
Teman-teman baca alon-alon sampai selesai, ya. Agar tidak gagal fokus. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.
***
Bab 21
Nenek Halimah merangkul tubuh Aulia. Dia ikut merasa prihatin mendengar ucapan Kiai Sholeh barusan.
"Maaf Kiai Sholeh, kenapa Anda bicara seperti itu?" tanya Kakek Yusuf dengan tatapan tidak suka.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuka aib seseorang. Tadi, hanya refleks saja saking terkejutnya aku, Ustadz Yusuf. Sungguh aku tidak punya niat buruk," jawab Kiai Sholeh.
"Tapi, apa yang Anda katakan itu sudah membuat hati kami terluka. Itu bukan hak Anda bicara seperti itu," ujar Nenek Halimah.
"Aku tidak mempermasalahkan masa lalu Aulia karena semua orang punya masa lalu. Apalagi, sekarang dia juga sudah bertobat. Dan yang ingin aku nikahi adalah Aulia yang sekarang," balas Fathir membela Aulia.
"Nak, semua orang punya masa lalu. Tapi, ingat siapa kamu? Kamu adalah calon penerus pimpinan pondok pesantren Al-Ikhlas. Apa kata orang-orang nantinya jika tahu masa lalu istri seorang wanita tidak baik-baik," ucap salah seorang yang ikut rombongan itu dan dibenarkan oleh yang lainnya.
Terjadi kegaduhan di ruang pertemuan itu. Banyak sekali orang yang tidak setuju kalau Fathir menikah dengan Aulia. Mereka mentang pernikahan itu karena akan mencoreng nama baik pesantren dan kampung mereka.
"Sudah. Kalian semua jangan bicara lagi. Tidak sepantasnya kalian menghina maupun mencibir Aulia. Dia adalah gadis remaja yang pernah salah jalan. Namun, Allah sangat sayang padanya. Sehingga, dia bisa bertaubat dan kini senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Kita jangan membicarakan aib saudara kita. Bukannya kalian sudah pada tahu kalau kita menutupi aib orang lain, Allah akan menutupi aib kita di dunia dan di akhirat," ujar Kiai Akbar.
"Tapi, Pak Kiai. Ini kan untuk kebaikan semua orang yang tinggal di pesantren dan warga yang tinggal di lingkungan pesantren. Istri seorang Gus itu harus bisa menjadi sosok yang dicontoh oleh para muslimah," ujar seorang ibu-ibu yang ikut dan dibenarkan lagi oleh ibu-ibu yang lainnya.
Aulia masih meneteskan air matanya meski tidak bersuara. Nenek Halimah masih memeluk dan mengusap punggung anak angkatnya itu.
Tidak jauh dari sana Annisa menatap Aulia dengan kasihan, sedih, dan tidak percaya kalau sahabatnya itu punya kisah masa lalu seperti itu. Meski bagi kebanyakan orang kota itu bukan hal aneh, jika seorang gadis sudah tidak perawan. Namun, di kampung itu merupakan hal yang hina. Para gadis di kampung masih menjaga kesucian dirinya. Hanya bersama suaminya yang berhak melakukan itu nanti.
"Sebaiknya Gus Fathir pikirkan lagi niat untuk mengkhitbah Aulia," kata Kakek Yusuf akhirnya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Akan kami bicarakan kembali ini di rumah. Semoga keputusan nanti itu adalah yang terbaik," balas Kiai Akbar.
Nyai Khadijah dan Nyai Sarah tadinya sangat semangat saat hendak datang mengkhitbah. Kini, keduanya tampak kecewa. Bagi mereka berdua Aulia itu calon menantu idaman.
"Saya harap kepada semua orang yang hadir di sini, jangan membicarakan hal ini lagi di luaran sana. Cukup kita saja yang tahu masa lalu Aulia. Tidak baik membuka aib seseorang," kata Nyai Khadijah dan semua orang diam.
***
Setelah kepulangan para tamu, Aulia pun masuk kamar. Dia menumpahkan air mata kesedihannya. Malam yang diperkirakan akan menjadi malam indah, justru menjadi malam yang kelabu.
Nenek Halimah dan Kakek Yusuf pun tidak berani mengganggu gadis malang itu. Mereka membiarkan Aulia menumpahkan kesedihannya. Mereka duduk tidak jauh dari pintu kamar Aulia
"Pak, apa bapak tahu hal ini sebelumnya?" tanya Nenek Halimah.
"Tidak banyak yang bapak tahu, Bu. Gus Fathir bilang kalau tetangganya bilang Aulia belum menikah dan hanya tinggal bersama bapaknya. Bapak tidak punya pikiran buruk pada Aulia. Saat itu bapak dan Gus Fathir berpikir kalau Aulia hamil bukan atas kehendaknya. Bapak baru tahu setelah Aulia cerita sendiri. Tapi, dia tidak bilang siapa laki-laki itu," jawab Kakek Yusuf.
"Kasihan Aulia. Semoga Allah memberikan jalan yang terbaik untuk dirinya," kata Kakek Yusuf sambil melihat ke arah pintu kamar Aulia.
***
Kini keluarga ndalem berkumpul dan menanyai Fathir. Mereka membicarakan hal tadi.
"Ini gara-gara Pak Lik Sholeh, coba kalau tadi diam saja jangan bicarakan masa lalu Aulia, Mas Fathir pasti jadi mengkhitbah Lia," gerutu Annisa.
"Kamu jangan bicara seperti itu. Ini terjadi sudah kehendak Allah. Dia-lah yang mengatur segalanya," balas Nyai Sarah pada keponakannya.
"Iya. Tapi, kan tidak perlu bicarakan hal itu dulu. Kenapa Pak Lik Sholeh, malah katakan hal itu didepan orang banyak. Jadinya, membuka aib Aulia yang dia sudah tutupi," ujar Annisa.
"Pak Lik kamu itu juga tidak salah. Pihak calon suami laki-laki juga berhak tahu dengan segala yang ada pada calon istrinya. Salah satunya adalah masa lalu," tukas Nyai Sarah.
__ADS_1
"Lalu, kenapa tidak Pak Lik Sholeh ajak dulu bicara Mas Fathir dan Abah, secara pribadi. Baru diberikan keputusan," jawab Annisa kecewa.
Sementara itu, di ruangan lain Fathir, Kiai Akbar, Kiai Sholeh, dan beberapa orang tetua. Mungkin ada sekitar 11 orang berada di sana, sedang membahas mengenai hal tadi.
"Kenapa sampeyan bicara seperti itu?" tanya seseorang kepada Kiai Sholeh.
"Saya khilaf, Kang Mas. Saya terkejut sekaligus senang, tadi. Orang yang saya cari ternyata sudah ketemu," jawab Kiai Sholeh.
"Maksud Mas Sholeh?" tanya Kiai Akbar tidak mengerti.
"Beberapa waktu yang lalu, ada orang yang mencari Aulia. Waktu itu saya sempat teringat kepada Aulia anak angkatnya Ustadz Yusuf. Tapi, bisa saja orang itu berbeda dengan yang dia maksud. Saya akan bantu mencari di tempat yang aku singgahi. Jika, bertemu dengannya akan saya beri tahu padanya," jawab sang adik ipar.
"Bagaimana Mas Sholeh kenal sama yang mencari Aulia?" tanya orang lainnya lagi.
"Pak Mulyono Abimana punya adik laki-laki yang bernama Pak Damar Abimana, kami pun jadi saling kenal dan dekat. Kebetulan aku juga mengenal supir pribadi keluarga itu, Yusril. Kemarin saat saya mengisi pengajian di rumah Pak Mulyono, keluarga Pak Damar juga datang. Di sana aku diajak bicara oleh putra mereka. Dia menanyakan hukum menikahi wanita yang sedang hamil. Lalu, saya jelaskan. Dia menangis sambil menceritakan masalahnya. Dia bilang selalu mencari kekasihnya itu karena ingin menikahinya. Karena kasihan dan aku iya kan permintaan dia jika menemukan gadis itu. Dia memperlihatkan fotonya, tapi dia tidak berjilbab," jelas Kiai Sholeh.
"Lalu, kenapa Aulia malah kabur? Kenapa dia tidak meminta pertanggungjawaban kepada laki-laki itu?" cerca orang tadi lagi.
"Kata Rangga, Pak Damar dan istrinya marah besar. Mereka tidak menyetujui pernikahan antara anaknya dengan anak supirnya. Padahal mereka berdua itu sayang kepada Aulia. Tapi, mereka malu jika punya menantu dari kalangan bawah. Itu yang saya pahami dari cerita Rangga. Pemuda itu sangat mencintai kekasihnya. Dia juga sangat menyesali perbuatannya yang sudah melakukan hal terlarang dengan kekasihnya itu," balas Kiai Sholeh.
"Saya tidak mempermasalahkan masa lalu Aulia. Saya juga sudah tahu yang menimpa dirinya itu. Sejak awal saya sudah meyakinkan diri kalau Aulia adalah gadis baik-baik. Orang-orang yang mengenal dirinya juga menilai dia begitu," ucap Fathir
"Kalau dia gadis baik-baik, kenapa tidak bisa menjaga kehormatannya?" tanya orang lain lagi.
"Karena mereka itu tidak paham agama dan tidak ada yang memberikan peringatan kepada mereka akan dosa itu," jawab Fathir
***
Akankah Fathir memperjuangkan cintanya untuk meminang Aulia? Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya, ya.
__ADS_1