Dzikir Cinta Sang Pendosa

Dzikir Cinta Sang Pendosa
S2 Bab 109. Bertemunya Dua Keluarga


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 109


Aulia ingin sekali melihat Rangga bisa hidup bahagia dengan pendamping hidupnya. Jangan sampai kehidupan rumah tangga laki-laki itu seperti sebelumnya, yang hanya memberikan luka dan kesedihan. Selain itu tidak ada kebahagiaan sama sekali dalam hubungan mereka saat itu. Makanya, dia berharap Amelia bisa menghadirkan cahaya kebahagiaan dalam hati Rangga.


Hari pengajian pun tiba mereka sudah datang ke masjid agung sebelum waktu memasuki Magrib. Aulia dan keluarga Amelia bertemu di parkiran masjid. Begitu juga dengan keluarga Rangga yang datang hampir bersamaan dengan mereka.


"Assalamualaikum," salam Aulia kepada kedua orang tua Amelia. Ini adalah pertemuan pertama mereka.


Berbeda dengan Amelia yang sering bermain ke rumah Aulia, sehingga dia sudah mengenal Kakek Yusuf dan Nenek Halimah. Gadis itu pun mengalami dua orang sepuh yang sudah dianggap kakek dan nenek olehnya.


"Ayah … Ibu, kenalkan ini adalah Om Damar dan Tante Shinta. Mereka adalah kedua orang tua Kak Rangga," kata Amira yang sedang menggendong Safiyah.


"Assalamualaikum. Senang bisa berkenalan dengan Anda," ucap Pak Hasan kepada Papa Damar, sambil berjabat tangan.


"Wa'alaikumsalam. Saya juga senang bisa berkenalan dengan kedua orang tua Amelia," balas Papa Damar.


Papa Damar dan Mama Shinta senang bisa berkenalan dan menjual dan komunikasi dengan kedua orang tua Amelia. Kedua orang tua ini akan memberikan restu, jika Rangga menginginkan Amelia sebagai pendamping hidupnya dan menjadi Ibu bagi Safiyah. Mereka tidak mau memaksa lagi dan membiarkan Rangga memilih pilihannya sendiri.


"Bunda Amel, cantik," kata Safiyah sambil mencium pipi Amelia.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Safiyah juga cantik," balas perempuan bergamis warna merah senada dengan bocah kecil itu dan juga Rangga. Suatu kebetulan yang tidak sengaja.


"Kalau Bunda Aulia cantik tidak?" tanya Aulia menggoda Safiyah.


"Cantik. Aku cantik, Oma cantik, nenek juga cantik!" seru anak berusia dua tahun lebih sambil menunjuk satu persatu orang yang dimaksud.


Orang dewasa di sana pun tertawa mendengar perkataan dari Safiyah. Diam-diam Amelia melirik ke arah Rangga yang sedang tertawa geli. Secara fisik Rangga termasuk laki-laki yang tampan dan memiliki sifat yang baik. Tentu mudah bagi gadis ini untuk menyukai laki-laki itu. 


Aulia pun menyadari kalau Amelia sering mencuri pandang ke arah Rangga. Dia merasa kalau Amelia sudah jatuh hati kepada mantan kekasihnya ini. Tinggal dari pihak Rangga sendiri yang membuka hati untuk menerima cinta yang baru.


Malam itu mereka shalat berjamaah Maghrib di masjid agung dan dilanjutkan dengan pengajian sampai memasuki waktu Isya. Setelah selesai shalat berjamaah Isya, mereka pun pulang, kecuali keluarga Rangga. Mereka mengundang keluarga Amelia untuk makan malam bersama. 


Mama Shinta senang melihat Safiyah begitu dekat dengan Amelia. Dia juga bisa melihat kalau gadis itu sangat menyayangi cucu angkatnya. Selain itu wanita paruh baya itu juga mendengar banyak tentang siapa Amelia itu, dari Aulia. Istri dari Damar ini percaya kalau Amerika adalah wanita yang baik seperti yang dikatakan oleh Aulia.


Kedua orang tua Amelia pun senang, karena kedua orang tua Rangga memberikan nilai yang baik kepada putri mereka. Mereka juga melihat kalau Rangga adalah laki-laki yang baik dan bisa menjadi imam bagi putri mereka satu-satunya, nanti.


"Alhamdulillah, jika Anda melihat ada sisi baik yang ada pada putri kami. Sebenarnya Amelia ini termasuk gadis yang manja. Bahkan sampai sekarang pun dia kadang suka manja kepada aku mau kepada ibunya," balas Pak Hasan yang membuat Amelia malu.


"Ayah," rengek Amelia pelan.


Meski begitu orang-orang di sana bisa melihat dan mendengar Amelia yang merengek kepada ayahnya. Hal ini membuat mereka tertawa.


"Maklum saja, dia itu putri kami satu-satunya dan dulu sangat kami nantikan kehadirannya. Kami yang sudah menikah selama 10 tahun berharap memiliki seorang anak dan terakhirlah Amelia. Dia merupakan cahaya kebaikan dalam rumah kami," jelas Pak Hasan.

__ADS_1


Rangga hanya mendengarkan sambil mengajak bermain Safiyah. Dia juga sudah banyak tentang siapa Amelia dari Alvan. Sahabatnya berharap kalau dirinya bisa membuka hati untuk perempuan lain. Laki-laki ini juga tahu kalau mantan kekasih dan sahabatnya, sedang berusaha menjodohkan dengan gadis yang duduk di dekatnya ini.


'Aku bisa melihat kalau Amelia sayang dan tulus kepada Safiyah. Tetapi, hatiku masih belum bisa menerima dirinya.' (Rangga)


"Apa Bunda Amel dan Ayah akan menikah? Seperti Bunda Aulia dengan om Alvan," tanya Safiyah dengan nada suara anak kecil yang masih cadel.


Rangga hanya tersenyum dan mencubit kedua pipi putrinya. Dia tidak mau membuat Amelia jatuh ke dalam kesedihan jika menikah dengannya. Di saat dia belum bisa membuka hati untuk gadis ini.


"Jika Allah sudah mentakdirkan kita bersama, bisa saja itu terjadi," kata Amelia sambil membelai kepala Safiyah.


Acara makan malam kedua keluarga itu berjalan dengan lancar. Meski meninggalkan sedikit kecewa di hati Amelia, karena Rangga belum juga membuka hati untuknya.


***


Sementara itu di rumah Aulia, Alvan sedang berbicara berdua dengan Kakek Yusuf. Laki-laki ini sedang nasihat agar bisa menjadi seorang suami yang bisa menjadi imam bagi keluarganya nanti.


"Kakek sangat berharap kalau kamu benar-benar bisa menjadi seorang yang selalu memimpin Aulia berada di jalan yang lurus dan diridhoi oleh Allah," kata Kakek Yusuf.


***


Apa saja yang akan dibahas oleh Kakek Yusuf dan Alvan? Bagaimana perjuangan Amelia untuk membuka hati Rangga? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.

__ADS_1



__ADS_2