Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 100. Manusia Tak Beradab


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 100


Alvan semakin bersemangat menjalani hari-harinya. Laki-laki itu sudah tidak sabar untuk menghalalkan sang pujaan hati. Anak bujang Mami Siska ini masih bisa membayangkan wajah cantik Aulia saat kemarin diizinkan untuk melihatnya. Rasa cintanya semakin bertambah. Meski dia tidak pernah melihat rupa Aulia sebelumnya, tetapi dia yakin kalau calon istrinya itu adalah seorang wanita yang cantik. 


Foto Aulia saat bersama Rangga juga cantik, tetapi sekarang jauh lebih cantik. Seandainya saja, ajaran Islam membolehkan dia untuk memegang dan menciumnya, pasti akan dia lakukan setiap bertemu dengan calon istrinya ini.


Senyum tampan terus menghiasi wajah Alvan, bahkan ini malah membuat Aulia menundukkan kepalanya. Sebab, jantung dia tidak bisa di ajak kompromi. Selalu saja berdetak secara bertalu-talu setiap mereka beradu pandang.


'Astaghfirullahal'adzim. Ya Allah, kenapa setelah khitbah aku jadi salah tingkah jika ditatap oleh calon suamiku ini.' (Aulia)


'Ya Allah, kenapa Engkau memberi rupa yang sangat cantik kepada Aulia? Bagaimana kalau nanti banyak laki-laki yang suka padanya? Eh, bukannya sekarang juga sudah banyak yang suka kepadanya. Aduh, Ya Allah … pikiran aku jadi kacau begini.'


'Tenang Alvan … tenang! Aulia sudah memilih kamu. Jadi, menurutnya kamu adalah laki-laki yang terbaik di matanya.'


'Benar juga, sih! Aulia nggak salah pilih aku. Aku ini 'kan laki-laki yang hampir sempurna. Wajah … tampan. Harta … banyak jika dibandingkan punya Gus Fathir dan Rangga. Tubuh … aku sangat percaya diri dengan tubuh aku ini. Apalagi, ya?' 


Alvan malah jatuh dalam lamunan memikirkan dirinya dan Aulia. Tidak tahu kalau para karyawan serang ramai membicarakan dirinya di balik mereka.


Berbeda dengan Aulia yang malah semakin cepat mengerjakan pekerjaannya. Dia mencoba mengalihkan pikirannya dengan mengerjakan apa yang sudah menjadi tugas kantor.


***


Rangga yang masih berada di Sumatera sangat terkejut mendengar kabar jalinan antara Alvan dan Aulia ke jenjang yang lebih serius. Bahkan dirinya tidak diberi tahu tentang mantan kekasih dan sahabatnya itu melakukan lamaran.

__ADS_1


"Alvan! Kamu tega menusuk aku dari belakang!" pekik Rangga sambil merem_at kaleng minuman ringan yang sedang dipegang.


Dia tadi tidak sengaja melihat status milik Yukari yang memberikan ucapan selamat atas resminya hubungan Alvan dan Aulia. Bahkan Alvan membuat status yang berupa angka berderet. Rangga yakin kalau angka-angka itu adalah tanggal yang mereka pilih untuk pernikahan mereka.


"Aulia … kenapa? Kenapa kamu mencampakkan aku lagi? Tidak cukupkah permintaan maaf dan rasa penyesalan aku ini membuat kamu kembali kepada aku lagi," racau laki-laki yang merupakan cinta pertama Aulia itu.


Air mata Rangga luruh membasahi pipinya. Dia sendiri sampai sekarang tidak pernah berhenti mencintai Aulia. Meski mereka sudah berpisah beberapa tahun dan tidak bertemu. Bahkan selanjutnya Aulia memilih membunyikan identitas dia kepada dirinya. Rasa cinta yang besar kepada perempuan itu membuat laki-laki ini selalu mencari tanpa lelah dan setia dengan cintanya.


"Ya Allah, Engkau-lah penguasa hati dan yang membulak-balikan. Jika, Aulia memang bukan jodoh yang ditakdirkan untuk aku. Hilangkan … hilangkan … hilangkan perasaan aku kepadanya, apapun itu. Aku tidak mau menjadi orang yang mencintai wanita milik laki-laki lain. Aku takut nanti malah akan menyulitkan dia," kata Rangga sungguh-sungguh sambil memegang dadanya yang terasa sangat sakit.


***


Aulia yang kini punya tempat yang nyaman untuk menghabiskan waktu istirahatnya. Dia menaiki atas gedung dan makan siang di sana. Awalnya hanya dia seorang diri di atap sana. Namun, tidak lama berselang datang beberapa orang ke sana. Mereka menatap sinis kepadanya. Namun, Aulia menyapa mereka dengan ramah dan membereskan bekas makan miliknya.


"Kasih tahu kita, dong? Bagaimana caranya agar bisa dekat dengan Pak Alvan? Bahkan bisa sampai bertunangan dengannya," tanya seorang perempuan berbaju merah.


"Kalau kamu punya wajah cantik, tubuh yang bagus pasti bisa dekat dengan laki-laki manapun," balas temannya yang berbaju hitam.


Tidak mau memperkeruh suasana di sana. Aulia pun memilih pergi dari sana, karena tidak ada gunanya juga bicara dengan orang-orang yang seperti itu. Manusia-manusia yang kurang beradab dan suka mencari celah untuk membicarakan sesuatu tentang orang lain, tanpa tahu apa-apa hanya menduga-duga saja. Apalagi jika hal itu bisa membuat nilai buruk orang lain, pastinya semakin suka dan menambah-nambahkan agar semakin terlihat buruk.


Jika saja orang-orang itu bertanya kepadanya dengan cara yang baik, penasaran bagaimana bisa sampai mereka bisa berkenalan sampai lamaran, Aulia pasti akan memberi tahu itu dengan baik-baik. Namun, jika sudah ada penyakit hati bercongkol di dalam hati mereka, apapun yang dia katakan pasti akan dianggap bohongan atau alasan saja. Akan sulit membuat agar suka, pada orang yang benar-benar benci pada kita. Apalagi kalau penyakit hati diawali dengan perasaan iri akan berakar kuat. Pastinya kita akan terus dilihat buruk.


"Aulia, mau ke mana?" tanya Yukari yang baru saja sampai ke sana.


"Oh, aku kira kamu tidak akan ke sini tadi. Aku sudah selesai makan. Ini mau ke bawah," jawab Aulia.


"Temani aku makan siang di sini, ya!" pinta Yukari sambil menarik tangan Aulia dan duduk di kursi yang tadi di tempati oleh Aulia.

__ADS_1


Ternyata Amelia juga datang ke atap itu bersama teman-temannya. Dia menatap sinis kepada Aulia. Mendengar perkataan orang-orang tentang Aulia membuat dia menjadi tidak simpatik kepadanya.


"Aku kira dia itu wanita baik-baik. Ternyata dia melakukan segala cara agar bisa mendapatkan Kak Alvan. Tahu begitu, aku juga akan merebutnya," gumam Amelia.


"Aku dukung kamu. Aku tahu kamu ini wanita baik-baik," balas temannya.


Aulia dan Yukari bisa mendengar ucapan itu. Wanita berdarah Jepang itu pun langsung berdiri. Dia menatap tajam kepada orang-orang yang duduk di meja terdekat dengannya.


"Hei, apa yang kalian bicarakan? Aulia tidak seburuk yang kalian tulis di grup chat milik kalian di setiap divisi dan grup chat perusahaan. Aku sudah melaporkan ini kepada pihak pengacara perusahaan dan semua tulisan kalian di grup chat sudah di rekam untuk jadi barang bukti atas pencemaran nama baik," teriak Yukari.


Aulia sangat terkejut saat mendengar ucapan Yukari barusan. Dia sama sekali tidak masuk ke grup chat tiap divisi seperti itu. Jadi, perempuan itu tidak tahu dengan keramaian di grup chat mereka.


Wajah orang-orang itu mendadak pucat. Mereka tahu kalau ucapan Yukari itu bukan asal ngomong.


"Kenapa wajah kalian mendadak pucat? Kalau kalian yakin dengan apa yang kalian tulis di grup chat itu adalah kebenaran, seharusnya kalian tidak perlu takut," lanjut Yukari.


Aulia bisa melihat wajah-wajah orang yang tadi dengan sombongnya berbicara, kini menundukkan kepala. Sebenarnya Aulia tidak tahu apa yang sudah mereka tulis tentang dirinya.


"Yukari, memangnya apa saja yang mereka tulis? Aku hanya membaca chat mereka yang ada di grup perusahaan saja," tanya Aulia.


"Mereka itu membuat juga grup chat di tiap divisi dan menulis sesuatu yang sudah memfitnah kamu. Tanpa mereka tahu kalau hacker perusahaan kita bisa melihat isi chat mereka," jawab Yukari.


***


😬 Memang orang yang tidak beradab akan terlihat jelas perbedaannya baik dalam ucapan dan perbuatan dengan orang yang punya adab. Semoga teman-teman termasuk orang-orang yang punya adab 🥰. Bagaimana pertemuan pertama antara Alvan dan Rangga setelah tahu tentang pinangannya? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan menarik, loh. Cus kepoin karyanya.

__ADS_1



__ADS_2