
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Alon-alon saja biar tidak gagal paham. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.
***
Bab 64
Tatapan tajam diarahkan oleh Rangga begitu masuk ke ruang kerja milik Alvan. Terlihat sekali kemarahan dari raut muka dan pancaran netranya.
Senyum mengejek Alvan terukir di wajahnya. Terlihat pancaran kesenangan dari matanya yang agak sipit itu. Sangat bertolak belakang suasana hatinya dengan sang sahabat.
"Alvan, bisa kamu jelaskan, kenapa kamu dan papi kamu memberikan tekanan kepada perusahaan papa mertuaku?" tanya Rangga karena dia juga saat ini sedang bekerja di sana. Jelas sekali kemarahan padanya dari nada bicara yang berbeda dari biasanya.
"Bukannya sudah aku bilang kepada kamu, kalau perusahaan itu seharusnya milik seorang gadis yatim yang harta warisannya sudah dirampok oleh papa mertuamu. Dia menjual semua aset milik laki-laki bernama Darmawan dan menggunakan uangnya untuk buka perusahaan sendiri. Sungguh perbuatan licik dan biadab!" geram Alvan menatap sengit.
"Apa kamu punya bukti kalau papa mertuaku melakukan hal itu?" tanya Rangga menantang.
"Tentu saja kami punya bukti. Sebaiknya kamu lepaskan diri dari keluarga itu. Untuk apa kamu menyiksa diri kamu sendiri. Kalau aku jadi kamu, akan aku ceraikan Karmila. Mempertahankan rumah tangga yang sudah hancur sejak awal tidak ada gunanya sama sekali," balas Alvan.
"Memangnya aku mau punya rumah tangga yang seperti itu. Kamu tahu sendiri, setiap aku lakukan gugatan cerai pada Karmila, mama selalu berusaha bunuh diri. Memangnya kamu tega melihat mami kamu mati bunuh diri karena keegoisan kita," ujar Rangga.
Aulia sangat terkejut mendengar ucapan Rangga barusan. Kini dia tahu kenapa mantan kekasihnya itu bertahan meski tahu kelakuan istrinya tidak benar. Dia merasa iba akan kehidupan Rangga saat ini. Bagi Aulia, dari dulu Rangga itu adalah orang baik dan sayang kepada kedua orang tuanya. Namun, hal itu malah membuat hatinya terluka dan dia terus bertahan sampai saat ini.
"Ya, sudah aku akan bantu kamu agar mama kamu bisa buka matanya keluarga besannya itu seperti apa," tukas Alvan.
"Aku akan senang jika kamu bisa melakukan hal itu," desis Rangga.
"Aku akan mempercepat kehancuran keluarga mertua kamu, asal kamu ikut kerja sama denganku," tawar Alvan dengan senyum liciknya.
"Cari celah, jangan sampai aku juga ikut terseret," balas Rangga.
__ADS_1
"Tentu saja, mana mungkin aku menghancurkan sahabat aku sendiri," pungkas Alvan sambil mengulurkan tangannya dan mendapat sambutan dari Rangga.
Setelah itu keduanya pun membuat rencana agar saham milik perusahaan Barata jatuh terus sampai ke level dinyatakan bangkrut. Rangga juga dijamin tidak akan dikeluarkan dari perusahaan itu jika kepemilikannya sudah diberikan kepada Mutiara. Alvan yakin Rangga akan berguna untuk majukan kembali perusahaan itu nantinya.
***
Sekarang Fathir sering kali berkunjung ke rumah Aulia untuk berbincang-bincang dengan kakek Yusuf dan nenek Halimah. Biasanya dia pergi ke sana setelah pulang mengajar dari kampus. Meski begitu dia sangat jarang bertemu dengan Aulia karena tujuan dia datang ke sana hanya untuk menjaga tali silaturahmi dan menemani gurunya saat masih kecil itu.
"Gus, nih, ada bolu ubi buatan Aulia. Makanlah, kamu juga sangat menyukainya, 'kan!" Kakek Yusuf mendorong piring yang berisi beberapa potong bolu ke arah Fathir.
"Terima kasih, Ustadz." Fathir pun mengambil satu potong dan memakannya.
"Apa Gus masih mengharapkan Aulia menjadi seorang istri?" tanya kakek Yusuf.
"Saya hanya berdoa kepada Allah agar diberikan jodoh yang terbaik buat aku di dunia sampai akhirat kelak. Saya tidak mau digugat cerai lagi," balas Fathir sambil tertawa kecil.
"Gus ini ada-ada saja. Pastinya banyak wanita di sekitar Gus saat ini yang suka. Hanya saja Gus menutup hati untuk mereka," balas nenek Halimah dengan senyum tipisnya.
"Bilang dong, sama yang sudah mencuri hati Gus itu, suruh dia balikin hatinya Gus," ujar nenek Halimah tidak mau kalah membalas candaan Fathir.
"Ustadzah ini ada-ada saja. Kita tidak akan tahu hati ini ingin berlabuh kepada siapa. Hanya saja saya ingin membuatnya bahagia meski melihat dia dengan yang lain. Bukannya tahapan cinta yang paling tinggi itu merelakan dia hidup bahagia meski tidak bersama kita. Kalau kata pujangga itu cinta tidak harus saling memiliki," jelas Fathir.
"Kenapa berbeda dengan Alvan. Dia itu pernah bilang kalau cinta itu harus saling memiliki. Kita sekuat tenaga berusaha membuat dirinya bahagia," sanggah nenek Halimah.
Mendengar nama Alvan, dia teringat ucapan Aulia beberapa hari lalu saat mereka bertemu di sebuah mall untuk membeli hadiah ulang tahun Annisa untuk bulan depan. Aulia bilang laki-laki itu adalah hanya atasannya. Namun, bagi Fathir kalau laki-laki yang duduk di kursi roda itu punya perasaan khusus kepada Aulia.
"Assalamu'alaikum," salam Aulia begitu masuk ke rumah.
"Wa'alaikumsalam," balas semua orang. Aulia pun menyalami kakek Yusuf dan nenek Halimah.
__ADS_1
"Ada Gus Fathir di sini? Apa sudah lama?" tanya Aulia.
"Selepas ba'da Ashar tadi ke sini. Tumben jam segini sudah pulang?" tanya Fathir.
"Semua pekerjaan sudah selesai lebih cepat. Jadi, atasan aku juga pulangnya agak lebih awal," jawab Aulia sebelum pamit pergi ke kamarnya.
Jantung Fathir masih saja selalu berdegup dengan kencang jika dekat dengan Aulia. Rasa cintanya kepada si pencuri hati tidak pernah berubah, masih seperti dulu.
***
Alvan sengaja pulang lebih awal karena jadwal terapi kini di ubah jadi sore hari karena siang atau pagi harinya sangat sibuk dan tidak bisa di tinggalkan. Kini Alvan di dampingi oleh dua orang sedang berjalan di pegangan besi kiri dan kanannya. Dia berjalan di sana bolak-balik. Kini dia sudah bisa melangkahkan kakinya meski tangannya.
"Bagus, Tuan. Kemajuan yang sangat pesat. Kenapa Anda tidak dari dulu melakukan terapi ini?" kata pendamping itu merasa puas.
"Aku punya alasan khusus. Baik itu ataupun sekarang," ujar Alvan dengan keringat yang bercucuran di keningnya.
"Sekarang, Anda coba berjalan dengan sabelah tangan yang berpegangan pada tiang besi," suruh si pendamping terapi itu.
Alvan pun mencoba berjalan dengan sebalah tangan yang berpegangan pada palang besi dan dia mengalami kesulitan. Jalannya belum seimbang, jika dia bertumpu dengan satu tangan.
"Jangan dipaksakan dulu, Tuan. Kalau Anda saat ini masih harus menggunakan kedua tangan, agar bisa berdiri lalu berjalan secara seimbang," kata pendamping terapi itu menahan tubuh Alvan yang oleng akan terjatuh.
"Aku harus cepat-cepat bisa jalan kembali," ucap Alvan.
"Kenapa Anda sangat terburu-buru sekali?" tanya si terapis itu dengan heran.
***
Alvan sudah ngebet ingin lari, nih 😁. Apakah usaha Alvan untuk menjatuhkan perusahaan Barata berjalan lancar? Tunggu kelanjutannya, ya! Ojichan belum datang 🤭.
__ADS_1
Sambil menunggu Aulia up bab berikutnya. Yuk mampir ke karya teman aku ini. Masih anget loh, karyanya. Cus meluncur ke sana.