
Aku nulis kisah ini jika Ahmad tidak meninggal dan Aulia menikah dengannya. Untuk mengobati para pembaca yang menginginkan Ahmad menjadi pasangannya Aulia. Semoga kalian suka. Jangan lupa kasih Bunga, Kopi, dan Vote. Mana pendukungnya Ahmad?
***
Bab 75
Suara lembut dan merdu mengalun dari mulut seorang imam yang berdiri di depan Aulia. Suami yang sudah menemaninya selama 13 tahun ini. Dia tidak menyangka akan adanya keajaiban di hari itu.
Flashback on.
Aulia menangis tergugu dalam pelukan nenek Halimah. Dia tidak sanggup melihat Ahmad yang sedang menahan rasa sakit dari sakaratul maut.
Kalimat tahlil meluncur dari mulut Ahmad tiada henti meski sangat pelan dan dibimbing oleh kakek Yusuf. Wajah Ahmad kini terlihat tenang dan bercahaya. Tidak ada lagi harus kesakitan yang tersirat dari pancaran mata atau wajahnya. Mulutnya pun mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lirih, tapi terdengar jelas bagi orang-orang yang berada di dekatnya.
Bukan hanya Aulia, kakek Yusuf, dan nenek Halimah yang menangis. Dokter yang sejak tadi berada di sana juga ikut menangis tergugu. Dia baru sekarang melihat seorang pasien yang menyambut kematiannya dengan ketenangan dan senyum bahagia. Seolah ini adalah waktu yang sedang dia tunggu-tunggu.
"Nak, relakan Ahmad. Biarkan dia merasa tenang saat menuju panggilan Tuhannya karena masa dia di dunia ini sudah akan berakhir," ucap kakek Yusuf.
"Mas Ahmad, aku ridho … aku relakan kamu. Allah lebih mencintaimu, Allah tahu yang terbaik untuk kamu, Mas. Semoga kamu di tempatkan bersama orang-orang mencintai Allah dan dicintai oleh Allah. Kamu pantas mendapatkan itu, Mas," kata Aulia sambil berusaha menahan tangisannya.
"Laa ilaha illalah," kata Aulia di samping Ahmad yang masih melafalkan kalimat tauhid.
Kakek Yusuf, nenek Halimah, Aulia, dan dokter itu bersama-sama mengucapkan kalimat tauhid. Bibir Ahmad tersenyum dan matanya terpejam sedikit, setelah mengucapkan kalimat tahlil. Suara dentingan dari alat patient monitor menandakan hilangnya nyawa Ahmad.
"Permisi," kata dokter itu sambil memegang benda yang mirip setrika.
Dokter dan perawat itu mencoba membantu agar jantungnya bisa berdetak lagi dengan menggunakan alat kejut jantung atau defribrilator beberapa kali. Atas kuasa Sang Illahi, jantung itu pun berdetak lagi dan membuat orangan tubuh lainnya kembali memperlihatkan tanda-tanda berfungsi kembali (intinya keajaiban terjadi, maklum bukan dokter nggak tahu bahasa gimana 😭).
"Jantung pasien kembali berdetak!" ucap perawat dan dokter itu pun mengucapkan syukur dan tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah," ucap Aulia, kakek Yusuf, dan nenek Halimah.
"Siapkan kantong darah yang sama dengan pasien!" perintah dokter itu pada perawat.
Perawat itu pun pergi dan kembali dengan wajah yang panik. Dia memberi tahu kalau stok darah yang sama dengan Ahmad sudah habis dipakai oleh pasien yang di operasi tadi sore.
"Kalau boleh tahu apa golongan darah Ahmad?" tanya Aulia.
__ADS_1
"Golongan darah B," jawab perawat.
"Gunakan darah saya saja, Dok! Kebetulan golongan darah milik aku juga B (aku lupa golongan darah Aulia dulu apa, ya? 😅 Anggap saja sama dengan Ahmad)
Ahmad mendapat perawatan intensif di rumah sakit selama sebulan. Lalu, masa penyembuhan tiga bulan. Agar bisa beraktifitas seperti semula Aulia meminta Ahmad jangan banyak bekerja. Sehingga, dia istirahat dan tidak terlalu banyak bekerja selama 100 hari sampai dokter menyatakan pulih total.
Acara pernikahan Aulia dan Ahmad di gelar satu tahu kemudian. Mereka menjadi pasangan yang bahagia dan membuat banyak orang yang iri dengan pasangan ini.
Orang-orang banyak yang bilang kalau Ahmad beruntung bisa menikahi Aulia, wanita yang cantik dan cerdas. Sementara menurut Aulia, justru dirinya 'lah yang merasa bersyukur karena bisa memiliki laki-laki yang sholeh menjadi suaminya.
Flashback off.
Seperti biasa setelah tahajud Aulia dan Ahmad akan mendengarkan bacaan Al-Qur'an yang dihafal oleh kedua anak mereka, Ali dan Alifa. Ali berusia 11 tahun sedangkan Alifa berusia 5 tahun.
Aulia menerapkan pendidikan agama Islam dalam sehari-harinya. Dia ingin agar anak-anaknya sudah paham akan betapa pentingnya berpegang pada akidah dalam hidupnya.
Ahmad mengajarkan ilmu agama dan Aulia memberikan ilmu pengetahuan umum. Mereka sama-sama memberikan ilmu yang bermanfaat untuk putra dan putri mereka.
***
"Ali kapan jadwal perlombaan MTQ tingkat provinsi di adakan?" tanya Ahmad pada putranya.
"Insha Allah," jawab Ahmad dan itu membuat Ali sangat senang.
"Abi, adek juga akan naik ke panggung bulan depan bulan depannya lagi. Eh … berapa bulan lagi, ya?" Aliyah mengingat-ingat kapan hari kenaikan kelas di TK akan di adakan.
"Oh, adek juga mau naik ke panggung?" Aulia datang sambil membawa sepiring bolu ubi dan bolu sponge kesukaan suami dan anaknya.
"Mau naik panggung, Ummi. Kata bu guru, suara adek itu bagus dan bisa bernyanyi. Jadi, di suruh naik panggung jika hari kelulusan nanti," balas Aliyah.
"Hari kelulusan?" Semua orang terkejut.
"Itu kan empat bulan lagi," gumam Aulia dan membuat Ahmad serta Ali menahan tawanya karena jika mereka tertawa nanti Aliyah menangis dikira sedang mengejeknya.
"Adek pas naik ke panggung mau nyanyi apa?" tanya Ahmad.
"Tidak tahu. Kata bu guru di suruh nyanyi pemandangan, tetapi kata kepala sekolah disuruh nyanyi lagu 'terima kasihku' dan 'hime guru'." Aliyah merasa bangga karena kepala sekolah juga mengakui dia dengan kehebatannya dalam bernyanyi.
__ADS_1
"Memangnya adek bisa menyanyikan lagu yang diminta oleh kepala sekolah?" tanya Ali.
"Tidak. Minta diajari sama Ummi saja. Iya, 'kan, Mi?" ujar Aliyah dan membuat Aulia mengangguk dengan senyum tipis.
Begitulah keseharian Aulia dan Ahmad sering menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga. Meski hanya mendengar ocehan kedua anaknya itu, membuat mereka sangat bahagia.
***
"Mas, hari ini mau pergi ke toko?" tanya Aulia begitu melihat suaminya baru pulang mengantarkan kedua anaknya sekolah.
"Mas maunya di rumah saja berduaan dengan kamu, Dek." Ahmad menggandeng tangan Aulia dan mengajaknya duduk di sofa sambil merangkulnya.
"Betapa bahagianya aku punya istri yang cantik, baik, pintar, dan penyayang," ucap Ahmad sambil menatap wajah Aulia.
"Aku juga merasa bahagia karena Mas Ahmad yang menjadi suami aku. Betapa sayangnya Allah kepadaku dengan menjadikan seorang Muhammad Salahuddin Al Ayyubi sebagai suami dari Aulia Nur Assyifa," balas Aulia dengan senyum mengembang.
"Aku mencintaimu, Aulia," bisik Ahmad dengan mesra.
"Aku juga mencintaimu, Mas," balas Aulia dengan pipi yang merona.
Satu kecupan di berikan oleh Ahmad di kening Aulia. Kemudian, Aulia membalas dengan kecupan ringan di bibir suaminya.
Keluarga kecil yang bahagia dan selalu berada di jalan yang mengharap ridho-Nya.
***
Happy Ending 🥰🥰🥰
Semoga kalian suka.
Untuk pendukung:
Aulia - Fathir
Aulia - Alvan
Aulia - Rangga
__ADS_1
Akan ad versinya ada Versinya masing-masing. Tunggu saja! Pilih akhir yang kalian suka.