
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 136
Waktu terus bergulir, kini usia kandungan Aulia berusia empat bulan. Kehamilan Aulia dalam keadaan baik-baik saja. Begitu juga dengan calon bayi mereka. Berbeda dengan Alvan yang mengalami morning sick, setiap pagi, mulai jam 06:00 sampai jam 09:00 dia muntah-muntah terus bahkan pernah sampai di kasih infus sekitar sebulan ini, dia sudah lima kali mendapat perawatan seperti itu.
Untuk ngidam makanan yang diinginkan itu tidak ada. Meski mereka suka makanan yang harus ada sesuatu rasa yang pedas dan rasa segar dari buah-buahan. Selain itu, hormon mereka juga semakin meningkat. Hampir setiap malam mereka bercinta meski dengan hati-hati dan penuh kelembutan.
"Ananta, aku harus mencari sekretaris baru. Yukari sedang hamil muda dan keadaan dia benar-benar drop, harus bed rest total," ucap Alvan.
"Lalu, apa Alvan-kun sudah punya calon sekretaris pengganti?" tanya Aulia.
"Belum. Rencananya hari ini akan dibuka lowongan pekerjaan untuk bagian Sekretaris aku dan beberapa karyawan di bagian gudang dan personalia yang membutuhkan tambahan karyawan.
***
Ternyata yang lagi ngidam bukan hanya Alvan, Mario juga mengalami hal yang sama. Ini membuat Alvan senang. Sebab, dulu asistennya itu sering mengejek dia karena mengalami ngidam.
"Tuan Alvan, aku sudah memesan rujak petis dari emak-emak yang kemarin. Hari ini dia akan datang saat waktu makan siang," ucap Mario.
"Wah, benarkah?"
"Iya. Jadi, jangan banyak-banyak saat makan nasi," kata Mario.
Berbeda dengan Alvan yang napsu makannya meningkat pesat. Mario justru tidak mau makan yang mengandung terigu dan nasi. Jadi, sulit sekali dia ingin makan sesuatu. Kalau dia memaksa makan itu, dia akan mengalami diare dan muntah-muntah.
Kini dua orang laki-laki itu sedang menikmati rujak petis di atap gedung ada enam porsi yang sudah tersedia di sana. Punya Alvan empat porsi dan punya Mario dua porsi. Mereka begitu menikmati makan kesukaan selama ngidam ini dengan hembusan angin yang dan gemericik suara dedaunan yang beradu. Beberapa waktu yang lalu, Alvan sengaja menambahkan banyak pohon di atap gedung agar suasana agak teduh dan enak dipandang.
"Enak sekali rujak ini," puji Mario tiada henti.
"Iya, benar. Coba dari dulu kita menemukan tukang rujak ini, pasti senang sekali," lanjut Alvan.
Ketika sedang menikmati makanan itu, Rangga datang. Mata dia langsung berbinar saat melihat ada rujak petis di sana.
"Aku minta, ya?" ucap Rangga sambil mengambil satu porsi.
__ADS_1
"Si suami malang, terlihat kelaparan," bisik Mario.
"Iya, kasihan sekali dia," balas Alvan.
Merasa menjadi bahan pembicaraan kedua temannya, Rangga pun mengalihkan perhatiannya kepada dua orang laki-laki yang duduk di sampingnya.
"Kalian kenapa?" tanya Rangga.
"Tidak. Kalau kamu masih mau rujaknya, ambil saja lagi punya aku," jawab Alvan.
Suami Aulia itu mendorong lagi satu porsi rujak petis pada Rangga. Tentu saja dengan senang hati laki-laki itu menerimanya.
"Apa Amelia masih tidak mau bertemu dengan kamu?" tanya Mario.
Rangga pun mengangguk. Istrinya itu ngidam aneh. Tidak mau melihat atau dekat dengan Rangga. Akan tetapi, dia juga tidak bisa jika tidak melihat atau mendengar suaranya. Maka, mereka hanya saling video call. Amelia sering muntah-muntah jika ada Rangga di dekatnya. Mau itu pagi, siang, sore, atau malam hari. Sudah hampir dua minggu mereka pisah ranjang dan rumah. Amelia ikut kedua mertuanya di rumah samping, sedangkan Rangga di rumahnya sendiri. Kalau Safiyah ke sana kemari sesuai mood dia ingin sedang siapa.
"Berarti kamu sudah dua minggu tidak mendapatkan jatah, ya? Kalau aku dua hari tidak bercinta dengan Yukari, kepala ini rasanya mau pecah. Aku salut padamu," ujar Mario.
"Siapa juga yang mau pisah lama-lama dengan istri sendiri," balas Rangga.
Rangga tidak suka saat mendengar perkataan Alvan. Dulu dia bisa bertahan bertahun-tahun tidak bercinta. Masa sekarang yang cuma bulanan membuatnya berpaling ke lain hati. Laki-laki itu merasa itu hal yang tak mungkin.
"Komunikasi kami masih sangat baik. Hanya saja masih belum bersedia saja," balas Rangga.
"Wanita hamil itu aneh, ya?" ucap Mario.
"Maksudnya?" tanya Alvan.
"Ya, seperti suka marah akan sesuatu yang sepele. Menangis tergugu hanya karena sinetron televisi atau membaca novel," jawab Mario.
Yukari jadi, banyak berubah semenjak hamil tiga bulan yang lalu. Dia jadi hidup lebih santai dan suka menonton televisi, hal yang dulu jarang sekali dia lakukan.
Bahkan Yukari yang biasanya selalu perfect dalam segala hal, kini terlihat berantakan. Menyimpan barang semuanya dan tidak membuang sampah langsung pada tempatnya. Akan tetapi, Mario tidak mempermasalahkan hal ini karena rasa cintanya begitu besar kepada sang istri.
"Kapan-kapan kita makan di rumah, yuk!" ajak Alvan.
"Kita akan bakar ikan?" tanya Rangga jangan mata yang bersinar, karena dia suka sekali masakan Aulia.
__ADS_1
Mereka bertiga pun janjian hari Minggu nanti akan memancing dan membakar ikan bersama. Para calon Papa muda itu
Selalu kompak jika urusan memuaskan perut mereka.
"Apa sebabnya kita ajak juga para istri kita?" tanya Rangga.
"Itu akan lebih baik dan membuat suasana menjadi sangat ramai," jawab Alvan.
"Baiklah telah diputuskan kalau hari Minggu nanti kita akan main ke rumah kamu," kata Mario jangan penuh semangat.
***
Hari Minggu pun tiba, Para papa muda itu sedang bersemangat untuk melakukan mancing bersama. Ternyata Alvan sengaja memanggil Rafael agar datang ke Kota Kembang. Dulu dia pernah berjanji akan memancing dan membakar ikan bersama.
"Siapa dia?" tanya Mario yang belum mengenal
"Kenalkan dia, Rafael suami dari Ning Annisa, sahabatnya Aulia." Alvan meminta keduanya saling memperkenalkan diri.
Ternyata Mario kenal kepada Papa Regan, ayahnya Rafael.
Keduanya pun menjadi akrab. Begitu juga dengan Rangga yang senang dengan sikap Rafael yang sopan terhadap yang lebih tua.
Sementara itu, para istri sedang sibuk membuat nasi liwet dan beberapa lauk pauknya. Keempat perempuan itu juga sedang membicarakan kehamilan yang sedang mereka rasakan saat ini.
"Ning Annisa, sudah hamil memasuki usia tiga bulan, ya?" tanya Amelia dengan senang karena mereka akan bersama-sama mempunyai anak dalam yang berdekatan. Ning Annisa membenarkan hal itu.
"Berarti kalian melakukan pertama kali langsung jadi?" tanya Aulia sambil berbisik dan tersenyum jahil.
"Apaan, sih! Kamu tahu sendirikan kalau Rafael itu orang selalu tidak sabaran. Apa-apa selalu saja bisa terlaksana dengan mudah dan cepat baginya," jawab Ning Annisa dengan malu-malu.
***
Bagaimana keseruan para calon orang tua itu dalam mempersiapkan kelahiran anak-anak mereka? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.
__ADS_1