Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
Bab 35. Bolu


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian bahagia.


***


Bab 35


     Aulia menerima barang yang diberikan oleh Rangga tanpa bicara sepatah kata apapun. Dia menundukkan kepala untuk menenangkan hatinya. Hal yang dibenci oleh Aulia adalah dirinya tidak bisa melupakan laki-laki di depannya ini. Dia berharap kalau tidak ada rasa apapun lagi saat melihat atau bertemu dengan cinta pertamanya itu. Namun, ternyata masih ada setitik perasaan yang tersimpan di sudut hatinya.


"Ada apa, ya?" tanya kakek Yusuf yang tiba-tiba muncul dibelakang Aulia.


"Assalamu'alaikum, Kakek. Saya hanya mau mengembalikan alat perkakas itu dan mengucapkan terima kasih," jawab Rangga dengan sopan. 


"Oh, apa mobilnya sudah jalan?" tanya kakek Yusuf. Sementara itu, Aulia undur diri ke belakang.


"Iya, sudah. Barusan dibantu juga oleh Mas Ahmad dan temannya," balas Rangga.


"Oh, syukurlah kalau begitu. Hari semakin sore kalau tidak cepat-cepat pulang, nanti kemalaman," ujar kakek Yusuf.


"Saya permisi dulu, Kek. Assalamu'alaikum," pamit Rangga dengan senyum tipisnya.


"Wa'alaikumsalam Warahmatullaahi Wabarakatuh," balas kakek Yusuf.


      Rangga pun pergi meninggalkan pekarangan rumah kakek Yusuf. Dia sesekali melirik ke belakang, berharap bisa melihat perempuan tadi. 


'Ingat Rangga, hanya Aulia yang kamu cintai. Jangan mengganggu atau melihat wanita lain,' batin Rangga.


***


     Fathir dan keluarganya pergi ke Jakarta. Selain mengisi ceramah, mereka juga akan bersilaturahmi ke beberapa pondok pesantren. Sekaligus untuk program kehamilan Ning Aliyah. Berbeda dengan Annisa yang punya acara khusus untuk berkeliling mencari hadiah untuk kado pernikahan temannya.


      Kedua kakak beradik itu sedang menuju ke Pasar Tanah Abang. Annisa ingin lihat-lihat dulu di sana ada barang apa saja.


"Mas Fathir, sudah pergi ke dokter kandungan?" tanya Annisa.


"Sudah," jawab Fathir.


"Lalu, Ning Aliyah nggak ingin ikut jalan-jalan sama kita?" tanya Annisa lagi.


"Ingin istirahat, katanya," balas Fathir.


"Apa Mas Fathir menjalani kehidupan rumah tangga ini dengan bahagia?" Annisa sungguh penasaran.


"Mas jalani semua ini karena Allah. Apakah bahagia atau tidak? Mas tidak bisa menjawab itu. Hanya saja Mas merasa kalau kita ikhlas menjalaninya maka tidak akan terasa berat. Ikuti saja jalan takdir yang dibuatkan oleh Allah untuk kita. Mungkin dengan seiring berjalannya waktu kita akan merasakan hikmah dari kejadian yang sudah kita jalani saat ini atau di masa lalu," ujar Fathir.


"Kalau Mas Fathir merasa tidak bahagia tinggal bercerai saja," ucap Annisa.


"Astaghfirullahal'adzim, Nisa … perceraian adalah sesuatu yang Allah benci. Meski itu dibolehkan. Selama ini Ning Aliyah baik-baik saja sama Mas. Begitu juga sebaliknya. Hanya saja tidak ada rasa cinta dan sayang diantara kita," ucap Fathir.

__ADS_1


"Apa Mas ada niatan berpoligami?" tanya Annisa.


"Apa kamu mau dipoligami oleh suami nanti?" balas Fathir bertanya pada adiknya.


"Tidak mau. Ya, pada dasarnya wanita pastinya tidak mau dipoligami. Hanya wanita spesial yang menginginkan hidup berpoligami dalam kehidupan rumah tangganya," ucap Annisa.


"Satu istri saja belum bisa membahagiakan, kenapa meski tambah istri lagi," kata Fathir.


"Apa Mas sudah mencoba membukakan hati untuk Ning Aliyah?" tanya Annisa penasaran.


"Sudah, hanya saja cinta untuknya belum bisa hadir juga," jawab Fathir.


"Ahk, kenapa dulu kenapa kalian tidak kawin lari saja?" Annisa bicara tanpa dipikir, terucap begitu saja.


"Iya juga, ya. Aulia 'kan sudah tidak punya wali di keluarganya. Pakai wali hakim saja?" balas Fathir tersenyum mesem.


Pletak!


      Kening Annisa di sentil pakai jari oleh Fathir. Annisa pun mengaduh ke sakitan.


"Sakit, Mas Fathir!" 


"Gemes sama cara berpikir kamu. Meski Mas dan Aulia bisa melakukan kawin lari, lalu nanti bagaimana dengan pesantren, Ustadz Yusuf, dan perkataan orang-orang. Bahkan Aulia sendiri juga menolaknya," kata Fathir.


"Apa? Jadi, dulu Mas pernah ngajak Aulia untuk kawin lari?" tanya Annisa tidak percaya.


***


      Ahmad memandangi bolu lapis Surabaya yang Aulia buatkan khusus untuknya dan bolu yang katanya bolu spons(sponge). Ahmad malah merasa sayang untuk memakan bolu itu. 


"Mas Ahmad, tumben bolunya di pandangi terus, tidak langsung di makan?" tanya salah seorang pegawai di tokonya.


"Iya, tumben nggak langsung bagi-bagi," lanjut pegawai lainnya.


"Ini bolu apa? Tumben bentuknya bulat," tanya Iqbal.


"Katanya bolu spons," jawab Ahmad sambil tersenyum geli.


"Wah, ini buatan calon istri si Bos. Kalian tidak akan punya jatah!" seru Iqbal dan membuat para pekerja kecewa.


"Kalau kalian mau, boleh … beli. Titip ke tukang … kamu yang beli saja ke sana. Tidak enak kalau sampai ketahuan sama Aulia beli bolu lagi. Padahal dia sudah kasih dua bolu ini," ucap Ahmad.


      Sebenarnya, Ahmad bukan tidak mau berbagi bolu itu. Tapi dengan pekerjaan yang berjumlah banyak, pasti dia akan kebagian sedikit. Dia juga kalau beli bolu itu tiga sampai empat loyang. 


"Iya, itu bolu bisa kamu makan sampai malam. Apalagi yang bentuk bulat itu, kayaknya enak wangi lagi," ucap Iqbal.


     Saat Ahmad dan Iqbal bicara ada pesan masuk dari kakek Yusuf. Dia menanyakan apa bolunya sudah sampai di antarkan oleh tukang ojek.

__ADS_1


"Ustadz Yusuf mengirim pesan. Pasti ini atas permintaan Aulia," kata Ahmad gugup sambil menunjukan pesan itu pada Iqbal.


"Jawab dong, Bos. Jangan lupa ucapkan terima kasih cinta," balas Iqbal menggoda Ahmad.


Alhamdulliah, sudah sampai, Ustadz. Sampaikan terima kasih banyak kepada Aulia.


^^^Apa suka sama bolu sponsnya?^^^


"Ya Allah, aku belum coba," ucap Ahmad. Lalu dia pun cepat-cepat memotong bolu itu.


"Bismillah."


"Ya Allah ini empuk dan lembut banget, enak lagi rasanya," lanjut Ahmad.


Masya Allah, enak sekali rasanya. Strukturnya juga lembut. Saya sangat suka.


^^^Syukurlah kalau kamu suka.^^^


      Ahmad benar-benar menyukai bolu spons itu. Bahkan di menghabiskan setengahnya karena sedang lapar juga. Bolu yang dia makan belum di pasarkan oleh Aulia di tokonya. Pegawai yang pergi ke sana sudah menanyakan tadi.


      Saat Ahmad sedang asik makan bolu spons. Rangga berkunjung ke tokonya mau membeli air mineral untuk dalam perjalanan pulang.


"Mas beli air mineral satu dus," pinta Rangga.


"Eh, Rangga?" panggil Ahmad dengan senyum lebarnya.


"Eh, Mas Ahmad," balas Rangga. Mata Rangga menangkap bolu spons yang ada di depan Ahmad. 


"E, kenapa?" tanya Ahmad.


"Melihat bolu spons itu, jadi teringat sama Aulia, kekasihku. Aku sangat suka bolu spons buatannya," jawab Rangga.


"Wah, benarkah? Nama kekasih Rangga juga bernama Aulia?" Ahmad tersenyum geli.


"Iya," balas Rangga.


"Apa, setiap gadis yang bernama Aulia itu pintar membuat bolu, ya?" tanya Iqbal yang tiba-tiba ikut nimbrung sambil membawakan satu dus air mineral pesanan Rangga.


     Ketiga pemuda itu malah tertawa terkekeh. Tanpa mereka tahu kalau gadis yang bernama Aulia itu adalah orang yang sama.


     Saat Rangga meletakan handphone miliknya dan mengeluarkan dompet. Terlihat dilayar itu foto Rangga dan Aulia yang sedang tersenyum lebar. Hanya saja yang melihat itu adalah Iqbal.


'Cantik sekali kekasihnya, Rangga.'


***


Penasaran nggak kelanjutannya? Aku selalu buat cerita yang panjang, tapi nggak suka berputar-putar, mending banyak konflik datang silih berganti demi tujuan tokoh utama agar lebih baik atau hebat lagi. Insha Allah aku akan buat 2 season cerita di novel ini. Season 1 perjalanan cinta Aulia. Season 2 perjalanan cinta Annisa. Tentu dengan cerita yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2