
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 92
Alvan memasang wajah cemberut karena Aulia datang kesiangan. Tadi dia terus menghubungi wanita ini, karena asyik tinggal di kampung dan lupa pada dirinya.
"Tuan, maafkan aku. Tadi selepas mengaji aku ketiduran. Mungkin karena aku kelelahan habis melakukan perjalanan jauh," kata Aulia jujur.
Seharian kemarin dirinya bersama Ning Annisa dan Mutiara di rumah sakit sampai habis jam besuk. Lalu, pulang dengan menggunakan penerbangan di malam hari. Begitu sampai di rumah dia langsung tidur. Namun, entah kenapa saat pagi hari dia tertidur tanpa sadar.
Alvan hanya meliriknya saja dan melanjutkan pekerjaannya memeriksa dokumen yang sudah menumpuk di meja miliknya sejak kemarin lusa. Tidak ada Aulia di dekatnya membuat dia kurang bersemangat. Sudah satu tahun lebih perempuan itu menjadi asistennya, sehingga sudah terbiasa dengan kehadirannya.
Pintu diketuk oleh seseorang dari luar dan Alvan pun menyuruhnya masuk. Terlihat ada Yukari membawakan sebuah berkas.
"Pak bos, ini berkas yang diminta kemarin, milik Amelia," kata perempuan berwajah oriental.
"Terima kasih. Tolong kamu hubungi dia dan suruh datang besok ke sini!" perintah Alvan pada sekretarisnya.
"Baik Tuan," balas Yukari.
Aulia dan Yukari saling beradu pandang. Gadis berdarah Jepang itu mengedip-ngedipkan matanya dan tersenyum memberi kode.
'Ada apa, ya?' tanya Aulia dalam hatinya. Dia penasaran dengan sikap Yukari barusan.
Alvan pura-pura mengabaikan Aulia, dia ingin tahu seberapa berharga dirinya bagi wanita itu. Sebab, selama ini gadis itu terlihat peduli kepadanya, tetapi tidak membalas perasaannya.
Handphone milik Alvan berdering dan menampilkan nama yang dia kenal. Lalu, dia pun mengangkat panggilan itu.
"Assalamu'alaikum, Amelia," salam Alvan dengan sopan dan senyum tampan menghiasi wajahnya.
Biasanya Aulia selalu tidak mau tahu siapa yang sedang berbicara dengan laki-laki itu. Namun, mendengar nada suara dan ekspresi wajah yang lain dari biasanya membuat dia ikut memperhatikan tanpa sadar.
"Iya. Selamat, ya! Aku tunggu ke datangan kamu besok," balas Alvan dengan mata yang melirik ke arah Aulia.
__ADS_1
Laki-laki itu tersenyum geli saat melihat Aulia sedang menatap ke arah dirinya saat ini. Dia malah sengaja berbicara dengan penuh perhatian kepada lawan bicaranya. Bahkan semakin terdengar mesra suaranya.
'Siapa orang yang sedang berbicara dengan Alvan? Kenapa dia bicaranya seperti itu?' (Aulia)
Merasa sudah tidak sopan karena ikut mendengarkan pembicaraan orang lain, maka Aulia pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Kini dia tidak bisa fokus seperti biasanya dan pekerjaannya pun terasa lelet.
***
"Tuan, apa ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Aulia setelah dia mengantarkan pulang Alvan.
"Tidak ada. Pulanglah dan istirahat saja," jawab Alvan, lalu pergi melangkah ke kamar mandi. Namun, saat hendak membuka pintu kamar mandi, Alvan pun membalikan badannya.
"Mulai besok kamu tidak perlu datang ke sini. Langsung saja ke kantor," kata Alvan sebelum masuk ke kamar mandi.
Aulia hendak bicara, tetapi Alvan keburu masuk ke dalam. Dia merasa tidak hati saat ini. Dadanya juga terasa sakit karena perlakuan Alvan kepadanya seharian ini sangat berbeda jauh dari biasanya.
'Apa dia sangat marah kepada aku karena tadi kesiangan?' (Aulia)
***
Keesokan harinya Aulia sangat terkejut saat melihat ada seorang perempuan berjilbab sedang berbicara dengan Alvan begitu akrab. Kedua orang itu mengalihkan perhatian kepadanya.
"Wa'alaikumsalam," balas kedua orang itu.
Aulia pun berjalan ke arah mejanya hendak menyimpan tas di samping meja. Namun, langkahnya terhenti karena mendengar ucapan dari atasannya.
"Tunggu Aulia. Mulai hari ini posisi kamu akan di gantikan oleh Amelia. Untuk sementara waktu kamu akan menjadi asisten Mario. Meja kerja sudah di sediakan di sana, kamu bisa langsung datang ke sana," kata Alvan.
Aulia merasa ada batu besar yang menghantam dirinya. Dia tidak percaya kalau Alvan akan memperlakukan dirinya seperti ini. Rasanya dia ingin meminta penjelasan kepadanya. Kenapa dirinya diperlakukan seperti ini?
"Baik, Tuan." Aulia pun pergi meninggalkan ruangan itu dengan ratusan pertanyaan dalam pikiran dan hatinya.
Saat Aulia berjalan menuju ruangan Mario yang ada di ujung, dia mendengar celetukan dua orang pekerja di bagian cleaning service. Kedua orang itu sedang bergosip.
"Maksud kamu, perempuan berhijab pink muda tadi adalah kekasih Pak Alvan?" tanya wanita berambut diikat.
__ADS_1
"Iya. Orang-orang bagian HRD pada heboh sejak hari kemarin lusa. Perempuan itu menyerahkan berkas lamaran karena mendapatkan rekomendasi dari Pak Alvan secara langsung. Begitu katanya," ucap teman yang lainnya.
Aulia yang mendengarkan percakapan mereka menganggap kau perempuan tadi punya hubungan dengan Alvan. Jika dilihat dari wajahnya yang asli Indonesia ada beberapa kemungkinan. Apakah dia saudara dari Mami Siska atau orang lain yang berarti dalam hidup Alvan.
'Bukannya dia dulu bilang ingin meminang aku? Apa perasaannya sudah goyah dan mencari perempuan lain?'
Aulia bicara dalam hatinya sambil berjalan menuju ke ruangan Mario. Dia berjalan dengan tidak fokus, karena sambil menundukkan kepala, sehingga tidak tahu kalau ada orang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Perempuan itu pun menabrak tubuh laki-laki yang sedang memegang berkas, sampai jatuh berhamburan.
"Maaf. Aku tidak sengaja," kata Aulia, langsung segera memunguti kertas yang berjatuhan di lantai.
"Aulia?" Mario terkejut karena orang yang sudah menabraknya itu adalah asisten kesayangan tuannya.
"Maaf, Mario. Aku berjalan sambil menunduk dan tidak memperhatikan keadaan di depanku," ujar Aulia dengan rasa penuh penyesalan.
"Aku tidak apa-apa. Kamu mau pergi ke mana?" tanya Mario.
"Ke tempat kerjaku sekarang," jawab Aulia dengan suara yang pelan.
"Di mana? Kamu sudah tidak bekerja lagi di ruangnya Alvan?" Mario mengajukan beberapa pertanyaan secara bersamaan.
Ditanya seperti itu oleh Mario membuat Aulia mengerutkan kening. Dia sendiri tidak mengerti kenapa Alvan menyuruhnya bekerja bersama Mario. Sementara itu, Mario malah mengajukan pertanyaan kepadanya seakan dia tidak tahu.
Aulia pun menganggukkan kepalanya beberapa kali. Lalu, dia menyerahkan kertas bekas yang berhasil dia kumpulkan kepada Mario.
"Terima kasih."
"Di ruangan Anda saat ini ada siapa?" tanya perempuan bergamis navy.
"Tidak ada siapa-siapa di ruangan aku. Ada apa?" tanya laki-laki berkebangsaan asing itu.
"Mulai hari ini aku akan kerja di ruangan Anda," jawab Aulia.
"Apa?" tokek Mario sangat terkejut.
Dia tidak menyangka kalau Alvan akan membiarkan wanita yang dicintainya dekat dengan laki-laki lain. Biasanya laki-laki keturunan campuran itu selalu posesif kepada wanita yang kini berdiri di depannya.
__ADS_1
***
Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Alvan dan Amelia? Akankah Aulia cemburu atau tidak? Tunggu kelanjutannya, ya!