Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 138. Cinta Kakek dan Nenek


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 139


Kakek Yusuf dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Aulia dan Nenek Halimah ikut menyertai ke sana. Ada perasaan takut kehilangan menyusup pada relung hati kedua wanita beda generasi itu. Beberapa alat medis dipasang untuk membantu Kakek Yusuf. 


Nenek Halimah duduk di samping suaminya. Dia menggenggam tangan sang belahan jiwa. Mulutnya tiada berhenti berdoa, melantunkan shalawat, dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang masih dihafal olehnya. 


Sementara itu, Aulia duduk di seberang dan dia berdoa sambil menangis. Rasa cinta dan sayang dia kepada Kakek Yusuf tidak beda jauh dengan kepada bapaknya. Dia sudah menganggap kedua orang manula ini sebagai kedua orang tua yang dia hormati, sayangi, banggakan, dan dicintai olehnya.


"Ananta, bagaimana keadaan Kakek?" Alvan langsung datang ke rumah sakit begitu mendapat kabar kalau Kakek Yusuf masuk ke rumah sakit.


Aulia tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya menangis, lalu memeluk laki-laki itu. Tidak perlu ucapan untuk mengetahui kondisi Kakek Yusuf saat ini. Dilihat dari reaksi Aulia dan sikap Nenek Halimah, saat ini.


Alvan teringat akan ucapan Kakek Yusuf seminggu yang lalu saat mereka pulang dari masjid selepas sholat Isya. Saat itu malam sangat cerah dan langit di penuhi oleh Bintang. Bahkan bangak rasi bintang terlihat dengan jelas.


Flashback on,


"Alvan, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah," ucap Kakek Yusuf yang berjalan sambil dituntun oleh suami dari Aulia.


"Iya, Kek. Doakan aku dan Aulia agar bisa jadi orang tua yang hebat dan mampu mendidik, menjaga, dan mengurus anak-anak kami, nanti." Alvan membalas perkataan laki-laki tua itu sambil tersenyum tipis, tetapi jelas sekali mengisyaratkan rasa kebahagiaan dia saat ini.

__ADS_1


"Kakek selalu mendoakan kebaikan dan kebahagiaan keluarga kalian setiap berdoa. Kakek hanya ingin berpesan kepadamu, jagalah Aulia dan buatlah dia bahagia. Perempuan malang itu terlihat kuat dan tegar, walau sebenarnya dia itu rapuh. Biasanya dia akan berlari kepada kami jika ada sesuatu. Sekarang sudah ada kamu yang bisa diajaknya berbagi. Janganlah kamu merasa kesal atau marah saat mendengar cerita atau aduan darinya. Bagaimanapun juga dia adalah seorang perempuan yang butuh perlindungan dan dukungan dari orang terdekat. Meski Aulia bukan perempuan yang rewel apalagi suka berkeliaran tidak jelas di luar rumah, tetapi dia juga butuh hiburan agar tidak merasa suntuk atau bosan dalam hidupnya. Hiburan untuk Aulia kamu sendiri tahu seperti apa," kata Kakek Yusuf sambil tertawa kecil.


"Iya, Kek. Datang dan duduk-duduk di alun-alun kompleks saja bagi Aulia itu sebuah hiburan," balas Alvan tertawa.


"Iya. Aulia itu orangnya sederhana. Kakek sekarang merasa tenang, karena sudah ada kamu yang menjadi pendamping hidupnya," lanjut laki-laki yang umurnya hampir satu abad.


"Jika terjadi sesuatu masalah di dalam rumah tangga, kamu jangan main tuduh apalagi main pukul. Bicarakan baik-baik dengan kepala dingin. Jika terjadi sesuatu kepadanya, kakek harap kamu mau membantunya tanpa dia minta tolong," tambah Kakek Yusuf saat menginjakkan kaki di teras rumah.


"Insha Allah, Kek. Aku akan melakukan yang terbaik untuk istriku," balas Alvan sambil membuka pintu.


Flashback off.


Alvan tidak menyadari bahwa itu adalah pesan untuk dirinya dari Kakek Yusuf, karena dia merasa sudah tidak akan sanggup menjadi pendamping Aulia lebih lama lagi dalam kesehariannya. Air mata Alvan ikut meleleh saat melihat gerak bibir dari Kakek Yusuf. Dia pun mendekat dan mendengarkan apa yang sedang diucapkan oleh laki-laki tua itu.


"Allah … Allah … Allah." Itulah kata yang keluar dari mulut Kakek Yusuf.


"Kakek, aku kini sudah semakin dewasa. Ada Alvan juga yang akan menemaniku. Kakek jangan mencemaskan aku lagi," ucap Aulia dengan tangan dia sesekali menyentuh wajah tua berkeriput tetapi bersih dan bercahaya. Aulia sering menggoda Kakek Yusuf itu adalah laki-laki tua yang ganteng. Dan sering bilang jika seumuran pasti akan jatuh cinta dan mengejar-ngejarnya. Ini yang selalu membuat dia dan istrinya tertawa.


"Kakek, aku ucapkan banyak terima kasih. Karena begitu banyak hal yang sudah Kakek berikan kepadaku. Meski aku tidak akan pernah bisa membalas semua hal yang telah Kakek lakukan untukku." Akhirnya, Aulia tidak bisa menahan suara tangisannya lagi.


Alvan yang duduk di samping Aulia langsung memeluknya. Dia tahu istrinya saat ini sedang sedih.


Kondisi Kakek Yusuf semakin menurun dan dokter sudah memberi tahu tidak akan ada harapan lagi. Nenek Halimah sampai jatuh pingsan saat mengetahui keadaan suaminya yang semakin memburuk. Jika, beberapa hari sebelumnya dia merasakan tubuh sang suami itu panas, kini badan Kakek Yusuf sangat dingin dan berkeringat dingin juga.

__ADS_1


Nenek Halimah berbaring di brankar yang sengaja di sandingkan dengan brankar Kakek Yusuf. Kini, Aulia dihadapkan dengan kedua orang yang dia sayangi sedang berbaring tidak berdaya.


"Nenek, nenek harus kuat. Jangan tinggalkan Aulia," lirih wanita hamil itu dengan mata yang sudah membengkak karena sejak tadi menangis terus. Kini Aulia memeluk wanita yang sudah memakai alat bantu pernapasan.


Keluarga Rangga dan Keluarga mertuanya sudah tiba ke rumah sakit. Mereka langsung datang saat diberi tahu keadaan Kakek Yusuf tadi. Bahkan Ning Annisa yang merupakan murid Nenek Halimah dulunya juga sudah datang bersama suami dan mertuanya. Mutiara dan Iqbal juga datang ke rumah sakit. Mereka datang dengan menggunakan helikopter agar bisa sampai dengan cepat dan tidak terjebak macet.


"Terima kasih sudah bersedia datang menjenguk Kakek Yusuf dan Nenek Halimah ke sini. Saya mewakili mereka berdua untuk minta maaf atas segala kesalahan yang pernah mereka perbuat kepada kalian. Baik yang di sadari atau tidak. Apakah kalian semua mau memaafkan mereka berdua?" Aulia berbicara dengan suaranya yang bergetar sambil menahan isak tangis.


"Kami memaafkan semua salah dan khilaf Kakek Yusuf dan Nenek Halimah. Walau yang benarnya, kamilah yang seharusnya meminta maaf kepada mereka berdua. Tidak pernah sekalipun Kakek Yusuf dan Nenek Halimah menyakiti kami. Baik dari ucapan ataupun perbuatan," ucap Papa Damar.


"Itu benar, mereka tidak pernah berbuat buruk kepada kami, justru selalu mengajak kami pada kebaikan dan mengingatkan kami jika kami khilaf," lanjut Pak Hasan.


Kata-kata mereka berdua dibenarkan oleh yang lainnya. Hati Aulia merasa lebih tenang meski hanya sedikit. Dia juga bertanya apakah ada hutang yang belum dibayar atau ditunaikan oleh keduanya. Mereka menjawab tidak ada hutang sama sekali.


Aulia dan Alvan membimbing Kakek Yusuf dan Nenek Halimah mengucapkan kata tauhid saat mendengar napas mereka mulai memberat.


"Laa ilaha illallah."


Meski pelan keduanya masih bisa mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Kakek Yusuf dan Nenek Halimah. Meski berusaha menguatkan diri, tetap saja Aulia tidak sanggup. Saat terdengar suara dentingan cukup keras dari monitor pendeteksi jantung, itu membuat wanita hamil itu jatuh tidak sadarkan diri. Tanpa dia tahu kalau sang nenek juga menyertai kepergian belahan jiwanya. Seakan mereka tidak mau terpisahkan.


***


😭 Pasti berat kehilangan dua orang yang kita sayangi sekaligus. Bagaimana keadaan Aulia? Tunggu bab selanjutnya.

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.



__ADS_2