
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.
***
Bab 26
Aulia membuat bolu pesanan untuk dikirim ke ndalem. Kakek Yusuf dan nenek Halimah tidak tahu akan ada acara apa di sana. Aulia melebihkan saat membuat bolu itu untuk kakek Yusuf dan sebagian untuk neneknya Mutiara.
"Aulia, ini bolu ubi sepertinya kebanyakan kamu buatnya?" tanya kakek Yusuf saat melihat ada tujuh bolu yang di letakan di atas meja.
"Yang satu itu untuk Kakek," jawab Aulia tersenyum.
"Wah, kamu sengaja baut kakek, ya?" tanya kakek Yusuf senang.
"Iya. Aulia sangat tahu, makanan ke sukaan Kakek," jawab Aulia.
"Lalu, untuk nenek?" tanya nenek Halimah tidak mau kalah sama kakek Yusuf. Dia juga ingin dibuatkan makanan kesukaannya juga.
"Ada, Nek. Tenang saja, tuh masih di dalam panci," jawab Aulia dengan berbisik.
"Beneran?" Nenek Halimah tersenyum senang dengan mata berbinar. Aulia menganggukkan kepala seraya tersenyum.
Nenek Halimah sangat suka sekali dengan babantal atau lemet. Makanan yang dibuat dari singkong yang diparut lalu dibungkus pakai daun pisang, ditengahnya diberikan gula merah yang disisir dan nanti akan meleleh.
***
Keadaan di ndalem sangat ramai dengan orang, lebih ramai dari biasanya. Aulia dibantu oleh Fathir saat membawakan bolu-bolu yang kukus itu.
"Terima kasih, Gus," ucap Aulia.
"Sama-sama," balas Fathir dengan senyum menawannya.
Aulia langsung menundukkan kepala. Dia masih saja merasa deg-degan, jika melihat senyum laki-laki itu.
Tenyata Annisa juga menyambut kedatangan temannya itu dan ikut membantu membawakan kantong kresek yang berisi berbagai macam keripik. Barusan sebelum Aulia mengirimkan bolu, dia sempat minta sekalian bawakan keripik yang banyak.
"Ini ada acara apa, Ning? Kok, ramai banget!" tanya Aulia setelah meletakan semua bawaannya di ruang dapur.
"Akan ada tamu dari pesantren temannya mbah kakung," jawab Annisa.
"Oh, pantes ramai." Aulia pun membantu membereskan makanan yang sudah tersaji banyak di sana.
__ADS_1
"Ning Annisa, tamu sudah datang! Diminta sama Bu Nyai untuk menyiapkan air minum," kata seorang santri yang sering membantu di ndalem, jika sedang ada tamu.
Aulia pun membantu Annisa membuatkan air teh manis untuk para tamu yang datang. Ada beberapa santri yang juga ikut membantu mereka.
"Ada berapa orang tamu yang datang?" tanya Aulia karena Annisa membuat begitu banyak sekali air teh manis.
"Tidak tahu secara pastinya," jawab Annisa.
Para santri pun membawakan gelas-gelas itu untuk disuguhkan pada tamu. Annisa dan Aulia membawakan makanan cemilan yang sudah tertata rapi di piring dan toples. Mereka pun membawa ke ruang tamu. Ternyata tamu yang datang lumayan banyak juga, ada belasan orang yang terasa asing bagi Aulia.
"Gus Fathir, kenalkan ini Ning Aliyah, putri bungsu saya," ucap seorang lelaki yang memakai sorban putih.
"Dia gadis yang cantik dan cerdas, cocok sama Gus Fathir, untuk dijadikan istri," ucap Kiai Basir sambil tertawa kecil.
DEG!
Jantung Aulia terasa berhenti berdetak, saat mendengar ucapan kakeknya Fathir barusan. Hampir saja nampan yang sedang dipegang olehnya itu terlepas dari pegangannya.
"Bagaimana Gus Fathir, suka tidak sama Ning Aliyah?" tanya lelaki bersorban itu pada Fathir yang duduk dengan kaku.
Tatapan mata Aulia dan Fathir saling beradu sesaat. Gadis itu lalu memalingkan mukanya dan bergegas undur diri ke belakang.
"Aduh, saya tidak menyangka kalau Kiai Rojaq ada niatan mau menjodohkan putrinya dengan putraku," balas Kiai Akbar masih bisa didengar oleh Aulia.
"Aulia," panggil Annisa dengan lirih.
"Iya, Ning. Ada apa?" balas Aulia.
"I-tu … barusan keluarga kami tidak tahu soal mbah kakung akan bilang seperti itu," ucap Annisa.
"Saya tidak apa-apa, kok. Dia juga terlihat gadis baik-baik," ujar Aulia dengan mata yang menyipit karena tersenyum.
"Tapi, Mas Fathir sukanya sama kamu!" tukas Annisa.
"Rasa suka itu suatu saat bisa pudar dan hilang," tutur Aulia.
"Mas Fathir pastinya juga akan menolak perjodohan itu," lirih Annisa yang ikut merasakan sakit hati saat melihat kakak laki-laki dan sahabatnya sama-sama terluka hatinya saat ini.
"Kita tidak tahu jodoh kita itu siapa. Namun, kita pastinya berharap diberikan yang terbaik oleh Allah. Jika, Ning Aliyah yang terbaik untuk Gus Fathir, sebaiknya kalian jangan menolak perjodohan ini," ucap Aulia dengan menahan hati yang terasa tersayat.
"Tidak … tidak. Aku ingin kamu yang menjadi istrinya Mas Fathir," ucap Annisa dengan linangan air mata. Lalu, Annisa memeluk Aulia dengan erat. Kedua gadis itu pun menangis dengan terisak.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari kalau sejak tadi ada seorang pemuda yang mengepalkan tangannya. Ikut merasakan sakit hati melihat gadis yang disukainya menangis.
***
Kabar kalau Fathir dijodohkan dengan seorang putri pemilik Pesantren Darussalam, tersebar dikalangan santri dan warga di sekitar pesantren. Banyak orang yang mendukung perjodohan itu.
"Sudah terima saja perjodohan ini!" titah Kiai Basir kepada Fathir.
"Tapi, Mbah Kakung, aku sudah punya gadis yang ingin aku pinang," ucap Fathir di depan keluarganya.
"Kamu bisa menikahi dia dan menjadikan istri kedua. Jika para santri dan warga menolak gadis itu menjadi calon istri pemimpin pondok," ujar Kiai Basir memberi saran.
"Bagaimana, Nak?" tanya Nyai Khadijah.
"Umma, apa Aulia mau menjadi istri kedua?" Fathir balik bertanya.
"Kamu bisa tanyakan itu kepadanya. Umma harap dia bersedia," balas Nyai Khadijah.
***
Luka di hati Aulia yang baru saja kering kini, terbuka kembali. Pembicaraan orang-orang yang membandingkan dirinya dengan Ning Aliyah. Tentu saja Aulia sadar diri, dia tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan gadis lulusan Al-Azhar itu. Apalagi dengan status anak pemilik pesantren.
"Aulia," panggil kakek Yusuf dari balik pintu kamar.
Langkah kaki Aulia begitu gontai. Dia berjalan serasa napak tidak Napak ke lantai ubin.
"Ada apa, Kek?" tanya Aulia begitu pintu di buka.
"Kakek ingin bicara," jawab Aulia.
Sekarang kakek Yusuf dan Aulia duduk di ruang tengah. Tidak lama kemudian, nenek Halimah juga ikut bergabung sambil membawa 3 gelas air teh hangat, 2 piring babantal atau lemet dan bolu ubi.
"Kakek sudah dengar apa yang terjadi hari ini. Seandainya Gus Fathir itu jodoh kamu, maka itu tidak akan ke mana. Pasti kalian akan bisa bersatu pada akhirnya. Namun, jika kalian tidak berjodoh, maka percayalah akan ada laki-laki pengganti yang lebih baik dari Gus Fathir, yang Allah siapkan untuk kamu," ucap kakek Yusuf.
"Iya, Kek. Aulia yakin kalau perempuan baik-baik itu untuk laki-laki baik. Sebaliknya juga, laki-laki baik untuk perempuan baik-baik. Perempuan jahat untuk laki-laki jahat, sebaliknya juga, laki-laki jahat untuk perempuan jahat. Aulia menilai kalau Gus Fathir itu sangat pantas jika berjodoh dengan Ning Aliyah, sebaliknya juga, Ning Aliyah pantas untuk Gus Fathir," balas Aulia.
"Kamu juga termasuk perempuan baik-baik, Aulia. Insha Allah, kamu juga akan mendapatkan laki-laki baik juga," kata nenek Halimah sambil mengusap punggung Aulia.
"Assalamualaikum," salam dari orang yang bertamu di malam hari.
***
__ADS_1
Siapa tuh yang datang malam-malam? Apakah Fathir akan mengikuti perintah kakeknya? Tunggu kelanjutannya, ya!