
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.
***
Bab 61
Keesokan harinya Aulia diminta oleh Alvan untuk melakukan pekerjaan seperti biasa di kantor. Sementara itu, dirinya pergi ke dokter untuk melakukan pengecekan ulang kesehatannya.
"Aulia, kita makan siang ke restoran baru, yuk! Mumpung aku punya kupon promo," ajak Yukari setelah membuka pintu kantor Alvan.
"Enak nggak tempatnya?" tanya Aulia.
"Tenang saja, ada beberapa meja yang agak tersembunyi. Jadi, kamu leluasa saat makan nanti," kata Yukari. Dia tahu Aulia selalu mengindari tempat makan yang banyak orangnya.
"Oke, kalau begitu. Tunggu aku mau sholat dulu," ucap Aulia.
"Oke. Akan aku tunggu. Tapi, ada anak-anak yang lain mau ikut juga," kata Yukari setelah membaca pesan yang baru saja masuk ke gawainya.
"Ya, tidak apa-apa. Asal jangan laki-laki saja," kata Aulia.
"Tenang saja. Kita semua perempuan," balas Yukari.
***
Aulia dan beberapa teman kantornya makan di sebuah restoran Nusantara. Tempatnya juga nyaman dan rasa masakannya juga enak. Meski harga yang dibandrol lumayan mahal. Bagi Aulia yang sedang hidup irit karena ingin cepat-cepat melunasi utangnya harus memikirkan beberapa kali untuk makan di sana lagi.
"Yukari! Kamu sedang makan bersama teman-temanmu di sini juga?" Seseorang yang baru saja tiba di sana langsung menyapa Yukari.
"Hai, Karmila. Iya, nih, baru saja selesai. Kalau kita makan bersama-sama seperti ini akan terasa nikmat dan menyenangkan," balas Yukari.
"Boleh ikut duduk di sini?" Ada satu kursi kosong tepat di depan Yukari. Mereka menggunakan meja makan yang sangat panjang dan sering digunakan untuk pengunjung yang datang bergerombol.
"Ya, duduklah. Di sana kosong," balas Yukari.
Mendengar nama Karmila disebut membuat Aulia jadi penasaran. Dia pun melihat ke arah wanita yang Aulia ingat betul, kalau wanita ini adalah orang yang dulu bersama keluarga Rangga saat mendatangi restoran tempatnya bekerja sebelum kecelakaan.
Karmila adalah seorang wanita yang berpenampilan menarik dengan full make up yang pas dan semakin terlihat cantik. Baju gaun yang bagus dan tentunya dengan merk yang terkenal. Perhiasan yang indah menghiasi telinga, leher, pergelangan tangan, dan jari manisnya. Tidak lupa tas tangan dari merk luar negeri yang sangat terkenal berada di tangan kirinya.
__ADS_1
"Kalau kamu sedang apa? Apa mau menemui klien?" tanya Yukari.
"Hm, iya. Hanya saja, sepertinya aku datang terlalu cepat," jawab Karmila sambil mengedarkan penglihatannya.
"Beberapa hari yang lalu papa kamu datang ke kantor. Tumben kamu tidak ikut?" tanya Yukari.
"Aku sibuk sekali belakangan ini," jawab Karmila.
"Ya, pergi liburan terus. Kayaknya kamu lebih sering tinggal di hotel dibandingkan dengan di rumah," goda Yukari sambil tertawa kecil.
"Untuk menghilangkan kepenatan dalam hidup, aku memilih cari kesenangan sendiri. Untuk apa pusing terus memikirkan rumah tangga aku," ujar Karmila.
"Hahaha, kamu ini kurang belaian dari suami," kata Yukari dengan kelakar khasnya.
"Hei, asal kamu tahu saja. Suami aku itu tidak pernah menyentuhku. Apalagi saat tahu aku divonis mandul oleh dokter. Semakin tidak ada minat sama sekali. Mertua yang terus menuntut ingin punya cucu. Ahk, mereka bisanya cuma ngomel terus," ujar Karmila dengan penuh emosi.
"Ya, wajar dong! Pastinya mereka ingin segera punya cucu. Apa mertua tidak tahu kalau kamu mandul?" tanya Yukari.
"Tidak. Rangga tidak memberi tahu mereka dengan perjanjian kalau aku tidak akan pernah menyentuh tubuhnya. Makanya, aku memilih cari kepuasan dari laki-laki lain," bisik Karmila. Namun, Aulia bisa mendengar ucapannya.
'Astaghfirullahal'adzim. Istrinya Kak Rangga seperti ini ternyata. Tunggu, bukannya Karmila itu anaknya pak Barata? Berarti dia adalah saudara tiri Mutiara. Sungguh miris sekali kehidupannya.' Aulia bicara dalam hatinya sambil menatap ke arah Karmila.
"Aku suka dengan hot Daddy. Mereka lebih bisa memberikan kepuasan yang aku dambakan. Kalau gigolo malah membuat aku sering emosi karena kita sama-sama tidak mau mengalah. Kalau berondong yang ada harta aku habis," jawab Karmila sambil tertawa.
"Waw, apa kamu sudah mencoba semuanya?" tanya Yukari dengan jiwa rasa penasaran.
"Ya, dan aku paling suka dengan laki-laki yang berumur lebih tua dari aku," jawab Karmila.
"Pastinya mereka juga lebih berpengalaman," ucap Yukari sambil tertawa terkekeh.
"Kamu, benar," balas Karmila.
Orang-orang yang ada di sana malah diam dan memperhatikan Yukari dan Karmila yang bicara bisik-bisik. Selain Yukari hanya Aulia dan orang yang duduk di samping Karmila.
'Astaghfirullahal'adzim, kasihan sekali kak Rangga. Padahal dia adalah laki-laki yang baik. Kenapa kehidupan rumah tangganya seperti ini,' batin Aulia.
***
__ADS_1
Alvan baru kembali dari rumah sakit bersamaan dengan Aulia yang baru kembali dari makan siang. Alvan pun tersenyum kepada Aulia dan memberikan sebuah paper bag padanya.
"Ini apa?" tanya Aulia.
"Buat kamu," jawab Alvan.
"Terima kasih," balas Aulia. Lalu, dia pun mendorong kursi roda menuju lift.
"Kamu habis dari mana?" tanya Alvan.
"Makan siang bersama teman-teman," jawab Aulia.
"Aulia, jawab yang jujur, ya! Apa aku sudah berbuat sesuatu yang tidak kamu sukai?" tanya Alvan.
"Saya tidak mengerti maksud Tuan?" balas Aulia.
"Ya, karena aku merasa kamu jadi berbeda saja," ucap Alvan sambil menatap Aulia di dinding lift yang memantulkan bayangan mereka berdua.
"Saya merasa tidak ada yang berubah. Mungkin itu hanya perasaan Tuan saja," lanjut Aulia.
"Aulia, aku menyukaimu," kata Alvan tiba-tiba sesaat sebelum pintu lift terbuka.
'Hah, dia sedang bercandakan?' tanya Aulia dalam hatinya.
Mendengar perkataan Alvan barusan membuat Aulia diam mematung. Dia sangat terkejut mendengarnya. Alvan pun melajukan sendiri kursi rodanya. Senyum tipis dan wajah merona menghiasi muka laki-laki berjas hitam itu.
***
Aulia sekarang menjadi semakin canggung saat berinteraksi dengan Alvan. Dia tidak tahu perasaan sebenarnya dari tuannya itu. Beberapa hari yang lalu, jelas-jelas dia mendengar kalau Alvan sangat membenci dirinya. Namun, barusan dia bilang menyukainya.
'Menyukai aku bukan berarti mencintai aku, 'kan?' batin Aulia. Kini pikirannya tidak bisa fokus ke pekerjaannya yang tinggal satu map lagi.
'Apa yang dia maksud itu adalah menyukai pekerjaan aku. Karena aku selalu menuruti semua perintahnya. Ah, pasti ini maksudnya,' kata Aulia dalam hatinya.
Laki-laki yang duduk tidak jauh dari Aulia, saat ini hatinya sedang bagus. Tadi, dia mencoba kembali terapi dan hasil awalnya sangat bagus. Kata dokter semua otot-otot pada kakinya sudah semakin kuat dibandingkan dahulu. Itu karena Alvan selalu banyak menggerakkan badannya mulai dari pinggang ke atas. Aliran darah lancar dan pijatan-pijatan ringan saat mandi atau saat hendak tidur sering dia lakukan. Padahal dia melakukan hal itu untuk mengecek kakinya apa mati rasa atau tidak. Saat berada di ruangan terapi Alvan mencoba berdiri dan dia masih harus menggunakan kekuatan kedua tangannya. Kakinya masih harus diseret agar bisa bergerak.
'Pokoknya aku harus cepat bisa jalan kembali. Jangan sampai Aulia di serobot oleh laki-laki kemarin. Siapa, ya, namanya? Gus … hmmm, ah Gus Fathir. Dia saingan terberat aku.'
__ADS_1
***
Akankah Alvan bisa meraih hati Aulia? Berapa lama Alvan akan bisa berjalan lagi? Tunggu kelanjutannya, ya!