
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia selalu.
***
Bab 39
Aulia sedang membicarakan dengan pihak Wedding Organizer yang akan mendekorasi halaman depan dan samping rumah kakek Yusuf. Tamu undangan laki-laki dan perempuan akan dipisahkan. Jadi, Aruna sedang merancang bersama pihak yang bertanggung jawab untuk pelaksanaan pesta pernikahannya. Meski secara sederhana, tetapi dia ingin semua berjalan dengan sempurna.
"Jadi, pintu masuk laki-laki berada di sebelah barat sedangkan pintu masuk untuk tamu undangan perempuan di sebelah timur," jelas Aulia kepada pihak Wedding Organizer dan mereka pun menyanggupi.
"Kapan proses pengerjaan akan di mulai?" tanya Aulia.
"Ada kemungkinan lusa atau dua hari sebelum hari pernikahan di gelar," jawab pihak Wedding Organizer.
"Jadi, mulai besok, ya?" Aulia manggut-manggut.
"Iya, besok sore atau malam," lanjutnya.
Aulia pun sudah menyusun kartu undangan yang akan dibagikan besok. Dia akan meminta bantuan orang orang lain untuk membagikannya. Biasanya mang Jalil orang yang selalu memberitahu kalau ada undangan di daerahnya.
***
"Ada?" tanya Ahmad saat melihat Iqbal wajahnya berubah cemas dan sedih.
"Bapak masuk rumah sakit," jawab Iqbal.
"Pulanglah! Temui dia, meski ada ibu tirinya yang akan menjaganya, pasti dia ingin kamu juga ada di sisinya," kata Ahmad.
"Masalahnya, ibu juga di sini sedang tidak enak badan. Tadi pagi sudah di bawa ke dokter, biasa usam urat," ujar Iqbal.
"Biar ibu kamu aku yang urus," ucap Ahmad.
"Hn, aku cuti satu hari, ya?" pinta Iqbal.
"Cuti sampai bapak kamu pulang dari rumah sakit. Baru kamu masuk lagi!" titah Ahmad.
"Tidak. Aku juga akan menghadiri hari pernikahan sahabat terbaikku," bantah Iqbal tidak menyetujui usulan majikannya itu.
"Terserah kamu saja," tukas Ahmad dan melanjutkan pekerjaannya.
Entah apa yang merasuki Ahmad, tiba-tiba saja dia mengirim pesan kepada Aulia. Pesan yang akan membuat malu keduanya.
^^^Assalamu'alaikum, calon bidadariku.^^^
__ADS_1
^^^Aulia, kamu sedang apa? Tidak terasa tinggal 4 hari lagi kita akan menikah. Aku sudah tidak sabar untuk menjadikan kamu, istriku. ^^^
^^^Ana uhibbuka fillah^^^
^^^(Aku mencintaimu karena Allah)^^^
Tidak berapa lama datang sebuah pesan, tetapi bukan dari Aulia. Melainkan dari pak Slamet, pengacaranya. Dia mengatakan semua tugasnya berjalan lancar. Ahmad pun senang.
Saat dia sedang memeriksa catatan barang-barang kosong atau yang tinggal sedikit lagi, pesan dari Aulia masuk. Muka dia menjadi merah dan rasanya ingin berteriak.
^^^Wa'alaikumsalam, calon imamku.^^^
^^^Aku baru saja selesai berdiskusi dengan pihak Wedding Organizer yang akan mendekorasi rumah kakek. ^^^
^^^Aku juga ingin secepatnya menjadi istri Mas Ahmad^^^
^^^Ahabballadzi ahbabtabi lahu^^^
^^^(Semoga Allah mencintaimu,^^^
^^^Dzat yang telah menjadikan kamu mencintai aku karena-Nya.)^^^
Pesan dari Aulia ini membuat jantung Ahmad bertalu-talu dan terasa ada ribuan kupu-kupu beterbangan dalam perutnya. Hal seperti ini baru pertama kali Ahmad rasakan setelah mengenal Aulia.
***
Ahmad kadang tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Akan menikah dengan seorang gadis yang dia cintai dan mau menerima apa adanya. Dia juga sering melihat kalender yang tanggalnya sudah dia lingkari. Tanggal akan akan menjadi sejarah baginya.
"Nanti kita libur selama seminggu, ya!" titah Ahmad.
"Bos, kalau mau bulan madu, pergi saja. Kita akan bekerja di sini bersama Mas Iqbal," balas salah seorang pegawai dan di setujui oleh yang lainnya.
"Ya, terserah kalian saja. Aku tidak ingin kalian ganggu gara-gara ada sales atau pengiriman barang yang tidak sesuai jadwal," ujar Ahmad yang biasanya sulit libur lama karena kendala itu.
"Tenang saja, Bos. Kita tidak akan mengganggu kesenangan sampeyan dengan istri cantik itu," lanjut yang lainnya.
"Pastilah, siapa yang akan berani mengganggu orang yang sedang bersenang-senang dengan bidadari?" ucap para pegawai terus menggoda Ahmad.
Muka Ahmad makin merah padam karena malu terus di goda oleh orang-orang. Walau begitu dalam hatinya, dia merasa senang.
***
Iqbal pergi ke kota sebelah di mana bapak kandungnya tinggal setelah bercerai dengan ibunya. Sejak orang tuanya bercerai dahulu, Iqbal tinggal bersama ibunya. Berbeda dengan ibunya yang memilik tetap berstatus janda selama 20 tahun-an dan hanya membesarkan Iqbal dan adiknya. Bapaknya langsung menikah lagi tidak berapa lama setelah bercerai.
__ADS_1
Ahmad pun akan menemui ibunya Iqbal saat malam harinya untuk memastikan keadaannya saat ini. Ternyata yang jadi masalah saat ini bukan ibunya, tetapi adiknya yang merasakan sakit di bagian perutnya.
"Ilham, kamu kenapa?" tanya Ahmad.
"Tidak tahu, Mas. Perut aku sakit sekali," jawab Ilham.
"Kita ke rumah sakit, ya!" ajak Ahmad.
Ternyata Ilham mengalami usus buntu dan harus di operasi. Ahmad pun memberi tahu hal ini juga kepada Iqbal. Rencana operasi Ilham bertepatan sehari setelah hari pernikahan Ahmad.
"Ilham, mas tinggal dulu, ya? Ibu kamu pastinya sedang menunggu di rumah. Di sini ada perawat, kalau ada apa-apa panggil saja mereka. Jangan sungkan-sungkan, Mas sudah ambil kelas VIP, manfaatkan saja layanannya," bisik Ahmad jahil.
"Iya, Mas," balas Ilham sambil mengacungkan jempolnya.
***
Saat dalam perjalanan pulang Ahmad melewati jalanan sepi karena memang sudah tengah malam. Hanya saja dia sayup-sayup mendengar suara teriakan orang.
"Tolong! Tolong!"
Ahmad yang memang memiliki hati yang baik dan suka menolong orang lain. Maka dia pun mencari sumber suara itu berasal. Dia melihat ada laki-laki dan perempuan sedang di hadang oleh orang-orang yang membawa senjata.
"Hei, apa yang kalian lakukan?" teriak Ahmad.
"Mas, tolong kami!" teriak wanita yang ada di sana.
"Yang kita lakukan adalah merampas harta mereka," ucap salah seorang laki-laki yang membawa senjata.
"Tidak bisa, ini uang untuk membayar utang kami. Kami sudah tidak punya apa-apa lagi," lanjut wanita itu.
"Lepaskan mereka, sebagai gantinya aku akan berikan uang aku!" ujar Ahmad kepada si penjahat.
"Kamu pikir kami bodoh! Tentu saja uang mereka dan uang kamu akan kami rebut juga," ucap laki-laki yang berbadan besar dan wajahnya seram.
Ahmad merasa kalau semua ini tidak akan selesai dengan cara berdiskusi. Dia baru ingat kalau di daerah ini ada kelompok begal yang suka menyerang orang-orang yang lewat. Mereka tidak mengenal waktu dalam menjalankan kejahatannya ini. Pagi, siang, sore, atau malam hari.
"Berikan juga semua harta kamu!" perintahnya kepada Ahmad.
Melihat hal ini malah membuat Ahmad tidak sudi memberikan uangnya. Bukannya dia tidak mau kehilangan uangnya. Dari pada memberikan uangnya kepada para penjahat itu, mending dia sedekahkan ke anak-anak yatim-piatu.
***
Akankah Ahmad bisa mengalahkan para tukang begal itu? Bisakah dia menolong orang itu? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1