Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 94. Memulai Dari Awal


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 94


Pagi hari alasan sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya. Dia ingin bertemu terlebih dahulu dengan Aulia. Dia ingin hubungan mereka kembali seperti beberapa bulan sebelumnya. Jujur saja dia selama satu bulan ini merasa sangat menderita karena menahan rasa rindu pada sang pujaan hati.


Akan tetapi, saat dia sampai di parkiran ternyata mobil Aulia sudah ada di sana. Maka, dia pun bergegas lari masuk ke dalam kantor. Sebelum Mario datang dan melihat dirinya masuk ke ruang kerja sang asisten itu.


Begitu keluar dari lift, Alvan langsung berlari menuju ke ruang kerja Aulia kerja saat ini. Begitu dia membuka pintu terlihat kalau Mario juga sudah ada di sana sedang kamu bicarakan sesuatu bersama Aulia.


Kedua orang itu kaget saat tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan sosok atasan mereka yang napasnya terputus-putus. Mario pun langsung berdiri dan menghampirinya.


"Ada apa, Tuan? Kelihatannya sedang terburu-buru sekali?" tanya Mario.


Alvan yang sudah terlanjur datang ke sana tersenyum lebar kepada teman sekaligus bawahannya itu. Mata laki-laki itu melirik kepada Aulia yang sedang memegang kertas dan memeriksa berkas dokumen yang ada di tamannya.


'Aulia.' (Alvan)


Hati laki-laki itu pun terasa sakit saat sang pujaan hati mengabaikan keberadaan dirinya yang datang untuk menemuinya. Dia ingin memanggil nama perempuan itu, tetapi tenggorokannya terasa melilit sehingga suaranya tidak keluar.


Mario menyadari hal ini kalau tuannya itu ingin menemui Aulia bukan dirinya. Saat dia mengalihkan perhatiannya kepada gadis itu, dia baru paham kenapa tatapan mata Alvan berubah menjadi sendu.


"Tuan ingin bertemu dengan Aulia," tanya Mario.


"Apa aku sudah mengganggu kalian?" tanya Alvan balik.


"Tidak. Apa Anda ingin bicara di sini atau di tempat lain?" Mario berniat pergi jika Alvan memilih berbicara di ruangannya.


Akan tetapi laki-laki keturunan Jepang itu mau di tempat yang lain bukan di sana. Sebelumnya ingin membicarakan sesuatu yang penting dan bersifat pribadi. Tidak ingin ada seorangpun yang mengganggu mereka.

__ADS_1


"Aulia, Tuan Alvan ingin bicara sesuatu dengan kamu. Ikutlah bersamanya!" titah Mario.


Aulia yang sedang memeriksa beberapa berkas dokumen, merasa terkejut saat mendengar kalau Alvan ingin berbicara dengannya. Sebab, selama ini dia masih berpikir kalau pria itu masih belum ingin berbicara dengannya.


***


Ternyata sang atasan membawa Aulia ke atap gedung. Perempuan itu tidak menyangka ada tempat seperti ini, karena selama ini dia tidak pernah mengerjakan kaki lantai atas. Jika saja dia tahu ada tempat ini, mungkin dia tidak pernah pergi ke taman yang sepi saat makan siang sendirian.


Kini Alvan merasa canggung saat melihat ke arah Aulia. Dia merasa bersalah karena sudah mengabaikan gadis berhijab warna biru langit ini.


"Aulia," panggilnya dengan lirih.


"Ya," balas Aulia.


"Bagaimana kabarmu saat ini?" 


"Alhamdulillah, baik."


"Aku mau minta maaf kepadamu sebelumnya. Mungkin kamu merasa aku sudah berubah memperlakukan dirimu. Aku melakukan hal ini untuk mengetes perasaanku juga perasaanmu," aku laki-laki berjas biru dongker.


Mendengar ucapan Alvan barusan membuat Aulia terkejut. Selama ini dia tidak pernah berpikir seperti itu. Justru yang dia pikirkan adalah kalau dirinya sudah berbuat sesuatu yang membuat laki-laki ini marah kepadanya.


"Kenapa Tuan melakukan ini kepada aku?" Aulia mengarahkan perhatiannya kepada laki-laki yang duduk di sebelah kanannya.


"Kata David ini untuk mengetes perasaanmu kepadaku. Karena selama ini hubungan kita tidak pernah ada kemajuan. Aku minta maaf kepadamu sekali lagi. Aku sadar kalau perasaan seseorang itu tidak bisa dipaksakan. Meski begitu aku tidak pernah menyesali perasaanku ini terhadap dirimu," aku Alvan.


Pengakuan Alvan ini membuat hati Aulia merasa bergetar. Ada perasaan senang, haru, dan kesal bercampur dalam hatinya saat ini. Apa yang dikatakan laki-laki itu tadi ada benar. Dia baru sadar betapa kehilangan dirinya karena Alvan tiba-tiba saja menjauh darinya. 


"Seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu, karena ketidaktegasan aku dalam memutuskan pilihan kepada salah satu dari kalian. Membuat Anda melakukan hal seperti ini," timpal Aulia.


Alvan dan Aulia saling menatap. Sengatan sinar mentari pagi yang sudah terasa agak panas di kulit, tidak membuat keduanya beranjak dari sana. 

__ADS_1


"Siapapun yang dipilih olehmu nanti, semoga kamu bisa hidup bahagia dengannya," kata Alvan dengan suara yang agak bergetar.


Aulia senang saat melihat pancaran mata Alvan yang masih sama seperti dulu, saat menatap dirinya. Itu menunjukkan kalau perasaan untuknya masih ada dalam diri laki-laki ini.


"Mengenai hutang kamu yang 800 miliar itu, sudah aku relakan dan kamu tidak perlu menggantinya lagi. Sebab, kami mengulang kembali kerjasama itu dan keuntungannya juga sudah mulai bisa kita rasakan," lanjut laki-laki yang kini terlihat silau di mata Aulia karena pancaran sinar matahari di balik tubuhnya.


"Maksud Tuan, apa?" tanya Aulia tidak mengerti. 


Dia tahu kalau perusahaan mereka itu tetap menjalin kerjasama sejak saat itu juga. Namun, Alvan dulu tidak bilang apa-apa mengenai hutang itu. 


"Hutang Itu hanya alasan aku saja agar kamu bisa berada di sisiku," aku Alvan jujur.


Mendengar pengakuan Alvan ini membuat Aulia kesal dan ingin sekali memukul kepalanya. Agar laki-laki itu sadar kalau perbuatannya itu bukalah perbuatan yang baik. 


"Jika kamu ingin dekat dengan seseorang bukan seperti itu caranya. Masih banyak cara baik agar kita bisa dekat orang lain," ucap Aulia sambil memalingkan wajahnya.


Alvan tahu sejak awal kalau perbuatan yang ini salah. Namun, waktu itu inilah yang bisa dia pikirkan agar bisa mengenal Aulia lebih dekat lagi. Sebab, mereka hanya bertemu sekilas dan juga tidak ada perantara di antara mereka sama sekali.


"Bagaimana kalau saat ini kita memulai segalanya dari awal?" ajak Alvan.


Aulia memalingkan wajahnya kembali ke arah laki-laki berwajah oriental ini. Lalu bertanya, "Maksudnya?"


"Assalamu'alaikum. Kenalkan nama aku Alvan," ucap laki-laki itu sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada dia.


Aulia malah terperangah saat mendengar perkataan Alvan barusan. Kedua matanya berkedip dan terlihat lucu di mata laki-laki itu. Tidak berapa lama kemudian dia pun tertawa kecil.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh. Nama aku, Aulia," balas sang wanita itu sambil menahan tawanya.


***


Akankah Aulia melabuhkan hatinya pada Alvan? Atau kembali goyah saat ada kehadiran orang ketiga? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2