Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 114. Harapan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 114


Aulia seharian itu bersama Mami Siska dan Nenek Halimah melakukan perawatan sambil berbincang-bincang sesuatu yang bermanfaat. Kebanyakan kedua orang tua itu memberikan nasehat untuk Aulia yang akan membina rumah tangga. Mereka berharap kehidupan Aulia dan Alvan nanti jauh lebih bahagia lagi.


"Aulia, nanti kamu jangan melakukan KB, ya? Mami ingin segera punya cucu," ucap Mami Siska.


"Iya, Mi. Lagian usia aku juga sudah pantas punya seorang anak," balas Aulia dengan pipinya yang merona.


"Mami tidak sabar ingin melihat bayi kalian nanti akan seperti apa," ucap Mami Siska dan membuat Aulia semakin malu karena dia juga membayangkan akan seperti apa wajah anak-anaknya dengan Alvan nanti.


***


Aulia merasa rindu kepada Alvan malam ini. Entah kenapa perasaannya berbeda dari biasanya. 


"Apa karena seharian ini aku tidak melihat wajah dan mendengar suaranya, ya?" gumam Aulia sambil melihat layar handphone yang memuat berita tentang Alvan yang masuk ke nominasi 100 jajaran pengusaha muda yang sukses di Indonesia.


"Ya Allah, apa rasa rindu ini tidak berlebihan bagiku?" Aulia sedang mengadukan perasaannya kepada Sang Pencipta yang membolak-balik hati.


Gadis itu tersenyum saat mengingat kembali awal-awal pertemuan dia dengan calon suaminya ini. Dulu, tidak pernah terpikirkan sama sekali olehnya akan merasakan kesal, marah, kecewa, rindu, sayang, dan cinta dalam hatinya kepada laki-laki berwajah dingin dan pemilik tatapan tajam ini.


Waktu ternyata merubah segalanya. Hati mereka kini saling bertaut dan akan menyempurnakan sebagian dari agama mereka. Memimpikan kehidupan bersama yang bahagia dan berharap bukan hanya di dunia saja, tetapi juga bisa sampai ke akhirat nanti.


"Ridhoi kami, Ya Allah. Lancarkan segala urusan kami. Apa yang kami inginkan dan harapkan bisa terkabul." Aulia sering berdoa dalam kesehariannya agar pernikahan ini tidak gagal seperti dahulu.


***


Alvan diam sambil memandang langit malam di balik kaca jendela kamarnya. Dia teringat kembali perkataan dokter tadi siang. Kalau rasa sakit di kepalanya ini karena besi kecil yang tidak bisa dikeluarkan saat operasi dulu, kini sudah bergeser dari tempatnya dahulu. Benda kecil dan keras itu kini menekan bagian otaknya. Terlalu beresiko jika melakukan operasi. Mau siapapun dokter yang menanganinya nanti pasti akan mengalami kesulitan dan dirinya juga akan punya peluang hidup itu kecil.


"Ya Allah, izinkan aku dan Aulia hidup bahagia walau sejenak. Aku ingin membuatnya bahagia di sisa-sisa hidupku ini. Aku ingin menjadikan dirinya seorang perempuan sempurna," ucap Alvan dengan sangat pelan.

__ADS_1


"Apa aku terlalu berlebihan jika menginginkan dirinya di dunia ini sampai akhirat nanti?" lanjut Alvan.


Dirinya pasrah dengan takdir yang Allah berikan untuknya. Dia hanya perlu menjalani semuanya dengan perasaan ridho dan mengharapkan pahala atas niatnya ini.


Pemuda ini teringat akan sosok Ahmad yang membuat Aulia sulit membuka hati kepada laki-laki lain. Kakek Yusuf pernah cerita kalau Aulia sempat memohon dinikahkan saat keadaan Ahmad sekarat, tetapi laki-laki itu menolaknya dan menyuruhnya mencari pengganti dirinya. Aulia ingin dinikahkan dengan orang yang sebentar lagi akan meninggal dan memilih status yang dipastikan akan menjadi seorang janda, punya alasan kuat. Perempuan itu ini menjadi bidadari untuk Ahmad di akhirat kelak.


Seandainya dia berada dalam posisi yang sama seperti Ahmad, apa yang akan dia pilih? Alvan tentu ingin menikahi dulu wanita yang dicintainya itu dan menjadikan bidadarinya di surga kelak. 


"Tapi, apa itu bisa terjadi kepadaku ada Aulia? Aku tidak sebaik Ahmad dalam tingkat keimanan dan ke pemahaman ilmu agama. Apa aku dijamin langsung masuk surga?" Alvan bertanya-tanya dalam hatinya.


'Ya Allah, jangan cabut nyawa aku sebelum benar-benar pantas menjadi golongan ahli surga.' (Alvan)


"Nggak dosa, 'kan? Aku berharap bisa langsung masuk surga. Meski aku tahu kalau diriku ini belum bisa menjalankan semua perintah Allah. Kalau segala larangan yang ada dalam agama insha Allah, aku sudah berusaha. Meski kadang suka lupa membicarakan rekan-rekan bisnis, eh, orang lain juga," ucap Alvan.


***


Lima hari sebelum pernikahan ….


"Alvan, kamu jangan memaksakan diri. Aku tidak akan memberikan jadwal di luar kantor," kata Yukari menginginkan saudara jauhnya itu.


"Aku ingin jadwal untuk hari lusa di ubah keesokan hari. Aku ingin lusa pergi ke Jakarta," titah sang atasan.


Yukari terkejut mendengar keinginan laki-laki ini. Dia semakin khawatir dengan keadaannya.


"Apa sakitnya semakin sering terjadi?" tanya Yukari dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.


"Hm. Aku harap kamu jangan bilang kepada Aulia. Sebelum semuanya jelas. Karena dokter kenalan aku akan melakukan pemeriksaan dahulu," jawab Alvan.


Air mata Yukari akhirnya jatuh membasahi pipi putih mulusnya itu. Dia dengan kasar menghapus air matanya.


"Apa Ojisan dan Obasan tahu tentang ini?" tanya Yukari dengan suara yang bergetar.


Alvan tersenyum tipis lalu menggelengkan kepala. Dia tidak mau membuat kedua orang tuanya bersedih.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kamu menyembunyikan ini semua dari orang-orang yang kamu sayangi dan cintai!" teriak Yukari sudah tidak sanggup lagi menahan dirinya yang merasa sangat bersedih.


"Karena aku menyayangi dan mencintai mereka, makanya tidak mau memberi tahu semua ini," kata Alvan terjeda sesaat, "untuk saat ini."


***


Sepulang kerja Alvan merasakan kepalanya sakit lagi. Bahkan dia sampai tidak mampu mengangkat kepalanya. Dia kini jatuh tersungkur di atas karpet di kamar tidurnya.


"Astaghfirullah … astaghfirullah. Ya Allah, jadikan rasa sakit ini menjadi penggugur untuk dosa-dosa aku di masa lalu," lirih Alvan menahan erangan karena kesakitan.


'Aulia, bagaimana kabarmu saat ini? Aku rindu padamu.' (Alvan)


Ruangan tempat biasa Alvan tertidur menjadi saksi bisu sang pemilik sedang berjuang menahan rasa sakit yang sedang menderanya saat ini. Sambil merangkak laki-laki itu berusaha menggapai tas kerjanya yang ada di sofa. Dia hendak mengambil obat pereda rasa sakit.


Sementara itu, di rumah calon mempelai wanita. Aulia yang sedang menyiapkan masakan untuk makan malam, tiba-tiba saja menjatuhkan wajan penggorengan yang sedang dia pegang dan menimpa jari-jari kakinya.


"Astaghfirullahal'adzim. Sakit sekali," lirih Aulia sambil memegang kakinya.


"Ada apa, Aulia?" tanya Nenek Halimah yang baru saja datang ke dapur setelah mendengar suara keras dari wajan penggorengan yang tadi.


Aulia yang sedang meringis menahan sakit, kini melihat ke arah wanita tua yang terlihat jelas rasa kekhawatiran di wajahnya. Perempuan itu pun memberi tahu apa yang menimpa dirinya tadi.


"Makanya kamu jangan melamun. Seharian ini kamu terlihat kurang fokus dalam melakukan segala hal. Kenapa?" tanya Nenek Halimah.


'Apa aku harus memberi tahu Nenek, ya?' (Aulia)


***


Apa yang ingin diberi tahu Aulia kepada Nenek Halimah? Apakah Aulia akan tahu kesehatan Alvan yang buruk saat ini? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.


__ADS_1


__ADS_2