Dua Cinta Satu Hati

Dua Cinta Satu Hati
Bab 09 : Garis Dua +


__ADS_3

Pagi harinya Luna bangun lebih awal dari biasa, dia segera menyelesaikan kewajibannya sebagai hambaNya yang berlumur dosa. Dia juga telah menggunakan alat pipih yang akan menentukan nasibnya kedepan. Luna sudah hafal bangaimana alat ini bekerja. Dia menggunakannya saat buang air kecil pertama di pagi hari agar hasilnya lebih akurat.


Luna menatap nanar hasil garis dua miliknya. Dia tidak terkejut tidak juga menangisinya, Luna segera memasukan kotak testpack itu kedalam bungkusnya kembali kemudian menaruhnya di dalam lemari bajunya.


"Jika aku buang disini maka seluruh dunia akan tahu aib terbesarku!"


Hal yang sangat mengejutkan adalah sayup terdengar bunyi ketukan pintu menandakan kekasih Luna sudah sampai di depan rumahnya sepagi buta ini.


"Baru jam setengah tujuh... Dia sungguh sangat excited sepertinya!!"


Luna membuka pintu depan, menyambut kekasihnya dengan senyuman dan pelukan seperti biasa. Wangi maskulin yang menyeruak dalam indra penciuman Luna membuatnya semakin betah untuk berlama-lama dalam pelukan kekasihnya.


"Pagi sayang..." Sambut Luna.


"Pagi..." Adira mengecup pucuk rambut kekasihnya.


Keduanya kemudian masuk dalam kamar, Adira benar-benar sudah tidak sabar. Dia segera bertanya pasal hasil tespack kekasihnya.


"Gimana yang, udah kamu pake?"


"Kamu beneran hamil kan?"


Luna sedikit mengerutkan dahinya, mengapa dia merasa Adira tengah antusias dengan hasilnya. Dengan keyakinan bahwa Luna tengah hamil.


"Aku kan sudah bilang aku gak hamil sayaang..."


Luna menyerahkan benda pipih yang menunjukan satu garis saja disana. Luna mencoba setenang mungkin saat ini, walau sejujurnya kegelisahan dan rasa sesak menyelimuti di dalam dirinya.


"Kok bisa..." Lirihnya.


Raut wajah Adira sulit dijelaskan, namun sekilas dia terlihat kecewa. Luna yang terus memperhatikan kekasihnya sangat heran dengan sikap prianya.


"Bagaimana mungkin dia kecewa dengan hasilnya. Apa dia benar-benar pengen aku hamil?" Batin Luna gelisah.


Luna segera menjelaskan hasilnya sebelum Adira membaca lebih lanjut "Karena garisnya satu artinya negatif. Kalau dua baru positif."


"Aku beneran ga hamil mas... Mas terlalu banyak berpikir deh!" Ujar Luna terus mengatakan dirinya tidak hamil agar prianya percaya.


Adira memasukan kembali alat itu dalam bungkusnya kemudian menyimpan dalam saku hoodienya.


"Mas ko diem aja?"


Adira tidak juga bersuara, rasanya ada emosi yang ingin keluar saat ini dalam dirinya.


"Apa dia mengetahui aku berbohong?" Batin Luna membuatnya gelisah.


"Ayo aku antar kamu kerja..." Akhirnya Adira bersuara dengan dingin dan datar. Dia beranjak dari kamar tidak bertanya apapun meninggalkan Luna sendirian yang masih termenung dengan sikapnya saat ini.


"Bukannya masih terlalu pagi mas..." Setengah berteriak Luna mengejar bayangan Adira.


Luna menyambar sling bagnya dan keluar kamarnya. Di bawah Adira tengah menunggu Luna di motornya dengan perasaan yang campur aduk.


"Bagaimana bisa garisnya hanya satu?"


"Semua tanda-tanda kehamilan yang aku baca semua ada pada diri Luna!!"


"Apa dia tengah membohongiku?"

__ADS_1


"Tapi bagaimana bisa hanya garis satu!"


Perang batin dalam diri Adira buyar saat Luna dengan kesal memanggil namanya.


"Mas ini kenapa sih!"


"Apa mas berharap aku hamil? Kita belum menikah mas..."


"Apa mas memilih menikah jalur hamil duluan?"


Luna menumpahkan kekesalannya, Adira hanya menunduk setengah hati dia kecewa setengah lagi sulit dikatakan tenang atau gelisah.


"Naiklah..." Hanya itu yang bisa Adira ucapkan.


"APAA?! SI KULKAS IDUP INI!!" Rutuk Luna dalam hati.


Selama perjalanan menuju kantor Luna dia terus berpikir kemungkinan yang tengah Adira pikirkan.


"Apakah dia tengah mencurigaiku sekarang? Apa dia berpengalaman juga dalam membaca hasil testpack? Mungkinkah dia menyadari kalau garis yang timbul berada di test line bukan control line?"


Malam setelah kepergian Adira, tanpa di ketahui kekasihnya Luna bergegas menuju Apotik 24 jam. Dia membeli testpack kembali. Dia gunakan miliknya dengan benar hingga hasilnya memang bergaris dua. Namun milik Adira dia campur dengan air sehingga hasilnya invalid. Posisi garisnya pun bukan mengatakan negatif melainkan harus di ulang kembali. Luna membuang kertas petunjuk dalam box jikalau Adira membacanya dan mengetahui pasal kebohongannya.


Adira telah menghetikan motornya di depan gate kantor. Luna turun dan pamit, namun sebelumnya lengannya di tarik oleh prianya.


"Pulang aku jemput..."


"Lihat nanti ya mas..."


"Aku kerja dulu ya, ga boleh nakal ya!" Goda Luna mencairkan suasana yang sebelumnya hanya tercipta keheningan semata.


"What the....." Pikir Luna melayang.


Adira tersenyum melihat respon Luna "Gih sana masuk, nanti aku baru pergi..."


Luna tidak percaya pria di depan yang biasanya hanya drop dirinya di depan gerbang lantas melesat menuju area parkiran sekarang tengah berbicara bahkan memegang tangan dan menciumnya mesra. Ingin rasanya Luna berteriak layaknya orang gila mengatakan kulkas hidupnya mencair!


Luna melakukan screening di depan portal masuk oleh salah satu security wanita disana.


"Pagi mba." Sapa salah satu satpam perempuan yang bertugas mengecek barang.


"Pagi juga." Jawab Luna ramah.


Luna bergegas menuju loker yang khusus di gunakan para pegawai untuk menyimpan barang-barang karena di dalam kantor hanya boleh membawa dompet dan ponsel saja. Beruntungnya Luna masih ingat dimana letak loker miliknya kemudian dia melakukan absensi dengan finger print. Dia menatap ke sekeliling kawasan kantornya. Ada haru yang menyeruak keluar dalam dirinya.


Tidak bisa lagi di deskripsikan betapa dia bahagia bisa kembali bekerja. Walau keadaannya tidak begitu menguntungkannya. Dia segera melesat menuju Divisi dimana ia bekerja selama ini.


* * * * *


Luna bekerja di salah satu perusahaan internasional dan salah satu perusahaan manufaktur terbesar di kota B. Dia di terima bekerja dengan posisi staff pembelian barang dalam naungan Divisi Pemasaran dan Pembelian Produk. Perusahaannya bergerak di bidang elektronik memasarkan chip IC Module yang merupakan bagian penting dari perangkat elektronik lainnya.


"Pagi Sandra!" Luna menyapa teman seperjuangannya yang sudah dia anggap seperti saudara itu.


"Masuk juga kau!" Jawab Sandra ketus.


"Kulihat wajahmu malah ditekuk bukannya senang habis cuti couple, kulihat malah nampak tertekan." Wajahnya menatap lekat wajah Luna.


Luna meletakkan sekotak kopi instans yang dia beli di kantin perusahaan diatas meja Sandra. Luna kembali menatap kesekeliling ruangan, ingin rasanya dia menangis. Tidak percaya dulu dia meninggalkan perusahaan ini begitu saja karena kebodohannya.

__ADS_1


Luna mendaratkan tubuhnya di atas kursi kesayangannya, kursi yang membawa dia menjeajah dunia pekerjaan.


"Wajahku memang seperti ini..."


"Cuma aku terjatuh dan aku linglung sekarang..."


Luna mencoba mencari cara bagaimana mendapatkan kembali ingatan pasal pekerjaannya.


"Ah, persetan kau!"


"Emang kepala kamu terbentur sesuatu?" Sungut Sandra masih fokus dengan ketikan komputernya.


"Aku tidak ingat sih apa kepalaku terbentur apa..."


"Seriously!"


"Aku tiba-tiba bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Terlebih pasal pekerjaan.. Apa ya yang harus aku kerjakan terlebih dahulu?"


"Apa ada masalah yang harus aku selesaikan saat ini?"


"Apa ada jadwal meeting dengan client?"


"Kamu bantu aku ya sandra, Pleaseee"


Rentetan kalimat Luna ucapkan tanpa jeda. Dia berharap Sandra bisa sedikit mempercayainya tanpa perlu menceritakan pasal Luna sejujurnya di hidupkan kembali. Dia mendekat kembali dan menggenggam lengan Sandra yang sepagi ini sudah sibuk dengan komputernya. Luna juga semakin berlebihan dengan mengedip-ngedipkan mata kearahnya dan menyodorkan kopi kesukaannya.


Seketika Sandra menoleh dan menatap temannya lekat-lekat.Luna semakin memperlihatkan wajah frustasinya agar Sandra semakin percaya betapa temannya tengah kesusahan kali ini.


"Ya, ya, ya." Luna memohon dengan sangat arogan menarik lengan Sandra berulang-ulang.


"LEPAS! Kerjakan dulu forecast mu seminggu kedepan baru kita bahas lagi. Kemarin aku sudah buatkan kamu cek lagi!" Jawabnya singkat dan penuh kekesalan.


"Ingat ini tidak gratis!"


"STARBUCKS!!" Dia menekankan di kata tidak gratis.


"Haish, tidak mengapalah berkorban uang banyak walau kenyataannya aku sedang bokek parah!" Batin Luna mengsedih.


Luna menunjukan senyuman terpaksanya dan kembali menuju mejanya yang bersebelahan terhalang sekat tipis saja. Luna menatap peragkat komputernya, dia menatap serius dengan menghirup dan mengeluarkan nafas perlahan dia menyalakan komputer setelah membaca doa. Dia sungguh gelisah, pasalnya dia sudah tidak ingat apa yang dia lakukan semasa dia bekerja.


"Sudah 8 tahun berlalu apa mungkin aku masih sepintar dan secepat dulu?!"


Luna membuka semua catatan dalam notebook miliknya yang masih tersimpan rapi, haru itu kembali menjalar di hatinya bahkan saat ini matanya tengah berkaca-kaca. Dia membuka tiap lembarnya dia mengetahui rutinitas pagi yang akan dia lakukan.


"Schedule daily arrangement part..." Gumamnya lirih.


Dia kembali membuka lembar demi lembar hingga batas akhir. Dia menatap layar yang meminta kode akses untuk membukanya. Dengan sekali tarikan nafas Luna menekan angka dan mulut Luna terbuka lebar.


"Aku tidak menyangka, semua password ku adalah tanggal jadi aku dan Diaz!!"


Ada rasa sesak kembali di dadanya. Memang benar selama ini tanggal itu yang tidak akan ada orang tahu dari dirinya. Hanya angka itu yang bisa Luna ingat dari hubungan 5 tahunnya dengan mantan kekasih dan cinta pertamanya itu.


"Mari otak kita bekerja sama dengan baik hari ini..."


"Ok Luna! Let's finished it!"


* * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2