Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 140. Cinta


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 140


Alvan pulang dari masjid dan rumah dalam keadaan sepi. Tidak terdengar suara Aulia atau sambutan darinya ketika dia pulang dari masjid. Dia menyangka kalau Aulia itu masih sholat, tetapi saat di masuk ke dalam kamarnya terlihat perempuan itu tergeletak di atas sajadah masih menggunakan mukena.


"Astaghfirullah, Aulia!" pekik Alvan sambil berlari ke arah istrinya dan langsung merangkulnya.


"Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa kepada Aulia." Alvan membawa istrinya keluar kamar dan memanggil pegawainya yang tinggal di rumah yang ada di belakang.


***


Begitu sampai ke rumah sakit Aulia langsung ditangani oleh tim medis di UGD. Mereka memeriksa kalau Aulia sudah mengalami pecah ketuban.


"Panggil dokter kandungan. Kita harus segera mengoperasi pasien. Ini benar-benar darurat, semoga kita sempat menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya," ucap dokter di UGD kepada salah seorang perawat sebelum dia pergi.


Alvan kacau perasaannya saat ini, dia sangat ketakutan jika sang istri tidak tertolong. Apalagi dia tidak diizinkan ikut masuk ke ruang operasi untuk menemaninya.


Sudah satu jam tim medis mengoperasi Aulia, tetapi belum juga ada tanda-tanda akan selesai, yang ada malah beberapa tim medis berlarian keluar masuk sambil membawa suatu benda yang kadang dia tidak tahu apa, kecuali kantung labu darah.


Hanya doa dari mulut dan air mata dari netranya yang membuat Alvan masih bisa berpikir waras.


Bayangan-bayangan buruk kini menghantui dirinya. Sudah hampir dua jam ruangan itu baru dibuka. Melihat itu Alvan langsung berlari ke arah dokter dan tim medis.


"Dok, bagaimana keadaan istri dan bayi kami?" tanya Alvan dengan wajah kusut.


"Maaf, Pak. Saat ini keadaan keadaan istri Anda sedang dalam keadaan koma," kata dokter yang menangani Aulia barusan.


Ucapan dokter itu bagai petir yang menghantam tubuh Alvan. Dunia laki-laki itu seakan menjadi gelap dan sempit.


***


Alvan tersadar dan mendapatkan dirinya sedang berada di ruang UGD. Sudah ada Rangga dan Mario yang duduk di sana menemaninya.


"Aulia?" Alvan teringat kepada sang istri dan langsung bangun dari brankar itu. Namun, tubuhnya ditahan saat Mario dan Rangga menahan tubuhnya agar jangan pergi dari sana.


"Kamu jangan pergi kemana-mana, ini sudah dini hari dan Aulia juga masih berada di dalam ruang ICU," ucap Rangga.

__ADS_1


Alvan masih tetap memaksakan diri untuk pergi ke tempat anak dan istrinya. Bahkan dia memukul Rangga dan Mario yang berusaha menahan dirinya. Dengan langkah gontai dia berjalan ingin melihat keadaan Aulia dan bayi mereka.


Hanya lewat jendela kaca Alvan bisa melihat keadaan Aulia. Terlihat istrinya itu memakai alat bantu pernapasan. Laki-laki itu menangis tergugu saat melihat keadaan istrinya saat ini. Lalu, dia berjalan ke arah ruang penyimpanan bayi.


Begitu Alvan sampai di sana terlihat ada seseorang yang dia kenali sedang menggendong bayi. Hatinya terasa sakit bagai terhimpit batu besar.


"Gus Fathir," panggil Alvan lirih.


Laki-laki berwajah tampan dan teduh itu tersenyum kepadanya. Gus Fathir berjalan ke arah Alvan.


"Anak kalian tampan seperti dirimu," ucap Gus Fathir sambil menyerahkan bayi yang berada di dalam gendongannya.


Alvan pun mengambil alih menggendong anaknya. Dilihat wajah bayi itu begitu lucu menggemaskan.


"Pipinya merona seperti Aulia," lirih Alvan.


"Tadi aku menghubungi Aulia untuk menanyakan sesuatu. Namun, dia mengerang kesakitan dan minta tolong katanya akan melahirkan. Aku yang kebetulan baru sampai di ibu kota untuk mengunjungi Annisa, tentu saja sangat terkejut. Aku mencoba menghubungi kamu dan Rangga, tetapi tidak ada yang mengangkat telepon aku. Saking paniknya aku tadi sampai tidak kepikiran untuk menelepon ambulans agar datang ke rumah kamu," jelas Gus Fathir.


"Yang ada dalam pikiran aku adalah secepatnya agar bisa sampai ke kota ini dan mencari tahu keadaan Aulia," tambah kakak dari Ning Annisa.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan keadaan istri dan anakku," kata Alvan sambil terisak.


***


Alvan berjongkok di depan sebuah pusara di temani seorang anak kecil. Laki-laki dewasa itu membacakan doa dan anak kecil meng-aamiinkan doanya.


"Pa, pulang, yuk!" anak anak kecil itu sambil menarik tangan Alvan.


"Baik, Sayang. Ayo, Yusuf ucapkan salam!" titah Alvan.


"Assalamu'alaikum, Mbah Usup, Mbah Imah. Ucup pulang dulu, ya!" Bocah kecil itu mengucapkan salam di depan kuburan Kakek Yusuf dan Nenek Halimah.


Kedua laki-laki beda generasi itu pergi meninggalkan komplek pemakaman sambil bergandengan tangan. Desa Sukacita yang masih asri dan orang-orangnya yang ramah itu sangat cocok untuk pertumbuhan putranya. Maka tidak jarang Alvan dan keluarganya tinggal di sana dalam waktu yang cukup lama.


***


"Assalamu'alaikum," salam Alvan dan Yusuf bersamaan saat masuk ke ndalem. 


"Wa'alaikumsalam," balas dua orang perempuan dewasa yang sedang duduk sambil menimang bayi. 

__ADS_1


"Queensha, awas! Itu adik aku!" Yusuf memeluk bayi yang sedang berada di gendongan Ning Annisa.


"Ucup, pelit!" teriak anak gadis kecil itu sambil menggelembungkan pipinya.


"Biarin! Ini adik aku. Sana minta sama Ummi buat kasih adik bayi!" 


"Abi!" Bocah kecil itu berlari mencari ayahnya.


"Yusuf tidak boleh begitu, itu tidak baik," kata Aulia.


Ning Annisa yang sedang menggendong anak kedua Aulia itu tertawa renyah.


"Tante, mana Arsylla dan Arman?" tanya Yusuf.


"Mereka sedang tidur," jawab Ning Annisa.


"Ayo, Abang juga tidur!" Aulia menggendong bayi perempuan yang diberi nama Halimah dan menuntun putranya.


"Ning Annisa, kami pulang dulu, ya! Assalamu'alaikum." Aulia dan kedua anaknya pun pulang. Ketika keluar dari ndalem terlihat Alvan sedang berbicara dengan Gus Fathir yang menggendong putrinya.


"Ananta, sudah mau pulang?" tanya Alvan sambil berjalan ke arah istrinya.


"Iya, ini sudah waktunya anak-anak tidur," jawab Aulia.


"Kami pamit Gus Fathir, assalamualaikum." 


"Wa'alaikumsalam." Gus Fathir membalas salam perempuan yang pernah menghiasi hatinya sebelum datang gadis barbar meneror hidupnya.


Aulia dan keluarga kecilnya pun undur diri. Senyum menghiasi wajah mereka. Perjuangan cinta mereka membuahkan hasil yang sesuai dengan harapan dan impian mereka.


***


TAMAT


Aku ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah membaca karya aku ini. Mohon maaf bila ada salah kata. Ambilah nilai kebaikan jika dirasa ada, jangan ambil keburukan dari novel ini. I love you All.


Untuk Kisah Gus Fathir Insha Allah akan terpisah 🥰. Tentu dengan genre yang berbeda. Bisa kalian tebak seperti apa kisah Gus Fathir. Karena aku sudah kasih sedikit bocoran di atas 🤭.


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.

__ADS_1



__ADS_2