
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 99
Begitu pulang dari Malaysia Gus Fathir langsung mendatangi rumah Aulia. Rasa rindunya kepada sang pujaan hati, membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk beristirahat terlebih dahulu.
Beberapa hari ini perasaannya selalu saja tidak menentu. Pikirannya selalu terpaut pada gadis cinta pertamanya.
Dia membawa oleh-oleh khas negeri Jiran itu, untuk diberikan kepada Aulia. Dalam hatinya penuh harap kalau hadiah yang dia bawa akan membuat wanita itu senang.
Begitu dia sampai ke depan rumah perempuan itu dan berjalan ke depan pintu pagar. Ada perasaan aneh saat melihat ada dua mobil di halaman rumah Aulia.
Betapa terkejutnya dia saat melihat ada acara di rumah Aulia. Sebab, banyak orang di sana. Lalu, dia pun berjalan masuk ke sana dan ingin mengetahui sedang ada acara apa.
"Sedang ada acara apa ini?" tanya laki-laki itu dengan tatapan nanar.
Aulia melihat tatapan mata Gus Fathir seperti yang terluka. Hati dia pun ikut terluka karena tidak bisa memilih dirinya.
"Gus Fathir," lirih Aulia.
Kedua orang itu kini saling berdiri berhadapan, yang satu minta penjelasan. Sementara itu, yang satunya lagi bingung harus mau mulai dari mana.
Lalu datanglah ke Yusuf ke depan teras rumah. Dia mengucapkan salam terlebih dahulu kepada Gus Fathir yang baru saja tiba di kediaman itu.
"Masuklah terlebih dahulu kita akan bicara di dalam!" ajak Kakek Yusuf.
Maka, Gus Fathir pun menuruti keinginan laki-laki tua itu. Dia ini duduk saling berhadapan dengan keluarga Alvan.
"Sebelumnya saya mau meminta maaf kepada Gus Fathir, karena belum memberi tahu kalau hari ini Aulia sudah dikhitbah oleh Alvan," ucap Kakek Yusuf sambil menatap ke arah laki-laki yang sejak kecil menjadi muridnya.
__ADS_1
Seakan di pukul oleh suatu benda yang besar dan kuat, Gus Fathir merasakan sakit hati untuk yang kesekian kali. Cintanya kepada Aulia selalu saja memberikan luka di hatinya. Sejak dulu dia selalu berharap kalau perempuan itu adalah orang yang akan mendampingi hidup baik di dunia maupun di akhirat kelak. Setiap dia melakukan shalat istikharah, selalu saja Aulia yang muncul. Begitu juga dengan hatinya yang selalu terpaut kepada gadis ini.
Apa mungkin dia salah dalam menafsirkan hasil istikharah-nya? Atau memang belum saatnya mereka bersama. Dia sendiri tidak tahu. Hanya Allah yang tahu dengan takdir yang akan diterima oleh semua makhluknya.
Kini Alvan dan Gus Fathir saling beradu pandang. Kedua laki-laki itu saling memahami apa yang sedang dirasakan oleh keduanya saat ini. Sebab keduanya punya perasaan yang tidak jauh terhadap satu wanita yang sama.
Belum juga Alfan mau buka mulutnya, Aulia terlebih dahulu berbicara. Hal ini membuat tatapan keduanya teralihkan pada sang pujaan hati.
"Gus Fathir, aku sudah menentukan pilihanku. Maaf, kali ini hati aku pun memilih Alvan," ucap Aulia dengan lirih dan perasaan ikut terluka.
Mendengar suara Aulia terdengar lirih seperti itu membuat Gus Fathir sadar, kalau perempuan itu juga mengalami kesulitan, jika dirinya tidak ikhlas menerima keputusannya.
"Kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku. Itu keputusan yang sudah kamu ambil dengan berbagai pertimbangan pastinya. Kamu menginginkan hidup bahagia bersama dengan orang yang tepat. Dan kamu pun menjatuhkan pilihan itu kepada Alvan. Aku sudah mengikhlaskan semuanya, semoga kamu bisa bahagia dengan dia. Meski begitu aku harap jalinan silaturahmi kita masih tetap berjalan dengan baik," ucap Gus Fathir dan disetujui oleh Aulia dan juga Alvan.
Kakek Yusuf dan Nenek Halimah ikut merasa senang melihat ketiganya masih akur. Begitu juga dengan Papi Kenzo dan Mami Siska, mereka tersenyum lega karena hubungan mereka berdua berjalan dengan baik.
"Alhamdulillah, masih bisa menjalin hubungan dengan baik satu sama lain," kata Nenek Halimah.
"Anda terlalu berlebihan dalam memuji saya," balas Gus Fathir.
"Itu adalah kenyataannya," timpal Papi Kenzo.
Semua orang tahu kalau sepatu mempunyai hati yang lembut. Dia bukan tipe orang yang selalu mencari musuh dalam hidupnya. Selain itu, dia juga merupakan laki-laki yang cerdas dan bisa menggunakan akal pikirannya dengan baik serta bijaksana.
Alvan juga mengakui hal ini. Kalau Gus Fathir itu adalah tipe idaman para wanita sholehah. Tampan, kaya, berkepribadian baik, ilmu agama yang cukup luas, dan suka bertutur kata lembut. Meski begitu, Alvan juga menginginkan wanita yang sama dengan dirinya. Disebut tidak tahu malu juga tidak apa-apa, dia berani bersaing dengannya dalam mendapatkan Aulia. Ternyata doa dia yang dikabulkan oleh Allah. Menjadikan Aulia sebagai calon istrinya.
***
Keesokan harinya, hubungan kedua orang itu diumumkan di grup chat milik kantor perusahaan. Tentu saja hal ini membuat terkejut semua orang. Mereka tidak menyangka kalau anak pemimpin perusahaan itu akan menikahi asistennya sendiri.
"Apa? Jadi Kak Alvan akan menikahi perempuan itu?" Amelia pesan yang sedang ramai dibicarakan di grup oleh teman-temannya.
__ADS_1
"Apa yang dilihat oleh kak Alvan dari perempuan itu, ya?" gumam wanita berbaju perpaduan merah hitam ini.
Bahkan bukan hanya di grup chat milik kantor saja pembahasan ini dibicarakan oleh orang-orang. Namun, di grup chat pribadi milik karyawan pun, ini menjadi pembicaraan hangat.
'Demi bayar utang balas Budi, Tuan Alvan mau bertunangan dengan asistennya.'
'Ini pasti Tuan Alvan sudah dijebak oleh asistennya itu.'
'Aku tidak terima, jika Tuan Alvan bersama perempuan itu.'
'Jangan-jangan ini adalah kabar bohongan!'
Amelia membaca tulisan pesan yang ditulis oleh rekan satu kantor di perusahaan pusat itu. Perempuan ini jadi berpikir kalau Aulia sudah menggoda Alvan, sehingga laki-laki terjatuh ke dalam pesona dirinya.
'Apa benar Aulia, perempuan seperti itu?' (Amelia)
"Ada apa?" tanya rekan Amelia.
"Kenapa mereka punya pandangan jelek kepada Aulia?" tanya Amelia penasaran karena dia orang baru di sana.
"Itu karena tuan Alvan banyak berubah setelah bersama dengan Aulia," jawab perempuan itu.
"Berubah yang bagaimana, maksudnya?" tanya Amelia.
"Dulu tuan Alvan itu pendiam dan tidak suka berinteraksi dengan karyawan wanita. Namun, bagaimana ceritanya Aulia bisa menjadi asisten pribadi tuan Alvan," jawab perempuan itu lagi.
"Bukannya hal itu justru memberi nilai positif kepada tuan Alvan?" tanya Amelia.
"Ih, kamu itu bodoh atau polos, sih! Masa tidak tahu istilah ada udang di balik batu."
***
__ADS_1
Bagaimana kisah Aulia setelah menjadi calon istri dari Alvan? Tunggu kelanjutannya, ya!