
Luna yang sudah mempersiapkan kepulangannya tengah merapihkan meja kerjanya. Dia sudah tidak sabar menanti kedatangan kekasihnya.
"San, cabut sekarang yuks." Ajak Luna pada Sandra.
"Tumben. Mau ngajak ngopi ga lu?"
"Ayuk.."
"Beneran?"
Luna kembali menganggukan kepalanya dengan terus melayangkan senyumannya.
"Yuks..."
"Gue ga diajak?" Timpal Hapsari mendekat kearah mereka.
"Diajaaak dooong. Ini baru mau samperin." Jawab Luna sumringah.
Mereka bertiga akhirnya pulang on time menghabiskan waktu menyambut akhir pekan. Sekarang ketiganya tengah berada di Mall tepatnya di sebuah café berlogo ijo bulat itu. Di kehidupan lalu mereka memang senang hang out bersama denga menghabiskan waktu berjam-jam lamanya. Luna sudah mempersiapkan permainan kartu UNO yang populer di tahun ini. Seperti keinginannya saat di hidupan kembali, dia ingin melewati kehidupannya seperti yang dia impikan. Adira juga sosok yang tidak begitu menyukai kekasihnya lebih memilih menghabiskan waktu bersama dengan teman sefrekuensinya haha hihi sampai lupa waktu dan melupakannya tentu saja.
"Uno gameeee!!!" Seru Luna
"Yeeeeeey gue menaaaang."
Luna memenangkan permainan di babak awal, sejujurnya dia benar-benar tengah merindukan kekasihnya. Dia pulang hari ini tentu membuat perasaannya semakin tidak terkendali.
"Lu seneng amat dah sumringah terus hari ini." Selidik Hapsari.
"Iya lah kandanya mau balek ya gitu." Timpal Sandra.
"Kalian sirik aja makanya cepet gih nyari pasangan!" Luna menggoda keduanya.
"Pacaran bukan prioritas kami!"
Keduanya menjawab dengan kalimat yang sama dan serentak. "Terbaik..." Batin Luna menyanjung keduanya.
"Oh iya sore kemarin gue liat lu di jemput ama pajero sport... Sapose?" Tanya Hapsari tiba-tiba.
"Uhuuuuk..."
"Kenapa sih mereka seneng bener nanya pas gue lagi minum!!!" Rutuk Luna dalam hati.
"Investor...." Jawab Luna sekenanya.
"Investor apa?" Tanyanya balik.
Luna melihat Sandra berlagak bego dia mengulumkan senyumnya dan merasa beruntung memiliki teman yang begitu totalitas.
"Gue mo buka usaha kuliner. Butuh modal gede. Nah dia mau diajak kerja sama!"
Entah dapet ide dari mana semua jawaban Luna mengalir begitu saja. Dia juga menjelaskan dengan apaadanya dan memang dia berniat menjalankan bisnis ini kedepannya.
"Ah yang bener? Kuliner apa.. Mau doong invest!!" Pekiknya tertarik dengan ucapan asal Luna.
Luna menaikan kedua alisnya, dia ingat bahwa salah satu temannya ini memang senang sekali berinvestasi di banding menghamburkan uangnya di jalan kebathilan seperti dirinya dan Sandra.
"Itu dia aku masih mikir. Enaknya apa ya? Gue sih prefer ke masakan ala jepang gitu."
"Gimana menurut kalian? Kasih masukan dong...." Ucap Luna menjelaskan.
"Wah bagus juga tuh ide lu."
"Disini masakan jepang ga begitu banyak."
"Korean street food juga oke juga.."
Kini Sandra mengambil bagian setelah sedari tadi dia membiarkan Luna yang menjelaskannya.
"Ahaaaaa...."
"Bikin kedai tepi jalan gitu ala-ala korean street food!!" Luna menimpali dengan semangat.
"Makasiii San idenya..."
"Iyaa bagus... Hayuk mulai kapan?" Hapsari juga ga kalah semangat.
"Nanti aku catat dulu aku butuh bikin RABnya juga. Kira-kira modal berapa..."
Mereka menghabiskan waktu dengan sharing ide jualan dan ghibah mengenai temen sekantor. Luna lega rumor mengenainya benar-benar tidak terdeteksi Hapsari.
"Cabut kuy cape gue... Ntar malem mo ngebut nonton drakor." Ajak Hapsari.
"Yuks." Jawab yang lainnya kompak.
"Lu mau bareng gue ga? Kita searah." Ajak Hapsari.
"Ga deh aku jemput Mas Dira." Jawab Luna berbohong.
"Ya udah thanks ya traktirannya."
"Sering-sering kek gini!" Ujar Hapsari merangkul Luna sejenak.
Mereka merapihkan semua barang bawaan dan segera beranjak dari resto kemudian berpisah di pelataran mall. Luna sengaja tidak ikut ada yang ingin dia bahas dengan Sandra. Tepatnya rasa terima kasihnya yang tengah memuncak. Luna memeluk Sandra erat yang segera di tepis oleh temannya itu.
__ADS_1
"Apaan sih lu!!!" Pekiknya terkejut.
"Makasiii San." Luna terisak.
"Sama-sama."
"Lu ga diapa-apain kan sama Mahessa?" Tanya Sandra penasaran.
Tiba-tiba Luna terdiam, memikirkan perselingkuhannya membuatnya sedikit migrain.
"Jangan bilang...." Sandra menerka.
"Aku akan menceritakannya nanti, tidak sekarang."
"Bentar lagi Adira pulang."
Luna menjawab sendu membuat Sandra tidak memiliki pilihan.
"Okey lah. Balik gih Diramu kan dah mau sampe."
Luna mengangguk dengan senyuman.
"Jangan lupa sisain oleh-olehnya." Sandra menimpali.
"Iya kalau ada." Jawab Luna sekenanya.
* * * * *
Sesampainya di mansion Luna langsung membersihkan dirinya, dia merapihkan segala kekacauan yang ada. Selain berserak juga barang pesanan online yang belum sempat dia kirim. Dia juga membersihkan sisa bau Mahessa yang menempel di sofa!
Luna menghubungi Mahessa terlebih dahulu memastikan rekaman CCTV mansionnya yang dijadikannya kartu AS untuk memerasku. Walau mungkin saja Adira tidak akan memeriksanya Luna hanya ingin memastikan.
"Haloo..."
"I'm so glad to hear you cutie..."
"You call me first!"
Suara seksi Mahessa membuat Luna merinding rasanya.
"Aku cuma memastikan rekaman CCTV mansion ini sudah kamu manipulasikan?" Jantung Luna berdetak kencang seperti tengah melakukan aksi pencurian.
"Kamu begitu takut kehilangan dia?" Tanyanya dingin.
"Please Mahessa... Kita sudah sepakat!!" Rengek Luna manja.
"Already done." Setiap pembahasan tentang Adira dia akan menjawab dengan sangat dingin.
"Thank you so much dear."
Luna menelan salivanya, dia sungguh tengah meneguhkan hatinya agar tidak goyah. Namun entah mengapa setiap kali Mahessa berucap padanya semua terdengar tulus dan apa adanya membuat Luna terbuai oleh sikapnya. Tetapi di satu sisi Luna belum ingin melepaskan kekasihnya.
"Mahessa... Jangan terlalu berharap dengan wanita seperti aku." Lirih Luna.
"Adira sebentar lagi datang..." Luna kembali mengingatkannya.
"Kamu satu-satunya orang yang berhasil mengendalikan diriku cutie!"
"Aku harap cintaku membukakan hatimu kelak."
DEG!!
Luna segera menutup sambungan telponnya. Hatinya sudah tidak bisa dia kontrol saat ini.
Ting tong...
Suara bel pintu di depan membuat Luna terkejut. "Wah udah datang..."
Luna bergegas menuju pintu, menata rambutnya setelah sebelumnya menyemprotkan parfume kesukaan kekasihnya. Luna menghirup nafas dan menghembuskannya perlahan. "Maafkan aku mas..."
Luna membuka pintu perlahan dan siap memberi senyuman terbaiknya.
"Mas..."
Luna terkejut dengan kedatangan prianya yang tanpa di duga membawakannya satu buket mawar merah dengan berbagai macam paper bags. Adira memakai kaos putih dipadukan kemeja salur biru yang dibiarkan terbuka dengan celana jeans biru pucat. Rambutnya sedikit berbeda terlihat lebih rapi. Perawakannya memang tidak diragukan lagi mirip dengan salah satu aktor korea idolanya.
Luna refleks menutup mulut dengan kedua tangannya. Sekarang dia tersenyum merentangkan kedua tangannya. Luna menghambur dipelukannya. Prianya menggendong Luna dan memutar tubuh rampingnya kemudian memeluknya cukup lama.
"Aku rindu sekaliiii." Ucap Adira seraya mencium kening wanitanya.
Luna tidak menyangka apa yang Adira perbuat saat ini, dia masih membenamkan diri dalam dadan priaya. Aroma Armani yang sudah sangat hafal di indra penciuman Luna yang masih bisa dia hirup membuat Luna semakin betah berlama-lama dalam dekapannya.
"Masuk yuk yang..." Ajak Adira.
Luna terkekeh dia lupa mereka masih di ambang pintu.
"Oh iya aku lupa."
Luna membantunya mengambil beberapa paper bag "Banyaaaak banget mas..."
"Aku pikir ini kurang banyak." Jawabnya dengan senyuman.
Luna masih sibuk dengan menciumi buket mawar yang dia berikan. "Seumur-umur sepertinya dia tidak pernah melakukan hal so sweets seperti ini." Batin Luna menatap prianya intens.
__ADS_1
"Apakah benar ini mas Dira suamiku yang selama delapan tahun kemarin? Apa mungkin tuhan ga salah kirim jiwa orang?" Luna kembali menyangsikan perubahan sikap Adira yang sungguh terasa berbeda dari yang dia ingat.
"Mikirin apaaa hayoooo!!!" Adira mendekati Luna dan menggendong kembali wanitanya.
"Hahahaha udah mas aku pusing..."
Akhirnya Adira menurunkan wanitanya setelah kembali memutarnya saking bahagianya melihat kembali penyemangat harinya.
Adira memegang wajah kekasih ya dengan kedua tangannya, wajahnya menunduk menciumi bibir manis kesukaannya. Adira menuntun kekasihnya hingga sofa dan menjatuhkannya.
Bruk!
"Mas..." Rengek Luna manja dan menggoda.
Adira menatap Luna menginginkan dia menarik tali kimono kekasihnya. Pria itu tengah. enelan salivanya dan sudah tidak tahan dengan hasratnya yang telah dia tahan selama seminggu lamanya.
Adira bersiap melucuti pakaiannya sendiri. Saat membuka kaos miliknya cetakan roti sobek aneka rasa terpampang jelas di mata Luna membuatnya terbelalak tidak percaya.
"Sepertinya kemaren ga ada!!!"
"Tunggu yaaang..." Pekik Luna mencari ponselnya.
"Apa?" Adira berhenti sejenak dengan ekspresi keheranan.
"Aku ambil foto dulu tadi posenya bagus banget aku bisa mimisan tiap kali liat begitu!" Jawab Luna polos.
"Nalunaaaaaaaaaaaaaa." Adira menggelitik pinggang kekasihnya. Mereka terbahak bersama hingga mengeluarkan air mata.
"Kamu pandai banget ngerusak suasana!!" Rutuk Adira.
"Mas bawa apa aku lapeeeer..." Rengek Luna manja.
"Oh iya aku juga laper. Aku bawa banyak makanan pastinya kamu suka." Adir beranjak dari atas tubuh kekasihnya. Mereka langsung menuju meja makan.
"Wow cheese cake! My Favorit food ever after!!"
"Yuk makan."
Luna duduk di depan kekasihnya, mulai menata hidangan dan mereka memulai makan malam di selingi percakapan yang tidak biasa.
"Gimana trainingnya mas?" Luna memulai obrolan di tengah suapan.
"Ya gitu-gitu aja."jawabnya datar.
Luna cemberut dengan jawaban datar kekasihnya.
"Kamu gimana selama ga ada aku?" Tanyanya kemudian menatap Luna lekat.
Deg!
Luna melambatkan gerakan tangannya, dia sungguh gelisah atas pertanyaan yang bisa menjebaknya.
"Ya gitu-gitu juga."
"Berangkat kerja, packing barang, kerja lagi terus aja gitu." Jawab Luna santai.
"Owh... Semua paket ini belum ada yang kamu kirim?" Adira menunjuk semua tumpukan paket olshop kekasihnya.
"Tentu saja siapa yang bantu aku ke jn* kalo bukan mas."
"Aku nunggu mas pulang." Rengek Luna manja.
Adira terkekeh "Besok pagi kita antar semua ya sayang..."
Luna membereskan kembali semua peralatan makan dan makanan yang belum termakan dia susun dalam kulkas sisanya yang kering dia menaruhnya di kabinet.
Beberapa paper bag yang berisi baju-baju branded segera Luna taruh diarea wardrobe miliknya.
Luna melihat prianya menuju kamar mandi, "Sepertinya beruangku nginep disini!"
"Kami memang sudah seperti pasutri tanpa ikatan pernikahan." Luna menghembuskan nafas kasar.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Adira tengah keluar dengan balutan handuk yang menggoda. Dia segera menuju kekasihnya yang tengah menonton dengan sengaja merebahkannya. Adira menyipratkan rambutnya yang basah ke arah wanitanya.
"Mas ih basaaah... Dingin tau!!" Rutuk Luna kesal.
"Gosok rambutku yang."
Luna bangkit dan membetulkan posisinya. Adira berbaring di pahanya dengan telaten Luna menggosok rambut prianya sesekali memainkan jemari lentiknya di wajah tampan kekasihnya.
"Sayaaaang jangan goda!" Adira menepis tangan Luna membuat Luna semakin ingin menggodanya.
"Mau aku pakein hair dryer yang?" Tanya Luna kemudian.
"Emm..." Jawabnya singkat dengan masih menutup matanya.
Luna menaruh kepala Adira di bantal bergegas mengambil hair dryer miliknya dan mulai mengeringkan rambut. Sesekali Luna mengelus-ngelus rambut kekasihnya. Selama menggosok rambutnya Luna mendengar dengkuran halus dari bibir prianya.
"Dia tidur?"
"Bisa dia tidur hanya pake handuk doang. Ckckck."
Luna mengambil selimut dan memakaikannya. Mengingat Luna tidak bisa membopongnya ke kamar. Luna pun sudah mengantuk dia tidur dikamar meninggalkan kekasihnya di ruang tengah.
__ADS_1
* * * * * * * * * *