Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 106. Kabar Berita


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 106


Aulia menunggu kabar dari Alvan. Laki-laki itu belum juga memberikan kabar kepadanya. Hal ini membuat dia kembali khawatir.


'Ya Allah, semoga saja Alvan dan keluarganya sampai dengan selamat.' 


Adelia pun berdzikir dalam hatinya agar perasaannya lebih tenang. Dia juga mengisi waktu istirahat dengan mengaji, dengan melakukan hal ini membuat perasaannya jauh lebih tenang dan tentram.


"Aulia," panggil Yukari sambil bersimbah air mata di wajah oriental miliknya.


"Ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Aulia sambil mengusap punggung Yukari.


"Aulia ... Oujichan," kata Yukari terbata-bata.


Hati Aulia sudah merasa tidak enak hati. Dia merasa sudah terjadi sesuatu kepadanya.


"Ada apa dengan Oujichan?" tanya Aulia.


"Oujichan … dia sudah meninggal," jawab Yukari semakin histeris.


Bagai dihantam oleh godam, Aulia merasakan kesakitan di dadanya. Air mata dia juga ikut ke luar membasahi cadarnya. Bayang-bayang lelaki tua yang jahil dan penuh semangat itu, kembali berseliweran dalam ingatannya.


Oujichan dulu sering bertanya kepada Kakek Yusuf mengenai agama Islam dan juga sejarah Indonesia. Kedua laki-laki sudah sepuh itu juga senang menghabiskan waktu bersama di kebun belakang rumah. Mereka senang menanam tanaman dan memanen buah apa saja yang berbuah di sana.


"Apa Papi Kenzo sudah sampai ke Jepang?" tanya Aulia.


"Belum, aku rasa mereka masih di dalam perjalanan," jawab Yukari dengan tersedu-sedu.


"Ya Allah, semoga mereka bisa secepatnya sampai dengan selamat," gumam Aulia.


***


Malam pun sudah menyapa alam dunia. Namun, Aulia belum juga menerima kabar tentang Alvan dan keluarganya. Dia memaklumi, mungkin saja mereka sedang sibuk menyiapkan pemakaman untuk Oujichan dan menerima tamu yang datang melayat.


"Apa belum ada kabar dari Alvan?" tanya Kakek Yusuf saat mereka duduk di ruang keluarga.

__ADS_1


"Belum ada, Kek," balas perempuan muda itu.


Kakek Yusuf juga ikut merasa duka karena sudah kehilangan teman baru yang setahunan ini dekat dengannya. Meski jarak dan waktu memisahkan, mereka berdua masih saling komunikasi. Setidaknya sekali dalam seminggu. Namun, sudah seminggu ini mereka tidak bertukar kabar. 


Saat terakhir kali Oujichan menghubungi Kakek Yusuf, dia tidak bilang kalau sedang sakit. Mereka malah membahas para pejuang legendaris dari negerinya masing-masing. Makanya saat kemarin mendengar kabar Oujichan sedang sakit, dia sangat terkejut.


"Kita doakan saja agar Alvan dan keluarganya dalam keadaan baik-baik saja," ucap Kakek Yusuf sambil menepuk bahu Aulia. 


"Iya, Kek. Aku juga sejak tadi mendoakan untuk kebaikan dan keselamatan mereka. Tapi, aku sangat khawatir dan takut kalau kejadian seperti dahulu terulang kembali," lirih Aulia dengan ekspresi wajah yang nanar.


***


Sudah satu minggu berlalu, Aulia masih belum mendapatkan kabar dari Alvan. Seakan keluarganya bak tertekan bumi. Bahkan Yukari juga tidak tahu kabar tentang keluarga Alvan.


"Apa keluarga kamu tidak memberi tahu kabar Alvan dan keluarganya yang ada di sana?" tanya Aulia.


"Tidak. Bahkan aku juga kesulitan menghubungi mereka," ujar gadis berkebangsaan Jepang.


Bagi Aulia ini terlalu aneh. Di zaman sekarang yang serba canggih ini, kesulitan mendapatkan informasi adalah hal yang mustahil.


'Aku yakin pasti sedang terjadi sesuatu pada mereka. Tapi, apa?' 


Aulia tidak ingin menduga-duga atau menyangka dengan prasangka yang buruk. Dia menenangkan hati dan pikirannya dengan cara berdzikir dan berdoa.


"Selamat malam, Yukari. Ada apa? Tumben malam-malam begini menghubungi aku?" 


^^^"Selamat malam Aulia. Maaf sudah mengganggu waktu tidur kamu."^^^


"Tidak apa-apa."


^^^"Aulia, aku baru saja mendapatkan kabar tentang Alvan."^^^


"Alhamdulillah. Bagaimana kabar dia?"


^^^"Ini kabar yang kurang enak didengar oleh kita."^^^


"Astaghfirullahal'adzim. Apa yang terjadi kepadanya?"


^^^"Alvan dan semua keluarganya mengalami musibah. Saat mereka hendak pulang ke Indonesia, terjadi longsor karena di sana sedang musim hujan. Kebetulan waktu itu hujan turun tiada henti selama tiga hari."^^^

__ADS_1


Netra Aulia langsung mengeluarkan air matanya yang tidak bisa dia cegah. Ketakutan yang ada di sudut hatinya selama ini, kini terbukti. Kalau laki-laki yang akan nikahi dia selalu saja ada sesuatu yang terjadi padanya.


Rangga, laki-laki yang mengajaknya kawin lari. Dia harus merasakan kurungan rumah dan ancaman sampai bersedia bertunangan dengan Karmila.


Gus Fathir, laki-laki yang mengajaknya menikah. Malah terpaksa menerima perjodohan dengan wanita lain, agar dia bisa menikahi Aulia nantinya.


Ahmad, laki-laki yang mengkhitbah Aulia dan membuat dirinya jatuh hati karena Kebagusan akhlak, adab, dan agamanya. Meninggal dua hari sebelum mereka akan menikah.


Lalu, Alvan, laki-laki yang berhasil menyembuhkan luka Aulia, yang begitu lama karena ditinggalkan pergi oleh Ahmad. Dia juga saat ini mendapatkan musibah.


'Ya Allah, aku mohon berikan keselamatan bagi Alvan dan keluarganya.' 


Aulia memegangi dadanya yang terasa sakit. Dia masih trauma dengan hal pernah terjadi kepada Ahmad dahulu. Setidaknya dia berharap bisa disatukan dengan Alvan dalam ikatan suci dan mencari ridho dan pahalanya.


^^^"Aulia. Apa kamu bisa mendengar suara aku?^^^


"I-ya. Maafkan aku, Yukari. Saat ini keadaan aku sangat kacau. Tidak bisa berpikir apa-apa."


^^^"Aku harap kamu bersabar dengan kabar ini. Keadaan mereka tidak dalam baik-baik saja. Terutama Alvan."^^^


Mendengar ucapan Yukari ini membuat pikiran dan perasaan Aulia semakin tidak menentu. Dia berharap kalau saat ini dirinya sedang tidur dan bermimpi buruk.


"Astaghfirullahal'adzim. apa dengan dengan dia? Aku mohon kamu beri tahu keadaan dia sejujur-jujurnya," ucap Aulia dengan tangisan yang sedu sedan


***


Bagaimana keadaan Alvan dan keluarganya? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk, baca juga karya aku. Kisahnya Ning Annisa bersama suami berondongnya, yang selalu bikin tersenyum manis.


Rafael, siswa pembuat onar yang tanpa sengaja terjebak semalaman di perpustakaan dengan gurunya yang sering dipanggil Ning Annisa. Keduanya pun dinikahkan demi menjaga nama baik keluarga mereka.


Rafael bukanlah tipe suami idaman Ning Annisa. Dia tidak bisa menjadi imam bagi keluarganya. Berkelakuan buruk, minim ilmu agama, usia masih muda, dan mempunyai sifat mesum yang sering membuat Ning Annisa merinding.


"Kamu boleh menyentuhku, jika sudah bisa menjadi imam sholatku."


"Akan aku buktikan, kalau aku memang laki-laki yang pantas untuk menjadi suamimu."


Akankah Rafael mampu menjadi suami yang diidamkan oleh Ning Annisa?

__ADS_1


Bagaimana Ning Annisa menghadapi sifat dan kelakuan mesum berondongnya?



__ADS_2