
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga urusan kalian juga dimudahkan.
***
Bab 32
"Maaf, Kek. Apakah matanya Mas Ahmad juga akibat dari kecelakaan itu?" tanya Aulia. Selama ini dia tidak pernah bertanya akan hal itu. Bagi Aulia Ahmad adalah lelaki sempurna, tipe idaman dirinya.
"Ya, dia mengalami itu akibat dari kecelakaan. Selain matanya, kaki dia juga dulu mengalami patah tulang, cukup lama dia menjalani pengobatan agar bisa berjalan lagi dengan normal. Dia orangnya pantang menyerah dan tidak pernah mengeluh apalagi putus asa. Dia orang yang tidak pernah menangis ketika hal-hal buruk terjadi kepadanya. Justru dia akan menangis jika tidak bisa berbuat baik untuk orang lain," jawab kakek Yusuf.
"Maksud Kakek?" tanya Aulia penasaran.
"Waktu itu ada anak kecil yang menangis karena balon gas miliknya terbang dan menyangkut di pohon. Ahmad yang kakinya pincang pakai alat bantu penyangga dan tidak bisa ke atas pohon. Dia lalu mencari bantuan orang lain untuk membawakan balon milik anak kecil itu. Ahmad menangis karena merasa tidak bisa membantu orang lain yang sedang bersedih. Padahal saat menjalani terapi yang menyakitkan dia tidak pernah menangis atau mengeluh. Atau saat ada yang menghina kekurangan dirinya, dia tidak pernah marah atau menangis karena sakit hati," jelas kakek Yusuf.
"Mas Ahmad itu orang berhati lembut yang sabar dan penuh keikhlasan dalam hidupnya, ya, Kek?" Aulia semakin kagum akan sosok calon suaminya itu.
"Ya. Dan kakek yakin kalau dia akan memperlakukan kamu dengan sangat baik dan berusaha membuat kamu bahagia," ucap kakek Yusuf.
"Semoga Aulia juga bisa menjadi seorang istri yang bisa membahagiakan hati suami, nanti." Aulia pipinya merona karena di sudut hatinya merasa bahagia mendapatkan calon suami yang sangat baik.
***
Waktu terus bergulir dengan cepat, tidak terasa hari yang ditunggu oleh Aulia semakin dekat. Kini tinggal satu bulan lagi menuju tanggal yang sudah ditentukan oleh Ahmad dan Aulia. Ini untuk ke dua kalinya Aulia bertatap muka secara langsung dengan Ahmad.
Pemuda itu menyerahkan uang untuk membeli seserahan yang akan dibawa olehnya nanti. Aulia sempat menolak uang yang bertotal 10 juta rupiah itu. Menurutnya itu terlalu banyak. Aulia malah mengambil 2 juta saja untuk membeli perlengkapan seserahan nanti. Nenek Halimah juga setuju dengan Aulia.
__ADS_1
Pertemuan kedua Aulia dengan Ahmad, dia merasa yakin kalau laki-laki ini adalah seseorang yang akan mendampingi hidupnya di kala suka maupun duka. Paras yang teduh dan bercahaya, tutur bahasa yang lembut dan sopan, serta perhatiannya membuat hati Aulia merasa tenang dan senang.
***
Ning Aliyah saat ini sedang bersedih karena mertuanya menanyakan soal kesuburan rahimnya. Dia sudah menikah selama dua tahun, tetapi belum juga hamil. Mertua dan para sesepuh lainnya juga selalu memberikan ramuan atau jamu agar subur dan cepat punya anak.
"Ning Aliyah, kenapa duduk di sini sendirian?" tanya Annisa saat melihat kakak iparnya duduk di halaman belakang.
"Sedang melihat ikan," jawab Ning Aliyah.
"Hm, kalau ada yang mau di ceritakan katakan saja. Jangan di pendam sendirian, mungkin dengan begitu akan meringankan beban di hati dan pikiran," kata Annisa.
"Ning Annisa, apa sudah merelakan Ustadz Azka dengan perempuan lain?" tanya Ning Aliyah.
"Kamu hebat, Ning. Bisa dengan mudah menata hati kembali. Melupakan cinta kamu kepada Ustadz Azka," ujar Ning Aliyah.
"Cinta? Cinta itu adalah rasa yang patut di perjuangkan dan pastinya butuh pengorbanan. Aku tidak melakukan apapun untuk Ustadz Azka. Mungkin karena itu, aku dengan mudah menata hati kembali. Setelah di pikir-pikir untuk apa juga aku mencintai laki-laki yang bukan mahram bagiku. Cinta itu akan aku berikan kepada suami aku kelak," ujar Annisa.
"Lalu, apa yang harus aku perjuangkan dan pengorbanan apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan cintanya Gus Fathir?" tanya Ning Aliyah menatap nanar ke arah adik iparnya.
"Berdoalah dan lalukan tugas Ning Aliyah sebagai istri. Semoga Allah membukakan hati Mas Fathir untuk Ning Aliyah," jawab Annisa.
Annisa tidak tahu kenapa kakaknya itu sering bersikap dingin pada istrinya akhir-akhir ini. Padahal, dulu dia berusaha untuk membuka hati untuk istrinya.
Demi menjaga nama baik keluarganya dan keluarga istrinya karena tidak mau ada perselisihan di antara mereka. Fathir tidak menceritakan hal yang dia ketahui mengenai kebusukan rencana keluarga Ning Aliyah. Dia juga yakin pasti ada sesuatu yang belum diketahui olehnya.
__ADS_1
"Ning Aliyah dicari sama Pak Kiai Akbar dan Bu Nyai Khadijah," kata salah seorang santri yang sering membantu di ndalem.
Ning Aliyah pun masuk ke dalam rumah diikuti oleh Annisa. Ternyata di sana sudah ada Fathir duduk bersama kedua orang tuanya.
"Duduklah, Ning Aliyah!" titah Kiai Akbar pada menantunya.
"Kita kebetulan mau ke Jakarta minggu depan. Rencananya kita mau ajak Ning Aliyah dan Gus Fathir untuk melakukan program kehamilan. Jadi, persiapkan untuk keperluan kalian selama di sana," kata Kiai Akbar.
Muka Ning Aliyah langsung pucat dan tubuhnya menegang. Dia tidak menyangka kalau mertuanya sudah tidak sabar ingin meminang cucu dari dirinya.
"Baik, Abah," jawab Ning Aliyah dengan lirih.
"Abah, aku juga ingin ikut ke Jakarta," pinta Annisa.
"Boleh, lagian kamu sedang libur semester," kata Nyai Khadijah dengan senyum tipisnya.
"Yey, aku mau sekalian cari kado pernikahan buat Aulia di sana. Pasti barangnya bagus-bagus kalau di ibu kota," ujar Annisa senang.
Hati Fathir terasa di remas saat mengingat lagi kalau gadis penguasa hatinya akan dinikahi oleh laki-laki lain. Meski dia mencoba melupakan cintanya kepada Aulia, itu terasa sangat sulit baginya. Dia juga meyakinkan dirinya kalau Aulia akan bahagia bersama Ahmad, tetapi hati kecilnya berharap dialah orang yang bisa memberikan kebahagiaan itu.
Kiai Akbar dan Nyai Khadijah bisa melihat kesedihan yang terpancar dari mata putra mereka saat putri bungsunya, menyebut nama Aulia. Mereka tahu kalau Fathir masih menyimpan perasaan kepada Aulia. Tanpa Fathir dan orang lain ketahui. Kiai Akbar dan Nyai Khadijah selalu berusaha meminta kepada kakek Yusuf, nenek Halimah, dan Aulia agar menerima pinangan darinya. Namun, ketiganya tetap masih bersikukuh menolak. Kiai Akbar tidak pernah menyerah demi kebahagiaan Fathir, mereka baru berhenti meminta setelah Aulia menerima pinangan dari Ahmad. Padahal selama dua tahun itu keluarga ndalem tidak pernah menyerah agar Aulia menjadi menantu mereka.
***
Apakah acara pernikahan Aulia akan berjalan lancar? Apa setelah mengikuti program kehamilan, Ning Aliyah akan hamil? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1