
"Mas, ini kan bukan arah ke Aston?" Tanya Luna penasaran.
Setelah selesai dengan makan malam Adira mengajak Luna kesuatu tempat.
"Hmm..."
"Mulai malam ini kita satu rumah lagi ya sayang."
Adira benar-benar ingin mengungkung Luna dalam genggamannya.
"Jangan lah mas nanti kalau ada orang yang tahu gimana?"
Adira tidak menghiraukan ucapan Luna, Luna kembali di dera perasaan ketakutan luar biasa. Luna menyadari arah yang di tuju prianya bukan juga ke rumahnya melainkan ke area kawasan pertokoan di Plaza Hill.
"Mas mau kemana?" Tanya Luna penasaran.
"Rahasia..." Jawabnya dengan senyuman.
Luna tersipu malu "Dari tadi disenyumin terus gula darahku naek drastis ini sih!"
Tak lama kemudian mereka telah berada disalah satu butik kenamaan.
"Mas mo beli baju?" Tanya Luna polos.
"Awas aja kalo cuma disenyumin doang!" Rutuk Luna dalam hati.
"Iya, baju buat nikahan kita." Serunya sambil menggandeng tangan Luna
Luna semakin tidak enak hati "Adira bahkan memikirkan segalanya tentang pernikahan kami."
"Sedangkan aku?"
"Selamat datang." Sapa salah satu pelayan butik membuyarkan pikiran kalut Luna.
"Cari apa mas, mba?" Tanyanya kemudian.
"Tolong carikan gaun yang cocok untuk calon istri saya." Jawab Adira menatap Luna dengan senyuman.
Luna tersipu malu belum bisa berkata-kata akhirnya mengikuti pelayan yang akan menunjukan pilihan gaunnya. Terpampang beberapa jenis baju pengantin yang sudah tersedia. Kemudian pelayan juga memberitahukan bahwa selain yang tersedia di butik, bisa juga order by request sesuai bentuk yang kita inginkan. Luna berjalan memegang satu per satu bentuk gaunnya. Ada yang mewah seperti modern ball gown bak cinderella. Ada juga model mermaid panjang menjuntai dengan penutup dibagian belakang dan satu lagi model simple minimalis dengan kerah sabrina yang Luna sangat sukai dari model ini menonjolkan bagian depan tubuhnya.
"Mau di coba sayang?" Tetiba Adira merangkul luna dari belakang.
Luna terkejut dan segera menepisnya pasalnya ini di depan umum.
"Mas ni ga malu yaaaa..." Bisik Luna ditelinganya.
Dia hanya tersenyum "Mba istriku mau mencoba kedua gaun ini."
"Baik mas, silahkan lewat sini mba." Pelayan butik mengarahkan Luna ke fitting room.
"Mau model yang mana dulu mba?" Tanyanya ramah sekali.
"Model mermaid dulu mba..."
"Maaf ya merepotkan." Jawab Luna canggung.
"Tidak masalah mba ini memang pekerjaan saya."
Kemudian dia membantu Luna memakaikan bajunya yang lumayan rumit dengan hati-hati.
"Wah pas sekali dengan bentuk tubuh mba."
"Makin terlihat cantik!!"
"Tinggal memakai tiara diatas rambut." Serunya antusias
"Saya panggilkan mas nya mba?"
"Boleh." Luna menatap haru di cermin, tidak pernah dia duga semua akan terjadi padanya saat ini.
Tidak berselang lama Adira memasuki fitting room, Luna tersenyum kearahnya. Adira berdiri mematung dengan wajah yang memperlihatkan keharuan membuat Luna semakin tersentuh.
"Mas ko bengong!"
"Gimana cocok ga?"
Adira menundukkan wajahnya sejenak, terlihat dia menyapu sudut matanya. Adira mendekati Luna dan mencium bibirnya.
"Kamu sangat cantik..."
"Aku sudah tidak sabar dengan pernikahan kita sayang..."
Keduanya berpelukan, mereka tidak bisa lagi berkata untuk sekedar mengatakan mereka bahagia.
__ADS_1
"Aku coba satu gaun lagi ya."
"Nanti mas bandingin aku cocok pake yang mana?"
"Ya udah sini aku fotoin dulu yang ini."
Adira menawari Luna memotret dirinya, kemudian memberitahukan pelayan untuk mengganti baju yang lainnya.
"Aku sungguh tidak percaya bahwa ini aku." Gumamku.
Luna menatap di cermin bagaimana tampilannya saat ini. Luna memang sangat menyukai mengekspose bagian leher hingga belahan dada. Model kerah sabrina dengan v-neck menonjolkan area dada dan bagian bawah yang berbentuk A-line menjadikannya terlihat classy dan elegan.
"Wah yang ini lebih terlihat cantik sekali..." Sambung pelayan memberi komentar.
Luna hanya tersenyum seraya merapihkan rambutnya sebelum kekasihnya masuk dan melihatnya. Luna sibuk menyibak bagian bawah gaun tidak disadari bahwa Adira sudah berada didekatnya, dia merangkul Luna dari belakang serta mencium punggung Luna yang polos tanpa penutup.
"Bagus yang mana yang?" Tanya Luna manja menahan serangat kejutan dari hisapan bibirnya.
"Semuanya bagus, pilih yang kamu suka."
"Kalau perlu dua-duanya." Dia menjawab dengan masih menciumi punggung dan tengkuk leher Luna, membuat Luna tersulutkan kembali gairahnya.
"Mas kok ga pilih baju buat mas pakai?"
"Ya udah aku tanya dulu kamu jangan dulu ganti ya nanti aku minta mbanya fotoin kita."
Luna mengangguk mengerti "Ya tuhan... Aku tidak menyangka melalui fase membahagiakan ini!"
Luna mengambil tas, kemudian mengambil peralatan tempurnya dan memoles sedikit riasan di wajah.
"Naluna Maharani, aku tidak percaya hari baik itu akan hadir sebentar lagi." Luna berkata memuji diri sendiri di cermin.
Selagi menunggu Adira, dia memotret dirinya dan mengirimkannya pada Sandra.
[Sandraaa... Aku sungguh bahagia...]
Ting
[Ya tuhan! Kamu cantik sekali sayaaang... Congrats ya.. Semoga lancar semuanya! Amin..]
"Kamu senyum sama siapa?"
"Astaga!!" Pekikku dalam hati melihat betapa pria di hadapannya seperti artis korea.
"Naluna kendalikan dirimu!! Sepertinya aku benar-benar akan mimisan!" Batin Luna meronta.
"Sayaang, kamu kenapa? Aku jelek ya?" Rengeknya.
"Saking tampannya aku mendadak bego mas!" Luna cengengesan.
Adira tersenyum dan mendekat kearah kekasihnya dan merangkul mesra.
"Wah mas, mbanya bener-bener pasangan serasi. Mau dibuatkan photoshootnya ga?" Tawar pelayannya.
Setelah memakan waktu hampir dua jam, mereka telah selesai dengan semuanya. Keduanya telah putuskan memesan gaun model sabrina dengan sedikit modifikasi.
"Photoshootnya bisa diambil setelah tiga hari kerja ya." Sambung pelayannya ramah.
"Berapa semuanya mas?" Tanya Luna mulai gelisah.
Walau Luna yakin saat ini kekasihnya mampu membayarnya Luna masih merasa gelisah.
"Kamu tunggu di mobil duluan ya sayaang." Bujuknya.
Luna menuruti perintah Adira bergegas masuk ke mobil. Di dalam mobil Luna tetiba mengingat seseorang.
"Aku sepertinya pernah melakukan fitting wedding dress ya?" Sejurus kemudian Luna menangis.
"Ada apa dengan ku?" Luna segera menyeka sudut matanya saat melihat kekasihnya mendatanginya.
"Makasiii cintanya aku..."
"Aku bahagia sekali hari ini..."
Luna berucap tulus menggelayut manja di lengan prianya sesaat setelah Adira masuk dalam mobil. Adira sudah tidak tahan untuk tidak melahap kekasihnya yang selalu saja menggodanya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan cahaya!
Sesampainya di area parkir mansion PA Luna mengomel tiada henti. Jika kekasihnya bisa melajukan mobilnya setara dengan kecepatan cahaya maka Luna juga mampu mengomel dengan menggunakan kecepatan yang sama.
"Mas ni!'
"Ga boleh lagi ngebut bahaya tau!!"
"Aku tidak suka!!"
__ADS_1
"Iya sayang maaf aku buru-buru biar cepet sampe rumah."
Setelah membuka kunci pintu tanpa aba-aba Adira menggendong Luna.
"Aaaaaa...." Jerit Luna
Adira menghempaskannya di sofa, dia sudah tidak tahan. Wajahnya mendekati wajah Luna yang selalu saja menggoda imannya. Keduanya saling membelit lidah, bertukar saliva dan menyesap satu sama lain. Tangan Adira tidak tinggal diam, dia melepaskan semua kancing kemeja kekasihnya dan dengan mudah menarik bra kekasihnya. Tubuh bagian depan Luna kini telah polos sempurna.
Adira menyeringai, dia melahap bukit kesukaannya terus menyesapnya seperti seorang bayi besar yang kelaparan. Luna terus melenguh merasakan kenikmatan tiada tara.
"Sial!"
"Adira selalu tahu bagaimana memuaskan ku!!"
"Oohh... Arrghh!"
Tangan prianya kembali membuka pengait celana denim Luna, tangan Luna juga tidak tinggal diam dia menarik gesper dan kancing kemeja prianya.
Lenguhan dan decit suara penyatuan keduanya kembali menggema apartemen Adira. Keduanya kembali terjerat dalam dosa yang sangat sulit mereka kendalikan.
Luna terbangun, ia mengedarkan pandangannya. waktu menunjukan pukul satu dini hari. Tiba-tiba Luna ingin ketoilet.
"Loh, dimana mas Dira?"
Seingatnya setelah menggila di area tengah dia menggotong Luna ke kamar dan melanjutkan ronde yang kesekian kalinya. Luna sungguh mengacungi jempol stamina prianya yang terus saja menggebu. Luna telah mencapai puncaknya beberapa kali sedangkan prianya baru sekali, kemudian dia lanjutkan hingga kli*maks yang kedua kalinya.
Luna mengerutkan dahinya, dia tidak menemukan prianya. "Mas..."
Luna memanggil prianya di kamar sebelah, dengan memutar gagang pintu yang tidak terkunci.
"Loh, kamu kok bangun sayang..."
Adira terlihat gugup dengan keberadaan Luna.
"Mas lagi ngapain? Ko ga tidur?"
Luna menuju tempat duduk pria yang baru saja melahapnya tak bersisa. Luna mencium bau rokok di ruangan itu. Luna merasa heran dengan sikap Adira yang gugup seolah tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ada yang mas sembunyiin ya?" Luna memojokkan prianya dikursi.
"Enggak ada sayang. Aku cuma lagi kerja extra."
Adira merangkul pinggang ramping Luna yang hanya di tutupi kimono transparan. Adira masih bisa melihat jelas apa dibalik kain tipis itu.
"Mas punya kerjaan sampingan?" Tanya Luna polos.
"Ya begitulah..."
"Demi meminangmu dan membuat kehidupan kita lebih baik kedepannya."
"Aku tentu harus extra kerja keras."
Adira memainkan hidungnya dengan hidung Luna, Ada haru yang Luna rasakan. Sudah tidak diragukan lagi bagaimana dedikasinya untuk ia dan keluarga kecilnya di kehidupannya yang telah ia lewati sebelumnya selama 8 tahun lamanya. Luna duduk dipangkuan Adira dan melingkarkan kedua tangannya.
"Maaf sayaang aku menyusahkanmu." Lirih Luna
"Kenapa harus meminta maaf sayang?"
"Kelak ini kan memang sudah menjadi kewajiban ku."
"Membahagiakan mu dari segala aspek."
Luna menelan salivanya, bahkan kedua netranya kembali berembun. Senyum tampan Adira mampu meredakan segala kegelisahan hatinya. Adira menarik tengkuk leher Luna dan mencium kembali bibir kekasihnya yang membuatnya candu luar biasa.
Luna menyelusupkan tangannya pada piyama kekasihnya. "Kamu godain aku lagi yang?"
"Belum puas hmm?"
"Aku ga mau pergi tidur kalau ga sama mas!" Luna merajuk dengan bersila tangan dan cemberut.
"Gemesnya!" Adira mencubit hidung mancung kekasihnya.
"Baiklah..."
Adira bersiap menggendong wanita yang menjadi pujaan hatinya.
"Mas, aku sangat mencintai mu!"
Adira tersenyum, menaruh Luna perlahan di ranjang besar mereka menatap Luna tajam "Aku jauh lebih dari sekedar mencintaimu sayang...'
"Aku memujamu Naluna Maharani!"
* * * * * * * * * *
__ADS_1