Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 49. Ajari Aku Untuk Mengenal Tuhanku


__ADS_3

Bab 49


Aulia dan Alvan pergi ke kantor dan muka yang mau merah. Hal itu dikarenakan keduanya tanpa sengaja saat Aulia jatuh di pelukan Alvan. Tadi niatnya Aulia ingin membantu Alvan saat akan mengambilkan tas kerjanya. Namun, kakinya tersandung oleh kain gamis yang terinjak dan akhirnya jatuh ke pelukan Alvan.


Sampai siang hari keduanya saling diam dan tidak bicara seperti hari-hari biasanya. Baik Aulia maupun Alvan masih menenangkan lebaran jantung mereka. Beruntung bagi Aulia yang wajahnya tertutup oleh niqob. Sementara itu, Alvan wajahnya terlihat masih memerah sampai ke telinganya. Sehingga orang-orang menyangka kalau dia sedang sakit.


'Astaghfirullahaladzim, Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hawa naf_su sendiri,' batin Aulia.


'Oh, Tuhan. Kenapa aku tidak bisa melupakan kejadian tadi itu? Jantungku sampai saat ini masih saja berdebar-debar dengan sangat kencang. Apa aku sungguh-sungguh menyukai dirinya? Apa aku sudah jatuh cinta kepadanya?' tanya Alvan dalam hatinya secara bertubi-tubi.


"Tuan hari ini kita akan ada pertemuan dengan klien di restoran Nusantara," kata Yukari setelah masuk ke dalam kantor Alvan.


"Oh iya, aku hampir lupa," balas Alvan singkat dan melirik ke arah Aulia yang sedang bekerja.


"Anda akan pergi dengan siapa?" tanya Yukari.


"Aku akan pergi bersama Aulia saja," jawab Alvan yang masih menatap ke arah Aulia yang kini membalas tatapan ke arah dirinya.


"Baiklah kalau begitu Tuan. Saya undur diri dulu," ucap Yukari, lalu pergi meninggalkan ruang kantor Alvan.


"Aulia persiapkan dokumen untuk pertemuan dengan klien kita hari ini," pinta Alvan dan Aulia pun dengan cekatan mencari dokumen yang dimaksud.


"Ini Tuan, dokumennya." Aulia pun menyerahkan map berwarna biru dan disimpan di atas meja Alvan.


"Oke, sekarang kita pergi ke restoran Nusantara." Alvan pun keluar dari kantornya diikuti oleh Aulia.


Mario sedang pulang ke negaranya karena ibunya sedang sakit. Dia mengajukan cuti selama dua minggu. Sehingga, Aulia yang kini sering dibuat sibuk oleh atasannya itu.

__ADS_1


***


Saat memasuki restoran Nusantara, Aulia dibuat terkejut karena orang yang sedang duduk di meja itu wajahnya mirip dengan Rangga. Orang itu pun tersenyum ke arah Alvan dan Aulia yang baru tiba di sana.


"Selamat siang Om Damar," safa Alvan kepada laki-laki yang kini berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Selamat siang, Alvan. Terima kasih sudah mau menerima proposal kerjasama yang om tawarkan ke perusahaan milik papimu," ucap laki-laki itu sambil tersenyum ramah kepada Alvan.


"Sebaiknya kita langsung saja bicarakan kerja sama ini karena masih banyak yang harus kami kerjakan lagi," kata Alvan dan melirik ke arah Aulia agar mengeluarkan dokumen yang tadi sudah dibawa olehnya.


Mereka pun membicarakan kerja sama ini hanya membutuhkan waktu 30 menit saja. Setelah itu mereka menandatangani dokumennya dan Alvan akan mengirimkan dana investasi untuk perusahaan milik Damar.


***


Saat siang hari Aulia meminta izin untuk melakukan salat Zuhur. Dikarenakan terburu oleh waktu, maka Aulia pun salat di ruangan kantor milik Alfan.


Ayahnya yang seorang warga negara Jepang dulunya hanya menganut kepercayaan dan seorang ibunya yang beragama Islam, tetapi tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Tidak ada seorangpun yang mengajarkan kebesaran dan kekuasaan Tuhan kepadanya. Alvan terlahir dan besar di Jepang, dia datang ke Indonesia saat berusia remaja. Dia kembali lagi ke Jepang saat melanjutkan berkuliah.


Sekitar 5 tahun yang lalu Alvan baru kembali lagi ke Indonesia dan tak lama kemudian dia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya lumpuh. Sebenarnya Alvan bisa berjalan kembali, hanya saja ada rasa bersalah yang besar dalam dirinya membuat dia enggan untuk melakukan terapi.


Aulia pun memandang ke arah Alvan yang sedang menatap dirinya dengan air mata yang masih berderai. Dia pun hanya memandang tanpa bicara apapun.


"Tuan, ada apa? Kenapa anda menangis?" tanya Aulia akhirnya setelah mereka saling menatap dalam diam selama 10 menit.


"Entah kenapa hati ini terasa sedih dan pilu, saat melihat kau sedang bersujud tadi," jawab Alvan sambil menghapus air mata di kedua pipinya.

__ADS_1


"Maaf kalau saya lancang Tuan, saya ingin menanyakan sesuatu yang bersifat sangat pribadi. Tuan menganut agama apa, kalau saya boleh tahu?" tanya Aulia dengan kaku.


"Agama aku Islam, tetapi aku tidak pernah menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim," jawab Alvan dengan rasa malu di dalam hatinya.


"Alhamdulillahirobbilalamin, kalau Tuan ingin belajar agama Islam, insha Allah saya siap untuk membantu," ujar Aulia dengan senyuman. Meski Alvan tidak bisa melihat garis lengkung bibirnya, tetapi itu bisa terlihat dari matanya yang menghimpit.


"Benarkah itu Aulia? Kamu bersedia mengajari aku untuk mengenal Tuhanku?" tanya Alvan dengan senyum yang merekah menghiasi wajah tampannya.


"Ya tentu saja, bukankah kewajiban kita sebagai umat muslim itu untuk mengingatkan sesama saudaranya agar selalu berada di jalan yang lurus yang diridhoi oleh Allah," jawab Aulia dengan tatapan yang berbinar karena senang, saat tuannya ingin menjadi hamba Allah yang berusaha untuk mengenal diri-Nya.


***


Kini tugas Aulia bertambah, selain jadi asisten kerja di kantor, dia juga menjadi guru agama untuk Alvan. Dia mengajari Alvan setelah pulang dari tempat kerja. Meski begitu Aulia merasa senang dan tidak merasa capek.


Aulia menerangkan Apa itu iman? Apa itu ihsan? Apa itu rukun Islam? Apa itu rukun iman? Selain itu dia juga mengajarkan Alvan salat dan mengajarkan tuannya mengaji huruf hijaiyah.


Alvan pun tidak segan-segan dalam bertanya apa ini itu kepada Aulia. Apa yang belum dia mengerti dan belum dia ketahui sampai begitu benar-benar memahaminya. Alvan tipe orang yang haus akan ilmu dan akan terus belajar sampai dia benar-benar paham.


Kalau dulu Aulia belajar kepada nenek Halimah dan kakek Yusuf, sekarang giliran dia yang mengajarkan semua itu kepada Alvan. Kadang Aulia sering kewalahan akan rasa ingin tahu Alvan yang begitu besar. Sehingga, dia selalu menghubungi kakek Yusuf untuk lebih bisa menjelaskan lagi apa yang ingin diketahui oleh atasannya itu.


Selain itu Aulia pun membelikan beberapa buku agama agar bisa dibaca oleh Alvan. Selama dua minggu ini Aulia terus berdekatan dengan Alvan dari pagi sampai petang. Keduanya banyak berbicara dan saling berbagi pikiran bahkan mereka kadang bercanda.


Kebersamaan mereka membuat Alvan semakin tertarik akan diri Aulia. Dia pun menyukainya dalam diam karena saat ini dia sadar diri, kalau dirinya belum bisa menjadi sosok laki-laki yang diidamkan oleh perempuan itu.


***


Dalam hati Alvan sudah tumbuh benih-benih cinta untuk Aulia. Lalu bagaimana dengan Aulia sendiri? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2