Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 105. Trauma


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 105


Telepon milik Papi Kenzo berdering. Di layar terlihat nama salah seorang pemilih dari Jepang. Selalu laki-laki paruh baya itu pun menggeser tombol warna hijau.


"Kenzi ada apa? Kenapa kau tengah malam begini menelpon aku?" 


^^^"Sebaiknya kamu pulang ke Jepang. Otou-san saat ini keadaannya sangat kritis."^^^


"Apa?" 


^^^"Ingin bertemu denganmu sebelum kematian datang menghampirinya."^^^


"Kamu jangan bicara seperti itu! Otou-san akan sehat kembali seperti biasa."


^^^"Kali ini benar-benar berbeda keadaannya. Dia bahkan tidak bisa menggerakkan tangannya sendiri."^^^


Mendengar berita keadaan ayahnya yang sedang sakit parah membuat Papi Kenzo merasa tidak tenang. Lalu dia pun membangunkan Mami Siska ceritakan apa yang sedang terjadi kepada ayahnya yang sedang berada di Jepang.


"Kalau begitu sebaiknya kita berangkat ke Jepang hari ini juga," ajak Mami Siska dan disetujui oleh Papi Kenzo.


"Kita bangunkan juga Alvan. Agar dia juga segera bersiap-siap," tukas perempuan cantik meski usianya sudah berkepala lima.


***


Alvan pun menghubungi Aulia terlebih dahulu sebelum kepergiannya ke Jepang. Dia tidak ingin membuat calon istrinya itu khawatir, saat keesokan harinya tidak mendapati dirinya masuk kerja.


"Assalamualaikum, Aulia."


^^^"Wa'alaikumsalam. Ada apa Alvan? Kenapa malam-malam seperti ini kamu menelepon?"^^^


"Aku hanya ingin memberi tahu kamu, kalau aku bersama kedua orang tuaku akan pergi ke Jepang untuk menjenguk Oujichan."


^^^"Apa yang terjadi sesuatu kepada Oujichan?"^^^


"Iya. Dia sakit keras dan ada kemungkinan akan panjang lagi."


^^^"Aku turut bersedih. Semoga kamu dan seluruh keluarga diberikan kesabaran."^^^


"Terima kasih, kamu juga harus jaga diri baik-baik selama aku pergi."

__ADS_1


^^^"Alvan bisakah kamu tidak pergi ke Jepang? Aku harap kamu bisa tetap berada di Indonesia."^^^


Perasaan Alvan pun menjadi tidak menentu saat mendengar suara Aulia yang bergetar seperti menahan suara tangisan. Dia menduga kalau calon istrinya itu sedang bersedih karena mendengar kabar tentang Oujichan.


"Aku takut ini adalah permintaan terakhir Oujichan. Setidaknya aku ingin mengabulkan keinginan terakhir beliau."


"Aku takut … jujur aku sangat takut kalau hal seperti dulu terulang kembali."


Kali ini Alvan bisa mendengar suara tangisan Aulia. Hati dia juga ikut terasa sakit mendengar ini.


"Aulia aku mohon, jangan menangis seperti ini! Aku akan baik-baik saja dan kembali lagi kepadamu."


^^^"Tidak bisakah kamu menuruti keinginanku ini."^^^


Mendengar suara lirih Aulia yang menggambarkan kegetiran hatinya. Membuat Alvan meluruhkan air matanya juga.


"Aulia, hidup dan mati seseorang sudah ditakdirkan oleh Allah. Aku dan kedua orang tuaku menginginkan Oujichan pergi dengan membawa keimanan di dalam hatinya, untuk bakal dia saat menghadapi Sang Pencipta nanti. Kita masih diberikan kesempatan sebelum semuanya selesai."


Terdengar suara tangisan Aulia yang semakin tergugu. Tidak lama kemudian panggilan itu berakhir.


"Aulia, maafkan aku yang tidak bisa memenuhi keinginan kamu itu," lirih Alvan dengan hati yang sakit.


***


Aulia tidak mau mengalami kegagalan lagi dalam pernikahan yang akan berlangsung tinggal beberapa hari lagi. Atau lebih tepatnya tiga minggu lagi.


"Ya Allah, lindungi Alvan beserta keluarganya. Persatukanlah kami dalam ikatan pernikahan yang halal dengan mengharapkan ridho dari-Mu," gumam Aulia.


Gadis itu pun mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat tahajud. Hanya dengan pengadu dan mengingat kepada Tuhannya, hati dia selalu merasakan jauh lebih tenang.


Air mata Aulia tiada henti keluar dari netranya. Semenjak dia memulai shalat tahajud sampai selesai. Lalu, dia pun berdoa.


Allaahumma antas salaam, wa minkas salaam, tabaarokta dzal jalaali wal ikroom.


("Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang memberi keselamatan. Dari keselamatan. Maha Suci Allah, Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.")


***


Saat akan shalat Subuh berjamaah, Nenek Halimah melihat wajah Aulia yang sembab dengan mata yang memerah. Sebagai orang tua tentu saja membuat dirinya merasa khawatir.


"Kamu kenapa, Aulia? Seperti sudah menangis dalam waktu yang lama," tanya Nenek Halimah sambil mengusap wajah cantik milik anak angkatnya itu.


Lalu, Aulia pun menceritakan apa yang sudah terjadi kepadanya dirinya tadi. Lagi-lagi air matanya kembali mengalir saat dia berbicara.

__ADS_1


Wanita tua itu pun lantas memeluk erat tubuh Aulia. Sebelah tangan yang memulai kepala dan sebelahnya lagi menepuk punggung sang gadis.


"Banyak-banyaklah berdoa untuk kebaikan kalian semua," ucap Nenek Halimah.


"Bukannya kamu sudah tahu, kalau hidup dan mati seseorang itu sudah ditentukan oleh Allah," lanjut wanita yang sudah di ujung senja usianya.


"Tidak akan ada yang bisa menghindar dari yang sudah ditentukan oleh-Nya. Jika Allah sudah berkehendak, meski Alvan pergi ke Jepang, Dia bisa selamatan kembali ke sini," lanjut Nenek Halimah.


Aulia pun menganggukkan kepala. Sekarang hati dan pikiran dia menjadi agak tenang. Tidak sekacau tadi.


"Terima kasih, Nek. Sekarang aku bisa menjadi lebih tenang sedikit," ucap Aulia.


"Alhamdulillah. Kalau begitu ayo, kita mulai saja shalat Subuh berjamaahnya.


***


Lagi-lagi Aulia merasa kecewa, saat dia datang ke rumah orang tua Alvan ternyata mereka semua sudah berangkat ke bandara 2 jam yang lalu. Baik Alvan maupun kedua orang tuanya, tidak memberi tahu dia akan jadwal keberangkatan yang mereka ambil.


"Mungkin saat ini mereka sudah berada di atas langit," kata pekerja di rumah itu.


Aulia pun pergi ke kantor dengan perasaan tidak menentu. Dia kurang bersemangat dalam menjalani hari yang dilalui olehnya, tanpa ada Alvan di sisinya.


***


Terlihat Amelia datang menghampiri Aulia dengan wajahnya yang berseri. Dia pun langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Aulia, tahu tidak kalau aku saat ini sedang merasa bahagia?" Amelia tersenyum lebar.


"Memangnya apa yang membuat kamu bahagia saat ini?" tanya Aulia penasaran.


"Kata kak Rangga, aku bisa mengajak Safiyah untuk bermain saat hari libur nanti," jawab Amelia malu-malu.


Aulia pun ikut senyum. Dia merasa bahagia karena hubungan Amelia dan Rangga kini semakin dekat. Safiyah pun sudah menyayangi Amelia dan setiap hari mereka selalu melakukan video call.


"Hanya saja ada dua orang tuanya masih terlihat biasa saja kepada aku," lanjut gadis berjilbab motif bunga ini.


***


Akankah hubungan Amelia dan Rangga bisa berjalan lancar? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, kita baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan menarik, loh. Cus meluncur ke karyanya.


__ADS_1


__ADS_2