Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 42 : Pasangan Baru


__ADS_3

Luna memejamkan mata dalam bak mandi yang hampir menenggelamkan dirinya didalamnya. Luna semakin merasa dirinya begitu hina. Disaat yang bersamaan ponselnya berdering. Luna menjawab panggilannya kemudian Luna loudspeakers.


"Iya maas..."


"Aku menunggumu setengah jam!!" Rutuk kekasihnya kesal diseberang sana.


"Maafkan aku sayaaang... Aku sangat lelah." Lirihnya.


Luna menyeka sudut matanya yang masih mengeluarkan air mata. Luna telah melakukan kesalahan besar Luna harus bagaimana menghadapi Adira saat ini.


"Aku telah menipunya sejauh ini. Bahkan tubuhku sudah dijamah orang lain selain dirinya."


"Kamu baik-baik saja?" Tanyanya khawatir. Mungkin dia menyadari suasana menjadi sendu.


"Kapan mas pulang?" Tanya Luna mengalihkan pembicaraan.


"Jumat malam sayang... Tiga hari lagi." Jawabnya lembut.


"Lama sekali!" Rengek Luna.


"Hahaha... Apa yang kamu inginkan dari ibu kota sayang? Nanti aku carikan." Adira menawarinya sesuatu adalah suatu kemustahilan.


Bagi Luna di dalam ingatannya terdahulu Adira adalah makhluk yang kurang peka terhadap apa yang dia inginkan. Namun disaat dia seperti ini Luna malah merasa sangat bersalah.


"Aku menginginkanmu..." Luna sudah tidak bisa membendung lagi air matanya.


"Cewek gombal!!" Adira yang tidak tahu apa yang terjadi menjawab dengan sedikit kekehan.


"............." Luna terdiam memejamkan matanya.


"Kamu menangis sayang?" Akhirnya Adira menyadarinya.


"Aku pulang besok..." Secepatnya Adira memutuskan kepulangannya.


"Eh APA?" Luna beranjak terduduk sempurna setelah tadi hampir menenggelamkan diri.


"Aku tidak ingin mendengarmu menangis sayang. Aku akan pulang biarlah pelatihan ini orang lain saja yang melanjutkannya." Perkataannya menjadi serius membuat Luna merinding.


"Aku hanya merindukanmu bukan tengah dalam keadaan bahaya!!" Sungut Luna gelisah.


"Hehe aku lebih memilih kamu mengutukku sepanjang waktu sayang dibanding harus mendengarmu kembali menangis..." Lirihnya.


"Aku mendengar suara percikan air. Kamu sedang berendam?" Tanyanya kemudian.


"Iyaa.."


"Mas mau melihatku? Kita video call." Luna mencoba menggoda kekasihnyanya.


"Lunaaaaaaaaa...." Pekik Adira kesal.


"Hahaha ingat ya mas awas aja kalo cari wanita lain buat memuaskan hasratmu saat ini!!! Aku tidak terima!!" Sungut Luna kasar.


"Hahaha pedang kapitenku hanya bisa berdiri jika disampingmu saja yang... Apa yang perlu kamu khawatirkan...." Dia menyombongkan diri.


"MUSHROOOOM!!!" Pekik Luna malu.


"Lah kamu tadi yang duluan mesum!" Kekehnya.


"Haha egoisnya diriku! Aku membiarkan tubuhku dijamah lelaki lain namun tidak mengijinkan lelakiku menjamah wanita lain." Luna mengejek dirinya sendiri.


"Cepat keluar sayaang kamu akan masuk angin nanti!" Titahnya cerewet.


"Iya... Nih aku sudah keluar apa mas mau lihat?!" Luna kembali menggodanya.


"Haisshh... Pulang nanti aku akan membuatmu meringis saat berjalan." Terdengar seperti peringatan keras.

__ADS_1


"Istirahat ya sayang... Nanti aku telpon lagi.. Love you lunaku sayang..." Ujarnya mesra.


Luna terdiam dengan penuturan prianya. "Love you too mas.."


Sambungan terputus dan Luna menangisi kelakuan bejadnya.


* * * * *


Pagi ini Luna sempat memasak dan membawa bekal. Demi tercipta tatanan ekosistem kehidupan maka hemat is a must!


Ddddrrrttt... Ddddrrrttt... Ddddrrrttt...


Luna melihat layar ponsel, dia menghembuskan nafas perlahan.


"Halo..."


"I'm here cutiepie..." Ungkap pria disebrang.


"Depan pintu?" Ujar Luna kemudian.


"Ya..." Sebelum menjawabnya Luna sudah membukakan pintu untuknya. Mahessa tersenyum menyambut Luna dengan manisnya.


"Aku tidak tahu kamu memiliki bakat spy!" Rutuk Luna.


"Haha.. May I?" Dia meminta ijin memasuki rumah Luna


"Yes please..." Aku menjawab enggan.


"Adira hanya memberimu rumah sekecil ini?"


Luna mendengus kesal. "Jika kamu datang untuk baku hantam mening ga usah!!"


Mahessa menarik tangan Luna dan mendekapnya kemudian.


"Idih buat apa... Sudah sarapan?" Tanya Luna kemudian.


"Belum..." Jawabnya singkat.


"Kemarilah aku membuat nasi goreng. Sepertinya cukup buat kita berdua. Aku tidak begitu banyak memakan karbo." Luna menyiapkan makanan untuk dua porsi.


"Kopi?"


"Anything..." Jawabnya kembali merangkul tubub Luna dari belakang.


"Apa kamu tahu disini ada CCTV?!" Luna membalikkan badan mengarah padanya.


"Ya.." Dia dengan sengaja mencium bibir wanitanya.


"Bibir ini begitu candu untukku!!" Mahessa terus menyesap bibir lembut manis kesukaannya.


"Aaah... Sudah tau ada CCTV kamu berani sekali!!" Rutuk Luna melepaskan tautannya dan menghidangkan segelas kopi.


"Aku sudah memanipulasinya..." Jawabnya datar bersiap duduk dan makan bersama.


Mulut Luna terbuka lebar! "Daebak!!"


"Apa pekerjaanmu.." Luna menatap Mahessa sebelum menyantap sarapannya.


"Dengan kedua mobil mewahnya serta uang yang dia berikan bahkan saat ini bisa memanipulasi rekaman CCTV aku yakin dia bukan orang yang sekedar kaya. Aku harus selalu waspada dengannya."


"Hanya pebisnis..." Ujarnya tersenyum.


"Apa kamu tahu siapa Adira?" Tanyanya kemudian.


Luna berhenti menyuap menatapnya lekat "Ya... Dia calon suamiku!"

__ADS_1


Mahessa menghentikan aktifitasnya atau lebih tepatnya sudah selesai.


"Apa yang kamu sukai dari dia?!" Dia membalas menatap Luna membuat Luna gelisah.


"Apa ya?"


"Ada pepatah mengatakan..."


"Perempuan bukan tentang yang dia ucapkan. Perempuan selalu tentang yang tak terucap..."


Mahessa menunjukkan sikap kesal dengan jawaban Luna yang tidak menjelaskan apapun.


"Kebanyakan wanita juga sangat menyukai karakter Bad boy,"


"Semakin dia tersakiti semakin dia mencintainya... Dan aku salah satu diantaranya."


"Hahaha aku tidak percaya kamu seperti itu. Jadi jika aku berubah menjadi bad boy apa kamu akan mencintaiku?"


"Mahessa...." Luna ingin mengakhiri diskusi ini.


"Aku mencintaimu Luna..." Dia beranjak dari tempat duduknya.


"Aku menunggumu dibawah!" Kemudian dia berlalu dengan sikap dinginnya.


Luna menelan salivanya. "Oh Naluna Maharani yang bodoh, sekarang kamu membuat dirimu dalam kandang beruang dan singa dalam waktu yang bersamaan..."


Luna merapihkan semuanya, bergegas keluar rumah dan menemui Mahessa di bawah.


* * * * *


Mereka sudah sampai di depan gate kantor Luna. Sepanjang jalan Luna mendumel dengan Mahessa. Pasalnya Mahessa menggunakan Audi SUVnya setelah kemarin dia menggunakan Porsche.


"Kamu ga ada mobil biasa aja gitu kayak avanza kek apa sedan biasa gitu?!" Rutuk Luna setelah memasuki mobilnya.


Mahessa mengerutkan keningnya "Tidak!" Jawabnya mantap.


"Disini aku hanya memiliki tiga mobil ini. Porsche, BMW, dan ini versi termurah mobilku."


"Jika kamu menginginkan aku menggunakan mobil lainnya aku akan membelinya siang ini?" Ujarnya serius.


"Orang kaya lagi pamer!! Ginjalku bergetar mendengarnya!!" Sungut Luna sarkas.


Mahessa terbahak dengan penuturannya.


"Terima kasih atas tumpangannya..." Luna bersiap untuk turun. Tapi tangan Mahessa menarik lengannya.


"Aku belum memberikanmu ceknya. Kamu ingin pergi begitu saja?!"


"Tidak perlu terburu-buru bukankah masih ada dua minggu lagi. Lagian belum tentu aku menyetujuinya lagi." Luna kembali memprovokasi Mahesaa dalam hal mengundang emosi.


"Luna!" Mahessa mulai tersulut.


Mahessa langsung mencium bibir wanitanya dan menyesapnya kuat. Luna berusaha mendorongnya.


"Kamu semakin kurang ajar Mahessa!!" Luna kembali memakinya.


"I'm sorry Lunaa... I'm addicted to you." Dia kembali membisikkan kata yang saat ini seperti mengalirkan kejutan listrik didalamnya kemudian mengecup leher Luna lembut dan menggigit kecil telinganya semakin membuat tubuh Luna meremang.


"Mahessa... Aku bisa terlambat." Luna kembali mendorongnya dengan suara manja.


Mahessa tersenyum "Sore nanti aku menjemputmu kembali ya... Aku akan menjadi taksimu selama Adira tidak ada." Dia mencolek daguku bersikap menggoda.


Luna tidak menanggapinya lagi bergegas keluar memasuki gate.


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2