Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 118. Ocehan Alin


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 118


"Kalau begitu buat Alvan bangun agar dia sendiri yang mengucapkan qobul-nya saat menikah besok. Ingat dia akan menikah besok!" Dokter Ghazali sengaja menekan setiap kata-katanya.


Lalu, Alin pun berdiri di dekat Alvan. Gadis itu menarik napasnya dengan kencang kemudian menghembuskan secara perlahan. 


"Hei, Oppa ganteng—" Alin memulai pembicaraannya.


"Alvan," potong Raihan.


Alin pun berdeham dan mengulangi kembali ucapannya. Tingkahnya ini mengundang senyum Aulia.


"Cepat bangun! Oppa Alvan tidak tahu kalau Kak Aulia saat ini sedah bersedih?" Alin mencolek-colek lengan Alvan.


"Kalau tidak bangun juga aku akan suruh Kak Aulia cari pengganti Oppa Alvan. Biar Kak Ian tidak berpoligami," ucap Alin dan membuat Raihan kesal.


Keempat orang lainnya malah tersenyum melihat Alin seperti sedang mengancam pasien. Namun, mereka membiarkan saja.


"Aku ini ahlinya menjodohkan orang, loh! Kalau tidak percaya tanyakan saja sama teman-teman di sekolah aku," racau Alin malah membanggakan dirinya sendiri.


"Kalau Oppa Alvan tidak mau bangun juga sampai besok. Aku akan bawa Kak Aulia ke perjodohan," ujar Alin dan itu membuat Raihan meminta maaf kepada Aulia dan kedua orang tua Alvan.


Aulia tidak marah atau tersinggung. Justru dia merasa terhibur mendengar ocehan Alin. Kalau kedua orang tua Alvan mana berani marah kepada cucu menantu keluarga Hakim.


"Ada laki-laki yang bernama Gus Fathir. Dia suka sama Aulia," bisik Dokter Ghazali semakin semangat mengompori Alin setelah dia melihat grafik reaksi dari denyut jantung dan tekanan darah milik Alvan menunjukan perubahan. Alat pendeteksi emosi juga sudah menunjukan adanya reaksi.


"Aku dengar Gus Fathir suka sama Kak Aulia. Akan aku suruh dia untuk menikahinya. Pastinya dia akan senang sekali bisa menikah dengan orang yang dicintainya," kata Alin masih saja mengoceh dan grafik di monitor terus saja menunjukan perubahan dan Dokter Ghazali itu senang.


'Bagus Alin. Kompori terus, biar Alvan sadar.' (Ghazali)

__ADS_1


"Akan aku bawa laki-laki bernama Gus Fathir itu. Tidak akan ada tidak bisa dilakukan oleh Ayah Fatih. Dia akan membawa laki-laki itu dan menikahkannya dengan Kak Aulia. Menikah dadakan itu sudah biasa di keluarga Hakim, jadi menikahkan Kak Aulia dan Gus Fathir secara dadakan pasti bisa dilakukan," lanjut Alin dan tanpa mereka sadari jari tangan Alvan bergerak.


"Aku akan memberi waktu kamu untuk bangun. Jika, sampai besok tidak bangun juga. Jangan salahkan aku menyuruh Kak Aulia menikah dengan Gus Fathir. Aku melakukan ini demi menyelamatkan Kak Ian agar dia tidak disunat dua kali karena sudah mau menduakan aku. Tidak rela, pokoknya aku tidak mau!" ucap Alin mengeluarkan unek-unek dalam hatinya.


Raihan menutup perkakas kebanggaannya yang masih perjaka itu. Dia merasa ngeri mendengar ancaman istrinya ini. Walau mereka sudah lama menikah, tetapi belum pernah melakukan hubungan badan. Bahkan berciuman pun belum pernah mereka lakukan.


'Punya istri kejam banget mau bikin aku di sunat lagi. Bisa-bisa habis nanti punya aku.' (Raihan)


(Kisah cinta Raihan dan Alin ada di Duda VS Anak Perawan, Season 2)


Dokter Ghazali menyadari ada pergerakan dari jari Alvan. Dia pun rasa senang karena ini dia untuk mengompori Alin berhasil.


"Kamu kurang menyakinkan. Lebih serius lagi, agar Alvan mendengarnya," bisik laki-laki itu kepada istri keponakannya.


Alin pun melirik ke arah Aulia dan menatapnya.


'Aduh, kayaknya wajah dia cantik. Bagaimana kalau Kak Ian juga suka kepadanya? Tidak, tidak! Aku tidak mau di madu.' (Alin)


"Kak Aulia, apa ada yang ingin kakak katakan kepada Oppa Alvan ini?" tanya Alin dan Aulia menggelengkan kepalanya.


"Masa, tidak ada yang ingin Kakak katakan kepada Oppa Alvan?" Alin mengkerutkan keningnya.


"Sudah kamu saja yang ajak bicara Alvan agar bangun," ucap Dokter Ghazali.


***


Alvan yang berada di alam bawah sadarnya bisa mendengar apa yang diucapkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Dia juga mendengar apa yang dikatakan oleh Alin. Meski dia belum pernah bertemu dengan gadis ini tetapi dia tahu kalau Alin adalah istri dari Raihan. Laki-laki ini merasa kesal saat Si gadis remaja ini mengoceh akan menikahkan Aulia dengan Gus Fathir. Dia saat itu juga ingin berteriak dan berkata kalau Aulia adalah calon istrinya. Dia tidak akan pernah melepaskan begitu saja perempuan yang dia cintai. 


'Enak saja mau menikahkan Aulia dengan laki-laki lain. Aku harus segera bangun dan mengajak Aulia segera menikah saat ini juga.' (Alvan)


Alvan mencoba membuka matanya, tetapi tetap susah. Namun, dia bisa merasakan ada yang memegang tangannya. Maka, dengan sekuat tenaga dia membalas dengan menggerakkan tangannya.


'Ini tangan milik siapa? Apa tangan Aulia, ya? Tapi, terasa besar tangannyan.' (Alvan)

__ADS_1


Alvan tidak tahu kalau tangan itu adalah milik Dokter Ghazali yang sedang mencoba memberikan rangsangan dan ingin melihat responnya. Sesuai harapan laki-laki itu, ada balasan dari Alvan.


'Ke mana perginya tangan Aulia?' (Alvan)


Selagi Alin terus berceloteh kepada Alvan, pemuda itu mendengarkan dan ingin membalasnya. Namun, mulut dia tidak bisa digerakkan.


'Raihan bisa-bisanya kamu punya istri seperti ini. Kamu dapat dari mana makhluk seperti ini.' (Alvan)


Aulia melihat jari-jari tangan Alvan bergerak. Lalu, dia pun berseru, "Dokter Ghazali, tangan Alvan bergerak. Aku lihat jari-jari itu bergerak-gerak beberapa kali."


Dokter Ghazali pun menganggukkan kepala dan meminta Aulia berdiam dulu. Biarkan Alin yang mengoceh.


"Hey, Oppa Alvan kalau kamu tidak membuka mata sampai hitungan ketiga—" Mulut Alin langsung ditutup oleh Raihan.


"Kamu jangan seperti itu kepada orang yang sedang sakit," balas Raihan dengan berbisik.


Alin hanya meniru ancaman yang sering dilakukan oleh Raihan kepadanya. Biasanya dia selalu bisa menurutinya. Siapa tahu kalau di kasih hitungan, Alvan akan membuka matanya.


"Alhamdulillah, Ya Allah, Engkau memberi kesempatan bagi Alvan kembali," lirih Aulia dengan air mata berderai dan senyum bahagia.


Alin pun memperhatikan tangan Alvan dan bergerak. Dia pun memekik girang sambil memeluk lengan suaminya.


"Hore, hore, si Oppa Alvan akan sadar! Jadi, Kak Ian tidak akan berpoligami," seru Alin dengan senang sambil menatap ke arah suaminya.


"Siapa juga yang akan berpoligami," gerutu Raihan dengan pelan.


Kedua orang tua Alvan mengucapkan rasa bahagia mereka dengan mengucapkan rasa syukur atas kebesaran Allah. Sebab, keadaan putranya memperlihatkan hasil yang baik.


***


Apakah Alvan akan membuka matanya sebelum waktu yang dijanjikan olehnya untuk meminang Aulia, besok? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.

__ADS_1



__ADS_2