA?"
Dokter Lee terkejut dengan penuturan sahabatnya. Dia sangat tahu bagaimana mungkin dia tiba-tiba memutuskan menikah di tengah perjodohannya dengan Alena dan gadis ini dia tidak mengenalnya sama sekali. Dari segi paras memang gadis ini sangat cantik namun bisa dibawa oleh Mahessa di kediamannya itu merupakan suatu keajaiban.
"Kapan kamu menikah?"
"Aku tidak pernah mendapat undangannya."
"Are you joking me?" Ketus Dr. Lee.
"Pernikahanku diadakan senin depan."
"Farell telah menyiapkan undangan untukmu."
"Tidak semua hadir hanya orang tertentu yang tahu tentang pernikahanku." Jawab Mahessa datar.
Mahessa duduk disamping Luna, dia memperhatikan wajahnya lekat, membelai rambut dan pipinya.
"Aku mengenalmu Mahessa."
"Apa dia kamu gunakan untuk memutus perjodohan? Atau pengambilan saham?"
"Oh... I see!"
"Keduanya tentunya..."
"Tapi dilihat-lihat sepertinya dia bukan sekedar alat untuk mu."
"Aku tidak menyangka kamu akan menyembunyikan hal sebesar ini dari ku."
"Aku sedih aku hanya akan dianggap ketika kamu butuh saja." Dr. Lee memancing Mahessa.
"Kebetulan dia menjadi alat untuk ambisiku saat ini."
"Tetapi sejujurnya aku memang sudah jatuh hati padanya." Mahessa mengecup kening Luna lembut.
"APAAA!!!"
Siapa yang tidak kenal dengan pria dingin yang angkuh yang hanya tau mengakusisi sejumlah perusahan untuk keuntungan semata. Dia bahkan tau kelemahan Mahessa tentang wanita. Dia tidak bisa menyentuh wanita yang tidak ingin dia sentuh bahkan dia selalu muntah jika berdekatan dengan wanita. Terakhir dia tahu kejantanannya diragukan fungsinya, tunangannya tanpa sehelai benang saja dia biasa saja bahkan jijik melihatnya. Saat ini dengan jelas dokter Lee melihat skin to skin Mahessa dengan Luna.
"Menyukainya bagaimana bisa?" Dr. Lee tidak percaya.
"Entahlah..."
"Hanya dia yang tahu caranya." Mahessa terkekeh.
"Sayang dia telah memiliki tunangan."
"Jika bukan aku paksa seperti ini aku tidak akan pernah mempunyai kesempatan memilikinya."
Dr. Lee menggelengkan kepala tanda tidak percaya apa yang telah Mahessa lakukan.
"Jangan terlalu kejam Mahessa."
"Jika dia jodohmu aku rasa semua akan kembali padamu."
"Tapi jika dia bukan ditakdirkan untukmu, sekeras apapun kamu berusaha maka dia akan pergi juga." Ucap Dr. Lee menasehati.
"Berisik aku tidak perlu nasehatmu."
"Sekarang pergilah menjauh!!"
"Kamu sudah terlalu banyak tahu jika info ini sampai tersebar maka jangan salahkan aku kasar padamu."
"Aih habis manis sepah dibuang...."
"PERGI!"
Mahessa kembali emosi saat ini.
"Okay.. I know you so well right?"
"You too.. So don't be panic!"
Dokter Lee kesal seraya meninggalkan ruangan, saat ini hanya ada dia dan pujaan hatinya.
"Kamu sungguh sangat cantik cutie."
"Sedetikpun aku tidak ingin mengalihkan pandanganku darimu."
"Maafkan aku atas perlakuan kasarku."
"Aku terpaksa..."
"Jika saja kamu tidak begitu sulit untuk aku dapatkan mungkin jalannya tidak sesakit ini!"
Mahessa mencuri ciuman dari wanitanya. Dia menyesap bibir Luna bermain didalamnya bahkan mencoba menggerayangi tubuh wanitanya yang terekspos sampai dia tersadar dan tidak seharusnya seperti ini.
"Da*mn!"
"Aku tidak akan sama brengseknya dengan Adira yang selalu menjamah tubuhmu disaat belum sah menjadi pasangan."
"Walaupun sejujurnya aku telah sah menjadi pasanganmu secara negara!!"
__ADS_1
Mahessa keluar kamar dan menyuruh Farell membawa beberapa pelayan mengganti pakaian yang Luna kenakan.
* * * * * * * * * *