Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 94 : Atas Nama Cinta


__ADS_3

"Permisi nona..."


Bagas mengetuk perlahan ruang kerja Arnetha di kediamannya.


"Masuk!"


"Ada apa?"


Arnetha tengah terisak dan segera menghapus bulir air matanya. Wanita itu tengah kecewa dengan adik kesayangannya yang telah merusak seorang gadis hingga hamil dan menggugurkannya paksa. Dia tidak menyangka adiknya bisa melakukan hal itu.


"Apa nona baik-baik saja?" Bagas terlihat khawatir.


"Jujur padaku!!"


"Apa Adira sudah serumah dengan Luna?!"


Bagas terdiam dia sepertinya tahu bahwa Arnetha sudah mengetahui pasal hubungan asmara adiknya yang sudah di luar batas.


"Hahaha!!" Arnetha tertawa mengejek dirinya.


"Hah!"


"Dia di biarkan bebas dan ini yang dia berikan pada kami!!"


"Dia seperti tengah melempar kotoran di depan wajah kami!!"


"Apa didikan keras kami tidak ada yang berpengaruh padanya!!!"


Arnetha tidak tahan kembali terisak, bagaimana bisa adiknya bisa sebajingan ini.


"Nona..."


"DIAM!!"


"Aku akan mengurus si degil itu setelah dia keluar rumah sakit."


"Aku akan menghukumnya!!!!"


"Ada hal lain apa yang ingin kamu bahas?!"


Bagas terdiam, dia tidak mungkin ikut campur mengenai majikannya.


"Saya mendapat kabar dari informan di area Laguna."


"Perihal apa?"


"Nona Luna."


"Oh ya?"


Bagas memperlihatkan foto yang baru dia cetak. Disana terlihat beberapa foto yang sangat mengejutkan dirinya.  Foto pertama memperlihatkan kebersamaan Luna dengan seorang pria paruh baya yang dia taksir berusia kepala 5 sepertinya ayah Luna karena parasnya sedikit mirip. Lembaran berikutnya memperlihatkan pemandangan yang tak biasa, mereka tengah menyiksa dua wanita muda.


"Apa ini Bagas?!" Lirih Arneth.


"Lelaki yang seumuran dengan tuan besar kemungkinan adalah papa Luna."


"Siapa dia?"


"Sepertinya bukan orang biasa dia memiliki......"


Arnetha berhenti di lembaran saat Bobby menampilkan hologram dan saat tuan Wira mencengkram serta menampar kedua gadis itu. Arnetha ingat jam tangan jebolan KTech yang hanya bisa keluar lewat sistem pemesanan dan tidak sembarang orang bisa mendapatkannya.


"Aku ingin rekaman CCTV disana!"


Secepatnya Arneth ingin tahu percakapan mereka.


"Ehm...." Bagas gelisah.


"Kenapa?" Tanya Arneth heran.


"Sudah terhapus seseorang nona."


"APAAA?"


"Dia bisa mengakses security kita?"


"Iya..."


"Dua jam setelah orang kita memotret ini dan menyerahkannya padaku."


"Informan itu kini dinyatakan menghilang."


"APAAA?!!"


"Siapa Naluna!!" Lirih Arnetha lemas.


"Saya tahu siapa lelaki itu..." Ujar Bagas hati-hati.


"Oh ya?!"


Arneth merasa heran dirinya saja tidak tahu, mengapa Bagas bisa sok tahu?


"Dia adalah Wira Kusuma!"


"Anak pemilik Dataran L, mafia kelas satu jaringan hitam se-Asia dan juga co-founder Emperor."


"PAPA!!"


Keduanya terkejut, Arnetha sampai berdiri setelah mendengar suara pria paruh baya yang dia kenal menjelaskan apa yang mereka tengah bahas. Arnetha juga gelisah apa mungkin percakapan sebelumnya papanya mendengarnya.


"Papa kapan pulang?!"


Arnetha segera mendekati papanya dan mendorong kursi rodanya masuk ke dalam.


"Barusan Damar yang mengurus segalanya."


"Tapi bukannya papa masih belum sehat betul?!"


"Papa semakin lama di sana justru akan semakin menurun!"


"Bagaimana RG?"


"Stabil pah bahkan naik 2%."


"Apa yang mereka dapatkan dari turunnya saham kita?"


"Tidak ada!"


"Bahkan pembeli saham sporadis itu mengembalikan semuanya."


Tuan Surya terdiam, dia mengambil berkas yang di lihat Arnetha sebelumnya.


"Naluna ternyata adalah putri Wira Kusuma." Lirihnya bergetar.


"Istri tuan Wira adalah Nona muda Emperor."


"Liliana Tan."


DEG!


Arnetha seperti lupa cara bernafas, matanya dia keluarkan sepenuhnya. Mengapa dia baru mengetahui informasi ini sekarang.


"Si bodoh Adira itu dengan berani menghamili anak seorang mafia dan bangsawan Negara S!"


"Beruntungnya RG masih termaafkan saat ini!!"


"Apa jangan-jangan mereka tidak tahu apapun mengenai putrinya?"


"Papa tidak ingin suudzon, apa carut marut RG beberapa hari ini karena ulah Emperor atau bukan?"


"Bukankah kelian tengah mengikuti salah satu tender Emperor di ibu kota?"


"Benar pah..."


Damar menantu atau suami Arnetha kini bergabung memasuki ruang kerja istrinya.


Arnetha menghembuskan nafasnya lega, sepertinya memang bukan Emperor. Jika iya mungkin mereka tidak akan mudah melepas diri. Dia sendiri sudah tahu desas desus CEO Emperor jika ingin menjatuhkan lawan mereka, mereka tidak akan pernah segan dengan cara paling halus bahkan paling kasar sekalipun.


Jika bukan untuk memberikan suntikan dana bagi RG sejujurnya Arnetha selalu menghindari berurusan dengan Emperor.


"Kamu mengetahui sesuatu Arneth?" Tanya Surya khawatir melihat kegelisahan putrinya.


"Eh tidak pah..."


"Sepertinya memang bukan Emperor."


"Mungkin orang iseng saja!"


"Orang iseng mana yang bisa memasuki ranah finalsial kita yang sudah di pasang pengamanan system terbaru?!" Hardik Surya masih merasa kesal.


"Mana Adira?!"

__ADS_1


"Dia di rumah sakit pah." Lirih Arneth.


"Apa?!" Surya memegang dadanya kembali.


"Paah!!"


"Dia hanya kecapean."


"Setelah berusaha menstabilkan saham malam kemarin dia pingsan."


"Kata bibik dia tidak pernah makan dengan benar."


"Si degil ini!!" Dengus Surya mengatur nafasnya.


"Lebih baik papa istirahat di kamar."


"Baiklah..."


"Jika Adira sudah kembali beritahu dia menghadap papa."


"Pah..."


"Apa yang ingin papa lakukan terhadap Adira dan Luna?"


Sebelum ayahnya pergi meninggalkan ruangannya Arnetha kembali bertanya duduk permasalahan sebelumnya.


"Papa sejujurnya tidak ingin melarang siapapun yang jadi pilihan kalian."


"Hanya saja..."


"Papa berusaha melindungi kalian."


"Papa mendukung mereka, apa mungkin mereka sama demikian?!"


"Baru saja mengumumkan ingin bertunangan saja kita sudah di timpa masalah seperti ini di RG!"


"Selama satu dekade kita mendapatkan kedamaian."


"Saat Adira menjabat dan mengumumkan siapa calon istrinya, kita kewalahan."


"Papa serahkan pada Dira..."


"Selalu ada harga yang pantas atas sesuatu yang kita inginkan."


Tuan Wira kemudian berlalu di bantu asistennya Arya mendorong kursi rodanya.


Bruk!


Arnetha menghempas dirinya frustasi di sofa.


"Sayaang.." Sapa Damar.


"Bocah sialan itu apa sebegitu begonya jatuh cinta sama cewek!!"


"Maaf nona saya menyela."


"Selama saya menemani tuan muda di Kota B."


"Keduanya sama-sama menyingkirkan identitas mereka."


"Nona Luna juga hidup biasa saja, bahkan saya harus menipunya sebagai pemilik mansion Aston yang di peruntukan untuknya."


"Mungkin mereka berjodoh sayang..."


"Sama-sama memiliki sifat mandiri dan tangguh melepaskan identitas keluarga besar mereka.


Suami Arnetha menenangkan istrinya. Hal yang tidak di ketahui oleh keluarganya yang lain bahwa Adira telah melewati batas dalam menjalin hubungan dengan Luna.


* * * * *


"Bagaimana?"


"Kedua wanita itu tidak bisa di hubungi nona..."


BRAAAAK!!


"Setelah menerima uangku mereka langsung kabur begitu saja?!" Umpat Alena emosi.


"Lalu rumornya?"


"Menghilang..."


"Hanya bertahan satu hari tepatnya 24 jam 30 menit nona."


"Apa mungkin Mahessa yang melindunginya?" Alena tengah berpikir.


"Kamu selidiki lah gerak gerik wanita ja*lang itu!!"


"Jika lepas dari pengawasan kamu lakukan........."


"Baik nona."


"Pergi sekarang!!"


Semenjak pemberitaan pemutusan pertunangan bahkan pembatalan pernikahannya dengan pujaan hatinya Alena semakin depresi. Saat ini pikirannya hanya di penuhi oleh balas dendam pada Luna. Setelah memanfaatkan pengkhianatan teman sekantornya Andin dan Sherly. Alena memberikan akses keduanya menyebarkan rumor buruk tentang Luna di kantor bahkan di beberapa media sosialnya. Alena membayar Andin dan Sherly untuk menjadi pion catur dirinya menghancurkan seorang Luna.


"Kita lihat saja Luna!!"


"Bagaimana jika aku menghancurkan harga dirimu."


"Aku yakin Mahessa tidak akan menginginkan wanita kotor menjadi istrinya. Secepatnya dia akan menceraikanmu!!"


"Berani sekali kamu merebut priaku!!"


Di satu sisi di kantor Harbour Bay, Mahessa tengah bergegas menuju keluar kawasan. Setelah urusannya selesai dengan rapat dadakan mengenai Sea Resort yang mengalami penurunan nilai saham karena aksinya dengan RG berimbas pada investasinya di Sea Resort.


"Apa aku menemui Luna sekarang?" Gumamnya berpikir sejenak.


"Tuan mobil anda..." Farell menyerahkan kunci mobil tuannya.


"Apa anda akan menemui nyonya?"


"Sure..."


"Paragon telah di rapihkan?"


"Aku ingin Luna pindah hari ini kesana."


"Sudah tuan..."


Setelah memastikan Mahessa mengemudikan BMW hitamnya menyelusuri jalanan malam. Dia tersenyum membayangkan di sambut mesra oleh istrinya setelah kepulangannya bekerja. Namun sesampainya di manson Luna. Mahessa terkejut pasalnya Luna tengah kembali terbaring lemah.


"Pah, aku ingin membawanya ke Paragon di kediaman ku disini"


Mahessa merasa canggung saat ini, hanya berduaan dengan ayah mertuanya.


"Jangan memaksa Luna untuk saat ini."


"Kecuali dia yang meminta..."


"Ingat apa yang papa bahas denganmu semalam!"


"Maafkan aku pah..."


"Luna putri kesayangan ku."


"Bukan berarti kedua kakaknya tidak sama sayangnya..."


"Hanya saja, Luna menderita karena aku."


"Aku tidak bisa melakukan apapun saat ini."


"Jika dia terbangun dan dia melupakan apa yang telah terjadi maka biarkan saja."


"Dia sudah mengalami kejang lebih dari 3x"


"Aku tidak berani membawanya ke rumah sakit."


"Mama Luna yang mengetahui prosedur kesehatannya."


Mahessa terdiam dengan penuturan pedih mertuanya. Dia sangat-sangat menyesal pernah membuatnya pingsan saat memaksakan pernikahannya. Tetapi semua telah terlanjur.


"Maaf menyela tuan..."


"Ada sedikit masalah..."


Bobby mendatangi tuannya, dan berbisik di sebelah tuannya membuat Mahessa mendelik refleks ingin mencari tahu.


"Ada apa?!" Wira melihat tatapan Bobby yang mengisyaratkan adanya Mahessa sungguh mengganggu.


"Mahessa kamu temuilah istri mu di kamarnya."

__ADS_1


Mahessa mengerti, dia tidak akan mengganggu mertuanya. Lagi puna sedari tadi dia memang sangat ingin menemui istrinya. Hanya saja dia tahan karena ayah mertuanya masih ada disini.


"Bicara..."


"Ada yang melapor pada kediaman Renald mengenai kejadian barusan dengan nona Luna."


"CCTV?"


"Sudah di hapus."


"Tapi foto yang diambil oleh kamera sudah terkirim pada pihak sana."


"Biarkan saja."


"Semakin mereka tahu sedikit asal usul Luna."


"Semoga menjadi keamanan tersendiri buat Luna.."


"Apa kabar terbaru dari RG?"


"Semua kembali normal."


"Tapi tuan Adira dilarikan ke rumah sakit.."


"Oh ya?"


"Selemah itu?!!"


"Ckckck..."


"Apa kita akan tinggal disini lebih lama tuan?"


"Keenan mengatakan bahwa server data di Aussie bocor."


"Tuan Don kembali melakukan transaksi obat X!"


"APAAAA?!!" Wira mengatur nafasnya.


"Besok siapkan jet!"


"Baik tuan."


"Apa ada kabar tentang Liana?"


"Aku lupa kemarin dia menginginkan pulau B di sebelah Negara B."


"Kamu harus dan wajib hukumnya mendapatkannya!!!" Wira memijat pelipisnya.


"Untuk apa tuan?"


"Pulau itu tidak bernilai untuk sebuah resort atau bisnis komersil lainnya."


"Aku juga tidak tahu!"


"Besok suruh Keenan menghadap pada ku!"


"Aku yakin Liliana tengah merencanakan sesuatu."


"Aku mendapat informasi dari orang ku yang aku tempatkan di Emperor, Liliana kembali berinteraksi dengan Bo Qi dalam beberapa proyek rahasia."


"Aku tidak menyangka Liana akan terjun kembali."


"Bukankah di dalam darahnya mengalir keturunan Tan."


"Sangat wajar jika naluri alaminya mengambil alih kembali perusahaan nya bukan?"


"Aku yakin bukan untuk menguasai kembali."


"Dia hanya perlu ongkang-ongkang kaki uang mengalir di akun bank nya."


"Hanya saja, ini pasti berkenaan dengan Luna!"


"Aku ingin tahu apa yang di bahasnya lama saat di bandara."


"Dia berbincang membelakangi CCTV!"


"TUNGGU!!"


"KAU!!"


Wira merasa Bobby juga menutupi semuanya darinya.


"Ampun tuan..."


"Saya tidak berani!!"


Bobby menundukan pandangannya tubuhnya bergetar, tidak mungkin semua yang telah ditutupi rapat harus terbongkar sekarang.


"Aku sungguh lelah..."


Wira merebahkan tubuhnya di sofa dengan kembali mengurut keningnya.


"Apa anda tidak ingin beristirahat di hotel?"


"Bukan kah nona telah ada suaminya yang menemani?"


"Siapa tau mereka akan..."


"NDASMU!!!!" Wira melempar bantal sofa ke arah sahabat sekaligus asistennya itu.


"Haish.. Ayoklah!!!"


Wira beranjak dari sofa meninggalkan mansion Luna. Bobby tersenyum akhirnya tuannya mengerti kondisi anak muda di rumah ini. Tanpa mereka sadari Mahessa tengah menguping pembicaraan mereka dan tengah sangat riang gembira bahwa mereka tidak akan menginap di tempat ini.


"Uughhh..." Luna tiba-tiba terbangun.


"Cutie.." Mahessa mendekati Luna.


"Ko kamu disini? Dimana ini?" Luna memegang kepalanya rasa pusing yang masih mendera kepalanya membuatnya malas untuk berdiri.


Mahessa menyodorkan segelas air putih untuk istrinya.


"Ini di mansionmu sayang."


Mahessa tersenyum dia semakin mendekati wajah Luna, setelah wanitanya kembali memberikan gelas kosong dia menaruhnya di atas nakas sebelah ranjang.


"Aku sungguh tidak bisa menahan hasratku di dekatmu cutie..." Lirih suara berat Mahessa di depan wajah Luna.


"Mahessa..."


"Mmmmmm..."


Mahessa menyesap lembut bibir Luna dan kembali menjatuhkan tubuh istrinya di bantal. Luna membiarkannya, toh dirinya sudah berstatus halal bersama suaminya tersebut.


"Jika dengan mas Dira mengundang dosa."


"Maka saat ini dengan Mahessa mengundang pahala!!"


"Menyedihkan..." Batin Luna merasa salah jodoh.


Mahessa semakin tersulut hasrat, dia membuka perlahan baju Luna.


"Aaahhh..." Rintih Luna seksi di telinga Mahessa yang membuat darahnya kembali mendesir panas.


Mahessa mengapu leher jenjang istrinya, dia juga meremas dua bukit indah milik istrinya yag membuat Luna sama bergairahnya. Luna memang sangat cepat tersulutkan hasratnya. Luna tidak mau kalah, dia menanggalkan kancing kemeja prianya dan membukanya.


"Wow roti sobek!!"


Mahessa terkekeh dengan ucapan imut istrinya.


"Apa kamu ingin memakan roti sobek milik ku?" Goda Mahessa mengangkat dagu Luna.


Luna tersipu malu dia menutup wajahnya semakin membuat Mahessa gemas sendiri.


"Tidurlah sayang..."


"Kamu butuh istirahat."


"Aku dengar kamu kembali pingsan di Laguna."


Mahessa menjatuhkan tubuhnya di samping Luna, wanitanya terdiam sejenak. Dia menatap nanar atap kamarnya.


"Sepertinya begitu..."


" Seingatku aku tengah makan malam bersama papa." Lirih Luna.


Mahessa mendengarnya seperti teriris sembilu. "Tuhan sampai kapan istriku akan terus mengalami penderitaan dengan ingatannya ini."


Mahessa menarik lembut tubuh Luna dan mendekapnya. Entah mengapa Luna tiba-tiba menangis dalam dekapan tubuh kekar suaminya itu dan mencoba kembali terlelap. Mahessa yang sama lelahnya ikut tertidur setelahnya.


* * * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2