Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 63. Ojichan Akan Ke Indonesia


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan bahagia selalu.


***


Bab 63


     Aulia menatap ke arah Alvan, lalu ke arah mami Siska. Dia pasrah saja, jika nanti gantian mami Siska yang akan mengomelinya. 


"Bagus, Aulia! Memang benar kalau kita para wanita itu harus ngomel demi kebaikan suami kita," kata mami Siska.


'Suami? Aku tidak punya suami, yang aku omeli itu adalah atasan aku,' kata dalam batin Aulia.


     Alvan tersenyum senang saat mami Siska sebut kata 'suami kita' pada Aulia. Dia mengartikan kalau dirinya pantas menjadi suami Aulia.


"Hm, Mami tidak boleh gitu. Seharusnya seorang istri itu berbicara dengan lemah lembut dan penuh hormat kepada suaminya. Bukannya begitu, Aulia?" Alvan menatap Aulia dan terlihat jelas kalau perempuan itu terkejut karena tiba-tiba saja diajak bicara.


"Iya, itu benar. Jika, suaminya juga berlaku lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada istrinya," balas Aulia.


"Benar. Tuh, dengar! Kita para istri, tidak akan ngomelin suami, jika kalian para suami tidak membuat kita merasa kesal dan jengkel," jelas mami Siska.


     Alvan dan papi Kenzo terdiam dan saling lirik. Kedua lelaki itu selalu kalah debat jika sudah berhadapan dengan mami Siska. Sekarang ditambah dengan adanya Aulia. Semakin klop deh itu calon mertua dan menantu. 


"Mami sebenarnya mau apa, menyuruh aku harus hidup mandiri. Bukannya selama ini aku sudah hidup mandiri," kata Alvan menggerutu.


"Tujuan mami manggil kamu ke sini itu mau bilang kalau ojichan kamu itu mau datang ke Indonesia dan mami minta kamu untuk tinggal di sini selama ojichan berlibur di Indonesia," kata mami Siska.


"Kenapa ojichan nggak tinggal di rumah aku saja, Mi?" tanya Alvan. 


     Sebenarnya dia malas jika harus jauh-jauh pergi ke kantornya. Rumahnya lebih dekat dibandingkan dengan rumah orang tuanya. 


"Kalau kamu pergi ke kantor, lalu ojichan akan sama siapa. Dia pasti merasa bosan jika tinggal di rumah kamu," jawab mami Siska.


"Sudah. Pokoknya kamu tinggal di sini. Selain itu papi juga sudah mulai menekan perusahaannya Barata. Dia sampai kesusahan mencari investor. Tugas kamu bertambah, bantu papi jika sudah pulang ke rumah," kata papi Kenzo senang.


"Kok, aku jadi lembut! Pokoknya hari Sabtu dan Minggu tidak ada yang boleh mengubah jadwal agendaku, titik!" ucap Alvan penuh penekanan.

__ADS_1


"Memangnya kamu punya agenda, apa?" tanya papi Kenzo penasaran.


"Kencan sama Aulia, Papi," balas mami Siska sambil mengedipkan matanya.


"Kencan apanya? Aku mau belajar agama sama kakek Yusuf dan nenek Halimah," bantah Alvan dengan memutar bola matanya.


"Oh, belajar sambil berkencan," ucap mami Siska menggoda anaknya.


"Terserah kalian saja," balas Alvan.


     Aulia yang sejak tadi diam, kini dia menghela napasnya. Dia tahu kenapa tuannya itu sering nyebelin dan membuatnya kesal. Ternyata faktor turunan. Image pendiam, tegas, dan serius semua itu hilang saat mereka semua berkumpul.


***


     Aulia pun pulang agak malam karena harus mengambil dulu mobilnya di rumah Alvan. Untungnya Bi Eneng bersama anaknya yang bungsu masih menemani kakek Yusuf dan nenek Halimah.


"Bi Eneng, ambil ini!" perintah Aulia pada wanita paruh baya itu.


"Apa ini? Kok hangat," tanya Bi Eneng.


"Tidak apa-apa, justru Bibi suka. Bisa dengar cerita para sahabat Nabi dari nenek Halimah. Si Ujang juga suka, ya?" Anak kecil itu pun mengangguk.


    Selain memberikan martabak, Aulia juga memberikan uang lebih pada upahnya. Dia senang karena punya asisten rumah tangga yang baik dan pengertian.


"Kenapa pulangnya telat? Tidak terjadi sesuatu lagi, 'kan?" tanya kakek Yusuf merasa cemas.


"Tidak, Kek. Tadi orang tuanya tuan Alvan menyuruh untuk datang ke rumahnya. Aulia di sana sampai Magrib, lalu kembali ke rumah tuan Alvan untuk bawa mobil," jawab Aulia.


"Oh, pantes. Biasanya setelah Magrib, Alvan menelepon kakek, tapi hari ini tidak," ucap kakek Yusuf.


"Tuan Alvan selalu menelepon kakek?" tanya Aulia karena baru tahu.


"Iya, dia akan banyak bertanya ini itu, apa saja yang tidak dimengerti olehnya," jawab kakek Yusuf.


"Syukurlah, Kek, kalau begitu. Tadi juga mami Siska juga bilang ingin belajar agama Islam yang benar. Sesuai Al-Qur'an dan Hadist. Katanya selama ini dia tidak mempelajari agama dengan benar, jadinya menggugu hawa naf_sunya. Jika, menurutnya hal itu tidak benar, maka dia tidak akan melakukan hal itu. Begitu juga sebaliknya, jika menurutnya hal itu baik, maka dia akan melakukannya. Padahal apa yang menurut kita benar, belum tentu benar di mata Allah. Begitu juga dengan sebaliknya, apa yang menurut kita salah, belum tentu itu salah di mata Allah," kata Aulia.

__ADS_1


"Benar. Menjalankan ajaran agama itu tidak semuanya harus menggugu perasaan kita," kata kakek Yusuf.


***


     Hari-hari pun berlalu dan kedatangan kakeknya Alvan dari Jepang akan segera tiba. Sesuai keinginan mami Siska, mau tidak mau Alvan harus tinggal kembali ke rumah orang tuanya.


      Terapi yang dijalani olehnya juga berjalan lancar. Alvan sudah bisa menggunakan kruk untuk membantunya berjalan. Hanya saja dia tidak pernah melakukan hal itu di depan Aulia. Dia berniat memberi kejutan nanti kepada Aulia. Biar dramatis saat melihat wajah terkejut Aulia nanti, seperti di cerita-cerita drama di televisi.


"Tuan, kakek Anda akan datang ke Indonesia besok lusa, 'kan?" tanya Aulia saat menyerahkan tumpukan map yang sudah di periksa olehnya.


"Iya, kenapa? Apa kamu mau ikut menjemput ojichan ke bandara?" tanya Alvan.


"Tidak. Hanya saja apa besok lusa Tuan akan datang ke rumah seperti biasa?" tanya Aulia karena hari Sabtu dan Minggu Alvan dan kedua orang tuanya selalu mendatangi rumahnya untuk belajar agama pada kakek Yusuf.


"Kenapa? Apa kamu merasa kehilangan kalau aku tidak datang ke rumah kamu meski sehari?" tanya Alvan menggoda Aulia.


"Tidak. Hanya saja, jika Tuan tidak akan datang ke rumah, saya mau mengajak kakek Yusuf dan nenek Halimah ke suatu tempat," jawab Aulia.


"Kamu mau pergi ke mana?" tanya Alvan panasaran dia takut kalau Aulia ada janjian dengan Fathir. Seperti beberapa hari yang lalu, mereka janjian di mall dan Alvan sangat kesal saat mengetahui hal itu.


"Hanya ke panti asuhan," jawab Aulia singkat.


"Benar? Tidak bohong?" tanya Alvan dengan tatapan penuh selidik.


"Bohong itu dosa Tuan. Untuk apa saya berbohong, tidak ada manfaatnya sama sekali," balas Aulia dengan gusar.


"Bos, ada pak Rangga datang ke sini? Tapi, dia tidak ada di dalam jadwal agenda hari ini," Yukari hanya menampakkan kepalanya saja.


"Suruh dia masuk!" perintah Alvan.


"Baik," balas Yukari lalu menutup pintu.


"Akhirnya, dia sadar juga kalau mertuanya itu jahat," gumam Alvan. 


***

__ADS_1


Ada apa dengan Rangga? Apakah kakeknya Alvan baik atau sebaliknya? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2