
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Alon-alon biar nggak gagal paham. Semoga hari kalian bahagia.
***
Bab 22
Pagi hari setelah berjamaah sholat subuh, Aulia dan Nenek Halimah membicarakan masalah semalam. Meski hatinya sudah lebih tenang, garis kesedihan masih terlihat di wajah Aulia. Matanya juga bengkak bekas menangis semalam.
"Katanya keluarga ndalem semalam sudah membicarakan khitbah dari Gus Fathir. Keinginan Gus untuk menikahi kamu begitu kuat, Nyai Khadijah, dan Annisa juga mendukungnya. Meski banyak orang yang menentang keputusan itu," ucap nenek Halimah.
"Aulia merasa tidak pantas untuk menjadi pendamping Gus Fathir, Nek. Aulia merasa terbebani dengan status istri seorang Gus, jika nanti menikah," balas Aulia.
"Kamu, tidak boleh berpikiran seperti itu. Jika, Allah sudah berkehendak menjodohkan dirimu dengan Gus Fathir, kita semua tidak akan bisa merubahnya," ujar nenek Halimah.
"Aulia berharap Allah memberikan jodoh seorang lelaki, yang keluarga besarnya tidak mempermasalahkan masa lalu itu," tukas Aulia dengan tatapan sendu.
"Semoga Allah memberikan jodoh terbaik untuk kamu, di dunia sampai akhirat." Nenek Halimah memeluk tubuh Aulia.
Tidak lama kakek Yusuf pulang dari masjid. Dia pun mengajak Aulia membicarakan hal semalam yang diberitahu oleh Kiai Akbar padanya lewat telepon.
"Nak, semalam Kiai Sholeh menelepon, dia meminta tolong untuk menyampaikan permintamaafan kepada kamu. Selama ini, dia mencari kamu atas permintaan lelaki bernama Rangga. Keinginan pemuda itu untuk menikahi kamu masih ada. Apa kamu akan kembali pada kekasih kamu itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya?" tanya kakek Yusuf.
"Sepertinya Aulia tidak bisa jika harus kembali menjalin hubungan dengan Kak Rangga. Kedua orang tuanya jelas-jelas menentang hubungan kami. Aulia tidak mau membangun rumah tangga yang sudah punya masalah dengan mertua sejak masih awal. Pastinya nanti rumah tangga kami akan kacau. Bukannya kita berumah tangga itu harus dengan niat mengharap Karunia dan Ridho-Nya, agar kehidupan kita selalu berada dalam Keberkahannya?" jawab Aulia dengan menatap wajah teduh kakek Yusuf.
"Alhamdulillah, kalau kamu berpikir seperti itu. Jadi, dengan begini Kakek akan bilang kalau Kiai Sholeh tidak boleh memberi tahu Rangga tentang keberadaan kamu di sini," ujar kakek Yusuf sambil tersenyum.
"Aulia juga berharap seperti itu. Apalagi dia sudah punya tunangan," balas Aulia.
"Jadi, Rangga sudah punya tunangan?" tanya kakek Yusuf tak percaya.
__ADS_1
"Iya, Kek. Dulu Aulia mau ikut sama Kakek juga salah satu alasannya karena Kak Rangga bersikukuh ingin mengajak menikah," jawab Aulia malu karena membongkar alasannya, ternyata ada udang dibalik batu. Kakek Yusuf pun tertawa sambil mengusap kepala Aulia.
"Terus Kiai Akbar juga bilang, kalau Gus Fathir bersikukuh ingin mengkhitbah kamu. Apa kamu masih bersedia untuk diperistri olehnya?" tanya kakek Yusuf. Terlihat rona merah menghiasi pipi Aulia.
Belum juga Aulia menjawab pertanyaan dari Kakek Yusuf. Di depan rumah terdengar teriakan orang-orang. Hal ini membuat terkejut para penghuni rumah. Kakek Yusuf pun bergegas melihat ke teras.
"Ada apa ini?" tanya kakek Yusuf setelah membukakan pintu dan melihat banyak orang yang datang.
"Kami datang ke sini meminta agar Ustadz Yusuf jangan menikahkan Gus Fathir dengan Aulia!" kata seseorang dengan lantang.
"Benar!" seru warga lainnya.
"Iya, benar. Kami tidak setuju!" teriak yang lainnya saling bersahutan.
"Kenapa kalian berlaku seperti ini. Mana adab bertetangga, kalian!" ujar nenek Halimah yang datang menyusul bersama Aulia.
"Maaf Ustadzah, pela_cur itu tidak pantas jadi seorang istri Gus!" teriak laki-laki yang berdiri paling depan.
"Jangan bicara sembarangan, kamu!" bentak kakek Yusuf sangat marah mendengar hinaan untuk Aulia.
"Lalu, apa sebutan yang pantas untuk seorang pezina ini kalau bukan pela_cur?" tanya perempuan yang bernama Sumi, tetangganya kakek Yusuf.
"Jaga mulut kamu, Sumi!" hardik nenek Halimah sangat marah. Wanita tua yang biasanya bertutur kata dengan lembut kini berteriak.
"Apa yang dikatakan oleh Bu Sumi itu benar, Ustadzah. Jangan bela dan lindungi perempuan hina itu!" seru seorang ibu-ibu yang berdiri di samping bu Sumi.
"Benar, Ustadzah. Ini malah akan mencoreng nama baik kampung kita yang terkenal akan kebaikan akhlaknya," tukas laki-laki paruh baya.
"Akhlak baik, kata kamu! Lalu perbuatan kalian saat ini apa pantas disebut dengan orang yang berakhlak baik?" tanya kakek Yusuf menyindir.
__ADS_1
"Ini karena kami tidak setuju kalau perempuan itu menerima pinangan dari Gus Fathir," jawab laki-laki tadi.
"Setidaknya kalian jangan melakukan hal seperti ini. Datang baik-baik, kita bicarakan baik-baik, dan kita musyawarah bersama," ujar kakek Yusuf dan semua orang pun diam.
"Lalu, tidak sepantasnya kalian menghina Aulia dengan sebutan tadi. Seorang mukmin tidak boleh mencela mukmin yang lain karena kesalahannya, karena perbuatan dosa yang telah terjadi. Bisa jadi orang yang kalian hina belum tentu dia itu hina di mata Allah. Bisa saja dia lebih mulia di hadapan Allah," tukas nenek Halimah.
Semua orang terdiam. Mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengarkan kata-kata dari kakek Yusuf dan nenek Halimah. Semua orang di suruh masuk ke rumah dan membicarakan masalah itu.
***
Ternyata tidak beda jauh di lingkungan pesantren. Para santri mendatangi ndalem dan menolak kalau Gus Fathir ingin menikahi Aulia. Mereka protes tidak mau menjadikan seorang pela_cur sebagai istri dari calon penerus pimpinan pondok.
"Kami menolak keinginan Gus Fathir untuk menikahi Aulia!" teriak santri laki-laki.
"Benar tidak sepantasnya seorang Gus calon pemimpin pondok Pesantren Al-Ikhlas menikah dengan seorang pela_cur," ujar lainnya lagi.
"Cari muslimah sholehah sebagai istri Gus Fathir," kata santri dan diikuti yang lainnya.
Keluarga ndalem terkejut dengan kedatangan santri setelah mereka selesai mengaji. Tentu hal ini membuat penghuni ndalem merasa tidak nyaman. Apalagi Kiai Akbar belum pulang ke rumah sejak pergi berjamaah tadi.
"Kenapa kabar beredar dengan sangat cepat?" tanya Nyai Khadijah dari balik jendela.
"Ini pastinya ada yang comel, Umma. Bukannya semalam Umma meminta jangan sampai berita ini keluar pada warga dan santri. Tapi, lihat ini! Pastinya ada yang membicarakan pertemuan keluarga kita dan mengatakan yang enggak-enggak. Apa tadi katanya? Pela_cur? Emang semalam ada yang bicara seperti itu?" Annisa sewot karena emosi.
"Tidak ada. Ini sudah jadi fitnah. Harus diselidiki, siapa yang sudah menyebarkan berita bohong ini?" geram Fathir.
"Menurut Mas Fathir, siapa yang sudah menyebarkan fitnah ini?" tanya Annisa.
***
__ADS_1
Siapakah yang sudah membuat situasi semakin kacau. Bagaimana hubungan Aulia dan Fathir kedepannya? Baca kisah mereka di bab selanjutnya?