Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2. Permintaan Maaf


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 83


"Aulia."


Betapa terkejutnya Aulia saat melihat Shinta sudah berdiri tidak jauh darinya. Lalu, wanita tua itu pun berjalan mendekat. Terlihat matanya berkaca-kaca, kemudian berlutut sambil menangis tergugu di depan kaki Aulia.


"Maafkan aku, Aulia. Aku sudah banyak berbuat jahat sama kamu dan keluarga kamu dulu," kata Shinta sambil menahan suara isak tangis.


"Bu Shinta, apa yang Anda lakukan? Jangan seperti ini!" balas Aulia sambil mencoba membangunkan wanita yang dulu selalu berpenampilan glamor, kini jauh sangat sederhana.


"Tidak, Aulia. Aku mohon maafkan aku yang sudah jahat sama kamu dengan menyuruh kamu menggugurkan kandungan waktu itu. Seharusnya aku menyuruh Rangga bertanggung jawab," ujar Bu Shinta sambil ditarik oleh Aulia.


"Aku sudah memaafkan Bu Shinta. Aku memaafkan Bu Shinta karena Allah. Mulai saat ini, kita buka lembaran baru," balas Aulia dengan tatapan mata yang berkaca-kaca karena melihat kesungguhan Bu Shinta dalam meminta maaf kepadanya dengan penuh penyesalan.


"Terima kasih, Aulia. Kamu memang gadis yang baik," ujar Bu Shinta dengan senyum menghiasi wajahnya yang sembab.


Aulia pun mengatakan kalau dia sudah mengikhlaskan semua kejadian dia di masa lalu. Dirinya ingin menatap ke masa depan, agar menjadi manusia yang lebih baik lagi.


Mendengar setiap ucapan Aulia membuat Bu Shinta malah semakin menangis tergugu. Betapa malu sekaligus terharunya dia kepada gadis yang dulu sering dia banggakan meski bukan putrinya. Bu Shinta sangat menyesal sekali, karena sudah menyia-nyiakan gadis baik hati yang kini ada di depannya.


"Bu Shinta juga bisa menjadi orang yang baik, selama ada kemauan dalam diri sendiri dan tekad yang kuat. Karena orang yang bertaubat dan ingin berubah menjadi lebih baik itu selalu banyak cobaan dan kendala yang membuat dirinya merasa berada di persimpangan. Namun, dengan doa dan taufiq dari Allah, insha Allah semua akan berjalan dengan lancar. Juga dukungan dari orang-orang sekitar, itu salah satu faktor pendukung yang sangat penting," ucap Aulia sambil menggenggam tangan wanita paruh baya itu.


"Terima kasih, Aulia. Terima kasih! Semoga kamu selalu hidup dalam kebahagiaan dan keberkahan, juga bisa melahirkan anak-anak generasi yang sholeh dan sholehah. Mengantikan bayi kamu yang dulu," tutur Bu Shinta.


"Aamiin," balas Aulia merasa senang.


"Rangga masih sangat mencintai kamu. Dia diam-diam selalu mencari keberadaan kamu. Jika kamu masih mencintai Rangga, aku berharap kalian bisa bersama," kata Bu Shinta.


Aulia hanya diam, dia tidak bisa berkata apa-apa. Jika, kalimat ini diucapkan dulu saat dia dan bapaknya mendatangi orang tua Rangga, tentu saja dia akan merasa sangat senang.


***

__ADS_1


Gus Fathir, sejak kemarin kepikiran terus sama Aulia. Sebab, perempuan itu tidak bisa dihubungi olehnya. Bahkan pesan pun tidak dia balas. 


"Andai saja kemarin aku sedang tidak menjalankan tugas, sudah pasti aku datangi Aulia. Ya Allah, semoga dia dalam keadaan baik-baik saja. Kecemasan aku ini semoga saja tidak terjadi apa-apa kepadanya."


Gus Fathir, laki-laki yang pernah menjadi pelita bagi Aulia, dikala dia berada dalam kegelapan di hatinya. Namun, dia juga menjadi sosok yang menorehkan luka di hati Aulia yang mulai tertata dengan menikahi perempuan pilihan kakeknya dan berniat menjadikan dia sebagai istrinya keduanya. 


Akan tetapi cinta tulusnya kepada Aulia masih bercokol kuat di dalam hatinya. Dia sangat berharap kalau Aulia bisa menerima dirinya saat ini.


Demi bertemu Aulia, Gus Fathir rela langsung mendatangi kediamannya, meski dia baru pulang dari ibu kota. Dia pulang ke rumahnya cuma mandi dan ganti baju. Bahkan makan malam pun dia lewatkan. Dalam hati dan pikirannya saat ini adalah Aulia.


***


Gus Fathir melihat Aulia sedang berada di halaman depan rumahnya. Dia pun tersenyum senang melihat keadaan perempuannya dalam keadaan baik-baik saja. Laki-laki itu lekas datang menghampirinya.


"Assalamu'alaikum," salam Gus Fathir dan membuat Aulia terkejut.


"Wa'alaikumsalam," balas Aulia. 


     Seorang laki-laki yang berwajah teduh itu tersenyum kepadanya. Terlihat di tangannya membawa sekantong keresek yang tercium wangi.


"Ada, barusan sedang duduk di ruang depan," jawab Aulia.


    Terdengar suara klakson mobil, Aulia pun melihat siapa yang datang. Seorang laki-laki berwajah oriental turun dari mobil sambil membawa sekantong keresek yang berisi makanan.


"Assalamu'alaikum, Aulia." Senyum tampan langsung di lancarkan oleh Alvan.


"Wa'alaikumsalam, Tuan Alvan." 


"Apa aku sudah mengganggu acara kamu?" tanya Alvan sambil menatap tajam pada Fathir.


"Tidak. Saya tidak punya acara apapun malam ini," balas Aulia.


'Yes. Berarti si Fathir tidak janjian dengan Aulia,' batin Alvan.


"Assalamu'alaikum, Aulia." Rangga yang muncul tiba-tiba di sana membuat terkejut semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Aulia yang sangat terkejut dengan kedatangan mantan kekasihnya itu.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Alvan kepada Rangga tidak suka. Dia tadi sempat berantem dengan sahabatnya ini.


"Tentu saja untuk bertemu dengan Aulia," jawab Rangga dengan tatapan tajam. Ada gesekan di antara kedua orang laki-laki ini.


Ada tiga laki-laki yang saling menatap sengit satu kepada yang lainnya. Tentu saja ini membuat Aulia merasa pusing dengan kedatangan mereka.


***


Kini ketiga laki-laki itu duduk berdampingan dihadapan kakek Yusuf, nenek Halimah, dan Aulia. Ketiga orang itu saling menatap terhadap rivalnya untuk mendapatkan hati Aulia.


"Tumben kalian datang secara bersamaan, ke sini," kata Kakek Yusuf sambil menatap satu persatu.


"Aku mencemaskan keadaan Aulia sejak kemarin. Aku telepon tidak aktif. Ini membuat aku kepikiran terus selama dua hari ini. Sehingga aku langsung pulang begitu pelantikan telah selesai," jelas Gus Fathir.


"Aku juga mencemaskan Aulia. Dia tidak mau makan malam bersama dengan keluarga aku. Aku ingin memastikan kalau dia dalam keadaan baik-baik saja," ucap Alvan.


"Aku ingin menemui orang yang aku cintai dan sudah lama sekali aku mencarinya. Begitu tahu Aulia sudah kembali. Maka, aku pun datang ke sini," jujur Rangga.


***


Bagaimana reaksi Aulia? Tunggu kelanjutannya, ya.


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan menarik, loh. Cus meluncur ke karyanya.


Blurb:


Sarah harus menelan pil pahit, suami yang dicintainya malah menggugat cerai. Namun, setelah resmi bercerai Sarah malah dinyatakan hamil.


Kenyataan pahit kembali, saat ia akan mengatakan bahwa dirinya hamil, ia malah melihat mantan suaminya bersama teman wanitanya yang terlihat lebih bahagia. Sampai pada akhirnya, ia mengurungkan niatnya.


Sarah pergi dari kehidupan mantan suaminya. Akankah mantan suaminya itu tahu bahwa dirinya hamil dan telah melahirkan seorang anak?


__ADS_1


__ADS_2