Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 42. Pulang Ke Kampung Halaman


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan.


***


Bab 42


     Selama dua tahun ini banyak yang terjadi di sekitar Aulia. Seperti Mutiara yang baru saja menikah dengan Iqbal. Mereka menikah setelah sebulan meninggalnya nenek Mintarsih. Mutiara yang hidup sebatang kara pun dipinang oleh Iqbal. Kesedihan Mutiara kini seakan sirna dengan kehadiran Iqbal di sisinya. Meski Mutiara memiliki banyak kekurangan, baik Iqbal, ibu, maupun adiknya, mereka menerima dia apa adanya. Saat ini mereka menempati rumah peninggalan Ahmad, atas kehendak Aulia. Dia ingin rumah itu selalu hidup dengan suara orang yang mengaji atau bercengkrama.


      Rumah mewah Aulia pemberian dari Ahmad, di isi oleh pasangan suami istri yang mengurus rumah itu, Pak Sugeng dan Mbok Sri. Aulia, nenek Halimah, dan kakek Yusuf akan mendiami rumah itu saat hari Sabtu dan Minggu.


"Kek, Aulia besok akan pulang dulu. Orang yang mengontrak rumah bapak kerjanya dipindahkan lagi ke kota lain," kata Aulia kepada Yusuf.


"Kamu pergi sama siapa?" tanya kakek Yusuf.


"Sepertinya sendiri, Kek. Nenek harus Kakek jaga karena sedang tidak enak badan. Jadi, jangan memaksakan diri. Insha Allah tidak akan terjadi apa-apa selama diperjalanan, nanti," jawab Aulia.


"Kamu berangkatnya pagi-pagi, agar sore hari sudah sampai sana," titah kakek Yusuf.


"Iya, Kek," balas Aulia.


     Seperti yang sudah direncanakan kemarin, Aulia pergi ke Kota Kembang. Sementara itu kakek Yusuf dan nenek Halimah masih tinggal dulu di rumah itu biar ada temannya. Jika, terjadi apa-apa juga akan ada yang bantu.


***


     Memasuki waktu sholat Dhuhur, Aulia singgah di masjid Raya Agung. Setelah itu dia mampir di restoran. Tanpa sengaja dia bertemu dengan Fathir. Duda tampan itu hanya tersenyum simpul kepadanya karena banyak orang yang sedang bersamanya. Tidak aneh jika Fathir sering pergi keliling kota untuk mengisi seminar atau ceramah.


     Fathir digugat cerai oleh Ning Aliyah, karena wanita itu merasa malu tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Meski Fathir tidak mempermasalahkan hal itu, baginya anak adalah suatu rezeki. Jika tidak bisa punya anak, berarti itu bukan rezekinya. Hanya saja Kiai Basir dulu sempat marah kepada keluarga Ning Aliyah karena merasa dibodohi oleh Kiai Rojaq dengan menikahkan putrinya yang mandul kepada cucunya. Hal yang lebih membuatnya murka adalah ternyata Ning Aliyah sempat dijodohkan kepada pemuda lainnya begitu tahu mandul pihak lelaki itu memutuskan ikatan itu. Lalu, keesokan harinya dia meminta Fathir untuk dijodohkan dengan Ning Aliyah.


     Setelah Aulia makan siang, dia melanjutkan lagi perjalanannya. Dia memburu waktu agar jangan sampai kemalaman di jalan.

__ADS_1


      Saat masuk waktu sholat Ashar pun Aulia akan berhenti di masjid. Setelah berjamaah sholat ashar tanpa sengaja dia melihat seorang anak kecil yang berlari mengejar bola ke tengah jalan. Aulia pun langsung berlari ke arah anak kecil itu dan menggendongnya.


Tiiinnn!


     Suara klakson mobil saling bersahutan dalam waktu yang hampir bersamaan. Para pengemudi itu memaki Aulia yang tiba-tiba berlari ke tengah jalan. 


      Aulia meminta maaf kepada pengguna jalan. Saat dia berjalan ke tepi, dia melihat seorang laki-laki yang melihat dirinya dan menatapnya dengan tajam, di dalam mobil berwarna merah yang terparkir di sisi jalan.


     Aulia tahu wajah itu, laki-laki yang duduk di kursi roda dan bernama Alvan. Biasanya dia di sertai oleh seseorang yang bernama David. 


"Nona terima kasih sudah menolong anak saya," ucap seorang wanita cantik keturunan Tionghoa.


"Syukurlah anaknya tidak apa-apa. Lain kali pintu gerbang sebaiknya di tutup atau di kunci," ujar Aulia.


     Setelah itu, Aulia pun melanjutkan lagi perjalanannya kembali. Dia melihat mobil berwarna merah juga melaju di belakangnya. Dia pun menambah kecepatannya. Apalagi perjalanannya tinggal sedikit lagi sampai. Ternyata mobil merah itu juga menambah kecepatannya. Aulia menjadi was-was merasa dibuntuti oleh mereka.


     Hatinya merasa tenang saat dia sudah masuk ke pusat kota dan sebentar lagi sampai ke rumahnya. Serta mobil itu sudah tidak lagi mengikutinya.


***


     Barang-barang yang di perlukam di ambil dalam gudang. Seperti peralatan masak dan makan. Juga karpet dan kasur lantai.


"Untungnya aku bawa bekal baju agak banyak dan perlengkapan mandi," gumam Aulia, saat dia ingin membersihkan badannya karena lengket oleh keringat.


***


     Keesokan harinya Aulia pergi berbelanja ke pasar. Dia melihat ada ibu-ibu paruh baya yang kesusahan membawa banyak sekali belanjaan sayuran dan buah-buahan. Aulia pun menawarkan bantuan kepadanya. Ternyata ibu-ibu itu ditemani oleh sopirnya, bahkan mobil yang dipakainya pun mobil mahal.


"Maaf, Bu. Tahu begitu banyak begini barang belanjaannya, saya akan ikut masuk ke dalam," ucap si sopir sambil menata barang belanjaan tuannya.

__ADS_1


"Masih banyak tuh, barang yang belum diambil di tukang ikan. Tanyakan saja belanjaan Mami Siska," titah perempuan yang bernama Mami Siska.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu," ucap Aulia dengan sopan.


"Terima kasih atas bantuannya Nona. Kamu ini sudah baik … sopan lagi," kata wanita yang mempunyai berambut bergelombang itu.


"Ini sudah selayaknya saya lakukan, Bu. Bukannya kita sesama manusia harus saling menolong, jika ada orang yang mengalami kesusahan," tutur Aulia dengan sopan.


"Kamu, benar sekali …," ucapan Mami Siska terjeda karena tidak tahu nama gadis yang sudah menolongnya. "Maaf, nama nona, siapa?"


"Kenalkan nama saya, Aulia, Bu." Aulia mengulurkan tangannya dan mencium tangan Mami Siska dengan takzim.


"Aduh, ingin dijadikan mantu kalau wanita solehah seperti ini," gumam Mami Siska sangat pelan sampai Aulia tidak begitu jelas mendengar ucapannya.


"Kalau begitu saya permisi, Bu," kata Aulia lalu pamit.


***


     Hal yang paling tidak disukai oleh Aulia adalah dirinya bertubrukan atau tertabrak. Baik itu oleh barang, kendaraan, apalagi orang.


    Hal ini terjadi saat dia selesai makan siang di mall karena mencari sebuah pesanan untuk pegawainya yang sedang hamil. Kelelahan setelah mencari mainan miniatur bangunan khas Kota Kembang, Aulia makan di sebuah restoran.


     Hanya saja saat dia hendak pergi, ada sesuatu yang buruk menimpa dirinya. Ada beberapa anak kecil yang sedang berlarian di dalam restoran dan menubruk tubuh Aulia. Sehingga, dia pun menabrak sebuah meja pelanggan dan gelas air minumannya yang masih penuh itu pun tumpah pada tumpukan kertas yang ada di atas meja itu.


"Astaghfirullahal'adzim. Maafkan aku Tuan!" Aulia dengan cepat mengangkat gelas itu di atas tumpukan kertas itu.


     Mata Aulia seakan copot keluar dari tempatnya. Saat melihat laki-laki yang sedang menatap balik padanya dengan tajam.


***

__ADS_1


Kisah baru kehidupan Aulia akan segera di mulai. Bagaimana kisah dia selanjutnya? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2