
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan bahagia selalu.
***
Bab 66
Mata Aulia berkaca-kaca saat melihat pertengkaran dua orang yang dikenal olehnya. Damar dan Shinta dulu sangat baik padanya bahkan menyayangi dirinya. Setiap mereka pulang dari luar kota selalu membelikan oleh-oleh untuknya. Mereka juga selalu memberikan dukungan jika dia ikut lomba apa pun. Keluarga Rangga sangat baik dan perhatian kepada bapak dan dirinya. Namun, gara-gara cinta terlarang antara dirinya dan Rangga membuat keduanya berubah berbalik membenci dirinya.
Aulia tidak tahu kenapa Damar sampai bisa punya anak dengan wanita lain. Namun, jika melihat perempuan tadi sepertinya usia mereka tidak beda jauh dengannya.
Damar dan perempuan itu pun pergi meninggalkan restoran diiringi oleh bisik-bisik para pengunjung. Tidak begitu banyak orang yang sejak di mulai perseteruan tadi, merekam kejadian itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka itu. Senang sekali mengetahui aib orang lain, lalu akan dipublikasikan ke publik dan akhirnya akan jadi pembicaraan seluruh rakyat di negeri ini.
"Kamu kenapa?" tanya Alvan mengulangi lagi pertanyaannya masih sambil menatap Aulia.
"Kasihan saja dengan orang-orang tadi," jawab Aulia.
"Aku lebih kasihan dengan Rangga. Kenapa dia punya keluarga yang seperti itu," balas Alvan.
"Ya, Kak Rangga itu orang yang sangat baik," ucap Aulia tanpa sadar.
"Kamu memanggil Rangga dengan panggilan kakak? Tidak menyangka kalau hubungan kalian sudah begitu dekat. Apa kamu suka pada dia?" tanya Alvan dengan nada sinis karena merasa tidak suka.
'Akan gawat jika Aulia suka sama Rangga. Eh, tunggu bukannya lebih gawat jika Aulia menyukai Gus Fathir?' batin Alvan.
"Tuan ini bicara apa?" balas Aulia tidak suka karena nada bicara Alvan yang terdengar mengejeknya.
"Maaf Tuan Alvan, saya datang terlambat." Tiba-tiba saja ada dua orang laki-laki yang menghampiri meja mereka dan langsung saja membicarakan kerja sama yang sudah direncanakan tadi.
***
Hari ini Aulia mengajak kakek Yusuf dan nenek Halimah mengunjungi panti asuhan. Mereka membawa banyak bantuan sembako dan beberapa pakaian untuk anak-anak di sana. Kedatangan Aulia membuat anak-anak di sana merasa gembira.
"Kali ini yang akan bercerita adalah nenek Halimah. Dia jago dalam menceritakan kisah-kisah yang ada di dalam Al Qur'an dan hadis," ucap Aulia dan anak-anak pun langsung mengerubungi nenek Halimah agar segera bercerita.
Aulia senang melihat anak-anak kecil itu ketika mereka tersenyum. Sementara itu, kakek Yusuf sedang duduk di teras yang agak jauh dari kelompok bocah-bocah kecil itu.
__ADS_1
"Aulia itu gadis yang sangat baik. Dia dan ibu-ibu pengajian di daerahnya sering memberikan bantuan kepada kami," kata pemimpin panti.
"Apa mereka semua anak-anak yatim piatu?" tanya kakek Yusuf.
"Kebanyakan mereka anak yatim piatu. Namun, ada juga anak yang dititipkan di sini karena tidak tahu siapa orang tuanya. Istilahnya bayi yang dibuang karena tidak diharapkan keberadaannya. Sungguh sangat miris sekali, padahal banyak orang yang berusaha untuk mendapatkan keturunan. Namun, mereka malah membuang apa yang diamanahkan kepada mereka," jawab pengurus panti.
"Bu, ini ada rezeki buat anak-anak." Aulia menyerahkan amplop berwarna coklat.
"Alhamdulillah, terima kasih, Aulia. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah kamu lakukan," ucap pengurus panti sambil menerima amplop itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aamiin," balas Aulia dengan hati yang senang karena bisa berbagi dengan orang lain yang membutuhkan. Meski uang yang dia berikan hanya sedikit.
"Insha Allah, Dia pastinya akan memberikan balasan kepada kita atas apa yang sudah kita lakukan," lanjut kakek Yusuf.
"Assalamu'alaikum," sapa seseorang dan membuat ketiga orang itu mengalihkan perhatian kepadanya.
"Wa'alaikumsalam," balas ketiganya.
'Kak Rangga.' Aulia sangat terkejut saat melihat ada Rangga datang ke panti asuhan itu.
"Nak Rangga, ibu kira tidak akan datang hari ini," ucap pengurus panti.
"Safiyah terus menunggu kamu, loh!" ujar wanita paruh baya itu.
Rangga mengenali orang yang sedang ada di sana. Dia pun menyapa kakek Yusuf dan Aulia.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya ibu pengurus panti.
"Iya, kami sudah saling kenal, Bu," jawab Aulia.
"Papa!" seorang bocah kecil perempuan yang berlari ke arah Rangga sambil membawa boneka di tangannya.
"Safiyah, papa kangen," ucap Rangga sambil menggendong anak yang berumur sekitar dua tahun. Dia menciumi pipi gembul sampai bocah itu tertawa bahagia.
Aulia sangat shock melihat pemandangan di depannya itu. Bayangan seandainya putri mereka masih hidup, pastinya Rangga juga akan memperlakukan seperti ini.
__ADS_1
Rangga duduk sambil memangku Safiyah. Sesekali dia menyuapi kue ke mulut bocah yang sejak tadi terus mengoceh.
Hal yang Aulia ketahui kalau Safiyah itu anak yang ceria dan menggemaskan. Namun, saat bersama Rangga, dia menjadi anak yang sangat manja dan suka mencari perhatian.
"Kenapa Kak Rangga tidak mengadopsi Safiyah?" tanya Aulia.
"Sebenarnya Safiyah adalah anak angkat aku. Karena kedua orang tuaku, kedua mertuaku, dan istriku tidak menyetujuinya. Maka, aku tidak bisa membawanya pulang ke rumah," jawab Rangga.
"Tapi semua data milik Safiyah sudah di isi dengan Rangga sebagai walinya. Jadi, tidak akan ada yang bisa mengadopsi lagi Safiyah," kata ibu pengurus.
"Aku ke sini setiap hari Sabtu dan Minggu, hanya untuk bersama Safiyah," lanjut Rangga.
Aulia tahu kisah saat Safiyah ditemukan di depan pintu gerbang dengan tali ari-ari masih ada dan di simpan di dalam dus bekas. Ukuran bayi itu juga sangat kecil dan membiru karena kedinginan. Sehingga harus di bawa ke rumah sakit.
"Sejak hari pertama Safiyah di rumah sakit, Rangga adalah orang yang mengurus dan membiayai pengobatannya. Bahkan dia juga yang memberi nama Safiyah," jelas ibu pengurus.
"Ibu, aku sudah pernah bilang kalau yang memberi nama Safiyah itu kekasih aku. Aku pernah janji kepadanya, jika punya anak perempuan akan diberi nama Safiyah. Saat itu dokter tanya siapa nama bayi yang kami bawa ke rumah sakit, tiba-tiba saja nama itu yang terlintas dalam otakku," kata Rangga.
Dada Aulia bergemuruh dan matanya memanas karena air mata yang memaksa ingin keluar. Dia tidak menyangka kalau gurauan dulu saat bersama Rangga dianggapnya serius. Dia sebut nama itu gara-gara membaca sebuah novel yang tokoh utama wanitanya bernama Safiyah.
"Semoga kamu secepatnya bisa menemukan Aulia dan anak kalian," ucap ibu pengurus.
"Iya. Aku juga sudah mengajukan gugatan cerai kepada Karmila," lirih Rangga.
"Kamu berhak bahagia, Rangga. Jika dengan perceraian ini akan membuat hidup kamu lebih berarti dan bahagia, kenapa selalu ditangguhkan. Sejak awal wanita itu bukan perempuan baik-baik, tetapi orang tua kamu malah bersikukuh menikahkan kalian," ujar ibu panti yang selalu merasa kasihan kepada Rangga yang hidupnya sulit menemukan kebahagiaan di rumahnya.
"Jika, aku sudah sah cerai dengan Karmila. Safiyah akan saya bawa," kata Rangga.
"Lalu, bagaimana dengan kedua orang tua kamu?" tanya ibu pengasuh.
***
Ojichan akan diceritakan di bab berikutnya. Bagaimana sikap dia kepada Aulia saat tahu cucunya menaruh hati pada Aulia? Tunggu kelanjutannya, ya!
Teman-teman mohon dukungannya. Insha Allah bulan depan mau meluncurkan 2 novel baru karena 2 novel aku mau tamat. Jika level novel Aulia naik, akan lanjut ke season 2, jika tidak. Kisah Annisa akan aku pisah. Jadi, novel ini hanya 1 season saja.
__ADS_1