
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 107
"Aulia! Aulia bangun!" Nenek Halimah membangunkan gadis yang sedang tidur sambil menangis tergugu.
Aulia pun membuka matanya. Dia melihat ada wanita tua yang selalu menghibur dirinya ketika bersedih dan berduka.
"Nenek." Aulia memeluk Nenek Halimah dengan erat masih dalam keadaan menangis.
"Ada apa? Kamu mimpi buruk, tadi?" tanya Nenek Halimah sambil membelai rambut panjang milik Aulia.
Gadis itu masih belum bisa bicara. Hatinya masih dalam keadaan berduka. Hanya tangisan yang menjelaskan keadaan Aulia saat ini.
"Sudah, sudah, kamu siapkan diri. Alvan menunggu di depan," kata Nenek Halimah.
Mendengar nama calon suaminya disebut oleh wanita tua ini, membuat Aulia terkejut. Dia mencerna kembali ucapan Nenek Halimah.
"Alvan? Alvan bukannya sedang berada di Jepang, Nek. Dia juga mengalami musibah bersama kedua orang tuanya. Aku ingin pergi ke sana untuk menemuinya," balas Aulia yang berbicara dengan air mata yang berderai.
Nenek Halimah malah tersenyum tipis. Tangan keriput itu membelai wajah anak gadis itu dan menghapus air matanya.
"Sepertinya kamu tadi mimpi buruk. Alvan tidak jadi pergi ke Jepang. Dia datang ke sini untuk menemui kamu. Katanya dia merasa tidak tenang karena terus saja mengkhawatirkan keadaan kamu," jelas Nenek Halimah dengan senyum tipis yang menghiasi wajah tua yang bersih bersinar.
"Nenek tidak sedang bercandakan?" tanya Aulia masih diliputi rasa ragu-ragu.
"Kalau kamu tidak percaya, lihat saja ke depan. Alvan sedang berbicara dengan kakek," balas Nenek Halimah.
Aulia pun bergegas merapikan dirinya dan ke luar kamarnya. Dia berjalan ke ruang depan dia mendengar suara laki-laki itu. Entah kenapa suara itu sangat dirindukan olehnya.
"Alvan!" seru Aulia dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
Rasanya dia ingin berlari ke arahnya dan memeluk laki-laki itu. Untuk memastikan dirinya ini mimpi atau nyata.
"Assalamu'alaikum, Aulia." Alvan pun berdiri dan tersenyum kepadanya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," balas Aulia masih dalam keadaan tidak percaya
"Ini benar kamu, 'kan? Ini nyata bukan mimpi?" tanya Aulia dengan menahan isak tangisnya.
Alvan malah tertawa terkekeh mendengar ucapan dari Aulia barusan. Dia pun berjalan ke arah sang pujaan hati. Laki-laki itu lalu meletakkan tangan dia di atas kepala Aulia. Lalu, menggaruknya pelan. Lalu, menarik tangan dia kembali.
"Apa kamu bisa merasakan sentuhan aku tadi? tanya Alvan sambil menampilkan senyum tampan di wajahnya.
Jangankan merasakan sentuhan tangan dia di kepalanya. Wangi laki-laki itu juga bisa dia dia rasakan bau maskulin dan segar.
Aulia pun menganggukkan kepalanya. Lalu dia bertanya karena masih penasaran.
"Bukannya kamu pergi ke Jepang bersama Papi Kenzo dan Mami Siska ke Jepang untuk menjenguk Oujichan?" tanya Aulia masih tidak mengerti.
"Tadinya aku, mami, dan papi pergi ke Jepang. Akan tetapi saat berada di udara, aku selalu terbayang keadaan kamu. Maka, saat transit di bandara Changi airport. Aku memutuskan kembali ke Indonesia. Jadi, hanya mami dan papi saja yang pergi ke sana," jelas Alvan.
"Oujichan masih hidup. Tanya saja sama Kakek Yusuf. Barusan kita juga melakuakan video call dengan Oujichan. Iya 'kan, Kek?" balas Alvan dan dibenarkan oleh Kakek Yusuf.
Aulia jadi pusing kenapa keadaannya berubah. Tanpa sengaja di melihat tanggal kalender dan jam digital yang ada di meja kecil dekat sofa.
'Sekarang ini tanggal 2 Februari? Bukannya ini tanggal seminggu yang lalu. Karena aku ingat betul tadi aku mengerjakan tugas untuk tanggal 9 Februari. Apa benar aku tadi mimpi?' (Aulia)
Aulia bisa merasakan kalau saat ini dia sedang datang bulan. Dia mulai kedapatan menstruasi tanggal 1 Februari.
"Kamu, tadi langsung tidur begitu sehabis mandi?" tanya Nenek Halimah.
Aulia mengingat-ingat lagi. Benar kalau dia itu tertidur saat akan mengerjakan tugas kantornya yang belum selesai dia kerjakan.
"Iya, sepertinya aku tertidur sebelum Maghrib," jawab Aulia malu-malu.
__ADS_1
Nenek Halimah tersenyum sambil mengusap punggung Aulia. Wanita tua itu pun berkata, "Itu yang menyebabkan kamu mimpi buruk tadi."
Aulia mengakui itu. Padahal tidur setelah Ashar itu dilarang. Makanya dia bermimpi sesuatu yang sangat buruk dan terasa seperti nyata.
"Kamu kenapa, Aulia?" tanya Alvan tidak mengerti.
"Tadi dia menangis tersedu-sedu saat nenek mau membangunkannya. Dia bilang kalau kamu sudah mengalami kecelakaan di Jepang bersama dengan kedua orang tua kamu. Makanya dia tidak percaya saat melihat kamu tadi," jelas Nenek Halimah dan itu membuat Aulia sangat malu.
Alvan pun tertawa terkekeh. Dia merasa kalau Aulia sudah begitu mencintai dirinya. Sampai seperti itu karena takut kehilangan dirinya.
Aulia malu sekali karena sudah kelihatan bodoh di hadapan orang lain. Terutama di mata Alvan yang kini sedang menertawakan dirinya.
"Kamu sampai bermimpi buruk karena takut aku mati di saat pergi ke Jepang?" tanya Alvan menahan tawanya.
"Nggak tahu, ah! Aku mau kembali ke kamar saja," kata Aulia malunya setengah mati. Lalu, dia pun berdiri dan hendak beranjak pergi dari sana.
"Kamu mau ke mana? Tolong jelaskan dulu apa yang terjadi kepada kamu tadi, Aulia?" tanya Alvan mencegah Aulia pergi.
"Pokoknya aku senang kalau kamu benar-benar dalam keadaan baik-baik saja dan aku bersyukur kalau itu hanya bermimpi buruk," jawab Aulia, kemudian pergi meninggalkan mereka yang ada di ruangan itu.
"Kamu harus memaklumi dia," ucap Kakek Yusuf kepada Alvan.
"Iya, Kek. Aku juga bisa memahami kalau kepergian Ahmad dulu menyimpan luka yang besar dalam hidup Aulia. Setidaknya aku juga bisa berada di posisi yang sama dengan Ahmad dalam hidup Aulia. Meski secara akhlak apalagi ilmu agama, aku tidak sebanding dengan laki-laki itu," ujar Alvan.
"Terima kasih sudah mau memahami keadaan Aulia. Semoga kamu menjadi salah satu sumber kebahagiaan untuk Aulia," lanjut Nenek Halimah dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Doakan untuk kami, Kek ... Nek. Agar kita bisa menyempurnakan sebagian agama kami. Kehidupan rumah tangga kita yang sakinah, mawadah, warahmah," punya Alvan.
Kakek Yusuf dan Nenek Halimah pun tersenyum. Sebab, mereka itu selalu mendoakan kebaikan bagi keduanya setiap hari.
***
😱 Jadi itu semua mimpi buruk Aulia? Lalu, bagaimana dengan kisah selanjutnya menuju hari pernikahan Aulia dan Alvan. Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh. Cus meluncur ke novelnya.