
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Baca alon-alon agar tidak gagal paham. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan dan sehat selalu.
***
Bab 70
Terlihat seorang wanita paruh baya sedang duduk sendiri di kursi sebuah taman yang sepi. Wajah yang biasanya dipoles oleh make up kini, terlihat pucat dan kusam. Hasil perawatan kulit yang harganya jutaan pun tidak meninggalkan jejak saat ini. Dia sering melamun akan kelakuan suaminya yang sudah mengkhianati dirinya selama bertahun-tahun.
Tanpa sengaja dia melihat seorang wanita muslimah yang sedang membantu anak kecil yang terjatuh. Kini hatinya terasa tersayat dan kepalanya terasa di pukul oleh godam.
"Apa ini hukuman yang diberikan oleh Allah kepadaku? Dulu aku minta Aulia untuk menggugurkan anaknya, aku malah mendapatkan menantu mandul. Dulu aku menghina Dewi—ibunya Aulia—ternyata suami aku sendiri punya anak dari wanita lain," gumamnya yang sering keluar dari mulutnya belakangan ini.
Shinta melihat wanita muslimah tadi duduk seorang diri. Lalu, dia mengeluarkan bekalnya. Tiba-tiba saja mulutnya menganga dan tidak bisa mengeluarkan suaranya, saat wanita muslimah itu menurunkan niqobnya.
"A-Aulia?" Akhirnya, dia bisa mengeluarkan suara dari mulutnya saat wanita muslimah itu selesai makan.
Melihat Aulia pergi, Shinta pun mengikutinya. Dia ingin bertemu dan mengajaknya bicara. Dirinya ingin minta maaf atas segala kesalahannya di masa lalu.
Shinta pun berlari agar bisa menyusul Aulia. Namun, dia terlambat karena kehilangan jejaknya. Dia terus berputar-putar di sekitar komplek gedung perkantoran.
"Aulia, kamu di mana?" ucapnya terus sambil berlari kesana-kemari mencari mantan kekasih putranya.
***
Alvan kini sedang giat menghafal ayat-ayat Alquran. Setiap hari dia selalu setor hafalan kepada nenek Halimah. Dia ingin bisa menjadi seorang imam untuk keluarganya nanti. Berarti dia harus menghafal surat-surat pendek. Saat ini dia sedang menghafal juz 30.
__ADS_1
Ojichan yang rencananya akan tinggal satu bulan di Indonesia, ini sudah tiga bulan tidak mau pulang ke negerinya. Katanya ingin melihat Alvan menikah dulu, baru mau pulang. Hal ini membuat papi Kenzo mendesak Alvan agar cepat menikah.
"Alvan, kalau kamu mau ke rumah Aulia, ajak Ojichan juga," rengek Ojichan pada cucunya. Dia melakukan itu karena Alvan sering pergi diam-diam saat pergi ke rumah gadis itu.
"Asal Ojichan jangan suka mengganggu Bi Eneng. Kasihan dia, sampai sakit kepalanya karena ulah Ojichan," gerutu Alvan karena malu akan kelakuan kakeknya.
"Bi Eneng itu … kawai~" ucap Ojichan.
"Tahu saja kakek tua kalau sama yang montok, demplon, dan bahenol," gumam Alvan dengan mata yang memutar.
"Alvan, Bi Eneng itu janda. Jadi, boleh kalau kakek ajak nikah," bisik Ojichan.
"Astaghfirullahal'adzim. Ini orang tua yang sudah bau tanah, ingin menikah. Aku yang masih muda, kekar, dan perkasa saja belum menikah sekali pun," gumam Alvan.
"Kamu apa barusan? Pakai bahasa Jepang, Ojichan tidak mengerti," kata Ojichan.
"Cccckkk … ccckkk, kamu salah. Meski Ojichan tidak bisa bahasa Indonesia dan Bi Eneng tidak bisa bahasa Jepang, tapi bahasa hati kita sama." Ojichan menggeleng-gelengkan kepala dan telujuk tangan di goyang-goyangkan.
"Cie … yang lagi puber kedua. Kasmarannya beda, ya." Papi Kenzo datang bersama mami Siska malah mentertawakan Ojichan.
"Jadi, Ojichan itu suka sama Bi Eneng?" tanya mami Siska dengan tatapan penuh tanya kepada ayah mertuanya itu.
"Iya, suka … suka sekali, Siska chan, aku ingin menikah. Biarkan saja kalau Alvan belum mau menikah. Buat pesta untuk pernikahan aku saja," balas Ojichan.
"Memangnya Bi Eneng mau menikah dengan Ojichan?" tanya mami Siska.
__ADS_1
"Dia mana mau!" seru Alvan dan papi Kenzo.
"Kalian berdua jahat!" pekik Ojichan dan pergi dari sana.
***
"Aulia menikahlah denganku!" pinta Fathir kepada Aulia setelah dia memberanikan diri setelah sekian lama memendamnya.
"Gus, di luaran sana masih banyak wanita baik dan terhormat yang pantas menjadi pendampingmu. Aku bukan wanita yang pantas untukmu, Gus." Aulia merasa bersalah kepada laki-laki yang selalu setia mencintai dirinya.
"Yang aku inginkan hanya dirimu. Tidak mau dengan yang lainnya. Apa kamu tidak mau memberikan aku kesempatan karena aku seorang duda?" tanya Fathir dengan suaranya yang lembut.
"Bukan begitu, Gus. Anda salah kalau menganggap diri rendah karena status duda itu. Gus juga tahu sendiri masa lalu aku yang begitu kelam. Aku tidak mau menilai diri orang lain lebih rendah dari diriku," jelas Aulia.
"Lalu, kenapa? Apa alasan kamu menolak lamaran aku kali ini?" tanya Fathir.
"Karena aku takut mencoreng nama pesantren. Meski Gus sudah tidak memegang kepengurusan pesantren, atau tidak lagi mengajar di pesantren. Tetap saja orang-orang akan mengenal Anda sebagai keturunan pendiri Pesantren Al-Ikhlas," jawab Aulia dengan nada sendu.
"Kenapa kamu selalu memandang rendah dirimu. Di mata aku kamu adalah wanita sholeha, calon istri idaman, calon ibu yang hebat dan teman hidup yang sangat baik. Yang aku inginkan dalam diri seorang wanita semua ada pada dirimu," ucap Fathir.
"Jujur saja, jika dekat Gus Fathir, yang aku rasakan adalah diriku yang hina. Terlalu tinggi jika aku mengharapkan Gus sebagai pendamping hidup. Percayalah, kalau Allah akan memberikan jodoh yang lebih baik dari aku untukmu, Gus." Aulia saat ini sedang kacau hati dan pikirannya.
"Maafkan aku karena tidak pernah berpikir sampai sana," lirih Gus Fathir. Rasa cintanya kepada Aulia masih berakar kuat di dalam hatinya.
***
__ADS_1
Wah, Aulia pusing, nih! 😁. Biar bukan reader saja yang pusing.
Siapa yang akan dipilih oleh Aulia? Berarti dia laki-laki yang beruntung. Tunggu kelanjutannya, ya!