
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh keceriaan dan kegembiraan.
***
Bab 52
Kalau pergi sama seorang bos atau jutawan yang loyal, pastinya kalau pergi kemana-mana itu naik kendaraan yang paling cepat dengan layanan paling baik. Seperti sekarang ini, Aulia tadi sudah gemas sama Alvan yang di nilainya lelet. Padahal kemarin sudah diberi tahu kalau mereka akan berangkat setelah salat subuh. Namun, saat dia sampai rumah atasannya, dia mendapati Alvan belum mandi, belum sarapan, ingin melakukan ini itu dulu. Ternyata mereka akan pergi dengan menggunakan pesawat terbang.
Aulia yang menjadi sopir selama perjalanan pulang kampung itu. Satu mobil berdua bersama Alvan membuat dirinya harus ekstra fokus dan sabar. Atasannya itu banyak bertanya ini itu di sepanjang jalan. Sampai akhirnya mereka sampai rumah jam 13.15 jauh lebih cepat dibandingkan Aulia jika mengendarai dengan mobil.
Kedatangan Aulia di sambut gembira oleh penghuni rumah. Apalagi nenek Halimah sampai nangis karena sudah tidak bertemu dengan Aulia selama dua bulan ini. Begitu juga dengan Muriara, dia berderai air matanya saat berpelukan dengan sahabat baiknya itu.
"Aulia, kamu tidak merindukan aku?" tanya Annisa sambil memasang wajah cemberut.
"Ning Annisa!" Aulia langsung memeluk tubuh sahabat karibnya itu dengan senyum lebarnya.
"Kangen," ucap keduanya kemudian tertawa.
"Ning Annisa, kok bisa di sini? Bukannya sedang melanjutkan kuliah S2 di ibu kota," tanya Aulia sambil memegang kedua tangan gadis berjilbab navy.
"Sedang liburan semester," jawab Aulia.
"Asik, berarti kita bisa lama bersama," ucap Aulia senang.
"Iya, aku juga sudah izin sama Abah dan Ummi. Kalau selama kamu berada di sini aku akan tinggal bersama kamu dan Mutiara. Sebenarnya, mereka itu awalnya tidak mengizinkan. Setelah aku merajuk baru di kasih izin," bisik Annisa dan membuat Aulia tertawa.
__ADS_1
"Dia siapa?" tanya Annisa saat melihat ada laki-laki yang duduk di kursi roda.
"Kenalkan dia atasan aku dan ke sini ingin belajar agama kepada Kakek Yusuf," jawab Aulia.
Annisa pun memperkenalkan dirinya sambil menangkupkan kedua tangannya di dada. Begitu juga dengan Alvan, kini dirinya tahu kalau laki-laki dan perempuan itu dilarang saling bersentuhan jika bukan dengan mahramnya.
"Nggak kalah ganteng sama mas Fathir," bisik Annisa.
Aulia mencubit paha Annisa yang terhalang kain gamis. Tiga perempuan itu pun tertawa bersama.
Sosok Aulia yang cerita saat bersama orang-orang terdekat dengannya, membuat Alvan melihat sosok yang baru darinya. Biasanya dia harus berbuat ulah yang tidak disukai oleh Aulia agar perempuan itu mau banyak bicara dengannya.
Alvan menempati kamar di lantai satu karena di rumah Aulia ini tidak ada lift. Kamar mandinya juga cuma pakai shower dan berukuran kecil.
"Nggak apa-apa, kok. Apa mereka semua itu keluarga kamu?" tanya Alvan penasaran.
"Iya, kami satu keluarga meski tidak punya ikatan darah," jawab Aulia sambil menutup pintu lemari.
***
Alvan selama di sana tidak bisa bersama dengan Aulia lama-lama. Paling hanya beberapa menit karena Aulia selalu bersama kaum perempuan sedangkan dirinya harus bersama kaum laki-laki. Alvan banyak belajar dari kakek Yusuf mengenai dasar-dasar ilmu agama Islam. Meski kakek Yusuf sudah sangat sepuh sekali, tetapi dia masih punya ingatan yang tajam dan penglihatan yang baik.
"Keikhlasan adalah cita-cita tinggi yang hanya bisa diraih dengan kesungguhan. Sebab meraih keikhlasan bukan perkara yang mudah. Bahkan banyak ulama mengatakan bahwa menjaga keikhlasan merupakan amalan hati yang paling berat. Karena itu, perlu kita mengetahui sarana-sarana yang akan membantu kita untuk meraih keikhlasan. Di antaranya: Bersungguh sungguh memohon pertolongan Allah ta’ala. Merenungi buah keikhlasan dan bahaya riya’. Mengisi jiwa dengan rasa takut terhadap murka Allah. Berusaha mengenal serta mendalami nama-nama Allah dan sifat-sifa-Nya. Selalu mengingat sifat dunia yang fana sedangkan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Meresapi kondisi manusia pada hari kiamat, bagaimana nasib kita nanti? Berkawan dengan orang yang ikhlas," jelas kakek Yusuf saat Alvan bertanya sesuatu kepadanya.
"Apa aku mampu menjadi orang yang ikhlas dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Sedangkan aku ini orang yang bodoh dan suka mengeluh," ucap Alvan.
__ADS_1
"Insha Allah. Kita bisa belajar sedikit demi sedikit. Jika kita melakukan sesuatu karena khilaf, maka segeralah bertaubat. Manusia itu tempatnya lupa dan salah, tetapi Allah itu Maha Pengampun dan Penerima taubat," lanjut kakek Yusuf.
Bagi Alvan, kakek Yusuf adalah laki-laki yang hebat dan pantas jadi panutannya saat ini. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya itu sarat akan penuh makna.
***
Aulia mendatangi toko miliknya, selama ini semua berjalan lancar. Dia menyerahkan tanggung jawab toko kepada Sholeha dengan pengawasan Mutiara. Kini produksi makanan oleh-oleh itu bukan hanya mencakup keripik dan bolu saja. Namun, kini ke berbagai olahan lainnya. Seperti dodol, jenang, wingko, dan makan khas Indonesia lainnya. Karyawannya juga sudah semakin banyak. Apalagi yang bagian produksi. Aulia sampai membuat 3 bangunan pabrik untuk pengelolaan hasil produksi.
Kini warga di sana sudah tidak ada yang menganggur. Di bantu oleh Kiai Akbar, para warga yang ingin berjualan keliling dan tidak punya modal, bisa ambil barang dulu di pabrik Aulia dan mereka akan membayar barang yang laku saat mereka pulang dagang. Anak-anak remaja juga tidak malu-malu ikut jualan makanan itu secara online setelah di ajarkan oleh Annisa.
Para petani juga kini tidak bingung lagi menjual hasil ladangnya. Apalagi Aulia melarang mengutang untuk membeli bahan baku pabriknya.
Aulia sengaja menggunakan tenaga manusia bukan mesin agar orang-orang di sana punya pekerjaan dan tidak ada limbah pabrik. Paling limbah dapur dari cuci wadah yang mereka gunakan. Itu juga masuk ke septic tank.
Usaha Iqbal juga lancar, dia amanah menjalankan tugasnya. Dia menyedekahkan sebagian penghasilan dari toko sesuai amat Ahmad dalam surat wasiatnya. Bahkan para pegawainya pun tidak ada yang keluar dari sana. Mereka sudah seperti saudara dan merasa bahagia bisa membantu Iqbal.
***
"Aulia itu ke nama? Sejak datang ke sini, aku selalu di cuekin dan jarang bisa berduaan. Masa aku harus berbuat kesalahan dulu biar dia ngomel seperti biasanya," gumam Alvan sambil melihat keadaan rumah yang sepi.
"Aku ingin tahu laki-laki yang bernama Ahmad itu. Sama siapa, ya, aku bertanya?" lirih Alvan.
***
Kira-kira Alvan mau mengorek informasi dari siapa, ya? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1