
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 91
Aulia sedang pembajakan buku dongeng untuk Safiyah. Balita itu duduk di bangkunya sambil mendengarkan perempuan itu membaca buku. Sesekali bocah itu menimpa pembicaraan Aulia.
"Bun, kenapa kancilnya dikulung (dikurung)?" tanya Safiyah.
"Itu karena dia sudah mencuri mentimun milik Pak Petani. Itu perbuatan yang tidak baik," jawab Aulia.
"Itu dosa ya, Bun?" tanya Safiyah.
"Pinter," jawab Aulia lalu mencium pipi gembul bocah berumur dua tahun lebih itu.
Mami Siska dan mama Shinta tersenyum melihat interaksi antara Aulia dan Safiyah. Keduanya membayangkan jika suatu saat nanti mereka juga akan punya cucu yang lahir dari rahim Aulia.
'Semoga saja Aulia jodoh anakku.' (Mami Siska dan Mama Shinta)
***
Enam bulan kemudian ….
Aulia terkejut saat mendapat kabar kalau Ning Annisa masuk ke rumah sakit. Dia pun ingin pergi menjenguk sahabatnya itu. Sesuatu hal yang jarang terjadi pada perempuan yang selalu ceria dan energi. Dia pun berinisiatif pergi ke pesantren dan ingin meminta izin cuti untuk 3 hari kepada Alvan.
"Tuan, boleh, ya? Aku minta cuti selama tiga hari. Aku ingin pergi menjenguk Ning Annisa. Kabarnya dia masuk rumah sakit," pinta Aulia kepada Alvan saat dia menyiapkan keperluan Tuanny itu di pagi hari.
"Tidak boleh aku tidak mau ditinggal pergi lama-lama oleh kamu," balas Alvan menolak keinginan asistennya itu.
Aulia memberenggut, dia sangat kesal karena selalu sulit untuk meminta jatah liburan lebih dari satu hari. Perempuan ini terus berpikir memutar otaknya mencari cara agar bisa diberi jatah cuti selama tiga hari.
'Aku pancing dulu kayaknya.' (Aulia)
"Bagaimana kalau Tuan juga ikut aku pergi ke sana?" tawar Aulia.
__ADS_1
"Tidak mau. Di sana ada Gus Fathir saat ini di pesantren. Aku sedang malas bertemu dengannya," tolak laki-laki keturunan Jepang Indonesia dengan bibir yang mengerucut.
Aulia pun senyum tipis. Dia tahu kalau atasannya ini selalu saja cemburu jika ada sesuatu yang berhubungan dengan Gus Fathir.
'Ternyata sedang cemburu dia.' (Aulia)
"Ternyata Tuan ini kekanak-kanakan, ya? Aku pergi ke sana untuk menjenguk sahabat aku yang sedang dirawat di rumah sakit. Bukan pergi ke pesantren tempat Gus Fathir berada saat ini," ucap Aulia sambil menatap tajam ke arah laki-laki yang sedang memakai jam tangan.
Dikatakan seperti anak-anak oleh Aulia harga diri Alvan terusik dia ingin menjadi sosok yang dewasa, bijaksana, dan pantas menjadi seorang pimpinan baginya. Lalu, dia pun berdiri berhadapan dengan sang asisten.
"Aku bukan anak-anak. Aku—" Alvan menghentikan ucapannya saat melihat reaksi perempuan di depannya ini.
Aulia memalingkan wajahnya ke kanan. Dia bukan bilang kalau Alvan anak-anak, tetapi sifatnya yang masih suka kekanak-kanakan. Selalu mau ada cemburu dan marah juga merajuk.
"Siapa yang bilang Tuan itu anak-anak. Tetapi, sifat Tuan masih sering kekanak-kanakan." Aulia menekan setiap suku kata yang keluar dari mulutnya.
Alvan pun tercengang mendengar ucapan Aulia barusan. Maksud dia seperti itu, bukan dirinya yang anak-anak. Bagaimanapun sudah jelas bisa dilihat dengan wujudnya yang tinggi besar. Tidak akan ada seorangpun yang bilang dia seorang anak-anak.
"Iya aku salah dan menyerah. Aku kasih kamu waktu cuti dua hari. Hari ini dan besok," kata Alvan akhirnya mau mengabulkan keinginan sang pujaan hati.
***
Aulia langsung mendatangi rumah sakit tempat Ning Annisa dirawat. Dia melihat sahabatnya itu tergeletak tidak berdaya di atas brankar.
"Assalamualaikum, Ning Annisa." Aulia tersenyum saat mereka beradu pandang.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. Aulia kau datang ke sini!" seru Ning Annisa.
Aulia dan Ning Annisa pun saling berpelukan. Mereka saling melepas rindu, karena sudah lama sekali mereka tidak bertatap muka langsung. Hanya kabar lewat pesan dan video call saja yang masih terjalin hampir setiap hari.
"Kenapa kamu bisa sakit seperti ini?" tanya Aulia sambil menggoda sahabatnya.
"Sakit mala rindu," jawab Ning Annisa jujur sambil tertawa kecil.
"Wah, benar-benar pengantin baru ini. Tidak bertemu beberapa hari saja sudah membuat kamu di K.O." Aulia tertawa lepas saat tahu sahabatnya ini belum berbaikan dengan suaminya.
__ADS_1
"Memangnya kamu belum pernah merasakan perasaan rindu pada seseorang yang kamu cintai, tetapi orang itu mengembalikan dirimu?" tanya Ning Annisa. Dia juga kesel kepada suaminya yang marah dan tidak mau memberikan maaf.
"Tentu saja beda rasanya, jika orang yang kamu rindukan itu sudah menjadi orang yang spesial dan halal bagi hidupmu," balas Aulia.
"Aku tidak menyangka kalau Rafael itu pencemburu seperti ini," ucap Ning Annisa dengan lirih.
"Tapi aku rasa suami itu benar-benar mencintai dirimu. Hanya saja dia itu masih seorang bocah yang emosinya labil, sehingga sering mengutamakan ego sendiri daripada otak dan perasaan pasangannya," kata Aulia dan disetujui oleh Ning Annisa.
Ning Annisa tahu kalau suaminya itu masih remaja dan lebih mengutamakan egonya sendiri daripada duduk berdua dan berbicarakan masalahnya. Namun dia sudah terlanjur cinta kepadanya. Jadi, apapun yang dilakukan Rafael kepadanya dia masih bisa menerima.
"Assalamualaikum, Dek."
Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok Gus Fathir. Aulia terkejut, untung saja dia memunggungi pintu dan bisa memasangkan cadarnya terlebih dahulu.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," balas Ning Annisa dan Aulia bersamaan.
"Ada Aulia datang ke sini?" tanya Gus Fathir senang.
"Tentu saja, dong! Aku 'kan, sedang sakit. Jadi, Aulia bela-belain datang ke sini hanya untuk menjenguk aku dan menghibur aku yang sedang patah hati ini." Malah Ning Annisa yang menjawab ucapan kakaknya.
"Patah hati apanya? Tiga hari tidak bertemu Rafael saja sudah membuat kamu masuk rumah sakit," balas Gus Fathir menggoda adik bungsunya.
Ketiga orang itu pun berbicara sesuatu hal yang santai kebanyakan Aulia dan Gus Fathir menggoda Ning Annisa. Saat ini terlihat jelas mukanya Ning Annisa berubah menjadi sangat merah merona.
"Katanya mutiara juga akan datang ke sini dia akan naik jadwal penerbangan nanti sore," kata Aulia saat membaca pesan dari sahabatnya yang lain.
"Asyik! Kita akan berkumpul bertiga kembali. Aulia kamu jangan pulang dulu! Pokoknya kita harus bisa berkumpul, karena ini merupakan kejadian yang langka bagi kita," pinta Ning Annisa kepada gadis bergamis biru.
'Aulia turuti keinginan Ning Annisa.' (Gus Fathir)
"Baiklah," balas Aulia.
'Yes! Bagus Ning Annisa, kamu memang adikku.' (Gus Fathir)
***
__ADS_1
Apakah akan terjadi sesuatu selama Aulia di kampung itu? Tunggu kelanjutannya, ya!