Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 116. Alvan Menjalani Operasi


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 116


Aulia, sangat terkejut saat mendengar kalau Alvan saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Handphone yang sedang dia genggam jatuh tanpa disadari olehnya. Air mata jatuh membasahi pipi seiring dengan tubuhnya yang jatuh terduduk di lantai. Detik berikutnya gadis itu jatuh tidak sadarkan diri.


"Astaghfirullahaladzim, Aulia apa yang terjadi kepadamu, Nak!"teriak Nenek Halimah begitu melihat anak angkatnya tergeletak di lantai.


Kakek Yusuf pun datang menghampiri begitu terdengar teriakan wanita tua itu. Dia juga terkejut saat melihat Aulia sedang berada dalam pangkuan istrinya.


"Ada apa ini, Bu? Kenapa dengan Aulia?" tanya laki-laki tua itu sambil mengangkat tubuh putri angkatnya.


"Ibu juga tidak tahu, Pak. Tadi terdengar suara sesuatu yang jatuh, begitu dilihat ternyata Aulia sudah tidak sadarkan diri," jelas Nenek Halimah sambil membetulkan letak kaki Aulia agar terlihat nyaman.


Setelah digosok dengan minyak kayu putih, Aulia pun mulai tersadar. Dia pun menceritakan kabar yang baru saja dia terima dari Yukari. Kakak Yusuf dan Nenek Halimah suka terkejut mendengar keadaan kesehatan Alvan saat ini.


Mereka bertiga langsung pergi menuju Rumah Sakit Muara Kasih di mana Alvan ini berada. Perasaan Aulia yang belakangan ini merasa tidak tenang dan selalu memikirkan Alvan terbukti. Ternyata saat ini kesehatan laki-laki itu dalam keadaan tidak baik-baik saja. Masih dengan berderai air mata gadis itu mengajukan mobilnya secepat yang dia bisa. Bahkan Kakek Yusuf beberapa kali mengingatkan dia agar selalu tenang.


"Istighfar, Aulia. Kamu harus bisa menenangkan hati dan pikiranmu saat ini," kata Kakek Yusuf mengingatkan gadis itu.


"Astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim," lirih Aulia terus mengucapkan kalimat dzikir. Dia pun konsentrasi kembali dan mencoba menenangkan hati dan pikirannya saat ini.


Tidak sampai 30 menit Aulia sampai di rumah sakit. Terlihat ada mami Siska dan Yukari yang sedang duduk dengan wajah yang sendu. Terlihat jelas garis kesedihan dari raut muka mereka dengan mata yang sebab dan hidung memerah.


"Mami, bagaimana saya mau ini bisa terjadi?" tanya Aulia begitu tiba di sana.


"Mami juga baru tahu hari ini kalau selama ini, Alvan menahan rasa sakit di kepalanya jawab mobil Siska sambil memeluk tubuh sang calon menantu.


Aulia pun mendengarkan secara detail dari  Yukari yang tahu keadaan Alvan selama ini. Bahkan gadis keturunan Jepang itu meminta maaf sambil menangis tersedu-sedu karena sudah menyembunyikan hal ini atas keinginan Alvan sendiri.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Papi Kenzo datang jangan senang di wajahnya. Lalu, dia berkata, "Dokter Ghazali bersedia menangani Alvan!"


"Alhamdulillah, kapan kita akan pergi ke ibu kota?" tanya Mami Siska.


"Sekarang dia meminta kita untuk segera datang ke sana. Saat ini sebuah helikopter sudah dikirimkan ke sini," jawab Papi Kenzo dengan mata berbinar.


"Alhamdulillah, Ya Allah lancarkanlah segala urusan ini," pinta Aulia dalam doanya.


***


Alvan pun dibawa ke Rumah Sakit Harapan yang ada di ibukota dengan menggunakan helikopter yang dikirim langsung oleh pihak rumah sakit sana. Begitu sampai di sana ternyata Dokter Ghazali sudah menunggu bersama dengan timnya. Setelah memeriksa keadaan calon suami Aulia ini, mereka pulang memutuskan untuk melakukan operasi di hari itu juga. Operasi berjalan sangat lama dari pukul 10.00 pagi sampai pukul 12.00 malam. Hari ini dikarenakan posisi besi yang ada di kepala Alvan sangat rawan. Ada beberapa dokter yang bergiliran melakukan operasi itu. 


Selama berlangsungnya operasi semua orang yang menunggu di depan ruangan itu tiada hentinya berdoa. Apalagi Aulia yang sejak tadi air matanya tidak bisa berhenti bahkan kini matanya telah berubah merah dan juga.


"Kamu jangan terus menangis, kasihan alvan. Begitu sadar dan melihat wajahmu yang sangat kacau pasti dia akan merasa bersalah," ucapkan Yukari sambil mengelus punggung Aulia yang sedang bersandar kepada Nenek Halimah.


Akan tetapi air mata Aulia tetap saja tidak mau berhenti. Diri sendiri juga tidak ingin membuat Alvan bersedih saat melihat dirinya nanti.


"Kakek Yusuf dan Nenek Halimah, sebaiknya beristirahat di hotel yang ada di dekat rumah sakit," kata Mami Siska.


Aulia pun mengajak Kakek Yusuf dan Nenek Halimah untuk beristirahat di hotel. Dia tidak mau kedua orang tua itu sakit karena kurang istirahat dan terkena angin malam. Untungnya semua fasilitas dipermudahkan oleh pihak keluarga Hakim. Semua atas rekomendasi Raihan kepada keluarganya.


***


Dua hari sebelum pesta pernikahan ….


Semenjak tidak sadarkan diri sampai saat ini Alvan belum juga sadar. Tentu saja ini membuat semua orang yang menyayanginya merasa cemas.


"Kalian tenang saja, semua berjalan dengan lancar. Tinggal menunggu kesadaran dari pihak Alvan sendiri. Jika mengingat kondisi tubuh Alvan dalam keadaan baik, hari ini atau besok lusa ada kemungkinan dia baru akan tersadar," ucap Dokter Ghazali setelah memeriksa keadaan Alvan.


"Terima kasih Dokter karena sudah bersedia melakukan operasi untuk Alvan," balas tapi kerja sambil menjabat tangan laki-laki berparas tampan itu.

__ADS_1


Saat mereka berkumpul di ruang rawat inap di mana Alvan berada tiba-tiba saja ada yang membuka pintu dari luar. Dilihat wanita cantik bermata biru bersama putrinya yang baru beranjak remaja dengan memiliki kornea mata yang sama dengan kedua orang tuanya.


"Assalamualaikum, maaf mengganggu sebentar," kata wanita berparas campuran itu.


"Kenalkan ini adalah istri saya," ucapkan Dokter GhAzali sambil merangkul istrinya dan tersenyuman cantik.


Tatapan Aulia beradu pandang dengan anak remaja yang merangkul dengan Dokter Ghazali. Keduanya saling terdiam seolah merasa Dejavu.


"Kakak cantik yang dulu ada di depan masjid, ya?" tanya gadis remaja itu.


Aulia teringat dengan bocah kecil cantik bermata biru yang pernah ditemuinya di depan masjid saat dia hendak pergi ke rumah Kakek Yusuf (Aqilah pernah muncul di bawah saat Aulia menunggu Kakak Yusuf dan Gus Fathir sedang sholat)


"Aqilah?" ucap Aulia ragu-ragu.


"Iya ini aku. Kakak masih ingat dengan nama aku, ya?" Putri dokter Ghazali pun langsung berjalan ke arah Aulia dan memeluknya.


Aulia mana mungkin lupa gadis kecil cantik seperti boneka yang bertanya kepadanya dulu, "Kenapa tidak shalat?"


"Senang bisa bertemu denganmu kembali ternyata sekarang kamu sudah besar," ucap Aulia dengan meneteskan air matanya karena teringat dengan calon bayinya yang meninggal dulu.


Aulia dan Aqilah menceritakan kisah pertemuan pertama mereka dahulu. Hal ini malah menjadi pengikat hubungan mereka dengan keluarga Dokter Ghazali menjadi lebih harmonis.


Alvan mendapatkan perawatan terbaik dari rumah sakit itu dengan peralatan canggih yang mereka buat di Amerika bersama para ahli kesehatan lainnya. Hal inilah yang membuat Dokter Ghazali bisa melakukan operasi terhadap Alvan.


***


Adakah yang ingat saat pertemuan pertama Aulia dan Aqilah dulu 😁😁. Part itu sengaja aku buat, untuk alasan ini 🤭. Apakah Alvan akan cepat sadar atau tidak? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya


__ADS_1


__ADS_2