
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia selalu.
***
Bab 44
Aulia mendatangi sebuah perusahaan di pusat kota. Gedungnya lumayan menjulang tinggi, dulu dia hanya lewat saja jika main bersama teman-temannya saat jalan-jalan ke pusat kota yang daerah gedung perkantoran. PT. Antariksa tulisan yang terpampang dengan huruf yang besar.
Begitu masuk Aulia langsung menemui bagian resepsionis dan bertanya tentang orang yang bernama Alvan.
"Apa Anda sudah punya janji dengannya?" tanya perempuan yang berdandan dan berpenampilan menarik.
"Iya, saya diminta datang olehnya ke sini," jawab Aulia dengan sopan.
"Anda berasal dari perusahaan mana?" tanya salah seorang perempuan yang duduk di sampingnya.
"Saya ke sini karena mau bekerja dan Pak Alvan semalam meminta saya untuk datang ke sini," jawab Aulia jujur.
Kedua perempuan di bagian resepsionis itu saling beradu pandang. Mereka merasa sangsi dengan ucapan Aulia.
"Tunggu sebentar kami akan konfirmasi dulu kepada sekretaris Yukari," kata salah seorang resepsionis itu.
Aulia pun duduk di kursi yang tidak jauh darinya. Lalu, ada seorang laki-laki yang kemarin juga berada di restoran bersama Alvan.
"Halo, Nona Aulia. Sepertinya kita belum kenalan, ya?" ucap laki-laki yang tinggi dan memiliki tubuh yang proporsional.
Aulia menatap sejenak sebelum menundukkan kepalanya. Laki-laki itu menatapnya terlalu intens.
"Kenalkan saya Mario, asisten Tuan Alvan," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
"Salam kenal Pak Mario, saya Aulia," balas Aulia sambil menangkupkan kedua tangannya.
Mario pun menarik lagi tangannya. Rasanya dia ingin mendongakkan wajah Aulia karena gemas terus menunduk.
"Tuan Alvan sudah menunggu Anda di atas," ucap Mario sambil mempersilakan Aulia berjalan.
***
Aulia memasuki sebuah ruangan yang dindingnya kaca dan bisa melihat pemandangan luar. Selain itu ruangan itu sangat luas.
"Duduklah!" titah Alvan terlihat senyum seulas dan tipis.
__ADS_1
'Wah, benar-benar si Bos lagi kerasuki sesuatu,' batin Mario.
Aulia pun duduk di sofa panjang. Saat Mario juga hendak duduk, dia tidak jadi karena melihat atasannya melotot padanya.
"Saya tinggal dulu karena masih banyak pekerjaan.
'Si Bos begitu saja sudah melotot,' gerutu Mario dalam hatinya.
Kini di dalam ruangan itu hanya ada Aulia dengan Alvan. Dia pun menggerakkan kursi rodanya ke arah Aulia. Di atas pangkuannya ada sebuah map berwarna biru.
"Baca lalu tanda tangan!" perintah Alvan sambil menyerahkan map itu.
Aulia pun membaca isi perjanjian di dalam sana. Isinya seperti perjanjian kontrak. Adapun perjanjian itu merasa sangat merugikan dirinya.
"Tuan di sini Anda meminta saya menjadi asisten pribadi Anda selama 24 jam? Ini namanya pemerasan tenaga kerja!" pekik Aulia tidak setuju.
"Aku memberi hari libur Sabtu dan Minggu. Kamu bisa beristirahat saat hari itu," ucap Alvan dengan datar.
"Tetap saja ini jam kerjanya 24 jam, normalnya jam kerja itu 8 jam, Tuan. Kalau seperti ini namanya eksploitasi tenaga kerja. Anda bisa dihukum!" ujar Aulia.
"Bukannya kamu ingin cepat melunasi utangnya. Ya, dengan seperti ini kamu akan dapat gaji yang banyak. Gaji 10 juta sebulan itu imbang. Atau kamu mau aku kasih gaji 2,5 juta saja sebulan?" tukas Alvan.
"2,5 juta? Itu tidak adil karena gaji dibawah UMR," sanggah Aulia.
"Tuan, Anda jangan jadi pemimpin yang dzolim. Sangat berat hukuman yang akan diterima oleh Tuan nanti," ujar Aulia.
"Apa aku sudah menjadi pemimpin yang menyakiti bawahan aku?" tanya Alvan dengan menatap mata Aulia yang bening dan bulu mata lentik.
"Apa menurut Tuan dengan mempekerjakan aku selama 24 jam itu tidak menyakiti aku? Aku juga perlu istirahat," ucap Aulia dengan balik menatap tajam ke arah Alvan.
"Oke, kamu kerja dengan jam kerja standar dan gaji kamu aku turunkan menjadi 2 juta karena pendidikan kamu hanya SMA. Asal kamu tahu saja semua pegawai di sini minimal lulusan S1. Mulai dari satpam penjaga pintu gerbang sampai pekerja di lantai ini," ucap Alvan.
"Murah amat 2 juta," sahut Aulia dengan nada kesal karena menurutnya laki-laki ini sudah mempermainkan dirinya.
"Kalau aku jadi kamu lebih baik kerja 5 hari dalam seminggu dan dapat gaji 10 juta. Toh pekerjaan kamu nggak berat-berat amat. Hanya mendampingi aku ke mana pun aku pergi dan menyiapkan keperluan aku sehari-hari selama aku kerja," jelas Alvan.
"Ini tidak ada bedanya aku seperti menjadi istri Anda, Tuan." Aulia memutarkan bola matanya.
"Kalau kamu mau menjadi istri aku, tidak masalah. Aku masih perjaka," kata Alvan dengan percaya diri.
Aulia tersedak ludah sendiri saat mendengar ucapan absurd dari laki-laki yang ada di depannya ini. Muka Aulia langsung merona, untungnya itu tertutup sama cadarnya.
__ADS_1
"Maaf Tuan, saya punya kriteria tersendiri dalam mencari pasangan hidup," kata Aulia menolak secara halus.
Setelah mereka bicara hampir 2 jam 15 menit, akhirnya mereka sepakat kalau Aulia akan bekerja pagi-pagi sebelum Alvan berangkat kerja dan dia akan menyiapkan semuanya sampai laki-laki itu pulang kerja dan mengantarkannya sampai ke rumah. Gaji yang akan diterima oleh Aulia sebesar 7 juta.
***
Aulia pun pulang ke rumahnya saat siang hari di waktu jam makan siang. Dia singgah dulu ke masjid agung yang ada di pusat kota.
"Aulia," panggil seseorang dengan suaranya yang lembut.
"Gus Fathir," balas Aulia sangat terkejut bisa bertemu dengan laki-laki itu di kompleks masjid.
"Kamu belum pulang ke kampung? Atau mau menetap di sini?" tanya Fathir. Keduanya pun sambil berjalan memasuki area masjid.
"Untuk sementara waktu. Aku punya urusan yang harus aku kerjakan di sini," jawab Aulia.
Suara iqomat membuat kedua orang itu berpisah karena sholat berjamaah akan segera di mulai. Debaran jantung masih bisa mereka berdua rasakan.
"Aduh, ini jantung kenapa jadi suka deg-degan lagi kalau bertemu Gus Fathir," gumam Aulia sambil menepuk-nepuk pelan dadanya.
"Ingat Aulia, kamu tidak boleh suka lagi sama Gus Fathir," lanjut Aulia.
***
Aulia berjalan di pelataran masjid dan hendak turun mencari sepatunya. Tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf," ucap kedua orang itu bersamaan.
'Kak Rangga,' batin Aulia dan dia merasa kakinya lemas saking terkejutnya. Apalagi laki-laki itu memegang tangan Aulia dengan kuat.
"Eh, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Rangga.
"Maaf, Tuan. Tolong lepaskan tangan saya!" pinta Aulia.
"Aulia? Kamu Aulia?" Rangga menatap intens kepada Aulia.
Seandainya Aulia tidak memakai cadar, wajah pucatnya akan langsung terlihat. Dia takut Rangga mengenali dirinya.
***
Apakah Aulia akan mengaku kalau itu dirinya? Ada Alvan, bos yang nyebelin, Gus Fathir yang penyabar, dan Rangga yang pernah memberikan kebahagian dan luka dalam hidupnya. Kira-kira siapa yang akan memenangkan hati Aulia? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu Aulia up bab berikutnya, Yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya nggak kalah seru, Loh! Cus kepoin karyanya.