Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 93. Alvan Berubah


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 93


Mulai hari ini Aulia bekerja sebagai asisten Mario. Dia bekerja seperti biasanya, telaten, cekatan, dan selalu semuanya saya karena semua pekerjaan yang tepat waktu. Tentu saja ini sangat membantu bagi Mario. Semua pekerjaan yang cepat selesai dan dia menjadi punya banyak waktu untuk mengurus yang lainnya.


"Aulia terima kasih berkat kamu semua bekerja yang banyak tadi, bisa selesai hari ini," kata Mario.


"Itu semua karena sudah menjadi tanggung jawab aku sebagai karyawan di sini," balas Aulia sambil membereskan meja kerjanya.


"Apa sekarang kamu akan pergi ke ruangan tuan Alvan?" tanya laki-laki yang usianya terpaut 7 tahun dari Aulia.


"Sepertinya tidak, karena dia tidak memanggil aku. Jadi,aku akan langsung pulang ke rumah," jawab Aulia sambil merapikan jilbabnya.


Mendengar perkataan Aulia barusan, membuat Mario berpikir kalau kedua orang itu sedang ada masalah. Sebenarnya dia ingin menanyakan hal itu, tetapi merasa segan jika pada Aulia.


"Kalau begitu berhati-hatilah di jalan," kata Mario diiringi senyum manisnya.


"Terima kasih, Pak Mario. Anda juga berhati-hati di jalan. Sampai bertemu lagi besok," balas Aulia.


Saat Aulia tiba di parkiran, dia bertemu dengan Alvan dan Amelia. Mereka bertiga saling beradu pandang. Alvan hanya menganggukkan kepala, kemudian masuk ke dalam mobil. Ternyata Amelia masuk ke mobil milik Alvan juga.


Aulia merasa ada perasaan sedih saat laki-laki itu mengabaikan dirinya. Dia berpikir kalau Alvan marah kepadanya karena kejadian kemarin.


'Aku harus meminta maaf kepadanya. Mungkin saja dia tidak suka dengan perbuatan kemarin. Aku tahu kalau Alvan itu laki-laki yang tegas dalam urusan pekerjaan di kantor. Mungkin baginya aku sudah melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan harapan dia.' Aulia bermonolog dalam pikiran sendiri.


***


Tidak ada telepon atau chat dari Alvan seperti hari-hari biasanya. Tentu saja ini  terasa aneh bagi Aulia, akan perubahan drastis dari sikap Alvan kepadanya.

__ADS_1


"Kek. Apa hari ini Alvan menghubungimu?" tanya Aulia ketika mereka sedang berkumpul sebelum waktunya tidur.


"Ada, seperti biasa selepas Isya dia menghubungi, Kakek. Ada apa?" tanya Kakek Yusuf sambil mengambil gelas berisi teh manis.


Laki-laki tua itu menangkap sorotan mata Aulia yang tidak seperti biasanya. Lalu, dia pun tersenyum kepada anak angkatnya ini.


"Ada apa? Apa kalian berdua sedang ada masalah?" tanya Kakek Yusuf sambil memperhatikan anak gadis berjilbab tosca.


Aulia yang sudah merasa nyaman dan menganggap Kakek Yusuf adalah orang tuanya, menceritakan apa yang terjadi di antara. Jujur saja dia merasa bersalah dan tidak enak hati kepada mantan atasan itu.


"Sebaiknya kamu mau bicarakan baik-baik dengan Alvan. Mungkin ada kesalahpahaman yang terjadi di antara kalian," ucap Kakek Yusuf.


Aulia pun menganggukkan kepala. Dia berpikir kalau sudah terlalu berlebihan menghadapi sikap Alvan kepadanya saat ini. 


"Jika kalian memang tidak berjodoh, setidaknya hubungan tali silaturahmi kalian berjalan baik-baik saja, tanpa adanya masalah," lanjut Nenek Halimah.


"Iya, Nek. Aulia juga berpikir seperti itu tadi," balas gadis yang kini sedang bersandar pada tubuh wanita tua itu.


***


Saat Aulia meminta izin kepada Yukari untuk menemui Alvan, sang sekretaris pun menolak. Sebab, jadwal laki-laki itu terlalu padat pada hari ini. Meski sedih, dia tidak bisa memaksa untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Apa dia sangat sibuk sekali. Meski lima menit saja, aku harus membicarakan sesuatu yang penting kepadanya," kata Aulia pada Yukari.


"Aku tidak bisa membantu, maafkan aku, Aulia," balas wanita yang memakai blazer warna merah.


"Tidak apa-apa, kamu tidak bersalah. Mungkin lain kali aku bisa menemuinya," ucap gadis bermata jernih dengan perasaan sedikit kecewa.


"Aku akan bertanya pada Alvan, kira-kira kapan punya waktu luang," tukas si sekretaris cantik dengan sungguh-sungguh ingin membantu temannya ini.


"Hm, terima kasih sudah mau membantu," ujar Aulia dengan senyum tipis dari balik cadarnya.

__ADS_1


Ketika hendak melangkah pergi, pintu ruang kerja Alvan pun terbuka. Laki-laki itu dan asisten barunya keluar bersama. Terlihat keduanya saling bersenda gurau  dan tertawa bersama. Ini membuat Aulia sedikit kesal, karena barusan tidak diizinkan masuk untuk bicara dengan alasan sedang sibuk.


Lagi-lagi mereka berdua beradu pandang. Namun, Alvan lebih memilih menanggapi ucapan asisten barunya. Tentu Aulia semakin berpikir kalau Alvan sedang marah kepadanya.


'Apa kesalahan aku begitu besar di matanya?' (Aulia)


***


Sudah satu bulan berlalu sejak Aulia menjadi asisten Mario. Keadaan kantor sekarang membuat Aulia tidak nyaman. Dia dan Alvan seperti orang asing atau hanya orang yang sebatas tahu saja. Saat mereka bertemu hanya mengucapkan salam saja.


Perempuan itu sering berpikir kalau dirinya punya salah kepada laki-laki blasteran itu. Meski begitu sampai sekarang dia belum bisa bicara secara langsung kepadanya. Hanya lewat pesan saja dia meminta maaf kepadanya. Setidaknya Aulia punya niat baik untuk memperbaiki hubungan mereka. Namun, Alvan hanya membalas tidak ada hal yang perlu meminta maaf. Dia bilang kalau dirinya sudah salah paham.


Pikiran dia bisa teralihkan saat Ning Annisa atau Mutiara menelepon dirinya. Kehadiran Safiyah di hari Sabtu dan Minggu juga bisa memberikan kesenangan dalam hari-harinya.


Gus Fathir pun sudah sebulan ini sedang pergi ke luar negeri. Dia mendapat tugas dari kampusnya untuk melakukan perkumpulan dengan para dosen di Malaysia.


Rangga juga sedang sibuk mengembangkan kembali perusahaan papanya. Dia ingin membuktikan kalau dia bisa menjadi orang yang lebih berguna bagi orang-orang di sekitarnya.


***


Alvan sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon genggamnya. Wajah dia terlihat sangat kesal.


"Denger, ya, David. Jika, Aulia malah menjadi jauh dariku, akan aku pasukan hidup kamu menderita selamanya."


^^^"Percayalah dengan begini dia akan menyadari perasaannya terhadap dirimu. Kadang orang itu baru sadar, betapa berharganya orang lain dalam hidupnya ketika seseorang itu jauh darinya."^^^


Mendengar ucapan sepupunya ini, Alvan pun merasa setuju. Hanya saja dia tidak tahu apakah kau lihat termasuk tipe orang seperti ini.


"Hari ini tepat satu bulan aku berpura-pura mengabaikan Aulia. Apa sekarang aku bisa berdekatan lagi dengannya?"


^^^"Ya, boleh saja. Lihatlah apa perbedaannya saat dulu kemarin dan hari ini."^^^

__ADS_1


^^^***^^^


Apakah Aulia akan senang dengan perubahan Alvan kembali? Atau dia malah berusaha menjauh dari laki-laki itu? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2